Asal Usul “Uncle Sam”

Tidak semua orang mengetahui darimana nama “Uncle Sam” yang menandai ikon Negara Amerika Serikat muncul, bahkan banyak orang yang membuat dugaan-dugaan aneh mengenai makna di balik “Uncle Sam”.

Salah satu informasi di internet dan majalah islam malah menyebutkan bahwa istilah “Uncle Sam” berasal dari Sam anak dari Nabi Nuh yang mendustakan ajakan ayahnya. Lebih lucu lagi ada yang menghubungkan antara “Uncle Sam” dengan Samiri, yang notabenenya adalah pencipta penyembahan terhadap sapi dalam cerita Nabi Musa As.

Baca lebih lanjut

This entry was posted on Februari 18, 2010, in 1. 26 Komentar

Mohon Maaf

Salam Lekum,

Sudah lama sekali, saya tidak menulis ini. Namun saya cukup berbahagia karena blog ini masih terus dibaca dan dikunjungi oleh banyak orang.  Kalau boleh beralasan, sejak tulisan terakhir dibulan mei hingga bulan februari ini saya menghadapi banyak permasalahan yang membuat saya harus tidak menulis di blog. Mulai dari penyelesaian tesis di Pascasarjana UI, ayahanda yang sakit-sakitan dan kemudian di bulan november meninggal dunia, hingga mengurus istri tercinta yang saat blog ini ditulis usia kandungannya tujuh bulan.

Pada pertemuan kali ini, saya ingin meminta maaf kepada para pembaca akan kemalasan saya tersebut. namun, setelah saya menulis permohonan maaf ini, saya akan kembali menyiapkan energi untuk menulis di blog yang sederhana ini.

Saat ini, saya sedang memikirkan sesuatu yang ultim dalam hidup saya yang sudah 27 tahun saya jalani.  Dalam perenungan saya, kadang saya merasa kebingungan mengapa saya harus diciptakan. Saat ini sedang mengetik dan menulis, tetapi apa yang dimaksud dengan “saya”.

“Saya” harus didefinisikan sebagai seonggok daging yang dialiri darah dan dibungkus kulit, diberikan otak untuk berfikir dan kemudian dihidupkan dengan keberadaan roh atau nyawa. Yang membedakan “saya” dengan orang lain hanyalah wajah kulit dan bentuk tubuh.

Eksistensi “saya” akan berakhir dengan ketiadaan roh atau nyawa. Dengan demikian, dimanakah letak pentingnya “saya” dalam kehidupan?

Ya, tentu kita akan menjawab letak pentingnya adalah roh atau nyawa. Daging, darah dan kulit yang menjadi bentuk kita akan tiada berharga, akan membusuk ketika nyawa atau ruh tiada. Lantas bagaimana rupa ketiadaan ruh tanpa tubuh?

Pada titik inilah, agama memiliki jawabannya. Bahwa kehidupan yang berakhir dengan kematian hanyalah sebuah permainan. bahwa hidup adalah ketiadaan. bahwa hidup adalah upaya untuk meningkatkan kualitas ruhiyah dan bahwa sesuatu yang dilakukan untuk menghiasi daging, darah dan kulit hanyalah upaya yang sia-sia.

Itulah hidup! Miskin maupun kaya, hanyalah semu. Ketampanan, kecantikan adalah fitnah. Negara, partai politik, pemerintahan, perusahaan, Pemilu dan Pilkada hanyalah instrumen yang menguji manusia apakah mengerti intisari hidup.

Kita harus berupaya meningkatkan sesuatu yang ultim dalam hidup kita, menyiapkan hidup bagi kematian terindah! suatu kematian yang berharga. Dan hal itu hanya dapat terjadi, saat kita memaksimalkan hidup kita.

berjuanglah untuk duniamu seakan engkau hidup selamanya, dan berjuanglah untuk akheratmu seakan engkau mati esok pagi

Suharto

Suharto:

Indonesian dictator whose 30-year rule was based on ruthless repression, cronyism and manipulation of the world’s rival superpowers

Baca lebih lanjut

Prof. Ben Anderson tentang Suharto

Wawancara Radio Nederland Siaran Indonesia , 2 September 2005

Hari Jum’at 30 September mendatang, tepat 40 tahun lalu terjadi peristiwa G30S yang mengubah sejarah Indonesia. Profesor Benedict Anderson guru besar emeritus pada Cornell University di Ithaca, Amerika Serikat adalah salah satu pengarang apa yang disebut Cornell Paper atau Makalah Cornell, yaitu risalah pertama yang meragukan versi Soeharto terhadap peristiwa yang dikenal sebagai G30S/PKI itu. Apa sebenarnya Cornell Paper itu dan penemuan-penemuan lebih lanjut apa yang didapatkan oleh Profesor Ben Anderson?

Baca lebih lanjut

Biografi Suharto

Obituary:

SUHARTO (8 June 1921- 27 January 2008)
Seorang Militer Karir yang Memerintah sebuah Negara

Oleh: John Roosa

Tidak suka bicara, tidak terbuka, suka menyendiri, tanpa emosi, Suharto memerintah Indonesia selama 32 tahun sebagai seorang misterius, seorang diktator yang tampil sebagai tokoh tanpa wajah, yang tidak menonjol di dalam suatu pemerintahan yang a-politis. Pidato-pidatonya menjemukan, mudah terlupakan, penuh dengan kata-kata birokrat yang menjemukan, klise-klise yang usang, dan nasehat-nasehat yang saleh. Tidak ada satu pun pernyataannya yang bisa membuat orang terkenang padanya sekarang. Orang Indonesia, jika ditanya, akan sia-sia berusaha mengingat suatu kutipan pun yang berasal dari dia, sedangkan di lain pihak, bahkan anak muda bisa mengutip kata-kata Sukarno, presiden yang digulingkannya pada tahun 1965. Suharto meninggalkan kenangan tanpa kata.

Baca lebih lanjut