CATATAN KRONOLOGIS SEKITAR PERISTIWA GERAKAN G.30 S/PKI
Di bawah ini adalah beberapa catatan ringkas dari saya, sekitar kejadian dan peristiwa baik yang saya alami maupun saya ketahui sekitar gerakan G.30S/PKI yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965. Singkatnya secara kronologis dan numerik dapat saya tuliskan disini sbb.:
Pertama, pada tanggal 1 oktober 1965 kurang lebih jam 06.00 pada saat saya sedang mandi, maka datanglah Brig.Jen Dr. Amino (Ka.Dep.Psychiatri RSGS Jakarta) yang dengan serta-merta memberitahukan tentang diculiknya Let.Jen. A.Yani beserta beberapa Jenderal lainnya oleh sepasukan bersenjata yang belum diketahuinya. Sesudah mandi, maka saya segera berangkat ke MBAD dengan mengenakan pakaian dinas lapangan.
Kedua, setibanya di MBAD dan setelah menampung beberapa berita dari beberapa sumber, maka oleh karena pada saat itu saya kebetulan sebagai Pati yang berpangkat tersenior, saya segera memprakarsai untuk mengadakan rapat darurat diantara para asisten Men./pangad atau wakilnya yang hadir pada saat itu di MBAD, yaitu para pejabat teras SUAD dari asisten Men.Pangad sampai asisten VII Men.Pangad termasuk Irjen P.U dan Pejabat Sekretariat.
Setelah menampung beberapa laporan dan keterangan dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, maka rapat menyimpulkan: Secara positif bahwa Let. Jen. A.Yani beserta lima orang Jenderal lainnya telah diculik oleh sepasukan penculik yang pada saat itu belum dapat dikenal secara nyata.
Berikutnya, rapat memutuskan untuk menunjuk May.Jen Soeharto Pang.kostrad agar bersedia mengisi pimpinan AD yang terdapat vacuum. Melalui korier khusus, maka keputusan rapat kita sampaikan kepada May.Jen Soeharto di MAKOSTRAD.
Ketiga, pada hari itu juga tanggal 1 Oktober 1965 k.l jam: 09.00 saya menerima laporan dari MBAD yang mengatakan bahwa menurut siaran RRI saya ditunjuk oleh Presiden/Panglima tertinggi untuk menjabat sebagai carataker Men./Pangad. Oleh karena baru merupakan berita, maka saya tetap tinggal di Pos Komando MBAD untuk menunggu perintah lebih lanjut.
Keempat, bahwa pada hari itu juga tanggal: 1 Oktober 1965 sesudah saya menerima berita tentang penunjukkan saya untuk menjabat sebagai carataker Men./Pangad, maka berturut-turut datanglah utusan-utusan dari Presiden/Panglima Tertinggi yaitu:
1. Let.Kol.Inf. Ali Ebram, Kasi I Staf Resimen Cakrabirawa yang datang k.l jam: 09.30
2. Brig.Jen. TNI Soetardio, Jaksa Agung, bersama Brig.Jen. Soenarjo, Ka.Reserse Pusat Kejaksaan Agung yang datang bersama pada jam: 10.00 (k.l)
3. Kolonel Bambang Wijarnako, Ajudan Presiden/Pangti yang datang sekitar j am: 12.00.
Oleh karena saya sudah terlanjur masuk dalam hubungan komando taktis dibawah May.Jen. Soeharto (vide titik 2 di atas), maka saya tidak dapat secara langsung menghadap dengan tanpa seidzin May.Jen. Soeharto sebagai pengganti Pimpinan AD saat itu.
Atas dasar panggilan dari utusan-utusan tersebut di atas, sayapun berusaha mendapatkan idzin dari May.Jen Soeharto. Akan tetapi May.Jen Soeharto selalu melarangnya saya untuk menghadap Presiden/Pangti dengan alasan bahwa dia (May.Jen. Soeharto) tidak berani[/i] mereskir[/i] (menjamin,ed) kemungkinan tambahnya Jenderal lagi apabila dalam keadaan yang sekalut itu saya pergi menghadap Presiden. Saya tetap menaati perintahnya untuk tinggal di MBAD.
Kelima, pada malam hari berikutnya, yaitu pada tanggal 1 Oktober 1965 k.l. jam: 19.00 saya dipanggil rapat oleh Jenderal Nasution, KSAB di Markas KOSTRAD untuk menghadiri rapat.
Kecuali Jenderal Nasution yang hadir, juga dihadiri oleh May.Jen Soeharto, May.Jen Moersyid, May.Jen Satari dan Brig.Jen Oemar Wirahadikusumah.
Jenderal Nasution secara resmi menjelaskan, bahwa saya mulai ini hari ditunjuk oleh Presiden/Pangti untuk menjabat sebagai carataker Men./Pangad, yang selanjutnya menanyakan kepada saya bagaimana pendapat saya secara pribadi.
Saya menjawab, bahwa sampai saat itu saya sendiri belumlah menerima pengangkatan secara resmi secara hitam di atas putih. Maka saya berpendapat agar sementara waktu belum dikeluarkannya pengangkatan resmi (tertulis) dari Presiden/Pangti entah nantinya kepada siapa di antara kita, lebih baik kita menaruh perhatian kita dalam usaha menertibkan kembali keadaan yang darurat pada saat itu yang ditangani langsung oleh Pang.Kostrad (May.Jen Soeharto) yang juga kita percayakan untuk sementara menggantikan pimpinan AD.
Akan tetapi mengingat pada saat itu suara dan kesan dari media massa yang memuat berita-berita adanya usaha untuk menentang keputusan Presiden/Pangti tentang penunjukkan saya sebagai carataker Men./Pangad. Maka oleh Jenderal Nasution saya diminta agar pada tanggal 2 Oktober 1965 pagi mengadakan wawancara pers yang direncanakan di Senayan. Saya bersedia.
Keenam, tanggal 2 Oktober 1965, menjelang waktu saya akan mengadakan wawancara pers, maka tiba-tiba May.Jen Soeharto dan saya mendapatkan panggilan dari Presiden/Pangti yang pada saat itu sudah meninggalkan pangkalan udara Halim Perdana Kusumah dan menempati kembali di Istana Bogor. Oleh karena itu, maka wawancara pers saya tunda waktunya.
May.Jen Soeharto bersama saya dan Brig.Jen Soedirgo (Dan Pomad) segera berangkat menghadap Presiden/Pangti di istana Bogor. Di istana Bogor diadakan rapat di mana hadir pula Bpk. Leimena, Bpk. Chaerul Saleh, Martadinata, Omardani, Cipto Yudodiharjo, Moersyid, M.Yusuf, dan beberapa menteri lagi.
Keputusan rapat: Presiden/Pangti memutuskan, bahwa pimpinan AD langsung dipegang oleh Pangti, sedangkan May.Jen Soeharto diperintahkan untuk menjalani tugas operasi militer, kemudian kepada saya ditugaskan sebagai carataker Men./Pangad dalam urusan sehari-hari (Daily Duty).
Ketujuh, tanggal 14 Oktober 1965, setelah melalui macam-macam proses kejadian, maka May.Jen Soeharto diangkat menjadi kepala staf AD dengan membentuk susunan stafnya yang baru. Kedudukan saya menjadi Pati diperbantukan kepada KASAD.
Kedelapan, tanggal 16 Februari 1966 atas perintah KASAD May.Jen Soeharto saya ditahan di Blok P Kebayoran Baru Jakarta dengan tuduhan terlibat dalam G.30-S/PKI, dengan surat perintah penangkapan/penahanan No.37/2/1966, tanggal 16 Februari 1966.
Kesembilan, dengan perubahan status penahanan dari Ketua Team Pemeriksa Pusat, tersebut dalam surat Perintahnya No.Print. 018/TP/3/1966 saya mendapatkan perobahan penahanan rumah mulai pada tanggal 7 Maret 1966.
Kesepuluh, dengan Surat Perintah Penangkapan/Penahanan No.Print. 212/TP /1/1969, tanggal 4 Maret 1969 saya kembali ditahan di Inrehab NIRBAYA Jakarta yang tetap dalam tuduhan yang sama.
Kesebelas, dengan Surat Keputusan Menteri HANKAM/Panglima ABRI yang tersebut dalam Surat Keputusan No. Kep./E/645/1I/1970, tanggal 20 November 1970, yang ditanda tangani oleh Jenderal M. Panggabean, saya mulai dikenakan skorsing dalam status saya sebagai anggota AD, yang berikutnya pada bulan Januari 1970 saya sudah tidak menerima gaji skorsing dan hak penerimaan lainnya lagi. Sedangkan Surat Pemberhentian ataupun Pemecatan secara resmi dan keanggotaan AD ini pun sampai sekarang belum/ tidak pernah saya terima.
Keduabelas, atas dasar Surat Keputusan dari Panglima KOPKAMTIB yang tersebut dalam surat No.SKEP /04/KOPKAM/I/1981, maka dalan pelaksanaannya oleh KA. TEPERPU tersebut dalam Surat Perintahnya No. SPRIN,-481/1I/1981 TEPERPU, saya baru dibebaskan dari tahanan pada tanggal16 Februari 1981.
Jadi kalau saya perhatikan tanggal, bulan dan tahun mulai dan berakhirnya saya mengalami penahanan adalah selama waktu 15 (limabelas) tahun, tanpa kurang atau pun lebih, yaitu dari tanggal 16 Februari 1966 sampai pada tanggal 16 Februari 1981.
Ketigabelas, selama waktu saya ditahan, sepanjang waktu limabelas tahun itu, saya merasa belum pernah mengalami pemeriksaan melalui proses dan pembuatan berita acara yang resmi. Saya hanya menjalani interogasi secara lisan, yang di lakukan oleh Tim Pemeriksa dari TEPERPU pada tahun 1970. Sesudah itu saya tidak pernah diinterogasi lagi, sampai saatnya saya dibebaskan pada 16 Februari 1981.
Keempatbelas, untuk waktu berikutnya, maka apa, di mana, dan bagaimana yang dapat saya perbuat/lakukan sebagai seorang yang tanpa berstatus, polos selagi telanjang tanpa hak milik materi barang sedikit pun yang bernilai, yang memungkinkan untuk melanjutkan amal- kebaktian saya pada Tanah Air dan Bangsa, yang pernah saya rintiskan dalam turut serta mulai Perang Kemerdekaan 1945 yang tanpa absen itu? Segala penjuru lapangan kerja tertutup untuk kehadiranku, justru aku dipandang sebagai orang yang beratribut bekas tahanan G.30-S /PKI, bahkan mungkin menurut persepsi mereka, saya ini sebagai “dedengkot” nya G.30-S/PKI dari segala aspek.
Saya harus berani menelan pil, yang sepahit ini, dan harus pula berani membaca kenyataan dalam hidup dan penghidupan saya yang telah menjadi suratan dan takdir llahi kepada saya sebagai umatnya. Manusia tak kuasa mengelak dari segala apa, yang telah dikehendakkan-Nya dan digariskan-Nya, justru DIA -lah sebagai SANG MAHA DALANG, yang memperagakan umatnya sebagai anak wayang di pentas pakeliran kehidupan dunia ini.
Saya harus mengetahui diri, ditempat, di saat dan dalam keadaan apa dan bagaimana saya ini. Saya harus dapat menguasai dan membunuh waktu, betapapun kegiatan saya sehari hari itu saya utamakan lebih dahulu demi kepentingan rumah tangga dan keluarga yang masih tersisa di rumah.
Terus terang saja kalau saya merasa malas dan enggan untuk berkunjung dan berkomunikasi dengan bekas rekan perjuangan, teman atau pun kenalan yang dahulunya saya anggap dekat/ akrab. Justru bagi mereka, yang tidak mengetahui ujung-pangkal dalam duduk perkara, saya tiada setapak pun mau maju mendekat dan bertatap muka secara hati ke hati. Kebanyakan lalu pergi menyelinap dan menghindar, yang mungkin ada merasa takut disorot, yang akibatnya dapat merugikan diri.
Namun tidak sedikit pula, bekas rekan-rekan seperjuangan dan teman/kenalan, yang masih mau berkunjung ke rumah saya, sungguh pun tempat tinggal saya sekarang ini di pinggiran kota, yang sebagian perjalanannya harus ditempuh dengan jalan kaki. Di antaranya saya merasa terkesan dengan kunjungan Letjen(P) Soedirman anggota Dewan Pertimbangan Agung, yang pada suatu malam buta berkenan meluangkan kakinya, untuk mengunjungi saya di rumah Kramatjati yang sesempit itu.
Saat pertama bersua kembali dengan saya, sedikitpun saya tidak melihat adanya perubahan wajah, sebagaimana wajah cerah amikal selagi sikapnya yang brotherly/fatherly, sebagaimana yang mula-mula saya mengenal beliau sebagai rekan Komandan Resimen yang tersenior. Beliau mengutamakan rasa kemanusiaannya dari pada rasa sebagai perwira tingginya. Beliau terkenal rajin berkunjung kepada keluarga anak buah, yang suaminya sedang mengalami penahanan, atau pun yang ditinggal bertugas operasi oleh suaminya. Beliau pun tidak ada rasa ragu mengunjungi bekas bawahannya yang berada dalam tahanan. Toleransi terhadap penderitaan teman atau pun anak buah bagi beliau tidak pernah menutup mata dan telinga, lepas dari persoalan atau pun perkara, yang sedang mereka pertanggung-jawabkan masing-masing.
Sikap yang layak terpuji dan dihargai oleh khalayak orang timur, kalau orang itu dapat berteladan pada panutan sikap dan sifat, sebagaimana yang dimiliki Letjen(P) Soedirman itu. Maka kunjungan yang semacam itulah yang selalu dapat membasahi, ibarat embun yang menyiram hati saya.
Jakarta, 1 April 1989
Pembuat catatan kronologis,
Ttd.
Pranoto Reksosamodra.
Sumber dari buku : Memoar Mayor Jendral Raden Pranoto Reksosamodra.
BAGIAN KE ENAMBELAS
Halaman 245 sampai dengan 255, ip
Penerbit Syarikat Indonesia. ISBN 979-96819-3-6






Mungkin saudara Pranoto Reksosamodra menjadi kambing hitam Soeharto pada saat itu, karena Soeharto tidak ingin ada orang yang mengetahui niatnya pada saat G 30S terjadi. Jadi, orang – orang yang dianggapnya berbahaya bagi pemerintahan Soeharto diBungkam dengan cara tersebut. Di samping PKI, Mungkin Dalang yang terlibat adalah Soeharto sendiri yang berpura – pura menghabisi PKI dan antek – anteknya yang datang bagai Pahlawan dengan menaiki kuda putih.
Menurut saya,situs ini memiliki banyak artikel yang bagus tentang sejarah bangsa Indonesia yang sedikit di’permainkan’ oleh orang-orang yang berkuasa saat kejadian ini terjadi. Yang menarik di situs ini adalah artikel ‘CATATAN KRONOLOGIS SEKITAR GERAKAN G.30 S/PKI’. Setelah saya sudah membaca tentang artikel ini,saya menarik kesimpulan bahwa saudara Pranoto Reksosamodra adalah orang yang memiliki banyak informasi tentang kejadian-kejadian yang terjadi di hari-hari sekitar kejadian G.30 S itu,namun dia di ‘bungkam’ oleh SUHARTO yang ingin terlihat sebagai PAHLAWAN di mata bangsa INDONESIA….!!salah satu contoh pembungkamannya adalah di alinea ke 11 yaitu “Kedelapan, tanggal 16 Februari 1966 atas perintah KASAD May.Jen Soeharto saya ditahan di Blok P Kebayoran Baru Jakarta dengan tuduhan terlibat dalam G.30-S/PKI, dengan surat perintah penangkapan/penahanan No.37/2/1966, tanggal 16 Februari 1966.”
Tanpa alasan yang jelas,Soeharto menangkap saudara Pranoto Reksosamodra dan membuat dia[Pranoto R.] seolah-olah sebagai dedengkot PKI.Bukan hanya Pranoto Reksosamodra yang menjadi salah satu ‘boneka’ yang di bungkam oleh Suharto tapi masih banyak orang-orang yang berbahaya bagi Soeharto juga di bungkam.Itu contoh yang sangat jelas bahwa Soeharto dengan segala kekuasaannya mampu ‘MEMAINKAN’ sejarah bangsa ini.
Menurut saya cerita diatas merupakan sebagian kecil dari tindakan Suharto yang mungkin dianggap ganjil, Pranoto Reksosamodra adalah sebagian kecil orang yang pernah dilakukan tidak adil seperti itu. Menangkap orang yang tidak bersalah, bahkan menuduhnya sebagai dari bagian PKItanpa ada bukti – bukti yang jelas,itu merupakan bagian dari esewenang – wenangan Soeharto yang merupakan orang tertinggi di Indonesia pada saat itu. Soeharto tidaklah ingin posisinya dibahayakan pada saat itu, maka ia membungkamnya.
Pertanyaan Siapakah Dalang PKI mungkin akan selamanya menjadi sebuah tanda tanya besar yang mungkin tak akan pernah terjawab !
Dalam hal ini saya tidak banyak komentar,namun seperti bacaan yang ada di atas bahwa soeharto itu tidak dapat dibilang sebagai presiden dan lebih tepat sebagai PENJAHAT.Dan mungkin masih banyak kasus mayjen R.PRANOTO R.PRANOTO yang lain,yang tidak terlacak oleh sejarah indonesia.Mungkin selama 32 tahun bangsa indonesia telah tertutup aspirasinya untuk mengetahui kebenaran sesungguhnya
Ass.Wr.Wb
saya sempat ter-enyuh mendengar penuturan saudara Pranoto Reksosamodra,betapa tidak jelas hidupnya di karenakan kejadian ini, dan menyebabkan di kambing hitamkannya dia sebagai “dedengkot” dari kejadian G 30 S.Dan menurut saya Soeharto sangat terlibat dalam kejadian G 30 S ini,dan tidak mungkin ia mendapat status “bersih” tidak terlibat kejadian ini. Mungkinkah Soeharto yang menjadi dalang kejadian ini? ataukah ada pengaruh dari dunia luar? mungkinkah ini di sebabkan ke iri an negara luar yang ingin menguasai negara Indonesia ini, sehingga terlalu banyak campur tangan dan menyebabkan tidak di temukan dalang G 30 S?
Who Knows???
Only Gusti ALLAH know.
Wass.Wr.Wb
Salam 1/2 Merdeka
Assalamualaikum Wr.Wb
Tulisan di atas adalah mengenai kronologi penahanan Pranoto oleh Mayjen Soeharto pada saat peristiwa G.30-S/PKI. Soeharto menuduh Pranoto terlibat dalam peristiwa tersebut, tapi tuduhan tersebut tidak disertai oleh bukti-bukti yang jelas. Dan lagi setelah Pranoto ditahan tidak ada pemeriksaan melalui proses dan pembuatan berita acara yang resmi, hanya menjalani interogasi lisan yang dilakukan oleh Tim Pemeriksa dari TEPERPU pada tahun 1970 dan setelah itu sampai bebas Pranoto tidak pernah diinterogasi lagi. Dengan itu saya berpemikiran bahwa mungkin penahanan Pranoto bukanlah suatu bentuk pemberantasan PKI melainkan pengamanan diri. Karena mungkin Pranoto mengetahui banyak mengenai peristiwa G.30-S/PKI dan itu tentu saja dapat membahayakan diri Soeharto, oleh karena itu ia perlu membungkamnya. Dan dari situ saya dapat menarik kesimpulan bahwa tidak mustahil bahwa sesungguhnya Soehartolah yang menjadi otak dari peristiwa G.30-S/PKI, atau setidaknya ia mempunyai andil besar dalam terciptanya peristiwa tersebut. Karena kalau tidak, mengapa ia harus repot-repot menahan Pranoto?
Sekian pendapat dari saya, terimakasih.
Assalamuaikum wr.wb
Atas wacana di atas saya dapat mengetahui bahwa Soeharto ingin membungkam Pranoto karena ia dianggap akan membahayakan posisi soeharto.Ini merupakan salah satu kelicikan soeharto supaya ia dipandang sebagai Pahlawan Penumpas PKI.Ia menuduh Pranoto tanpa bukti-bukti yang jelas.Saya rasa soeharto turut ikut andil dalam gerakan G.30-s/pki.Kalau dia tidak turut ikut andil dalam peristiwa itu buat apa ia membungkam Pranoto.
Sekian pendapat saya yang pendek ini,terimakasih
JASMERAH(Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah)
Wassalam. Wr.Wb
Pranoto ditahan 15 tahun di penjara tanpa kejelasan… wow gile tuh. Pranoto itu kan bawahannya Soeharto, kalo dia tertulis bahwa dia terlibat dalam gerakan G.30-s/PKI, harusnya bosnya (Si Soeharto) kena juga… Banyak buku-buku yang menulis tentang penderitaan-penderitaan orang-orang yang ditangkap dalam rezim soeharto tanpa alasan yang jelas, dan saya yakin bahwa Pranoto adalah salah satu diantara ribuan orang-orang tersebut, untuk menghilangkan bukti bahwa ia terlibat dalam gerakan tersebut.
Kalo dari beberapa sumber yang saya dengar, tertulis juga bahwa CIA terlibat dalam Peralihan kekuasaan soekarno-Soeharto… tapi di bagian mananya ya pak??? Kalo Irak di acak-acak kan wajar karena negeri tersebut kaya akan minyak… lha kalo kita??? Tolong jelaskan ya pak.., karena saya yakin akan keterlibatan organisasi rahasia tsb..
Assalamualaikum Wr.Wb
Menurut saya kronologi penahanan Pranoto oleh Soeharto pada saat peristiwa kontroversial yang paling menggemparkan dan membingungkan dan belum dapat dipastikan siapa dalang dalam peristiwa itu sampai saat ini yaitu pristiwa G.30-S. Pranoto yang dituduh oleh soeharto terlibat dalam peristiwa itu, karna soeharto menganggap Pranoto mengetahui banyak mengenai peristiwa G.30-S tsb dapat membahayakan diri Soeharto, oleh sebab itu ia perlu membungkamnya.
dari situ saya menarik kesimpulan bahwa Soehartolah yang menjadi dalang dari peristiwa G.30-S.
ass.wr.wb
wayduh pa’ artikelnya kok panjang amat ya!!! tapi untuk sebuah tugas tak pa2 lach…..
Menurut saya,,keterbukaan pranoto mengenai hidupnya pada jaman yang kondisinya tergolong sangat mencekam merupakan suatu kemajuan,,ia dapat dikatakan sebagai saksi sejarah yang mau mengatakan kepada publik mengenai apa yang telah dialaminya.
Dari artikel ini saya dapat mengetahui bahwa pranoto itu malah dijadikan kambing hitam oleh pa’harto,,pa’harto menyingkirkan pranoto yang ia anggap menjadi penghalangya dalam merebut jabatan yang lebih tinggi dan juga pranoto dianggap berbahaya karena mungkin pranoto dapat mengungkap kejadian G 30 s beserta para pelakunya..Jadi, Pranoto ditangkap dan di penjara selama 15 tahun dech!!! Tanpa adanya proses pemeriksaan dan pengadilan yang jelas..
Sekian dari saya,,,,wassalam!!!!!
kasian amat Pak Pranoto Reksosamodra, knp dia bisa ditahan begitu saja? padahal dia kan anak buahnya Pak Harto? kalau memang si penulis terlibat dalam G 30 S, tidak disebutkan apa saja bukti – bukti yang mendukung.
menurut saya, disini memang di tujukan bahwa soeharto lah dalang G 30 s. seolah ia adalah pahlawan yang menumpas semua masalah dan kejahatan PKI. kalau memang benar dia adalah dalangnya, hebat skali dia nisa mengelabui mata banyak orang
bah, ga bisa rest in peace tuh orang *maaf terlalu offensive
saya suka artikel ini. pasti memoarnya bagus..
ini bagian paling saya suka:
Saya harus berani menelan pil, yang sepahit ini, dan harus pula berani membaca kenyataan dalam hidup dan penghidupan saya yang telah menjadi suratan dan takdir llahi kepada saya sebagai umatnya. Manusia tak kuasa mengelak dari segala apa, yang telah dikehendakkan-Nya dan digariskan-Nya, justru DIA -lah sebagai SANG MAHA DALANG, yang memperagakan umatnya sebagai anak wayang di pentas pakeliran kehidupan dunia ini.
hal yang manusiawi sekali terjadi saat segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan kita. Mayor Jendral Raden Pranoto Reksosamodra mengajak kita merasakan kepahitan yang dia alami pada saat itu. such a good writer
oya, berarti memang sejak zaman dulu, hukum itu ngga pernah lurus. yang berkuasa, yang menang.
tidak ada bukti yang real, tp langsung di tahan. bahkan, jasa kepahlawanannya pun dibayar dengan 15 tahun tahanan.
pantesan pak suharto kyknya susah meninggal, bnyk dosa. huakakaakka
Dalam kutipan diatas, saya tidak begitu meng-approve cerita dari Pranoto Reksosamodra, walaupun saya juga tidak menolak cerita tersebut. Namun saya menggolongkan cerita di atas adalah sebuah versi dari Mayor Jendral Raden Pranoto Reksosamodra. Karena banyak versi-versi lain yang memberatkan di masing-masing tokoh/kelompok yang dianggap sebagai dalang G.30 S/PKI atau gerakan 1 Oktober, dan menurut cerita di atas, sang DALANG adalah soeharto. Tetapi semakin tahun ke tahun, mulai banyak bukti-bukti yang semakin memberatkan soeharto seperti cerita diatas. Saya melihat banyak cara-cara yang dilakukan soeharto yang janggal. Selain di kutipan diatas, saya juga melihat di buku-buku sejarah. Itupun sudah mulai menjuruskan sang dalang adalah soeharto.
Saya rasa cerita Mayjen Raden Pranoto Reksosamodra bisa dijadikan kesaksian. Meskipun itu belum dilengkapi dengan bukti-bukti yang kuat.
Sekian komentar saya dan TERIMA KASIH…
menurut saya pak harto sampah masyarakat yg akhirnya membuat bangsa indonesia semakin rusak ancur bau jelek idup lagi… ^^
utang di mana²,, sampai saat ini juga INDONESIA masih dijajah,, kapan negara kita bisa indah disiplin dan merdeka seperti layaknya negara laen..
sudah cukup saya menderita dengan keadaan indonesia saat ini… bagaimana takdir cucu² atau generasi setelah saya…
assalamualaikum pak.
pak,kutipan bapak ribet ya.setelah dan sebelum membaca artikel bapak,di dala otak saya sudah tertanam bahwa pak harto,adalah dalang dari peristiwa G30s\pki.mungkin karna menurut saya banyak peristiwa-peristiwa yang saya rasa ganjil dalam peristiwa g30s.misalnya tidak diculiknya mayjen.soeharto pada waktu itu,sedangkan ada jendral bintang satu bagian logistik,yang tidak seberapa pentig di banding pak harto waktu itu,ikut diculik.ke dua gedung rri pada waktu itu tidak ikut di di kuasai oleh pki,karna mungkin ada pak harto di situ.ke tiga,alibi yang di buat pak harto pada saat pristiwa,terkesan di buat2 dengan alasan menunggu tommy di rumah sakit karna “ketumpahan sup panas”.Menanggapi tulisan mayjen raden rekso samudra,adalah kesaksian mantan pejuang,yang dbuang begitu saja pada rezim soeharto,tanpa ada bukti yang cukup memberatkannya.Kesaksian Pranoto,menambah keyakinansaya,bahwa pak Harto mungkin salah satu orang yang memprakarsai G30sPKI,karna itu saya bingung,waktu bapak menyuruh kelompok saya,menuliskan bukti2 bahwa pak Karno adala dalan g30s pki.
mnurut feeling saya, soeharto dalangnya..
palagi kan kmaren saya kdapetan kelompok yang menyalahkan soeharto.. yaa,intinya soeharto laa pak!
bukti konkretnya..soeharto sakit”an..dya nebus dosa di dunia dulu pak,,
yaa pokonya hidup soeharto!!hhe..
hidup pa didi!!
yeah.
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Artikel diatas menunjukkan bahwa Suharto dapat melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya. Menuduh Pranoto yang merupakan bawahannya sendiri tanpa ada bukti yang jelas merupakan cara lisik Suharto. Seharusnya Pranoto sudah menyadari tindak-tanduk Suharto yang melarang dia menemui sang Pangti, padahal apabila dipikir-pikir dalam keadaan genting saat itu seharusnya tidak perlu melarang pertemuan itu, mungkin dengan pertemuan itu penyelesaian masalah yang saat itu terjadi dapat ditemukan pemecahannya. Pranoto juga seharusnya patuh atas perintah pangti, bukannya perintah Suharto. Akibatnya Pranoto merasakan kezaliman Suharto yang menuduhnya tanpa sebab hingga menderita selama 15 tahun di penjara hingga keluar pun tetap melekat pada dirinya aib tentang PKI yang menyusahkannya. Mungkin masih banyak kasus-kasus seperti ini yang ditutupi dengan sangat rapi oleh Suharto. Menurut saya yang menjadi dalang G 30 S mungkin Suharto yang memegang kunci yang menyesatkan sejarah bangsa Indonesia ini !!!.
Sekian dan terima kasih apabila ada penulisan isi dan komentar yang kurang berkenan di hati Bpk. Didi tolong dibukakan pintu maaf karena kebenaran bukan datang dari saya namun Hanya dari Allah lah kebenaran yang sebenar-benarnya berasal.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
haloo pak didi.
saya isi blog anda dengan kejeniusan saya hahaha.
menurut saya kayanya soeharto gak bisa seenaknya aja nuduh bawahannya.udah keliatan bgt kalo (kayanya)dia adalah dalang dari peristiwa tersebut.tapi karna waktu itu dia mempunyai wewnang,jadi yaa…soeharto menyingkirkan pranoto yang dianggap penghalangya dalam merebut jabatan yang lebih tinggi dan juga pranoto dianggap berbahaya karena mungkin pranoto dapat mengungkap kejadian G 30 s beserta para pelakunya..(kata2 yang bagus ka!eka memang pintar. . )
yaa…intinya soeharto tuh dalangnya….
mudah2an masih ada waktu dia buat tobat.
makasih ya mas,eh pak.hehehe…….
-ipegh13
Ass. Wr.Wb. pak, sori maaf nyuwun pangapunten saya baru bisa comment skarang. Menurut saya, in my opinion, penahanan pranoto ada “sedikit” unsur dendam dan iri hati mbah harto padanya. Menurut buku yang saya baca,pranoto adalah bawahan soeharto saat menjabat pangdiv Diponegoro. Dialah pula yang kabarnya membongkar kasus penyelundupan gula yang dilakukan soeharto saat itu. Soeharto akhirnya dicopot dan dikirim ke seskoad( SSKD) untuk belajar staf dan komando. Soeharto iri karena pranoto dianggap telah menyalip karirnya. Hal itu yang menurut saya membuat pranoto menjadi pesakitan di bui tanpa proses apapun dan bukan krn dia terlibat G30S. Saya brani bertaruh: PRANOTO TIDAK TERLIBAT G30S.Sekian. Terima Kasih. SALAM MERDEKA!!!!! WASSALAM.nb:pak kapan kita jln2 kekota lama jkt? Salam buat alumni smp 48 di is1 “jgn lupain tmen lama yaaa”.
Wahai bapak didi yang bergaya revolusioner dan bergaya waspada [tangan dimasukin soal takut kemalingan].hehe!
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Menurut saya kronologi penahanan Pranoto oleh Soeharto pada saat peristiwa kontroversial yang paling menggemparkan dan membingungkan dan belum dapat dipastikan siapa dalang dalam peristiwa itu sampai saat ini yaitu pristiwa G.30-S. Pranoto yang dituduh oleh soeharto terlibat dalam peristiwa itu, karna soeharto menganggap Pranoto mengetahui banyak mengenai peristiwa G.30-S tsb dapat membahayakan diri Soeharto, oleh sebab itu ia perlu membungkamnya.
dari situ saya menarik kesimpulan bahwa Soehartolah yang menjadi dalang dari peristiwa G.30-S. sekian argumen dari saya. -Alka 47 WK ALL CREW-
Assalammualaikum Wr.Wb
aduwh PAk maap yak telat ngasih commentnya..
Setelah saya membaca artikel diatas, saya akan mencoba untuk memberikan comment Menurut saya tindakan Soeharto untuk menangkap dan memenjarakan Pranoto amat sangat tidak beralasan. Dari peristiwa itu saya menduga bahwa Soeharto adalah salah satu anggota PKI dan tidak menutup kemungkinan bahwa beliau adalah mungkin merupakan petinggi PKI. Oleh karena itu beliau menangkap dan memenjarakan Pranoto karena beliau menganggap bahwa Pranoto adalah orang yang bisa membahayakannya. Tapi herannya mengapa Bangsa Indonesia bisa mempercayakan tugas untuk memberantas PKI kepaada Beliau??? Padahal menurut saya tindakan Soeharto itu sangat ganjil dan amat tidak masuk akal. Mana mungkin jika Soeharto adalah salah satu anggota bahkan petinggi PKI dapat menumpas kaumnya sendiri. Menurut saya lagi (cie elah) mungkin saja peristiwa G.30 S/PKI hanyalah salah satu rencana / rekayasa dari Soeharto yang mungkin mempunyai alasan tersendiri. Lalu jika benar peristiwa tsb adalah rencana buatan Pak Harto berarti orang2 PKI masih banyak terdapat di Indonesia. Lalu siapakah sebenarnya dalang PKI??? dan apakah pelajaran sejarah yang selama ini kita pelajari benar adanya??????? Oleh karena itu marilah kita bersama2 Mewaspadai bangkitnya kembali PKI di bumi kita tercinta Indonesia dengan cara meningkatkan rasa Nasionalisme kita dan memahami dengan benar ajaran agama Kita dan Istiqomah di jalan ALLAH,jangan sampai kita terpengaruh oleh pikiran2 yang mengarah kepada Komunisme…saya kira cukup sekian..MERDEKA!!!!!!!!..thank’s
Oh iya PAk, kok ada artikel Ahlu Sunnah Waljamaah sih??kan ini situs sejarah???apakah Bapak jg ingin berDa’wah???..hehehehe..tp situs ini bgs kok bisa menambah wawasan kita tentang sejarah Indonesia..diperbanyak lg yah pak artikel2 tentang sejarahnya..diperbagus jg tampilannya,biar lebih menarik..hehehe..
Wassalammualaikum Wr.Wb
ehm..
Ass
Ni pa saya tulis komentar lagi!!
Setelah saya membaca artikel tentang Pranoto dengan cara seksama dan dalam tempo yang sangat lama,,saya dapat menyimpulkan bahwa,,,,,
artikel itu sangat subjektif dan blom tentu bener,,karena disitu hanya ada kesaksian dari Pranoto seorang.Tapi saya setuju2 aj klo banyak yang bilang P’Harto itu dalang dari G30S.
sekian dulu komentar saya!!
salam 1/2 merdeka
BANZAI…
Revolusi belum selesai bung!!!
Ass.
ehm… gimana yah??
kalo saya mau mempercayai tulisan eyang pranoto diatas,secara otomatis sya juga berpikir bahwa dalang dari segalanya adalh mbah harto.
tapi bisa jadi tulisan eyang pranoto merupakan tulisan yang terlalu berlebihan atau mungkin malah boong. yakni karena suatu maksud. bukankah kata bpk bahwa sejarah indonesia banyak di campuri oleh tangan2 para penguasa?.
sampai saat ini yang sya pikirkan ttg dalang dari G30S adalh Mbah harto yang menjadikan PKI sebagai alat atau fasilitasnya dan juga sebagai kambing hitam.
kasihan para manusia yang mati krn peristiwa tersebut. smoga Tuhan menempatkan mereka secara baik.. Amien
maap klo komentar sya ngaco.. manusia kan bnyak khilafnya
aa gym aja kawin lagi…
wass.
Assalamu’alaikum wr.wb.
Setelah saya membaca artikel di atas saya berpendapat bahwa dalang dari peristiwa G30S adalah Soeharto. Soeharto menahan Pranoto tanpa proses dan berita acara yang resmi. Pranoto hanya diinterogasi secara lisan sampai akhirnya ia dibebaskan(ditahan tanpa alasan yang jelas dan terkesan dibuat-buat). Selain itu Pranoto juga tidak pernah menerima surat pemecatan atau surat pemberhentian resmi lainnya dari AD. Jadi menurut kesimpulan saya Pranoto ditahan dan dituduh ikut terlibat dalam G30S karena ia mengetahui banyak tentang hal itu dan Soeharto tidak ingin kedoknya terbongkar. Intinya itu cuma akal-akalan Soeharto aja untuk menutupi kedoknya.
Yah..pokonya gitu deh pak kira2!!
Kurang lebihnya saya mohon maaf!
Wassalamu’alaikum
Kasus Pranoto hanyalah sebagian kecil dari banyak kasus lain yang terjadi diluar sana pada saat peristiwa G.30S/PKI. Banyak pengakuan-pengakuan dari orang lain yang juga mendapatkan nasib serupa, bahkan lebih parah daripada yg dialami oleh Sdr.Pranoto. Namun pengakuan hanyalah sebuah pengakuan yang sebetulnya juga belum dapat dipastikan kebenarannya, sangat subyektif. Dalam kasus G.30S/PKI, sulit untuk membuka fakta-fakta kebenaran ttg hal yg sebenarnya terjadi pada saat itu. Semua masih serba simpang siur, walaupun memang banyak fakta-fakta yang hampir serupa menunjukkan bahwa ada seseorang yang mempunyai andil besar dalam G30S ini.
Namun saya tidak terlalu suka mencampuri serta mengurusi hal-hal seperti ini, lebih baik mambaca buku pelajaran sejarah (walaupun saya tidak terlalu tertarik dgn sejarah), tapi setidaknya masih lebih bermanfaat untuk diri saya, dan nilai saya tentunya, haha.. Atau “push-up 17 kali di hari ulang tahun” juga masih lebih baik.
Kasus G30S-PKI adalah tugas untuk dipecahkan oleh para sejarawan seperti pak’ “sang fakir” ini..
Terus berjuang..
asalamualaikum….
saya minta kepada saksi2 peristiwqa g 30 s pki tidak takut mengeluarkan suara, agar kebohongan rezim orde baru dapat terungkap..
hidup kebenaran……………
asalamualaikum
MAU TAHU DALANG PEMBANTAIAN DI LUBANG BUAYA?
Pertanya, perlu diperhatikan dua istilah yang disingkat ini:
(1) Suharto menyebut pembantaian tergadap para jenderal itu sebagai “Gerakan 30 September” alias G-30-S
(2) Bung Karno menyebutnya sebagai Gerangkan Satu Oktober alias Gestok
Perbedaan itu antara lain disebab adanya alasan tekhnis baik yang diungkapkan oleh Suharto maupun oleh Soekarno.
Bung Karno mengungkapkan, bahwa pembantaian itu berlangsung setelah jam 12 malam di lobang Buaya, maka tanggalnya adalah 1 Oktober 1965, karena itu disebut sebagai Gestok (Gerakan Satu Oktober).
Tapi Suharto mengatakan perintahnya diberikan pada jam sebelum 12 malam, jadi mulai bergeraknya dan sahnya adalah pada 30 September 1965.
Bung Karno berpidato pada malam itu, sebelum jam 12 malam, yang di dalam pidatonya itu ada beliau mengisahkan tentang Baghawat Gita, yatiu satu episode dari Mahabharata. Arjuna kejut hatinya untuk meneruskan perang, karena di fihak yang akan dilawan itu ada gurunya sendiri (Durno) yang berarti dia akan melawan atasannya. Sebagai ksatria/prwjurit, maka itu tidak boleh. Tapi kemudian Kresna menasehatinya, yang akhirnya Arjuna yakin bahwa melawan Korawa itu berarti melawan kejahatan, bukan melawan atasan/gurunya —- jadi sah dan wajib hukumnya!
Kisah Baghawat Gita itu adalah sebagai kode bahwa penangkapan atas para jenderal sudah dikomandokan saat itu juga! Maka bergeraklah para pasukan yang telah disiapkan di Lobang Buaya untuk MENANGKAP (jadi, bukan membunuh!!!!) para jenderal tertentu. Tujuannya? Akan diadili di pengadilan militer di Halim Perdanakusumah dengan tuduhan jenderal-jenderal itu bermaksud melakukan kup. Apa buktinya? Buktinya adalah surat dokumen Gilchrist yang ditulis oleh Dubes Inggeris kepada Perdana Menter Inggeris yang menyebutkan “our local army friend” sudah siap melakukan kup.
Itulah semua yang dimaksudkan dengan G-30-S, jadi dalangnya memang Bung Karno, tetapi bukan untuk membunuh para jenderalnya, melainkan mengadilinya, dan dasarnya adalah dokumen itu. Suharto berpegang kepada hal ini.
Keputusan untuk menangkap para jenderal itu diputuskan dalam rapat kabinet tertutup dan terbatas di Istana Tampaksiring, Bali, yang hadir antara lain Leimina dan Untung pimpinan Carkrabirawa. Nah, Untung inilah yang menjadi “Arjuna”-nya Bung Karno.
Jadi, yang dilakukan oleh mereka yang menangkap dan membunuhnya dan membuangnya ke sumur tua di Lobang Buaya itu tidak sesuai dengan Skenario Bung Karno di Tampaksiring. Dan pembantaian itu terjadi pada jam sesudah 12 malam, jadi itulah yang menurut Bang Karno salah dan harus dikutuk, yaitu Gestok.
Tapi kekuatan Suharto menyimpulkan, apa pun alasan Bung Karno, tetap saja awalnya adalah perintahnya yang ada di dalam pidatonya pada jam sebelum jam 12 malam itu, karenanya Bung Karno bertanggung-jawab.
Nah, kemudian terbukti belakangan, justeru setelah Bung Karno wafat, apa yang disebut sebagai “Dokumen Gilchrist” itu adalah palsu, buatan inter Uni Sovyet KGB dan intel Chekoslowakia. Dan PKI disimpulkan sudah tahu hal ini.
Jadi tragis memang, bahwa tragedi yang menelan korban ribuan orang selain para jenderal kita itu, hanyalah gara-gara selembar kertas berupa dokumen palsu.
Daeng Matoa
yang dari daeng matoa bagus yah
…. cuma saya ingin menyimpulkan saja kok:d apa-apa yang di tanam manusia pasti di tuai artinya pasti mereka yang menanam pasti menuai.. seperti para pendukung atau pengikut PKI sudah tau Negeri ini Negeri yang bermayoritas Islam kenapa mesti di masuki Komunis yang jelas-jelas tidak bertuhan dan inilah kesalahan terbesar dari seorang Pendiri negeri Sukarno dan ini pula yang menjadi karma bagi sukarno….Ahmad yani Dan mereka para jendral yang terbunuh… Allah Hinakan mereka karena mereka telah menghinakan Islam yaitu dengan membantai para pejuang Muslim yang di sebut DI/TII (saya bukan anggota DI/TII) tapi saya seorang muslim yang melihat bahwa membunuh atau menumpahkan darah seorang Muslim adalah kafir hukumnya Alias Dosa besar dan hasil nya dari dari mereka yang terkena Imbas dari G30 S PKI adalah mereka yang telah membunuh para mujahid Allah dan Allah telah hinakan mereka dengan hukuman yang pantas… apakah kita tidak baca pada Tahun 1947 bendera negeri Islam Indonesia telah ada di PBB dan telah di akui dunia…. akan tetapi Sukarno telah merusak nya dengan menjadikan bahwa DI/TII Pimpinan kartosuwiryo adalah Pemberontak padahal kita tau bila tidak ada DI/TII maka hancur lah negeri ini karena Sukarno saat itu sedang di tahan Belanda…. untuk itulah setelah Belanda mengetahui kekuatan Negeri Islam Indonesia Maka belanda kembali melepas Sukarno dengan Alasan bahwa Indonesia harus menjadi RIS nah terbentuk lah RIS dan semua ini berkaitan dan menjadi sebab kenapa semua mereka terkena Imbas alias terbunuh dan teraniaya….Ahmad Yani adalah Pemimpin penumpasan Pemberontakan DI/TII Sukarno yang memerintah dan dari dua Orang ini mendapatkan Balasan yang sangat setimpal dengan apa-apa yang mereka lakukan….Sukarno ( mendapatkan dirinya seperti ikan dalam Aquarium tanpa air di buat oleh suharto ) hingga akhir hayat nya dalam keadaan menderita..
Ahmad Yani ( dibunuh oleh para Komunis ) dan semua mendapatkan apa apa yang mereka Tanam alias mereka sudah memanen di dunia ini (belom lagi di akhirat) jadi intinya semua adalah Taat Pada Hukum Allah Agar selamat tidak ada yang perlu di adili kembali karena Allah sudah memberi Hukuman kepada Pak Harto dengan memberinya penyakit dan belom juga mencabut nyawanya…
Maaf bila ada kata kata yang menyinggung ini adalah buah Pikiran saya.. dan dari buku buku yang saya baca …
intinya Taatilah Perintah Allah ( jangan enteng Tangan untuk mengeluarkan Darah sesama Muslim )
Siapa dalangnya G 30 S? tentu saja soeharto dengan bantuan Amerika dan sekutunya. Kasihan Bung karno terkena kudeta militer saudara sebangsanya sendiri.
BRANTAS PKI
sejujurnya saya tak mengerti siapa dalang dibalik PKI tersebut. siapa yang jahat dan siapa yang baik pun saya juga tak mengerti. kenapa semua ini dapat terjadi?? apakah sebenarnya Soeharto itu jahat?? klo iia Soeharto jahat, apa maksud Soeharto mengambil alih pemerintahan dari tangan Soekarno?? dan kenapa Rakyat tunduk kepada Soeharto selama 32thn????? dan kenapa baru di thn 1998, soeharto lenggser?? apakah tak ada yang berani melawan Soeharto?? tapii kenapa di thn 1998, mahasiswa berani melawan SOeharto?? apakah benar Soeharto menggunakan jimat hingga sekarang beliau belum dipanggil Yang MAha Kuasa?? kuheran kepada Soeharto !!!
ya udahlah, biar aja pas kiamat nanti..Allah yang ngasih tau apa kejadian sesungguhnya
ya udahlah, biar aja pas kiamat nanti..Allah yang ngasih tau apa kejadian sesungguhnya –>(ini tanda2 orang g kritis)
saya secara pribadi merasa turut bersedih yang sngt mendalam atas apa yang dialamai oleh bapak,,,, mudah2an itu benar adanya…
yang paling penting mnurut saya sekarang pemerintah sby harusnya membuat sebuah tim khusus untuk mengungkapkan kebenaran sejarah yang pernah terjaddi….
supaya bangsa kita tahu siapa pahlawan dan penjahat yang sebenarnya…
sejarah harus diluruskan dan kebenaran harus ditegakan…
assalamualikum
maaf saya ada sedikit pertanyaan tentang CATATAN KRONOLOGIS SEKITAR PERISTIWA GERAKAN G.30 S/PKI….mungkin nggak si presiden soekarno terlibat juga dalam gerakan tersebut…..padahal orang2 disekitar istana pada waktu itu kan komplotan anggota tersebut……maafkan atas kelancangan saya dalam mengungkapkan pendapat….