Ahlu Sunnah Waljamaah

Ahlu Sunnah wal Jama’ah

Sebagian kecil masyarakat ada yang mengidentikkan pengertian Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan masalah khilafiyah sekitar tahlil, talqin, qunut, bacaan ushalli dalam mengawali salat, dan lain sebagainya. Sebenarnya masalah yang terkait dengan Ahlus sunnah wal jamaah jauh lebih mendasar, bukan hanya permasalahan yang sering dipertentangkan sebagai khilafiyah tersebut. Karena itu kiranya membutuhkan pemahaman yang wajar tentang masalah ini guna menghindari pertikaian, perselisihan, dan percekcokan yang tidak diketahui permasalahan yang sebenarnya.

Asal Kata

Nabi Muhammad saw dalam salah satu haditsnya bersabda bahwa umat Islam nantinya terpecah dalam berbagai kelompok yang berbeda pendapat sebanyak 73 golongan. Dari seluruh golongan tersebut, yang selamat, tidak di neraka, hanya satu yaitu yang disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah,

Ketika ditanya tentang artinya, beliau menjawab singkat:

مَا اََنَا عَلَيْهِ اْليَوْمَ وَاَصْحَابِيْ

Segala yang aku berada di atasnya sekarang bersama para sahabatku, atau segala yang aku lakukan bersama sahabat-sahabatku.

Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa: istilah ahlus sunnah wal jamaah sudah pernah dipergunakan oleh Nabi saw sendiri.

Pengertian

Berdasar hadits tersebut dapat diuraikan pengertian sebagai berikut:

Kata ahlun, ahlu atau ahli, berarti kaum atau golongan.

Kata assunnah artinya tingkah laku, kebiasaan, ucapan, perbuatan atau sikap Nabi saw. Sama persis dengan arti hadits, bahkan ada pendapat bahwa assunnah lebih mendalam dari pada hadits, yaitu sikap yang berulang-ulang menjadi kebiasaan atau karakteristik. Kata assunnah dalam arti sempit hanya mencakup hadits, belum mencakup al-Quran, sumber pertama dari ajaran Islam. Tetapi kalau diingat bahwa Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah tidak pernah seujung rambut pun berbeda sikap dengan firman Allah (al-Quran), maka dapat dipastikan bahwa mengikuti assunnah pasti mengikuti al-Quran. Bahkan al-Quran itu dapat sampai kepada kita melalui beliau. Jadi ahlussunnah pasti ahlul Quran, tidak bisa lain.

Kata wa atau wal adalah kata sambung, berarti “dan”. Kata wa menunjukkan bahwa kedua hal yang disebut sebelum dan sesudahnya adalah sama, meskipun tidak sederajat.

Kata aljamaah, semula berarti kelompok. Dalam hal ini pengertiannya sudah mengkhusus menjadi kelompok sahabat Nabi. Istilah sahabat Nabi artinya sudah mengkhusus pula, yaitu mereka yang beriman kepada Nabi dan hidup sezaman atau pernah berjumpa dengan beliau. Kata aljamaah berarti juga para sahabat, terutama sahabat terkemuka. Mereka adalah orang-orang paling dekat dan selalu bersama Nabi. Mereka buka saja membaca atau mendengar sesuatu hadits, tetapi juga menghayati sesuatu yang tersurat pada hadits karena para sahabat, terutama sahabat terkemuka mengetahui: sebab musabab sesuatu hadits timbul, situasi pada saat timbul sesuatu hadits, dan hubungan sesuatu hadits dengan hadits yang lain, dengan ayat al-Quran, dengan kebiasaan atau tingkah laku Nabi sehari-hari dan sebagainya.

Penilaian yang tinggi terhadap penghayatan para sahabat terbukti dengan bunyi hadits di atas, yang oleh Nabi sendiri dirangkaikan antara assunnah dengan aljamaah. Nabi pernah bersabda yang maksudnya bahwa para sahabatnya adalah ibarat bintang-bintang, yang dengan siapa saja kalau kamu sekalian mau ikut, maka kamu sekalian akan mendapat petunjuk. Meskipun demikian, tetaplah al-Hadits merupakan sumber kedua dari agama Islam di samping al-Quran, sedangkan penghayatan para sahabat terkemuka adalah petunjuk utama untuk mencapai garis kebenaran yang ada pada al-Quran dan al-Hadits.

Dengan demikian secara literal, Ahlussunnah wal-Jama’ah berarti “Pendukung Sunnah (Nabi Saw) dan Jama’ah.” Para pendukungnya adalah orang-orang yang menjadikan Sunnah Nabi Saw dan Jama’ah sebagai tiang utama bangunan keislaman mereka. Hilang salah satu dari keduanya, bangunan Islamnya goyang, bahkan bisa jadi hancur. Dengan kata lain, orang yang tidak mengikuti Sunnah atau orang yang tidak mengikuti Jama’ah, atau keluar dari Jama’ah, maka dia bukan lagi bagian dari masyarakat Islam.

Firqah-Firqah dalam Konteks Sejarah

Sinyalemen Nabi tentang golongan dan perbedaan yang timbul ternyata benar. Maklum, bahwa hal yang disabdakan oleh beliau selalu berdasar wahyu Allah. Setelah beliau wafat mulai timbul orang-orang yang kemudian menjadi kelompok dan golongan, yang berangsur-angsur membedakan diri, memisahkan diri, dan mulai menyimpang dari garis lurus assunnah wal jamaah.

Faktor utama yang menyebabkan pembedaan, pemisahan, dan penyimpangan ialah sikap tatharruf atau ekstrimisme, berlebih-lebihan di dalam memegang pendirian atau melakukan sesuatu perbuatan. Hal ini juga terjadi sebagai akibat bercampurbaurnya urusan keagamaan dengan urusan pemerintahan.

Hal yang mendasari kelahiran berbagai golongan dalam Islam ialah setelah munculnya masa fitnah, yakni terbunuhnya khalifah Usman bin Affan RA. Saat itu para sahabat memilih Ali bin Abi Thalib RA untuk menggantikan Usman sebagai khalifatul mukminin. Namun, pengangkatan Ali bin Abi Thalib melahirkan perlawanan dari Muawiyah bin Abi Sufyan, Aisyah, Thalhah dan Zubair bin Awwam. Mereka menuntut agar khalifah Ali menangkap dan memberlakukan Qishash kepada para pembunuh Usman. Muawiyah memerangi Ali karena ia adalah kerabat dekat Usman, dan juga karena ingin berkuasa.

Aisyah istri rasul, memerangi Ali bin Abi Thalib dan kemudian berhasil dikalahkan (perang tersebut dinamakan perang jamal, karena Aisyah mengendarai unta). Setelah itu pasukan Ali bertempur melawan pasukan Muawiyah. Ketika pasukan khalifah Ali berhasil mendesak pasukan Muawiyah, maka panglima Muawiyah, Amar bin Ash, melancarkan siasat Tahkim (mengangkat al-Quran) agar mereka tidak di bunuh. Sebagai gantinya mereka menawarkan perundingan. Khalifah Ali kemudian menerima usul itu. Dalam perundingan, Khalifah Ali diwakili Abu Musa Al-Asy’ari, sedang Muawiyah diwakili Amar bin Ash. Ternyata hasil perundingan merugikan pihak khalifah Ali, karena Abu Musa tertipu siasat Amar yang memberhentikan Ali dan mengangkat Muawiyah sebagai khalifah yang baru. Kelompok yang mendukung Ali disebut kaum Syiah. Lambat laun, Syiah tidak hanya berkembang sebagai sebuah gerakan politik. Bahkan mereka juga menjadi suatu kelompok dalam Islam dan memiliki penafsiran keagamaan tersendiri. Kaum Syiah mengkultuskan Ali bin Abi Thalib, sebagai penerus keimaman pasca rosulullah SAW, bahkan mewariskannya hingga beberapa garis keturunan Ali. Paham keagamaan mereka tertuju kepada beberapa figure, seperti: bidang fiqh mereka merujuk kepada Imam Ja’far shodiq, bidang Hadits mereka mengikuti al-Kulaini, bidang tasawuf mereka bersumber kepada Mulla Shadra, sedangkan teologi mereka lebih dekat kepada Mu’tazilah.

Diantara para pendukung Ali, juga terdapat golongan yang memisahkan diri, karena menolak diadakannya perundingan dengan kelompok Muawiyah. Mereka menganggap keimaman Ali, dikalahkan oleh urusan politik, sehingga tidak perlu lagi diikuti. Golongan ini populer disebut dengan istilah Khawarij. Ciri umum kelompok ini adalah terlalu kaku, radikal anarkis yang memusuhi semua pihak, tidak mau diatur. Golongan ini adalah golongan yang gemar mengkafirkan muslim lainnya, karena mereka menafsirkan Al-Quran secara kaku sebagaimana yang tertulis dan terkadang meninggalkan As-sunnah. Padahal dalam memahami Al-Qur’an sebagai hukum saja, harus dimengerti dengan bantuan asbabul nuzul, wurud dan kaidah-kaidah lainnya. “Al-Qur’an itu terlalu umum sehingga apapun yang kamu sampaikan akan ada bantahannya yang juga diambilkan dari al-Qur’an. Berargumenlah dengan Sunnah,”demikian kata Ali bin abi Thalib. Jadi walaupun al-Qur’an adalah sumber utama ajaran Islam, pada prakteknya Sunnah inilah yang paling sering dirujuk.

Pada zaman berikutnya muncul lagi golongan Mu’tazilah yang terlalu memuja akal, sehingga kalau ada dalil nash yaitu al-Quran dan al-Hadits yang tidak atau kurang sesuai dengan selera pikiran, maka dipaksakan penafsiran menurut selera mereka yang terlalu rasionalistis.

Ahlu Sunnah Wal-Jamaah

Adapun Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah (Aswaja) tidaklah lahir dari suatu pertikaian politik, karena aswaja sebuah golongan yang meneruskan konsep jamaah sepeninggal Rosulullah SAW. Setelah Sunnah, otoritas yang bisa menjelaskan al-Qur’an dan sekaligus menjadi pedoman masyarakat Muslim adalah Jama’ah. Bagi orang Sunni (pengikut Aswaja), sepeninggal Nabi otoritas jatuh ke tangan masyarakat Islam, yang disebut Jama’ah. Jama’ahlah yang menjadi ‘wakil’ Tuhan di bumi. Jama’ahlah yang menentukan siapa yang akan memegang otoritas politik dan agama. Pemimpin umat dipilih oleh Jama’ah. Keputusan-keputusan apapun yang menyangkut masyarakat Muslim ditentukan oleh Jama’ah lewat musyawarah.

Hasil putusan Jama’ah disebut Ijma’. Sekali diputuskan, Ijma menjadi sumber hukum yang harus diikuti oleh semua anggota Jama’ah. Umar RA pernah mengatakan bahwa “Tangan Allah itu di atas Jama’ah.” Apa yang baik menurut Jama’ah pasti baik menurut Tuhan. Orang Islam yang keluar dari Jama’ah dianggap bukan Islam. “Barang siapa yang meninggal dalam keadaan lepas dari Jama’ah, maka matinya adalah mati Jahiliyyah,” demikian kata Nabi. Jahiliyyah adalah keadaan seseorang atau suatu masa sebelum Islam.

Identifikasi yang sangat jelas antara Jama’ah dengan Islam ada pada masa Nabi. Waktu menyeru kepada Islam, Nabi kadang-kadang mengggunakan kata-kata “Masuklah Anda ke Jama’ah.” Maksudnya, masuklah Anda ke dalam Islam. Tetapi perlu diingat bahwa Madinah pada masa Nabi juga dihuni kalangan non-Muslim (antara lain, Yahudi). Pembuatan Piagam Madinah, sebuah dokumen yang berisi hak dan kewajiban masing-masing angggota masyarakat Madinah, tentu saja melibatkan kelompok-kelompok non-Muslim. Analisa terhadap dokumen itu menunjukkan bahwa piagam ini tidak dibuat sekali jadi, tetapi dalam beberapa tahapan melalui negosiasi yang alot.

Sebagai produk dari sebuah negosiasi, tidak semua apa yang ditulis di dalam dokumen itu sesuai dengan keinginan Nabi dan orang-orang Islam. Nabi, misalnya, dalam dokumen itu tidak meletakkan dirinya sebagai pemimpin agama, tetapi lebih sebagai kepala suku. Demikian juga, tidak semua kepentingan orang-orang non-Muslim diakomodasi oleh dokumen tersebut. Masing-masing bergeser dari posisi awal dan berusaha menemukan kesepakatan.

Berasal dari bahasa Arab, jama’ah berarti ‘persatuan’ atau ‘kebersamaan.’ Sembahyang berjama’ah artinya sembahyang bersama-sama. ‘Ijma’ adalah keputusan bersama. Menekankan aspek kebersamaan, Jama’ah lebih dari sekedar persoalan mayoritas minoritas, sehingga simple majority bukanlah mekanisme yang diadopsi untuk memperolah keputusan. Ia adalah instrumen dimana hubungan kemanusiaan, pengakuan adanya perbedaan, partisipasi semua pihak, dan kelegaan bersama dipelihara. Kebersamaan tidak dicapai dengan cara menghilangkan kelompok lain, tetapi dengan cara dialog.

 

Ahlu Sunnah Wal-Jamaah memiliki metoda, haluan atau pedoman yaitu meliputi:

Nash Qath’iy, yaitu al-Quran dan hadits sahih yang jelas tegas artinya selalu didahulukan. Nash qath’iy harus didahulukan sebelum penggunaan akal pikiran, karena memang sudah menjadi konsekuensi wajar atas syahadat kita, yaitu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang membawa konsekuensi taat kepada al-Quran; dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah yang membawa konsekuensi taat kepada al-Hadits.

Ar-Ra’yu, akal pikiran dipergunakan dalam hal nash tidak qath’iy atau tidak ada /nash/nya. Penggunaan ar-ra’yu untuk menyimpulkan hukum agama yang lazim disebut ijtihad hanya dilakukan oleh mereka yang memenuhi syarat yang ketat supaya hasilnya selalu berada pada garis kebenaran assunnah wal jamaah. bagi yang tidak mampu memenuhi syarat tersebut dipersilakan mengikuti hasil ijtihad para ahli yang memenuhi syarat. Ar-ra’yu yang dipergunakan adalah berdasar hadits ketika Nabi Muhammad saw mengutus sahabat Muadz bin Jabal ke Yaman. Sahabat tersebut memberikan jawaban atas ujian yang dilakukan oleh Nabi, bahwa ia akan selalu memberikan hukum berdasar al-Quran dan al-Hadits; kalau tidak ditemukan maka dia akan berijtihad yaitu menggunakan ra’yu. Nabi membenarkan jawaban sahabat Muadz.

Penggunaan ar-ra’yu harus dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat yang ketat, karena dalam hal ini yang dicari bukanlah hal-hal duniawi tetapi hukum agama yang membawa konsekuensi ukhrawi. Hadits Nabi menerangkan bahwa barang siapa menafsirkan al-Quran dengan pendapat atau selera sendiri, maka baginya disiapkan tempat di neraka. Keharusan bagi seseorang yang tidak mampu memenuhi syarat berijtihad sendiri adalah mengikuti pendapat para ahli agama yang ahli ijtihad dan bertanya kepada yang tahu, yang tidak ahli harus bertanya kepada yang ahli. Diantaranya yang dapat diikuti yaitu para ulama mujtahidin, yang memenuhi persyaratan ijtihad dan hasil ijtihadnya dapat diketahui dengan mudah karena terbukukan dengan lengkap. Mengikuti hasil ijtihad ahli agama inilah yang disebut bermadzhab atau taklid. Firman Allah dalam al-Anbiya’ ayat 7 yang artinya: “Bertanyalah kepada ahli agama kalau kamu sekalian tidak tahu”.

Dalam mempermudah jalan mempelajari dan memahami al-Islam, para ulama salaf, shalihin, yang menjadi rujukan dalam paham ahlu sunnah Wal-Jama’ah ialah mereka yang pendapat dan hasil ijtihadnya diakui oleh dunia Islam sepanjang sejarah sebagai pendapat yang berada pada garis kebenaran assunnah wal jamaah. Secara umum para ulama itu antara lain: Bidang akidah, tauhid, atau kepercayaan: Imam Abul Hasan al-Asy’ariy dan Imam Abu Mansur al-Maturidiy. Bidang syariah, fikih, atau hukum: Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’iy, dan Imam Hambali. Dalam bidang tasawuf: Al-Ghazali.

 

Prinsip Dasar Ahlussunnah wal Jama’ah

Ahlussunnah wal Jama’ah memiliki prinsip-prinsip dasar yang menjadi rujukan bagi tingkah laku sosial dan pemahaman keagamaan. Prinsip dasar Ahlussunnah wal Jama’ah, yang bersumber kepada al-Qur’an, sunnah, ijma’, dan qiyas ini telah menjadi paradigma sosial-kemasyarakatan yang terus dikembangkan sesuai dengan konteks perkembangan masyarakat Islam dan pemikirannya.

Prinsip-prinsip dasar ini meliputi :

Pertama, prinsip tawassuth, yaitu jalan tengah, tidak ekstrem kanan atau kiri. Tasawuth dapat berarti Moderasi, yakni menengahi antara dua pikiran yang ekstrem; antara Qadariyah (free-willism) dan Jabariyah (fatalism), ortodoks salaf dan rasionalisme Mu’tazilah, dan antara sufisme falsafi dan sufisme salafi. Sikap moderasi Ahlussunnah wal Jama’ah tercermin pada metode pengambilan hukum (istinbâth) yang tidak semata-mata menggunakan nash, namun juga memperhatikan posisi akal. Begitu pula dalam berfikir selalu menjembatani antara wahyu dengan rasio (al-ra’y). Metode (manhaj) seperti inilah yang diimplementasikan oleh imam mazhab empat serta generasi lapis berikutnya dalam menghasilkan hukum-hukum.

Penerapan sikap dasar tawassuth dalam usaha pemahaman al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber ajaran Islam, dilakukan dalam rangka : (1) Memahami ajaran Islam melalui teks mushhaf al-Qur’an dan kitab al-Hadits sebagai dokumen tertulis; (2) Memahami ajaran Islam melalui interpretasi para ahli yang harus sepantasnya diperhitungkan, mulai dari sahabat, tabi’in sampai para imam dan ulama mu’tabar; (3) Mempersilahkan mereka yang memiliki persyaratan cukup untuk mengambil kesimpulan pendapat sendiri langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits.

Kedua, prinsip tawâzun, yakni menjaga keseimbangan dan keselarasan, sehingga terpelihara secara seimbang antara kepentingan dunia dan akherat, kepentingan pribadi dan masyarakat, dan kepentingan masa kini dan masa datang. Pola ini dibangun lebih banyak untuk persoalan-persoalan yang berdimensi sosial politik. Dalam bahasa lain, melalui pola ini Ahlussunnah wal Jama’ah ingin menciptakan integritas dan solidaritas sosial umat.

Dalam politik. Ahlussunnah wal Jama’ah tidak selalu membenarkan kelompok garis keras (ekstrim). Akan tetapi, jika berhadapan dengan penguasa yang lalim, mereka tidak segan-segan mengambil jarak dan mengadakan aliansi. Jadi, suatu saat mereka bisa akomodatif, suatu saat bisa lebih dari itu meskipun masih dalam batas tawâzun.

Ketiga, prinsip tasâmuh, yaitu bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan, terutama dalam hal-hal yang bersifat furu’iyah, sehingga tidak terjadi perasaan saling terganggu, saling memusuhi, dan sebaliknya akan tercipta persaudaraan yang islami (ukhuwwah islâmiyyah).

Berbagai pemikiran yang tumbuh dalam masyarakat Muslim mendapatkan pengakuan yang apresiatif. Keterbukaan yang demikian lebar untuk menerima berbagai pendapat menjadikan Ahlussunnah wal Jama’ah memiliki kemampuan untuk meredam berbagai konflik internal umat. Corak ini sangat tampak dalam wacana pemikiran hukum Islam yang paling realistik dan paling banyak menyentuh aspek relasi sosial.

Dalam diskursus sosial-budaya, Ahlussunnah wal Jama’ah banyak melakukan toleransi terhadap tradisi-tradisi yang telah berkembang di masyarakat, tanpa melibatkan diri dalam substansinya, bahkan tetap berusaha untuk mengarahkannya. Formalisme dalam aspek-aspek kebudayaan dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah tidaklah memiliki signifikansi yang kuat. Karena itu, tidak mengherankan jika dalam tradisi kaum Sunni terkesan hadirnya wajah kultur Syi’ah atau bahkan Hinduisme.

keempat, prinsip amar ma’ruf nahi munkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran). Dengan prinsip ini, akan timbul kepekaan dan mendorong perbauatan yang baik dalam kehidupan bersama serta kepekaan menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan kehidupan ke lembah kemungkaran.

Jika empat prinsip ini diperhatikan secara seksama, maka dapat dilihat bahwa ciri dan inti ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah adalah pembawa rahmat bagi alam semesta (rahmah li al- ‘âlamîn).

 

Berijtihad vs Bermazhab

Berbicara tentang Ahlus Sunnah wal Jamaah lazim dikaitkan dengan masalah ijtihad dan madzhab. Memang kedua hal tersebut ada hubungannya. Ijtihad yang pada uraian yang lalu diartikan juga penggunaan ra’yu adalah usaha keras untuk menyimpulkan hukum agama atas sesuatu hal berdasar dari al-Quran dan/atau hadits, karena hal yang dicari hukumnya tidak ada nash yang sharih, jelas, tegas, atau qath’iy, pasti.

Ijtihad adalah usaha yang diperintahkan oleh agama Islam untuk mendapat hukum sesuatu yang tidak ada nash sharih dan qath’iy dalam al-Quran dan/atau hadits. Ijtihad dilakukan dengan beberapa metoda, yang paling terkenal adalah cara qiyas atau analogi dan ijma’ atau kesepakatan para mujtahidin. Hasil berijtihad yang berwujud pendapat hukum itulah yang disebut madzhab yang asal artinya tempat berjalan. Persyaratan ijtihad cukup banyak, tetapi pada pokoknya adalah: 1) Kemampuan ilmu agama dengan al-Quran dan al-Hadits dan segala kelengkapannya seperti bahasa Arab, tafsir, dan lain-lain. 2) Kemampuan menganalisis, menghayati, dan menggunakan metoda kaidah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua hal ini harus dilakukan atas dasar akhlak atau mental yaitu keikhlasan mengabdi kepada Allah dalam mencari kebenaran, bukan sekedar mencari-cari argumentasi untuk membenarkan kecenderungan selera dan hawa-nafsu. Dengan demikian, tidak sulit memastikan bahwa tidak semua orang dapat dan mampu melakukan ijtihad.

Hasil ijtihad atau madzhab seorang mujtahid biasanya diterima dan diikuti oleh orang lain. Sementara orang lain yang tidak berkemampuan berijtihad sendiri yang menerima dan mengikuti hasil ijtihad disebut bermadzhab kepada mujtahid tersebut. Ibaratnya yang berijtihad adalah produsen dan yang bermadzhab adalah konsumen. Bermadzhab bukanlah tingkah laku orang bodoh saja, tetapi merupakan sikap yang wajar dari seorang yang tahu diri. Ahli hadits paling terkenal, Imam Bukhari masih tergolong orang yang bermadzhab Syafi’iy. Jadi, ada tingkatan bermadzhab. Makin tinggi kemampuan seseorang, makin tinggi tingkat bermadzhabnya sehingga makin longgar keterikatannya, dan mungkin akhirnya berijtihad sendiri.

Ada alternatif lain yang disebut ittiba’, yaitu mengikuti hasil ijtihad orang lain dengan mengerti dalil dan argumentasinya.Namun mewajibkan ittiba’ atas setiap muslim dengan pengertian bahwa setiap muslim harus mengerti dan mengetahui dalil atau argumentasi semua hal yang diikuti kiranya tidak akan tercapai. Kalau sudah diwajibkan, maka yang tidak dapat melakukannya dianggap berdosa. Jika demikian, berapa banyak orang yang dianggap berdosa karena tidak mampu melakukan ittiba’? ittiba’ hanyalah salah satu tingkat bermadzhab atau taklid yang lebih tinggi sedikit. Dengan demikian hanya terjadi perbedaan istilah, bahwa ittiba’ tidak diwajibkan, melainkan sekedar anjuran dan didorong sekuat tenaga.

Wallahu a’lam bis-shawab

Jakarta, 24 November 2006, pk 24.17,!

humaidi, Ketua I PMII Cabang Jakarta-Timur 2004-2006

5 thoughts on “Ahlu Sunnah Waljamaah

  1. SIFAT DAN KEDUDUKAN AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH
    Oleh: Dr Ismail Lutfi Fatoni
    Ahli Sunnah Wal Jama’ah iala para sahabat Rasulullah SAW kemudian para tabi’in yang mengikut manhaj para sahabat dengan sebaik-baiknya .Maka barangsiapa yang melazimi al Quran dan as Sunnah serta ijma’ atau amalan para sahabat juga qias maka mereka adalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah.
    Kesemuanya itu adalah diiktibarkan dari kalangan ahli ilmu dan ijtihad samaada pengikut mereka itu ramai atau sedikit. Kerana asas perkiraan Ahli Sunnah Wal Jama’ah ialah al manhaj atau isi ajarannya iaitu sempurna itba’ akan al Quran dan as Sunnah menurut fahaman salaf soleh . Dan memang perkara itu tidak berlaku kecuali pada ulamak yang benar-benar faham al Quran dan as Sunnah seperti para imam mazhab yang masyhur : Abu Hanifah (Wafat pada 150 H), Malik bin Anas (wafat pada 179 H), Muhammad bin Idris as Syafi’ie (wafat pada 204 H), Ahmad bin Hanbal (wafat pada 241 H), Imam Abu Hasan al Asy’ari pada pegangannya yang terakhir (wafat pada 327 H) dan lain-lain ulamak yang mu’tabarin. Bukan orang biasa, walaupun ia dapat membaca, apalagi orang ramai atau orang awam.
    Di antara sifat Ahli Sunnah Wal Jama’ah di sepanjang sejarah mereka ialah :
    Pertama:
    Ummat yang dipilih yang adil serta pertengahan dalam sikapnya seperti firman Allah SWT Maksudnya : Dan demikianlah kami jadikan kamu(wahai ummat Islam) selaku sebaik-baik ummat yang melazimi sifat adil serta pertengahan di antara dua keterlaluan yang tercela supaya kamu sekelian menjadi penyelia keatas manusia dan adalah Rasulullah selaku penyelia ke atas kamu. (Al Baqarah : 143).“Ummat terpilih”, yang adil serta pertengahan dalam pegangan dan sikapnya terhadap pihak yang tercela iaitu al ifrhat dan tafrhit. “Ifrhat” yakni terlampau fanatik yang melebihkan hak-hak yang diberi kepada satu-satu perkara. Manakala “Tafrhit” ialah terlampau kurang dalam memberi hak kepada satu perkara, seperti ifrhat orang Nasara sehingga mentuhankan Nabi Isa AS dan tafrhit orang-orang Yahudi sehingga membunuh para Nabi. (1).
    Begitulah di antara ifrhat para ahli ta’thil dan yang menafikan sifat-sifat Allah dan tafrhit ahli ahli tasybish yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan makhluk dan sebagaimya.Wallahu’alam.
    .
    Kedua:

    Mereka suka belajar dan beramal dengan ajaran al Quran dan as Sunnah, tidak banyak bertanya dan tidak suka mencipta soalan dan masaalah yang pelik dan ganjil dan tidak suka berdebat. Dengarlah arahan Nabi kamu Muhammad SAW : Maksudnya : Cukuplah sekadar yang aku tinggalkan kepadamu, kerana masaalah yang merosakkan orang-orang yang sebelum kamu ialah banyaknya soalan-soalan dan perselisihan mereka terhadap Nabi mereka. Oleh kerana itu hendaklah kamu menjauhi dari semua perkara yang aku melarang kamu darinya dan kerjalah sekadar mampu perkara yang aku perintahkan supaya melakukannya. (2)
    Maksudnya : Sesungguhnya Allah SWT redha untuk kamu tiga perkara: la redha untuk kamu menyembahnya dan tidak bersyirik dengannya akan sesuatu, dan bahawa kamu berpegang teguh dengan tali Allah (semua ajaran Islam) dan janganlah kamu berpecah belah (darinya), dan bahawa kamu saling menasihati orang-orang yang (Allah) melantiknya menjadi pemimpin atau pengawd urusan kamu. Dan Allah benci kepada kamu tiga perkara : (iaitu) banyak bercakap, membazirkan harta dan banyak bertanya. (3)
    Maksudnya: Manusia sentiasa bertanya-tanya sehingga mereka berkata : Ini Allah pencipta segala sesuatu, maka siapakah yang menciptakan Allah?, maka apabila salah seorang dari kalangan kamu dapati demikian hendaklah ia berkata : Aku telah beriman dengan Allah. (4)
    Ketiga :
    Mereka sentiasa bertegak di atas al haq dari Allah melalui pelaksanaan sunnah Rasulullah SAW. Kerana mereka adalah ahl al haq dan perkara haq hanya dari Allah yang sangat nyata di dalam al Quran serta senang menerimanya, yang dicontohi secara pelaksanaan oleh sunnah Rasulullah SAW. Dan sememangnya as Sunnah tetap terpelihara dengan jelas di dalam kitab sunan dan athar. Mereka melazimi al Jama’ah dan sememangnya al Jama’ah sentiasa wujud dan dikawal oleh Allah selama mana ahlinya tetap bertegak di atas asas al haq dari Allah SWT. Dengan itu hidup mereka sentiasa terpimpin, kerana pedoman mereka yang asalnya hanya al Quran dan as Sunnah menurut fahaman salaf soleh yang diterangkan oleh ulamak mu’tabarin. Walaupun mereka pada beberapa masa dan tempat berada dalam keadaan terancam dan dizalimi, terutamanya padaw saat mereka sebagai ghurabak (ganjil dan terpinggir), apalagi yang berusaha menyebar dan memperbaharuinya selaku Mujaddidin. Wallahulmusta’an.
    Keempat:
    Ahli Sunnah Wal Jama’ah tidak ada hubungan dengan jumlah ramai atau sedikit pengikutnya; apalagi elepas tiga kurun yang pertama. Kerana pada umumnya jumlah mereka sentiasa sedikit. Dan tidak pula pasti ada hubungan dengan pihak berkuasa di dalam mana-mana kerajaan atau masyarakat. Bahkan dikira dari manhaj dan cara perjalanan para ulamak yang benar-benar faham akan ajaran al Quran serta melazimi sunnah Rasulullah SAW dan sunnah para sahabat RA menurut penerangan salaf soleh dan para ulamak yang mu’tabarin pada setiap masa dan tempat.
    Berkata Nu’aim bin Hammad (5)
    “Apabila berlaku rosaknya al Jama’ah maka hendaklah kamu berpegang dengan manhaj perjalanan Jama’ah yang belum rosak, sekalipun engkau seorang diri sahaja. Kerana sesungguhnya engkau yang berseorang diri ketika itu adalah Jama’ah”. (6)
    Hal ini mengingatkan kita kepada keadaan Nabi Ibrahim AS di mana baginda hanya seorang diri di dalam dunia ini membawa kebenaran dari Allah, terutama sewaktu Baginda diuji oleh kerajaan Namrud, beliau berdoa sepertimana yang diriwayatkan Abu Hurairah ia berkata : Sabda Rasulullah SAW :Maksudnya : Tatakala Nabi Ibrahim dicampak dalam api (oleh kerajaan Namrud) beliau berdoa “Wahai Tuhanku!, sesungguhnya engkau hanya tunggal di langit dan aku adalah seorang sahaja di bumi ini yang (beriman dan) beribadah kepadamu. (7)
    Itulah makanya Allah mengangap Ibrahim sebagai ummat dalam firman Allah SWT : Maksudnya : Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (yang selaku sebuah ummat) yang patut dijadikan tauladan lagi patuh kepada Allah serta hanif (hanya condong kepada tauhid dan al haq) dan sekali-kali bukanlah termasuk orang yang bersyirikkan Allah. (An Nahl:120).
    Begitulah keadaan para Rasul, terutama yang dipilih selaku ulul azmi seperti Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Nuh AS. Mereka hanya seorang diri dalam menghadapi cabaran dan penentangan kaum mereka dalam beberapa waktu pada permulaan dakwah dan ada di antara para Rasul yang tidak ada pengikut sehingga akhir hayatnya. Kenyataan ini amatlah jelas sewaktu mana masing-masing mereka berseorangan di kolam haudh pada hari akhirat kelak.Wallahulmusta’an.
    Dan ingatlah bahawa keadaan Ahli Sunnah Wal Jama’ah pada kebanyakan zaman selepas sahabat adalah gharib. Sabda Rasulullah SAW : Maksudnya : Sesunggunya Islam itu bermula dengan keadaan ganjil dan ia akan kembali menjadi ganjil sepertimana ia bermula, maka berbahagialah bagi orang-orang yang ganjil itu. Kami bertanya : siapakah mereka yang ganjil itu wahai Rasulullah?, baginda menjawab : ialah orang-orang yang menegakkan sunnah aku yang telah dirosakkan oleh orang-orang yang selepas aku (dengan bermacam-macam bid’ ah). (8)
    Dan pada satu lafaz; ialah :”laitu orang-orang yang berusaha mengislahkan (penyelewengan orang ramai dari landasan as Sunnah) ketika mana rosaknya keadaan orang ramai”. Atau dengan lafaz Yakni : “Beberapa orang yang soleh di celah-celah orang ramai yang jahat”.
    Berkata al Hasan al Bashri (9)
    Maksudnya : Demi Allah yang tiada tuhan melainkan dia, (perjalanan) as Sunnah adalah sederhana dan pertengahan di antara yang ikut secara melampau had (yang sebenar) dan yang menolak mentah-mentah (tanpa alasan), maka sabarlah kamu di atas perjalanan as Sunnah, semoga Allah merahmati kamu, kerana sesungguhnya Ahli Sunnah adalah sangat sedikit bilangan mereka pada masa yang telah lepas dan mereka itu bertambah kurang bilangannya pada masa sekarang. Mereka itu tidaklah bersama-sama dengan orang yang terlalu mewah dan tengelam dalam kemewahan mereka (10) dan mereka tidak pula bersama-sama dengan ahli bid’ah (semasa itu) yang tenggelam lemas dalam pegangan penyelewengan dan amalan bid’ah mereka. Mereka bersabar melazimi sunnah mereka (iaitu sunnah Rasulullah) sehingga mereka berjumpa tuhan mereka (yakni mati), begitulah InsyaAllah, kamu mesti bersikap dalam hidupmu. (11)

    Kelima:
    Di antara sifat Ahli Sunnah Wal Jama’ah ialah sentiasa mendahulukan nas-nas naqli dari pendapat akal serta berpegang kepada sunnah Rasulullah SAW dalam segala lapangan hidupnya, bermula dari ‘aqidahnya, ibadahnya dan akhlaknya, di mana ‘aqidahnya ialah ‘aqidah Rasulullah SAW, ibadahnya ialah ibadah Rasulullah SAW dan akhlaknya ialah akhlak Rasulullah SAW. Mereka melazimi sunnah fi’liyyah (perbuatan), sunnah qauliyyah (perkataan). Begitu juga sunnah tarkiyah yakni meninggalkan amal ibadah yang tidak pernah diajar dan tidak pula dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam hidupnya.
    Firman Allah SWT : Maksudnya : Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului keatas perkataan Allah dan RasulNya dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah adalah amat mendengar lagi amat mengetahul (Al Hujurat: 1).
    Berkata Ibn ‘Abbas RA: “Janganlah kamu berkata apa perkara yang menyalahi al Kitab dan as Sunnah”. Bahkan jadilah kamu pengikut Allah dan RasulNya dalam semua urusan hidupmu) (12)
    Firman Allah SWT : Maksudnya : Maka barangsiapa yang ikut akan pertunjukku (yang terkandung di dalam al Quran dan as Sunnah) maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka sama sekali. (Taha :123).
    Dalam menafsirkan ayat ini, berkata Ibnu Abbas RA : sabda Rasulullah SAW :Maksudnya : Barangsiapa yang mengikut al Quran nescaya Allah memimpinnya ke suatu jalan yang selamat dari kesesatan di dunia serta Allah memeliharanya dari keburukan (hasil) hisab pada hari kiamat, itulah makanya Allah (yang maksudnya) “Maka barangsiapa yang mengikut petunjukku maka ia tidak akan sesat dan tidak pula akan celaka sama sekali” (13)
    Berkata Abu Muzaffar as Sam’an

    Maksudnya : Ahli Sunnah bertegas bahawa asal dalam agama ialah ikut (sunnah yang berdasarkan al Quran dan as Sunnah), manakala akal adalah pengikut (bukan asas, kerana) kalaulah pendapat akal (secara tidak berasaskan nas) itu sebagai asas dalam beragama nescaya sekelian makhluk ini tidak berhajat lagi kepada wahyu Allah dan tidak pula kepada para anbiya’ (yang membawa, menyampaikan dan melaksanakan wahyu Allah sebagai qudwah kepada manusia) serta gugurlah maksud perintah suruhan dan larangan dalam al Quran (kerana terkadang bercanggah dengan akal). Kalaulah begitu maka bererti setiap orang berkata berkata-kata menurut kehendaknya berdasarkan akalnya. Subhanallah. (14)
    Keenam:
    Mereka mengithbatkan semua sifat-sifat Allah menurut apa yang datang pada nas-nas al Quran dan hadith-hadith yang sahih, walaupun hadith ahad (15) secara beriman dengannya, tanpa takwil, ta’thil, tasybih, dan tanpa tahrif sama sekali. Seperti mana kata Imam Ahmad ; mengenai hadith-hadith sifat (Allah) : Maksudnya : Kami beriman dengannya (yakni dengan segala sifat Allah) dan membenarkannya serta tidak menolak sesuatu darinya apabila diriwayatkannya dengan sanad-sanad yang sahih. (16)
    Yakni sama ada hadith itu mutawatir atau ahad.
    Pegangan tersebut adalah bercanggah dengan ulamak mu’tazilah dan ahli kalam yang menolak hadith-hadith ahad walaupun sahih, sekiranya berlawanan dengan hujah aqliyah di segi ‘aqidah (17) . Sepertimana yang ditegaskan oleh Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad al Hamzani, maksudnya : ” Adapun hadith ahad maka tidak dapat diterima sebagai hujah dalam masaalah ‘aqidah kecuali selaras dengan hujah-hujah aqliyah maka dapatlah diterima dan penerimaan itu bukan kerana hujah hadith

    ahad tetapi kerana hujah-hujah aqliyah sahaja. Dan sekiranya zahir hadith ahad itu berlawanan dengan hujah-hujah aqliyah serta dapat ditakwil maka terus ditakwil selaras dengan hujah-hujah akal itu dan sekiranya tidak dapat ditakwil maka wajib ditolak zahir hadith ahad itu serta dianggapkan bahawa Nabi SAW tidak berkata dengannya, sekalipun Nabi berkata”( 18) . Wallahulmusta’an.
    Pendapat mu’tazilah itu telah ditolak oleh beberapa orang tokoh Ahli Sunnah dari kalangan ulamak Syafi’ieyah sendiri, antaranya al Khatib al Baghdadi, ia berkata :
    “Sesungguhnya sesetengah ahli kalam menolak akan hujah-hujah hadith ahad itu adalah kerana lemahnya mereka itu – wallahua’lam – mengenai ilmu hadith, di mana mereka sangka bahawa tidak dapat diterima sebagai hujah kecuali hadith mutawatir sahaja. Sikap demikian dalam pandangan kami, Ahli Sunnah adalah sebagai punca kepada pembatalan berhujah dengan hadith-hadith Nabi SAW” (19) . Kerana hadith mutawatir amat sedikit bilangannya khususnya dalam masaalah ‘aqidah. Wallahua’lam.
    Dan telah berkata Abu Muzaffar as Sam’ani as Syafi’ie : “Sesungguhnya perkataan yang menyatakan bahawa hadith ahad tidak memberi hujah ilmiah sama sekali bahkan mesti dibawa hadith itu secara mutawatir sahaja untuk dijadikan hujah, itu adalah satu sikap atau perkataan yang direkacipta oleh golongan qadariah dan

    mu’tazilah, yang bertujuan besar darinya adalah untuk menolak akan hadith-hadith dalam berhujah (mengenai ‘aqidah)” (20) .
    Ketujuh :
    Mereka sentiasa melazimi al Jama’ah, terutamanya di peringkat kerajaan atau hukumah. Mereka tidak menderhakai amir al Jama’ ah apalagi Khalifah atau Sultan atau Imam bagi sesebuah kerajaan Islam, walaupun ia menyeleweng selama mana tidak jelas kekufurannya, yakni sikap atau perkataan atau tindak tanduknya yang tidak ada sedikit pun peluang untuk ditakwil selain dari kufur dan jadi murtad. Wal’iyazubillah.
    Dalam hal ini bukanlah bererti mereka mengikut arahan amir atau imam dalam semua perkara tanpa mengira betul atau salah dalam pandangan Islam.
    f
    Sabda Rasulullah SAW : Maksudnya : Barangsiapa melihat sesuatu perkara yang tidak disukai dari (perbuatan) amirnya maka hendaklah ia bersabar, kerana sesungguhnya barangsiapa keluar dari Jamaah sejengkal kemudian dia mati (dalam keadaan demikian) maka kematiannya itu adalah kematian jahiliah. (21)
    Sabda Rasulullah SAW

    Maksudnya : Akan datang beberapa orang pemimpin (amir), maka kamu ikut mereka dalam perkara yang benar dan kamu membantah mereka dalam perkara batil. Maka barangsiapa yang berlaku perkara yang benar maka ia selamat dan barangsiapa yang ingkarkan perkara mungkar maka ia selamat akan tetapi yang tercela ialah mereka yang redha dengan perkara batil atau mungkar serta mengikutinya. Mereka bertanya : apakah boleh kita memerangi mereka itu?, Baginda menjawab : tidak boleh memerangi mereka, selama mereka masih mendirikan solat. (22)
    Itulah sikap dan pendirian para imam dan ulamak Ahli Sunnah Wal Jama’ah pada setiap masa dan tempat.
    Itulah tabiat hidup Ahli Sunnah Wal Jama’ah; di mana mereka tidak pernah tertanggal atau keluar dari al Jama’ah, selama mana adanya Jama’ah, walaupun dhaif atau menyeleweng sekiranya tidak sampai ke peringkat yang jelas kufur yang tidak boleh ditakwil atau ihtimal lagi. Wallahua’lam.

    1) Lihatlah, at Tobari Jami’ al Bavan 3/142
    2. Muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh Bukhari (7288) dan Muslim (130).
    3 ) Hadith sohih, diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam Al Muwatta’ (20), Ahmad (2/327,360) dan Muslim (5/17).
    4) Muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh Bukhari (3276) dan Muslim (212).
    5) Beliau ialah al Imam al Allammah al Hafiz Nu’aim bin Hammad b Mu’awiyyah Abu Abdillah al Khuzai al Maruzi, guru kepada Imam Bukha ri Beliau mempunyai beberapa karya. Berkata al Khatib al Baghdadi “Dikatakan bahawa orang yang pertama menghimpunkan al Musnad ialah Nu’aim”. Wafat pada tahun 228 H. (lihatlah Siyar al A’alam an Nubala’ 10/595-612, Tahzib at Tahzib 10/458).
    6) Al Ba’ith 4ala Inkar al Bida’ wa al Hawadith M.S 19-20, rujuklah perkata Abdullah bin Mas’ud (&\3 ^ AfcUaJl) pada halaman 47.
    7) Ibn Kathir, al Bidavah wa an Nihavah 1/146.
    (8) Hadith sohih, diriwayatkan oleh at Tirmizi (2630), al Lalikai Syarh Usul al-I’tiqad 1/ 126
    (9)_Beliau ialah al Hasan bin Abu Hasan Yasar maula Zaid bin Thabit al Ansari,
    Abu Sa’id al Bashri, seorang tabi’ie yang dipercayai dan mulia serta seorang yang pakar dalam ilmu fiqh. Wafat pada tahun 110 H. (Siyar al A’alam an Nubalak 4/563-588 Tahzib at Tahzib 2/231-236X
    10. Biasanya orang yang mewah ialah mereka yang memegang tampuk pemerintahan.
    11. Sunan ad Darimi M.S 222, Ighathah al Lahfan 1/115-116.
    12) Ibn Kathir Tafsir al Quran al Azim 4/207.
    13) AdDuralManthur 4/311.
    14) Al Hull ah fi Bavani al Mahaiiah 1/315
    15) Hadith ahad atau khabar wahid ialah hadith yang diriwayatkan oleh | bilangan atau syarat yang tidak sampai ke peringkat mutawatir, samaada ‘ diriwayatkan oleh seorang atau lebih. ( Lihatlah , al Qasimi Qawaid al Hadith I M.S 147).
    16) Al Lalikai Usul al I’tiqad Ahl Sunnah wal Jama’ah (777).
    17) Lihatlah, Al Muhit bi at Taklif M.S 200, al Lalikai Usul al I’tiqad 1/75, Us | Dr Nasir Abdul Karim al Aql al Firaq al Kalamiah M.S 179 ( al Maturidi at I Tauhid M.S 6-9).
    18 ) Qadhi Abdul Jabbar Svarh al Usul al Khamsah M.S 770.
    19) Al Baghdadi Kitab al Faqih wa Mutafaqqih 1/97-98.
    20) Al Huiiah fi Bavani al Mahaijah 2/215-217.
    21) Diriwayatkan oleh Bukhari (7053), Muslim (4767).
    21) Diriwayatkan oleh Muslim (4777), Abu Daud (4760), at Tirmizi (2265).

    Pesanan dari pemegang hakcipta. Boleh disebarkan kecuali untuk tujuan komersial. Untuk sebaran secara komersial sila dapatkan keizinan dari Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Kelantan

  2. Dengan aswaja bersifat moderat atau jalan tengah, mungkin kalah pamor dengan yang ekstrim, yang mampu mencitrakan dirinya lebih pasti tanpa timbang-timbang sehingga cepat meraih pendukung. Bagaimana mengatasi hal ini?

  3. kl melihat bacaan td di atas bahwa kt kt harus taat sm amir wlaupun itu dholim selama dia{ mendirikan sholat} itu adalh hadist nabi muhammad.tp yg kita heran ulama jaman sekarang seperti ketua ormas MUHAMMADDIYAH{din syamsudin} wktu kemarin mau bln puasa dia bilang pemerintah {menag} tidk wajib di ikuti krn depag bkn pemerintah {amir} yg sy bingung ‘bagaimana seorng ketua umat islam tidak mengerti hadist yg di sebutkan tadi???????dan lebih parah nya lg dia ngaku paling benar dr seluruh umat islam di indonesia..NAUZDUBILLAH MIN ZDALIK!!1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s