D.N Aidit: Sebuah Pengantar
Memahami peranan D.N Aidit, dalam konstelasi politik Orde Soekarno tidaklah sulit. Aidit dapat kita kenal dalam lembaran sejarah Orde Soeharto sebagai seorang tokoh penting dalam PKI. Selain itu ia dikenal dekat Sukarno dan juga diduga menjadi otak intelektual terjadinya peristiwa G 30 S. Akan tetapi pemaparan Aidit sebagai bagian konstruksi sejarah politik di Indonesia, tentunya agak sedikit menyulitkan. Terutama karena tokoh Aidit selama kurun 32 tahun telah sedemikian rupa didistorsikan sebagai simbolisme negativa ketokohan politik di Indonesia. Sehingga terjadi kesulitan menjelaskan mengenai peran sejarah tokoh ini pada “apa yang ada pada realita historisnya sendiri”.
Walaupun ia adalah tokoh penting dalam kesejarahan Indonesia, seluruh kehidupan D.N Aidit tampak, masih sebagai sebuah teka-teki yang urung terselesaikan. Aidit memulai karir politiknya sejak awal bersama ideology komunis yang diyakininya. Aidit pun mati ditembak oleh sekawanan tentara “Pancasilais”, karena ideologinya yang komunis serta tuduhan makar tanpa adanya proses peradilan.
Tulisan ini sedikitnya ingin berupaya memberi gambaran selintas mengenai sang tokoh. Terutama mengenai perjalanan sejarah tokoh Aidit secara ideologis. Dalam hal ini Aidit dilihat sebagai seorang tokoh penting PKI yang menjalankan arah kebijakan Partai Komunis itu hingga dihancurkan dalam tragedy Gestok. .
Masa Muda Aidit
Soegiarso Soerojo menyebutkan bahwa nama lengkap D.N Aidit sebenarnya bukanlah Dipa Nusantara Aidit yang sebagaimana kita kenal luas. Melainkan nama sebenarnya adalah Djafar Nawawi, anak haji Aidid dari bangka. Tak begitu jelas bagaimana Aidit menghabiskan masa kecilnya, yang pasti sebagaimana anak desa kebanyakan ia bergaul dengan teman sebayanya, setiap sore pergi mengaji dan ketika malam tidur di Surau. Latar belakang demikian, justru memberi jejak asal-muasal yang kontras bagi pribadinya, ketika kelak ia menjadi petinggi partai komunis, yang justru sering dianggap anti-Tuhan.
Ketika menginjak usia remaja, pemuda Aidit pergi merantau ke Jawa. Di Jawa ia berguru kepada tokoh pergerakan islam terkemuka, H.O.S Tjokrominoto. Tjokro, banyak mengajarkan sebuah hal-hal yang selama ini jauh dari ia bayangkan. Kesenjangan antara kelompok kaya-miskin, persoalan kolonialisme dan cita-cita kemerdekaan secara utuh adalah tema-tema pelajaran yang cukup mempengaruhi Aidit. Konon, dari Tjokro-lah Aidit mengenal dan meyakini komunis sebagai ideology politik yang cocok baginya. Patut diingat bahwa dari Tjokro juga lahir cabang gerakan ideology lainnya: Soekarno yang nasionalis dan Kartosuwiryo yang islamis. Sehingga kita dapat saksikan bahwa antara, Soekarno, Kartosuwiryo dan Aidit (baca: Nasakom), sesungguhnya bermuara kepada satu sumber yang sama (?).
Menjelang pecahnya revolusi agustus 1945, Aidit adalah salah seorang tokoh terkemuka pemuda menteng 31. Bersama Chaerul Saleh, Adam Malik, Wikana, A.M Hanafi dan Soekarni, ia adalah tokoh yang cukup aktif dalam menekan tokoh-tokoh angkatan tua untuk mendeklarasikan proklamasi.
Seusai proklamasi, sehubungan dengan anjuran berdirinya partai-partai akibat maklumat X Hatta maka berdirilah Partai Komunis Indonesia (PKI). sifat kepemudaan yang revolusioner serta ideology partai yang dianggap sepaham dengan keyakinan individualnya, membawa Aidit memasuki Partai Komunis Indonesia tersebut. Peran Aidit dalam partai, antara 1945 hingga dihancurkannya PKI dalam peristiwa Madiun 1948 tidaklah begitu banyak. Tak begitu dikenal bagaimana kehidupan Aidit antara masa-masa ini, selain daripada ia dicatat sering menghadiri rapat-rapat yang diadakan PKI. Yang pasti, ketika PKI dihancurkan pada 1948, Aidit berhasil lolos dari kejaran tentara Hatta dan kemudian menyingkir keluar negeri guna menimba ilmu (Peking?).
Aidit, PKI dan Demokrasi Terpimpin
Ketika kembali ke Indonesia pada awal 1950-an. Situasi Indonesia sudah sejak jauh berbeda. Sukarno membuka pemahaman rekonsiliasi terhadap seluruh komponen yang ada dalam kehidupan bernegara dari kelompok ideology manapun, untuk mempertahankan bersama keutuhan dan kemerdekaan negeri ini dari rongrongan neo-kolonialisme dan imperialisme (Nekolim). Anjuran Sukarno tersebut, membuka ruang bagi tokoh-tokoh PKI muda untuk membangun kembali organisasinya. PKI yang sempat dibangun oleh tokoh tua, Alimin dan Pono. Kemudian berhasil direbut oleh tokoh yang lebih muda: Aidit, Nyono, Waluyo dan lain lain. Jabatan tertinggi dalam kepartaian yaitu Sekretaris Djendral dipegang oleh D.N Aidit.
Dibawah pimpinan D.N Aidit, PKI mulai menggalakkan kembali membangun kinerja organisasinya. PKI menjelaskan kepada komponen bangsa lainnya bahwa partainya adalah partai kader yang mengedepankan Indonesia yang bermartabat. Aidit amat rajin membangun organisasinya secara sistematis, dengan masa garapannya meliputi masa tani dan buruh terutama yang berasal dari status sosial menengah-kebawah. Secara khusus Aidit menyebut partainya sebagai partai ploretariat, partainya rakyat banyak. Untuk membela partainya terhadap cemoohan peristiwa madiun 1948. Aidit kemudian menulis pembelaan partainya lewat tulisan Menggugat peristiwa Madiun, sebuah tulisan yang isinya menyebutkan bahwa saat itu PKI adalah pihak yang diprovokasi oleh Hatta dan menjadi korban (bukan pelaku!).
Lewat pola pengorganisasian yang rapi dan terkoordinasi, PKI dengan cepat dapat memperluas keanggotaannya. Terlebih, ketika itu PKI adalah satu-satunya partai yang selalu mengambil bagian terdepan untuk membela kepentingan masyarakat yang termarjinalkan, sebagaimana issue land reform yang menjadi issue utamanya pada era 60-an. Selain itu dukungan secara tidak langsung Sukarno terhadap partai ini, membuat daya tarik sendiri bagi masyarakat luas. Secara garis besar dukungan atau simpati Sukarno tampak, karena PKI lah satu-satunya partai yang terdepan dalam mendukung setiap kebijakan presiden.
Aidit, pada akhirnya terbujuk untuk berpartisipasi melakukan kolaborasi dengan Sukarno. Ada kesan bahwa Aidit telah terbentur kepada kepentingan pragmatis (yang tergesa-gesa) untuk membangun partai. Secara ideologis, Soekarno atau PNI merepresentasikan basis kepentingan borjuasi nasional yaitu kelompok priyayi jawa-abangan, yang dalam teoritisi marx termasuk dalam kelompok lawan yang harus dihantam. Dengan demikian, terjadi perselingkungan ideologis Aidit terhadap Marx, karena Aidit bertindak bersekutu dengan kelompok non-ploretar. Aidit tentu saja memiliki sandaran argumentasi ideologis pada basis teori Lenin mengenai revolusi dua tahap yaitu melawan imperialisme dan kapitalisme. Untuk sementara dalam melawan kekuatan Nekolim maka kompromi dengan kekuatan borjuasi nasional dibolehkan, demikian interpretasi Aidit.
Secara meyakinkan apa yang dilakukan Aidit menuai keberhasilan dalam PEMILU 1955. PKI dibawah Aidit telah membuktikan bahwa partainya menjadi salah satu dari empat kekuatan besar di Indonesia, mengalahkan PSI Sjahrir, IPKI-nya Nasution atau Murba warisan Tan Malaka. Hasil ini secara meyakinkan kembali meningkat dalam PEMILU 57, dimana didaerah jawa PKI mendapat suara peringkat pertama mengalahkan PNI, NU dan. Masjumi.
Hasil ini membuat Sukarno memaksa partai lain bahwa diperlukannya strategi pembangunan tiga kaki yang berlandaskan pada ajaran Nasakom. Untuk itu PKI sebagai bagian kekuatan empat besar, kiranya berhak untuk menduduki kursi dalam pemerintahan. Sebuah tawaran yang kemudian mendapat tanggapan sengit dari pihak islam (NU dan Masyumi). Padahal maksud Sukarno untuk memasukkan PKI dalam pemerintahan, justru secara ekonomis, sangat tidak menguntungkan partai. Sukarno ingin memaksa PKI turut bertanggung-jawab dalam pemerintahan. Sehingga PKI kelak tidak memiliki alasan untuk melakukan aksi makar atau aksi pemogokan buruh, yang dapat merugikan atau mengurangi kewibawaaan pemerintah. Ketika pada akhirnya PKI dimasukkan dalam struktur kabinet, hasil ini terlihat, karena PKI tidak diberikan kursi kabinet yang singnifikan atau menguntungkan secara ekonomi.
Menjelang 65, kekuatan PKI dan Aidit, bisa dikatakan sudah berada diatas angin. Musuh ideologis yang non-kompromis terhadap mereka yaitu PSI, Masyumi dan Murba sudah dibubarkan. Dengan demikian jalan perebutan kekuasaan secara kompromis lewat parlemen yang legal, amat terbuka lebar bagi PKI. Apalagi saat itu Presiden Soekarno bertindak seakan-akan pelindung bagi PKI. Baik itu lewat konsepsi revolusi dua tahapnya, ataupula lewat proyek Dwikora dan konfrontasi dengan blok kapitalis yang semakin menjadi-jadi.
Posisi PKI yang saat itu sudah amat diuntungkan, akhirnya berakhir dengan peristiwa G 30 S. Peristiwa G 30 S yang diduga atau dituduhkan dilakukan oleh PKI, anehnya justru berdampak buruk bagi perkembangan PKI sendiri. Peristiwa ini menjadi alasan bagi penghancuran serta pembunuhan terorganisir kader dan simpatisan PKI oleh tentara. Dan terbesar tentunya bagi pemarjinalan secara politis PKI dari panggung politik di Indonesia untuk selamanya.
Aidit sebagai tokoh nomer wahid PKI, tak lepas dari proses penghancuran itu. Walau keterlibatannya tidak secara jelas dapat dibuktikan oleh lembaga peradilan -karena semuanya masih samar-. Tokoh kemerdekaan dan pembangunan Indonesia yang demokratis-kerakyatan itu, akhirnya harus merelakan darahnya menjadi tumbal bangsanya ditangan tentara pancasila. Aidit harus rela menyusul amir Syarifuddin, Maruto Darusman, Musso, orang-orang yang menjadi panutan dan telah mendahuluinya ditangan tentara. Ada orang yang bergembira atas kematiannya, ada juga yang menangisinya.






Saya sangat mengagumi PKI sebagai partainya rakyat kecil. PKI hancur berantakan di tangan orang2 yang berkedok agama yang Ber TUHAN. ideologi komunis bukan menentang Tuhan tapi tetap menghormati Tuhan.
SALUTE TO PKI…. TO ALM. EYANG Dipa Nusantara Aidit,, do’a cucu2 mu selalu menyertaimu! aunti ibraruri putri alam akan meneruskan cita2 mu!!
Logikanya diseluruh negara yang demokratis PKI itu tetap ada dan ikut pemilu seperti di Italia,Perancis dll walau jarang menang tapi kalau partai sudah berontak itu namanya makar.Mungkin eyang Aidit salah perhitungan karena Embah Karno udah sakit-sakitan dan jaman itu enggak ada pemilu kapan PKI bisa menang?? sehingga kegiatan makar dilakukan. Kalau PKI hidup lagi di Indonesia dengan nama lain dan ikut pemilu menang enggak yaa….?
I don’t know you, but i think you are such a great people.
Thank You
hidup pejuang rakyat, aidit memang tokok nasional yang gigih dan cerdas, kita bangga memiliki tokoh seperti beliau
menggabungkan nasakom dalam satu wadah adalah konyol, seperti mencampurkan air dan minyak. negara kita adalah negara yang berketuhanan yang maha esa tentu tidak bisa menerima komunis sebagai salah satu ideologi yang diyakini. kembali saja ke UUD 45 sebagai sumber hukum dinegara ini. pengkhianat adalah pengkhianat berapa kalipun kesempatan yang diberikan dia akan tetap berkhianat.
kalau PKI tetap berkuasa kita semua akan tidak akan mempunyai semangat untuk menjalani hidup, karena prinsip kesamarataan di dalam rakyat. dan tidak akan ada energi yang berputar di dalam masyarakat.
monoton,
semua dilarang, dari pers, media, diisolasi dari dunia luar, penggunaan elektronika luar dilarang. lihat saja korea utara, laos, kamboja, kuba. yang masih komunis konservatif. dan china yang selalu melanggar HAM terhadap rakyatnya.
walau bagaimanapun dia TOKOH FENOMENALlll
tidak ada organisasi yang besar tanpa dipimpin oleh orang “BESAR” dan PKI adalah partai besar yang pernah kita punya, yang dipimpin oleh orang “BESAR” tentunya.
dan hanya orang yang berhati”BESAR” yang bisa menerima besar semacam itu.
seberapapun banyaknya orang yg mengecam ‘KAMU’ tapi hanya ‘KAMU’ yang mampu memperjuangkan hak rakyat menjadi NYATA.
doa seluruh rakyat jelata indonesia menyertaimu,yang akan mengangkatmu ke SURGA.
Aidit engkau korban sebuah sejarah , tumbal permainan politik . Sang sutradara menharapkan engkau hanya memerankan kesuksesan sesaat tetapi salut atas keajegan pendirian hingga engkau dijemput ajal . soeharto dalang dari semua ini sampai kapanpun namamu tertera dihati pejuang-pejuang PKI sebagai hitlernya indonesia
great people and great spirit….tapi itulah kehidupan..akibat nila setitik rusak susu sebelanga…perjuangan yang telah diperbuat seakan sirna oleh dosa sekejap mskipun kita gak tau…berdosa kah dia….atau hanya terjebak dalam lingkaran setan arus POLITIK…???? Tapi perlu diingat, SEJARAH ADALAH MILIK JENDERAL YANG MENANG.Yang kalah, meskipun benar tetap saja disalahkan.
Beberapa waktu terakhir sy tertarik pada masalah seputar G 30 S/PKI. Kita merayakan kesaktian Pancasila setiap tahun tapi kebenaran yg melatarbelakangi hari yg kita peringati itu sampai saat ini masih saja tidak jelas. Tragedi itu memang perlu kita maafkan tapi sejarah harus tetap ditulis demi sains dan bangsa ini.
BTW, saya ingin tahu banyak mengenai D.N.Aidit, ada yg bisa membantu saya cari source-nya?
saya kagum pada kepemimpian aidit dlm pki
PKI adlh rkyat kecil TENTARA adlh Kapitalis
komunisme hanya akan berhasil bila pemimpinnya malaikat (tidak memiliki hawa nafsu).
BTW. sekedar mengetahui saja, bahwasanya PKI pernah ada dan pernah menjadi partai mayoritas di Indonesia, tanpa mempercayai sejarah yang beredar (sejarah adalah alat propaganda pemerintah yang sah oleh karena itu sejarah selalu berubah-2)
In Indonesia We know :
“Today Hero, Tommorow Villain”
jikalau saat ini kita bisa berbicara dengan arwah D.N Aidit, maka dia akan sangat marah besar karena bangsa ini sedang menuju kehancuran, karakternya sudah diambil bangsa lain bahkan diperkosa bangsa sendiri. semuanya hanya harapan dan mujizat saja yang dapat memperbaiki keadaan bangsa indonesia.
Bhineka tunggal ika sekarang berubah nama menjadi ” Bhineka Tinggal Aku “. saya sangatn sedih melihat bangsa ini…….!!!
D.N. Aidit engkau bagian dari sejarah bangsa ini dan perjuanganmu masih kami lanjutkan
Meskipun dengan cara yang berbeda & sempat menjadi Kambing Hitam Revolusi,Kau tetap Pejuang Bangsa,yang berjuang demi rakyat.
Tabir tetap akan terungkap,kelak rakyat akan mengerti siapa Kau sebenarnya.
Satu D.N Aidit telah gugur,tapi beribu-ribu D.N Aidit akan terus lahir untuk Indonesia.
D.N Aidit,namamu akan selalu dikenang.
guys..kl ada yg punya info tentang DN Aidit, please share ma aku ya. aku pengen bgt dapet info yg detil bgt soal aidit. setauq adiknya DN Aidit, murad aidit, udah meninggal. murad aidit tu adiknya DN Aidit yg tinggal di indonesia.
please share to me everything about DN Aidit.
thank you
hiii
opo to kie?
sing wis mati yo wis…koyo raneng crito liyane wae….
gawe aidit.jr wae lah
gitu aja kok repot
Bagaimanapun juga yang namamnya PKI ya tetep aja anti Tuhan. Tapi kalo pas lagi sakit kok sebut nama Tuhan ya ?.
Go to hell PKI,
Saya adalah orang awam tidak banyak tau politik. saya hanya prihatin dengan orang-orang yang terkutubkan hanya karena nama tanpa mau melihat substansinya. saya tidak tau banyak tentang komunis dan PKI itu sendiri, yang saya tau hingga saat ini “PKI” dicap sebagai sekelompok anti tuhan yang juga berperilaku kasar (baca-memaksakan kehendak).
namun yang jadi pertanyaan besar saya adalah bagaimana hal-nya dengan rentetan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini pada bangsa ini dengan banyaknya pertikaian-pertikaian yang kalau dirunut berujung pada suatu kesimpulan pada pemaksaan kehendak. apakah kelompok tersebut bukan termasuk golongan “PKI” yang berkedok atas nama Tuhan. dan jangan-jangan nama Tuhan ini oleh orang-orang yang disebut terakhir digunakan sebagai kedok untuk menutupi kesombongan, keserakahan dan nafsu dari hati yang rapuh. Padahal Tuhan sendiri (bagi yang merasa bertuhan) tentunya menjadikan sesuatu kondisi itu untuk bisa hidup berdampingan secara damai untuk menjalankan peran masing-masing sesuai tugasnya dilahirkan dimuka bumi untuk meraih ridho-Nya, bukan atas dasar pamrih sesama manusia.
sebagai penutup, se-Orang Besar tidak minta untuk dikenang, namun cukup dengan melihat bangsanya menjadi besar, makmur dan bermartabat seperti seharusnya kehidupan dunia ini diciptakan.
buat orang2 yang bilang pki itu anti tuhan,
masuk tk dulu sana… belajar baca!
biar gak buta dan goblok2 amat!!! jd bisa bedain arti anti tuhan dengan pemahaman.
jadi begini menurutku sebagai orang bingung,aku merasa kebingungan dan kekaguman adalah wilayah yang hampir sama letak kesamaanya ada pada sama-sama gak ngerti PKI,tetapi menurutku siapapun orangnya yang mau menjustifikasi bahwa PKI tak bertuhan itulah namanya Pemuda/pemudi kurang Informasi(plesetan PKI)dengan semangat Ilmiah,objektif dan akademis mari bersama kita belajar sejarah bangsa kita,berusaha memahami sedikit arti Penting dari filsofi komunis itu,biar jangan kblinger mendefinisikan…..Aidit adalah aktor demokrasi indonesia peletak dasar intelektual kiri pro Rakyat/”el paublo unido hama siera fencido.
jika memang engkau (aidit)tidak melakukan pemberontakan ditahun 1965, maka berikan petunjuk pada ahli warismu untuk memperjuangkan kebenaran itu. dan apabila kau melakukannya maka apa keterkaitanmu dengan Mayjen Soeharto?
Saya senang sekali dengan tulisan Kawan New Historian. Baik Aidit maupun PKI mengusung panji perjuangan yang berkomitmen kerakyatan. Kalau pun benar ia melakukan avonturir politik bersama Sjam yang bermuara pada penghancuran PKI, Aidit tetap orang besar. Perihal pelabelan “ateis” kepada PKI (dan dengan demikian tidak boleh hidup di bumi Pancasila), menurut pendapat saya menunjukkan betapa berhasilnya propaganda hitam musuh-musuh PKI (dan Bung Karno) yang kemudian kita kenal dan alami sebagai Orde Baru. Perlu juga dipikirkan cara berpikir ini: PKI = komunis = ateis = biadab. Kelihatannya benar, tapi tidak sahih. PKI memang komunis, tapi praksis komunis bervariasi sehubungan dengan konteks sosio-historis masyarakatnya. Berdasarkan materialisme-dialektik, komunisme (Marxis-Leninis) memang ateis, tapi seorang komunis tidak harus ateis. Ini pernah dikemukakan Lenin dlm “Socialism and Religion” (1905). Lalu, ateis tidak niscaya biadab. Motivasi kebanyakan Marxis terkemuka adalah keberpihakan pada kaum miskin-tertindas. Memang ada juga yang kiprahnya tidak berperikemanusiaan. Tapi itu bukan konsekuensi logis dari ateismenya. Bukankah tidak sedikit pula kekerasan bahkan kebiadaban dilakukan oleh orang-orang bertuhan dengan mengatasnamakan Tuhan? Sedikit catatan untuk Kawan New Historian, “priyayi abangan” belum tentu tepat digolongkan ke dalam klas burjuasi-nasional. Klas burjuis mempunyai kepemilikan, kontrol, dan akses thd alat-alat produksi massal. Burjuasi nasional adalah mereka dari klas burjuis yang menuntut kedaulatan nasional sepenuhnya. Pada zaman BK jumlahnya belum banyak (mungkin sekarang juga). Sedangkan “priyayi-abangan” tergolong klas feodal, namun di antara mereka berpandangan nasionalistik. Sedangkan “Teori Dua Tahap Revolusi” sebenarnya bukan ajaran Lenin. Mula-mula ini merupakan ajaran kaum Menshevik, yang justru ditentang Lenin. Beberapa orang dari kaum Bolshevik, misalnya Stalin, rupanya setuju dengan ajaran tersebut. Setelah Lenin wafat, Stalin meresmikan ortodoksi “Marxisme-Leninisme”, yang secara ironis mengikutkan ajaran tentang Teori Dua Tahap Revolusi. Teori ini berkali-kali membawa malapetaka bagi klas buruh: Tiongkok (1927), Sudan (1967), termasuk Indonesia (1965-66). Dalam pada itu, saya berterimakasih kepada Kawan New Historian. Teruskan berbicara tentang sejarah yang bukan bikinan penguasa. Ya, sejarah yang membebaskan!
PKi adalah partai yang berlandaskan komunis tapi kami tidak setuju, karena itu adalah urusan dunia saja. kami setuju klo ideologi di indonesia ini adalah nasionalis islamic karena islam mengajarkan kesejahtraan yang menyangkut kehidupan masyarakat . lenin adalah tokoh komunis dan aidit adalah pengikutnya. tapi tokoh saya adalah nabi muhammad beserta pengikutnya karena dia yang mengajarkan masyarakat,aqidah, ekonomi dan klo di laksanakan dunia akan tentram dunia dan akhirat.amin
aidit tokoh gak jelas, yg jelas PKI itu anti Tuhan.. Go to hell aidit pki.
PKI=GOLKAR.Fuck buat 2 organisasi keparat ini yg punya ambisi THE MAYORITY.FUCK DN.AIDIT..FUCK MUSO..FUCK LOEKMAN..FUCK NYOTO..FUCK SOEHATO..FUCK SOEDARMONO..FUCK HARMOKO..FUCK AKBAR TANJUNG..FUCK JUSUF KALLA..FUCK KELUARGA CENDANA!!!!!Bangsa ini gak butuh manusia2 macam kalian!Orang2 yang muji2 PKI adalah manusia2 tolol yg belagu melek sejarah!!!Orang2 yg menyanjung2 GOLKAR adalah manusia2 OPORTUNIS yg gak mau tau penderitaan sodara2nya yg tertindas!!!FUCK KALIAN SEMUA!!!!!!!
Bajingan Negeri ini=PKI
Menjadikan rakyat kecil sebagai kedok.
PKI besar terutama di Jawa karena slogannya bro…”Tanah milik Negara maka semua orang berhak untuk menggarapnya, sehingga harus gantian jangan terfokus pada satu orang”, makanya muncullah istilah kafir2 besar salah satunya tuan tanah. Kakek dan nenek saya yang muslim yang bukan tuan tanah juga ikut jadi korban kekejaman PKI. Siapa bilang PKI menghargai agama… pada saat pementasan drama oleh generasi muda PKI mengambil judul “Matinya Tuhan” sebagai sindiran kepada saudara2 sebangsa kita dari agama nasrani. Jangan beri kesempatan hidup bagi organisasi yang ateisme……ganyang sampai tuntas.
PKI tidak punya sumber yang jelas dalam ajarannya. Apa sumber ideologi mereka? PKI hanya meminjam-minjam ideologi daRI Soviet (kini sudah runtuh), dari Lenin.
Islam, sebagai rahmatan lil alamin punya sumber yang jelas: Quran dan sunnah. Kenapa sibuk (mencari) pedoman dan sumber keselamatan, padahal Allah Azza wa Jalla telah memberikannya kepada kita. Ambilah kedua kitab itu sebagai pedoman. Sumber keselamatan.
Rasulullah saw seorang penggembala
Rasulullah saw seorang pedagang, saudagar, bussinesman
Rasulullah saw seorang guru
rasulullah saw seorang suami, ayah bagi anak2nya
Rasulullah seorang negarawan, juga Rasulullah seorang pemimpin, seorang kepala negara
rasulullah seorang panglima perang
Rasulullah seorang Presiden……
Mau cari panutan yang mana lagi?
Anda mau ke WC untu kencing? ingin buang air besar, ingin makan ? ingin bertetangga, ada mau apa? Allah dan Rasul-Nya sudah mengaturnya sejak 15 abad yang lalu, sebelum DN Aidit lahir.
Islam dan Rasulullah sudah mengajarkan bagaimana caranya masuk WC, dan sekaligus bagaimana caranya menjadi pemimpin, menjadi presiden. Rasul telah mencontohkan. jadi kalian mau cari sumber yang mana lagi? Mau cari apa lagi?
Islam adalah agama dan negara sekaligus…
Jadi, kalian mau kencing saja diatur dalam Islam. Apalagi mau belajar ngurus negara. Islam adalah solusi.
Aidit itu adl satu tokoh yg beranggapan bwh komunis satu – satunya cara untuk mewujudkan keadilan dan pemerataan rakyat untuk Indonesiayg maju dan tanpa kemiskinan. Tetapi sebagai seorang manusia yg ketimuran dia tidak berpikir yg rasional sehingga perhitungannya akan PKI yg berkuasa setelah Soekarno mangkat adalah salah satu contoh pemikiran yang salah . Dimana dia harus berpikir rasional dan mempelajari banyak hal dari filsafat barat dan tidak hanya mempelajari hal – hal dari Uni Soviet. Dan Buat saya secara pribadi D.N Aidit adlh salah satu pribadi yg harus dicontoh oleh rakyat Indonesia tanpa melihat langsung Ideologi. Serta buat orang- orang belajar lah tentang KOMUNISME dr sisi lain bukan hanya dr Orde Baru yg hanya melihat dari kacamata AS tentang komunisme bukan dari pemikiran Karl Marx dan Frederich Engels dlm buku “Das Kapital”.