Pablo Neruda

Pablo Neruda (12 Juli 1904- 23 September 1973) adalah nama samaran penulis Chili, Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto.

Neruda yang dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20, adalah seorang penulis yang produktif. Tulisan-tulisannya merentang dari puisi-puisi cinta yang erotik, puisi-puisi yang surealis, epos sejarah, dan puisi-puisi politik, hingga puisi-puisi tentang hal-hal yang biasa, seperti alam dan laut. Novelis Kolombia, Gabriel García Márquez menyebutnya “penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun”. Pada 1971, Neruda dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra.Pada masa hidupnya, Neruda terkenal karena keyakinan-keyakinan politiknya. Sebagai seorang komunis yang vokal, ia pernah sebentar menjadi senator untuk Partai Komunis Chilidi Kongres Chili sebelum terpaksa mengasingkan diri.

Nama samaran Neruda diambil dari nama penulis dan penyair Cheko, Jan Neruda. Belakangan justru nama ini yang membuatnya tenar dan menjadi nama resminya.

Kehidupan Neruda

Neruda dilahirkan di Parral, sebuah kota sekitar 300 km di selatan Santiago. Ayahnya, José del Carmen Reyes Morales, seorang pegawai kereta api; ibunya, Rosa Neftalí Basoalto Opazo, seorang guru sekolah yang meninggal dua bulan setelah ia dilahirkan. Neruda dan ayahnya segera pindah ke Temuco, dan di sana ayahnya menikahi Trinidad Candia Malverde, seorang perempuan yang sembilan tahun sebelumnya melahirkan anak untuknya, anak lelaki bernama Rodolfo. Neruda juga bertumbuh dengan saudara tirinya, Laura, salah seorang anak ayahnya dari perempuan lain.

Neruda muda dipanggil “Neftalí”, nama almarhumah ibunya. Minatnya dalam tulis-menulis dan sastra ditentang ayahnya, namun ia mendapatkan dorongan dari orang lain, termasuk Gabriela Mistral yang kelak mendapatkan Hadiah Nobel, saat itu kepala sekolah putri setempat. Karyanya yang pertama diterbitkan ditulisnya untuk harian setempat, La Mañana, pada usia 13 tahun: Entusiasmo y perseverancia (“Antusiasme dan Kegigihan”). Pada 1920, ketika ia mengambil nama samaran Pablo Neruda, ia sudah banyak menerbitkan puisi, prosa, dan jurnalisme.

Pada tahun berikutnya (1921), ia pindah ke Santiago untuk belajar bahasa Prancis di Universidad de Chile dengan maksud menjadi guru, namun ia segera menghabiskan waktunya sepenuhnya untuk menulis puisi. Pada 1923 kumpulan puisinya yang pertama, Crepusculario (“Buku Senja”), diterbitkan, dan tahun berikutnya terbit Veinte poemas de amor y una canción desesperada (“Dua puluh Puisi Cinta dan Nyanyian Putus Asa”), kumpulan puisi cinta yang kontroversial karena sifatnya yang erotik. Kedua karyanya itu mendapatkan pujian kritis dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Selama dekade-dekad berikutnya, Veinte poemas terjual berjuta-juta kopi dan menjadi karya Neruda yang paling terkenal.

Reputasi Neruda makin berkembang di dalam maupun di luar Chili, namun ia hidup dalam kemiskinan. Pada 1927, karena putus asa, ia menerima jabatan sebagai konsul kehormatan di Rangoon, yang saat itu merupakan bagian dari kolonial Burma, tempat yang belum pernah didengarnya sebelumnya. Kemudian ia melakukan kerja serabutan di Kolombo (Sri Lanka), Batavia, dan Singapura. Di Jawa ia bertemu dan menikahi istrinya yang pertama, seorang Belanda pegawai bank yang tinggi badannya, bernama Maryka Antonieta Hagenaar Vogelzang. Sementara menjalani tugas diplomatik, Neruda banyak membaca puisi dan bereksperimen dengan berbagai bentuk puisi. Ia menulis jilid pertama dari kumpulan puisinya yang dua jilid Residencia en la tierra, (Menetap di Negeri) yang mencakup banyak puisi surealis, yang belakangan menjadi terkenal.

Perang Saudara Spanyol

Setelah kembali ke Chili, Neruda mendapatkan pos diplomatik di Buenos Aires dan kemudian di Barcelona, Spanyol. Belakangan ia menggantikan Gabriela Mistral sebagai konsul di Madrid, dan di sana ia menjadi pusat dari kalangan sastra yang hidup, bersahabat dengan penulis-penulis seperti Rafael Alberti, Federico García Lorca, dan penyair Peru, César Vallejo. Seorang anak perempuan, Malva Marina Trinidad, dilahirkan di Madrid; namun ia kemudian mengalami banyak masalah kesehatan sepanjang hidupnya yang singkat. Pada masa ini pula, Neruda perlahan-lahan menjadi kian terasing dari istrinya dan kemudian tinggal dengan Delia del Carril, seorang perempuan Argentina yang dua puluh tahun lebih tua daripadanya dan akhirnya menjadi istri keduanya.

Ketika Spanyol semakin tenggelam dalam perang saudara, Neruda menjadi sangat terlibat dalam politik untuk pertama kalinya. Pengalaman-pengalamannya dengan Perang Saudara Spanyol dan sesudahnya mengubahnya dari o u individualistic, yang terpusat ke dalam menjadi orang yang mempunyai komitmen sosial dan solidaritas yang lebih besar. Neruda menjadi seorang komunis yang serius dan bertahan demikian hingga akhir hayatnya. Politik kiri radikal dari teman-temannya sesama penulis, maupun dari del Carril, merupakan factor-faktor yang mendukung, tetapi dorongan yang paling penting adalah hukuman mati atas García Lorca oleh pasukan-pasukan yang setia kepada Francisco Franco. Melalui pidato-pidato dan tulisan-tulisannya Neruda memberikan dukungannya terhadap pihak Republik, lalu menerbitkan kumpulan puisinya yang berjudul España en el corazón (“Spanyol di dalam Hatiku”). Istri dan anak Neruda pindah ke Monte Carlo; dan ia tidak pernah lagi bertemu dengan mereka. Ia tetap tinggal dengan del Carril di Prancis.

Setelah pemilihan Presiden Pedro Aguirre Cerda pada 1938, yang didukung Neruda, ia diangkat menjadi konsul khusus untuk emigrasi Spanyol di Paris. Di sana Neruda diberikan tanggung jawab untuk apa yang disebutnya “misi yang paling mulia yang pernah saya laksanakan”: mengirim 2.000 pengungsi Spanyol, yang telah ditampung oleh Prancis di kamp-kamp yang kotor, ke Chili di sebuah kapal tua yang bernama Winnipeg. Neruda kadang-kadang dituduh mengutamakan kaum komunis untuk beremigrasi, sementara yang lainnya yang juga pernah berjuang di pihak Republik, diabaikan. Yang lainnya menyangkal tuduhan-tuduhan itu, sambil menunjukkan bahwa Neruda hanya memilih beberapa ratus pengungsi secara pribadi, dan sisanya dipilih oleh Dinas Evakuasi Pengugnsi Spanyol, yang dibentuk oleh Juan Negrín, Presiden pemerintahan Republik Spanyol di pengungsian.

Meksiko

Pos diplomatik Neruda berikutnya adalah sebagai Konsul Jenderal di Mexico City, dan di sana ia tinggal dari 1940 hingga 1943. Ketika di Meksiko, ia menceraikan Hagenaar, menikahi del Carril, dan kemudian mendengar bahwa anak perempuannya telah meninggal, pada usia 8 tahun, di Belanda yang diduduki Nazi, karena berbagai masalah kesehatannya. Ia pun menjadi sahabat dari pembunuh Stalinis Vittorio Vidali [1]. Setelah gagalnya upaya pembunuhan terhadap Leon Trotsky tahun 1940, Neruda, atas permintaan Presiden Meksiko Manuel Ávila Camacho, mengatur visa Chili untuk pelukis Meksiko, David Alfaro Siqueiros, yang dituduh sebagai salah satu anggota komplotan itu. Hal ini memugnkinkan Siqueiros, yang saat itu dipenjarakan, meninggalkan Meksiko dan berangkat ke Chili. Di sana ia tinggal di rumah pribadi Neruda. Sebagai ganti atas bantuan Neruda, Siqueiros menghabiskan waktu satu tahun melukis dinding di sebuah sekolah di Chillán. Dalam memoarnya, Neruda menolak tuduhan-tuduhan bahwa ia bermaksud menolong seorang pembunuh dan menyebutnya sebagai “pelecehan sensasionalis politik-sastra”.

Kembali ke Chili

Pada 1943, setelah kembali ke Chili, Neruda melakukan perjalanan ke Peru, dan di sana ia mengunjungi Machu Picchu. Keindahan benteng Inka itu kelak mengilhaminya menulis Alturas de Macchu Picchu, sebuah puisi yang satu buku tebalnya ditulis dalam 12 bagian yang diselesaikannya pada 1945. Puisinya ini menandai kesadaran dan minatnya yang kian berkembang terhadap peradaban kuno bangsa Amerika: tema-tema yang kelak dijelajahinya lebih lanjut dalam puisinya Canto general. Dalam karyanya ini, Neruda memuji keberhasilan Machu Picchu, tetapi juga mengutuk perbudakan yang telah memungkinkan pembangunannya.. Dalam Canto XII, ia berseru kepada orang-orang yang telah mati selama berabad-abad sebelumnya agar dilahirkan kembali dan berbicara melalui dirinya. Martin Espada, penyair dan professor tulisan kreatif di Universitas Massachusetts, memuji karya ini sebagai maha karya, dan menyatakan bahwa “tidak ada lagi puisi politik yang besar daripada ini.”.

Mendukung para diktator

Didorong oleh pengalaman-pengalamannya dalam Perang Saudara Spanyol, Neruda, seperti banyak intelektual kiri dari generasinya, akhirnya mengagumi Uni Sovie yang saat itu dipimpin Joseph Stalin, sebagian karena peranannnya dalam mengalahkan Jerman Nazi. Pada 1953 Neruda dianugerahi Hadiah Perdamaian Stalin. Pada saat kematian Stalin pada tahun yang sama, Neruda menulis sebuah ode untuknya, seperti juga yang pernah ditulisnya (pada Perang Dunia II) untuk Fulgencio Batista dan belakangan Fidel Castro [2]. Neruda akhirnya menyesali dukungannya untuk pemimpin Rusia itu, setelah Pidato Rahasia Nikita Kurschev pada Kongres ke-20 Partai pada 1956. Di dalam pidatonya itu Kruschev mengecam “kultus individu” yang mengelilingi Stalin dan menuduhnya melakukan kejahatan-kejhatan selama Pembersihan Besar, Neruda menulis dalam memoarnya “Saya telah ikut menyumbangkan bagian saya dalam kultus individu itu,” sambil menjelaskan bahwa “pada masa-masa itu, kami melihat Stalin bagaikan sang penakluk yang telah menghancurkan tentara Hitler.” Tentang kunjungannya berikutnya ke Tiongkok pada 1957, Neruda kelak menulis: “Yang menjauhkan saya dari proses revolusioner Tiongkok bukanlah Mao Tse-Tung melainkan Mao Tse-tungisme”, yang dinamainya Mao Tse-Stalinisme: “pengulangan sebuah kultus terhadap dewa Sosialis”. Namun demikian, meskipun ia kecewa terhadap Stalin, Neruda tidak pernah kehilangan keyakinannya terhadap komunisme dan tetap setia kepada “Partai”. Karena kuatir akan memberikan peluru kepada lawan-lawan ideologisnya, belakangan ia menolak untuk mengutuk secara terbuka penindasan yang dilakukan Soviet terhadap para penulis pembangkang, seperti Boris Pasternak dan Joseph Brodsky: suatu sikap yang bahkan para pendukungnya yang paling gigih pun tidak bersedia terima.

Senator

Pada 4 Maret 1945 Neruda terpilih menjadi senator dari Partai Komunis untuk provinsi-provinsi utara, yaitu Antofagasta dan Tarapacá di Gurun Pasir Atacama yang kering dan kejam. Ia secara resmi bergabung dengan Partai Komunis Chili empat bulan kemudian.

Pada 1946, kandidat pemilu presiden dari Partai Radikal, Gabriel González Videla meminta Neruda untuk menjadi manajer kampanenya. González Videla didukung oleh sebuah koalisi partai-partai sayap kiri dan Neruda berkampanye dengan gigih atas namanya. Namun demikian, begitu mendapatkan jabatan, González Videla berbalik melawan Partai Komunis. Titik perpisahan bagi Senator Neruda terjadi ketikga ia menindas dengan penuh kekerasan pemogokan para buruh tambang yang dipimpin komunis di Lota pada Oktober 1947. Para buruh yang mogok itu digiring ke penjara-penjara militer di pulau dan kamp konsentrasi di kota Pisagua. Kritik Neruda terhadap González Videla memuncak dalam sebuah pidato dramatisnya di Senat Chili pada 6 Januari 1948 yang diberi judul Yo acuso (“Aku menuduh”), dan dalam isi pidatonya itu ia menyebutkan keras-keras nama-nama para buruh tambang dan keluarga mereka yang dipenjarakan di kamp konsentrasi itu

Pembuangan

Beberapa minggu kemudian few weeks later, Neruda bersembunyi dan ia beserta istrinya diselundupkan dari rumah ke rumah, disembunyikan oleh para pendukung dan pengagumnya selama 13 bulan berikutnya. Sementara dalam persembunyian, Senator Neruda disingkirkan dari jabatannya dan pada September 1948 Partai Komunis sama sekali dilarang berdasarkan Ley de Defensa Permanente de la Democracia (UU untuk Mempertahankan Demokrasi secara Permanen), yang disebut oleh para kritikusnya sebagai Ley Maldita (“UU Terkutuk”), yang menghapuskan lebih dari 26.000 orang dari daftar pemilih, dan dengan demikian mencabut hak-hak mereka untuk memilih. Kehidupan Neruda di bawah tanah berakhir pada Maret 1949 ketika ia melarikan diri menyeberangi Pegunungan Andes ke Argentina dengan menunggang kuda. Ia hampir tenggelam ketika menyeberangi Sungai Curringue. Kelak ia mengisahkan kembali pelariannya dari Chili dalam kuliah Hadiah Nobelnya.

Begitu keluar dari Chili, ia hidup selama tiga tahun berikutnya di pembuangan. Di Buenos Aires seorang sahabat Neruda, novelis Miguel Ángel Asturias yang belakangan mendapatkan Hadiah Nobel, menjadi atase kebudayaan di kedutaan besar Guatemala. Antara keduanya ini ada beberapa kesamaan, karena itu Neruda pergi ke Eropa dengan menggunakan paspor Asturias. Pablo Picasso mengatur masuknya ia ke Paris dan Neruda melakukan penampilan kejuatan di sana di hadapan Kongres Kekuatan Damai Dunia yang tercengang. Sementara itu, pemerintah Chili menyangkal bahwa penyair itu bias melarikan diri dari negerinya.

Tiga tahun berikutnya dihabiskan Neruda dengan berkeliling di seluruh Eropa dan melakukan perjalanan ke India, RRT, dan Uni Soviet. Perjalanannya ke Meksikopada akhir 1949 diperpanjang karena ia mengalami serangan flebitis. Seorang penyanyi Chili yang bernama Matilde Urrutia dipekerjakan untuk merawatnya, dan keduanya mulai mengadakan affair, dan bertahun-tahun kemudian berakhir dengan pernikahan. Pada masa pembuangannya, Urrutia membayang-bayangi Neruda dan mereka mengatur pertemuan-pertemuan setiap kali hal itu memungkinkan.

Sementara di Meksiko, Neruda juga menerbitkan puisi epiknya yang panjang Canto General, sebuah katalog sejarah, geografi, dan flora serta fauna Amerika Selatan dalam gaya Whitmania, disertai oleh pengamatan dan pengalaman Neruda. Banyak daripadanya berkaitan dengan masa hidupnya di bawah tanah di Chili, yaitu masa ketika ia menyusun sebagian besar dari puisi itu. Malah, ia membawa naskahnya bersamanya ketika ia melarikan diri dengan menunggang kuda. Sebulan kemudian, sebuah edisi yang lain yang terdiri dari 5.000 kopi dengan berani diterbitkan di Chili oleh Partai Komunis yang telah dilarang, berdasarkan naskah yang telah ditinggalkan Neruda.

Pada tahun 1952 ia tinggal di sebuah vila milik sejarahwan Italia, Edwin Cerio di pulau Capri yang dijadikan fiksi dalam film yang terkenal Il Postino (“Tukang Pos”, 1994).

Kembali ke Chili

Pada 1952, pemerintah diktatur González-Videla hampir rontok, karena diperlemah oleh berbagai skandal korupsi. Partai Sosialis Chili sedang dalam proses mencalonkan Salvador Allende sebagai kandidatnya untuk emilu presiden September 1952 dan sangat mengharapkan kehadiran Neruda — yang kini merupakan tokoh sastra sayap kiri Chili yang paling terkemuka — untuk mendukung kampanye itu.

Neruda kembali pada Agustus tahun itu dan bergabung dengan Delia del Carril, yang telah mendahuluinya beberapa bulan kemudian, namun perkawinan mereka berada di ambang kehancuran. Del Carril akhirnya mengetahui hubungannya dengan Mathilde Urritia dan meninggalkannya pada 1955, lalu kembali ke Eropa. Neruda yang kini bersatu dengan Urrutia, menghabiskan sisa hidupnya di Chili, kecuali kunjungannya ke luar negeri yang sangat banyak jumlahnya dan penugasannya sebagai duta besar Allende untuk Prancis dari 1970 hingga 1973.

Pada saat ini, Neruda menikmati kemasyhurannya di seluruh dunia sebagai seorang penyair, dan buku-bukunya diterjemahkan ke dalam semua bahasa utama dunia. Ia juga sangat vokal dalam masalah-masalah politik, dengan berani menentang AS pada masa krisis misil Kuba (belakangan dalam decade itu ia pun berulang-ulang mengutuk AS karena Perang Vietnam). Tetapi menjadi salah seorang intelektual kiri yang paling bergengsi dan lantang pun mengundang oposisi dari lawan-lawan ideologisnya. Kongres untuk Kebebasan Budaya, sebuah organisasi anti komunis yang diam-diam dibentuk dan didanai oleh CIA, memilih Neruda sebagai salah satu target utamanya dan melakukan kampanye untuk meruntuhkan reputasinya, dengan menghidupkan kembali klaim lama bahwa ia telah ikut terlibat dalam serangan terhadap Trotsky di Mexico City pada 1940. Kampanye itu menjadi kian intensif ketika diketahui bahwa Neruda menjadi salah satu kandidat untuk Hadiah Nobel 1964, yang akhirnya diberikan kepada Jean-Paul Sartre

Pada 1966, Neruda diundang menghadiri konferensi PEN Internasional di New York City. Resminya ia dilarang masuk ke AS karena ia komunis, namun penyelenggara konferensi, penulis drama Arthur Miller, akhirnya berhasil meyakinkan pemerintahan Johnson untuk memberikan visa kepada Neruda. Neruda membacakan puisi di gedung-gedung yang padat, dan bahkan merekam beberapa pembacaan puisinya untuk Perpustakaan Kongres. Miller belakangan mengatakan bahwa Neruda menjadi komunis pada tahun 1930-an sebagai akibat dari keterasingannya yang berkepanjangan dari “masyarakat borjuis”. Karena kehadiran banyak penulis Blok Timur, pengarang Meksiko, Carlos Fuentes belakangan menulis bahwa konferensi itu menandai “permulaan dari berakhirnya” Perang Dingin.

Sekembalinya ke Chili, Neruda singgah di Peru, dan membacakan puisi di depan khalayak yang menyambutnya hangat di Lima dan Arequipa. Ia pun diterima oleh Presiden Fernando Belaúnde Terry. Namun demikian, kunjungannya menimbulkan akibat yang tidak menyenangkan. Pemerintah Peru sebelumnya telah menentang pemerintahan Fidel Castro di Kuba. Pada Juli 1966 datang pembalasan terhadap Neruda dalam bentuk surat yang ditandatangani lebih dari 100 intelektual Kuba yang menuduh Neruda berkolusi dengan musuh dan menyebutnya contoh dari “revisionisme pro-Yankee yang pengecut” yang marak saat itu di Amerika Latin. Masalah ini menyakitkan Neruda karena sebelumnya ia secara terbuka mendukung revolusi Kuba. Sejak itu ia tak pernah berkunjung lagi ke pulau itu, meskipun mendapatkan undangan pada 1968.

Setelah kematian Che Guevara di Bolivia pada 1967, Neruda menulis sejumlah artikel yang menyesali kematian seorang “pahlawan besar”, namun diam-diam ia mengutuk petulangan Guevara.

Tahun-tahun terakhir

Pada 1970, Neruda terpilih sebagai kandidat presiden Chili, namun akhirnya ia memberikan dukungannya kepada Salvador Allende, yang belakangan menang pemilu dan dilantik pada 1970 sebagai kepala negara sosialis pertama yang terpilih secara demokratis. Tak lama kemudian, Allende mengangkat Neruda sebagai duta besar Chili di Prancis (dari 1970-1972; penempatan diplomatiknya yang terakhir). Neruda kembali ke Chili dua setengah tahun kemudian karena kesehatannya memburuk.

Sementara kerusuhan 1973 berlangsung, Neruda, yang saat itu sekarat karena kanker prostat, merasa hancur karena serangan-serangan yang kian meningkat terhadap pemerintahan Allende. Kudeta militer akhirnya yang dipimpin oleh Jenderal Augusto Pinochet pada 11 September menyebabkan harapan Neruda akan Chili yang sosialis dan demokratis akhirnya terkubur. Tak lama kemudian, ketika rumah dan halamannya digeledah di Isla Negra oleh tentara Chili, yang dihadiri sendiri oleh Neruda, ia membuat pernyataan yang terkenal:

Carilah hanya ada satu benda yang berbahaya untuk kalian di sini —

PUISI!

Neruda meninggal karena leukemia pada malam 23 September 1973, di Klinik Santa María, Santiago. Setelah kematiannya, rumah Neruda yang di Valparaiso maupun Santiago dijarah dan dirusak. Istrinya memindahkan jenazahnya untuk dibaringkan di rumah pasangan itu di La Chascona, Santiago, yang berantakan, karena baru saja diserang habis-habisan oleh tentara, sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dunia dari perilaku junta Pinochet yang sedang berkuasa. Pemakamannya berlangsung di bawah pengawasan polisi dengan besar-besaran, dan para pengunjung memanfaatkan kesempatan ini untuk memprotes rezim Pinochet.

Matilde Urrutia kemudian menyusun dan menyunting catatan kenangan yang telah dikerjakan Neruda hanya beberapa hari sebelum kematiannya, untuk diterbitkan. Catatan-catatan ini dan aktivitas-aktivitasnya yang lain menyebabkan Urrutia terlibat konflik dengan pemerintahan Pinochet, yang terus-menerus berusaha mengurangi pengaruh Neruda terhadap kesadaran kolektif bangsa Chili. Memang, puisi-puisi Neruda dilarang di Chili oleh pemerintah junta hingga dipulihkannya demokrasi pada 1990. Kenangan Urrutia sendiri, My Life with Pablo Neruda (Hidupku bersama Pablo Neruda), diterbitkan secara anumerta pada 1986.

Neruda mempunyai tiga rumah di Chili; kini ketiganya dibuka untuk umum sebagai museum: La Chascona di Santiago, La Sebastiana di Valparaíso, dan Casa de Isla Negra di Isla Negra, tempat ia dan Matilde Urrutia dikebumikan.

KUMPULAN PUISI NERUDA

Soneta II

Soneta II diambil dari kumpulan Cien sonetos de amor (“100 Soneta Cinta”) yang terbit pada 1959.

Amor, cuántos caminos hasta llegar a un beso, qué soledad errante hasta tu compañía!
Siguen los trenes solos rodando con la lluvia. En Taltal no amanece aún la primavera.

Pero tú y yo, amor mío, estamos juntos, juntos desde la ropa a las raíces, juntos de otoño, de agua, de caderas, hasta ser sólo tú, sólo yo juntos.

Pensar que costó tantas piedras que lleva el río, la desembocadura del agua de Boroa,
pensar que separados por trenes y naciones

tú y yo teníamos que simplemente amarnos, con todos confundidos, con hombres y mujeres,
con la tierra que implanta y educa los claveles.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia

Kasihku, berapa banyak jalan harus kutempuh untuk mendapatkan ciuman, berapa kali aku tersesat kesepian sebelum menemukanmu! Kereta kini melaju menembus hujan tanpa diriku. Di Taltal musim semi belum kunjung tiba.

Tapi aku dan engkau, kasihku, kita bersama-sama, bersama dari pakaian hingga tulang, bersama di musim gugur, di air kita, di pinggul, hingga akhirnya hanya engkau, hanya daku, kita berdua.

Bayangkan betapa semua bebatuan itu diangkut sungai, mengalir dari mulut sungai Boroa;
bayangkan, betapa bebatuan itu dipisahkan oleh kereta dan bangsa

Kita harus saling mencinta, sementara yang lainnya semua kacau, laki-laki maupun perempuan,
dan bumi yang menghidupkan bunya anyelir.

Puisi Tersedih-Neruda

XX

Aku dapat menulis puisi tersedih dari segalanya malam ini.

Menulis, misalkan: “Malam penuh bintang, dan bintang-bintang, biru, menggigil di kejauhan.” Angin malam berpusing di langit dan bernyanyi.

Aku dapat menulis puisi tersedih dari segalanya malam ini.

Aku mencintainya, dan kadang dia mencintaiku juga. Pada malam seperti ini, aku peluk dia dalam rengkuhku. Kucium dia berkali-kali di bawah langit tak terbatas. Dia mencintaiku, kadang aku mencintainya. Bagaimana bisa aku tak sangat mencintainya, mata yang tenang?

Aku dapat menulis puisi tersedih dari segalanya malam ini.

Berpikir aku tak memilikinya. Merasa aku kehilangan dia. Mendengar keluasan malam, lebih luas tanpa dia.Dan puisi itu jatuh ke jiwa seperti embun ke rumputan. Apa yang terjadi hingga cintaku tak mampu menjaganya. Malam penuh bintang dan dia tak bersamaku. Begitulah. Nun, seseorang bernyanyi. Nun.Jiwaku lenyap tanpanya. Andai dia dekat, mataku mencarinya. Hatiku mencarinya dan dia tak bersamaku.Malam yang sama memutihkan pepohonan yang sama. Kami, kami dulu, kami kini tak sama lagi.

Aku tak lagi mencintainya, sungguh, tapi betapa besar cintaku padanya. Suaraku mengejar angin untuk menyentuh telinganya. Milik orang lain. Dia akan menjadi milik orang lain. Seperti dia sekali waktu milik ciumanku. Suaranya, tubuh ringannya. Mata tak terbatasnya.

Aku tak lagi mencintainya, sungguh, tapi barangkali aku mencintainya. Cinta itu begitu pendek dan lupa begitu panjang. Karena pada malam seperti ini aku memeluknya di rengkuhku,jiwaku lenyap tanpanya. Walau ini mungkin luka terakhir yang dibuatnya padaku, dan ini mungkin puisi terakhir kubuat untuknya.

[Dinukil dari Pablo Neruda, Veinte poemas de amor

Soneta XVII
Pablo Neruda

Aku tak mencintaimu seolah-olah kau adalah serbuk mawar, atau batu topaz,
atau panah anyelir yang menyalakan api.
Aku mencintaimu seperti sesuatu dalam kegelapan yang harus dicintai,
secara rahasia, diantara bayangan dan jiwa.

Aku mencintaimu seperti tumbuhan yang tak pernah mekar
tetapi membawa dalam dirinya sendiri cahaya dari bunga-bunga yang tersembunyi;
Terimakasih untuk cintamu suatu wewangian padat,
bermunculan dari dalam tanah, hidup secara gelap di dalam tubuhku.

Aku mencintaimu tanpa tahu mengapa, atau kapan, atau darimana
Aku mencintaimu lurus, tanpa macam-macam tanpa kebanggaan;
Demikianlah aku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya

Beginilah: dimana aku tiada, juga kau,
Begitu dekat sehingga tanganmu di dadaku adalah tanganku,
Begitu dekat sehingga ketika matamu terpejam akupun jatuh tertidur.

Soneta LXVI
Pablo Neruda

Aku tidak mencintaimu kecuali karena aku mencintaimu;
aku pergi dari mencintaimu menjadi tidak mencintaimu,
dari menunggu menjadi tidak menunggu dirimu
hatiku berjalan dari dingin menjadi berapi.

Aku mencintaimu hanya karena kamulah yang aku cinta;
aku membencimu tanpa henti,
dan membencimu bertekuk kepadamu
dan besarnya cintaku yang berubah untukmu adalah bila aku tidak mencintaimu tetapi mencintaimu dengan buta.

Mungkin cahaya bulan Januari akan memamah hatiku dengan sinar kejamnya,
mencuri kunciku pada ketenangan sejati.

Dalam bagian cerita ini hanya akulah yang mati, hanya satu-satunya,
dan aku akan mati karena cinta karena aku mencintaimu.
karena aku mencintaimu, cintaku, dalam api dan dalam darah.

Soneta XXV
Pablo Neruda

Sebelum aku mencintaimu, cinta, tiada ada yang menjadi milikku:
Aku melambai melalui jalan-jalan, di antara benda-benda:
tiada ada yang berarti ataupun mempunyai sebuah nama:
dunia terbuat dari udara, yang menunggu.

Aku mengenal kamar-kamar yang penuh oleh debu,
terowongan dimana bulan hidup,
gudang-gudang kasar yang menggeram
Pergilah, pertanyaan yang memaksa di dalam pasir.

Semua adalah kekosongan, mati, bisu,
jatuh, terlantar dan membusuk:
tidak diragukan asing, semuanya.

milik orang lain –tidak pada siapapun:
sampai kecantikanmu dan kemiskinanmu
dipenuhi oleh musim gugur yang penuh dengan hadiah.

Tiada Selain Kematian
Pablo Neruda

Adalah kuburan yang kesepian,
makam yang penuh dengan tulang belulang yang tak berbunyi,
hati yang berjalan melalui sebuah terowongan,
seperti bangkai kapal kita akan mati memasuki diri kita sendiri,
seakan-akan kita tenggelam dalam hati masing-masing
seakan-akan kita hidup lepas dari kulit kedalam jiwa.

Dan adalah mayat-mayat,
kaki yang terbuat dari tanah liat yang dingin dan lengket,
kematian ada di dalam tulang-tulang,
seperti gonggongan dimana tiada anjing-anjing,
keluar dari bel entah di mana, dari makam entah di mana,
tumbuh di dalam udara lembab seperti tangisan hujan.

Terkadang aku melihat sendiri,
peti mayat yang sedang berangkat,
dimulai dengan kepucatan kematian, dengan wanita yang memiliki rambut mati,
dengan tukang-tukang roti yang seputih malaikat,
dan gadis-gadis muda yang termenung menikah dengan notaris publik,
peti mati melayari vertikal sungai kematian,
sungai berwarna ungu gelap,
menyusuri hulu dengan layar-layar yang berisikan suara-suara kematian,
berisikan suara kematian yang merupakan diam.

Kematian datang dengan semua suara itu
seperti sebuah sepatu tanpa kaki di dalamnya, seperti sebuah jas tanpa seorang laki laki di dalamnya,
datang dan mengetuk, menggunakan sebuah cincin tanpa batu di dalamnya, tanpa jari di dalamnya,
datang dan berteriak tanpa mulut, tanpa lidah, tanpa kerongkongan.
namun langkah-langkahnya bisa didengar
dan pakaiannya membuat suara keheningan, seperti sebuah pohon.

Aku tidak yakin, aku mengerti cuma sedikit, aku tidak bisa begitu melihat,
tetapi sepertinya untukku nyanyiannya memiliki warna kelembaban bunga violet,
dari bunga violet yang berada di rumah di dalam bumi,
karena wajah kematian adalah hijau,
dan muka yang diberikan kematian adalah hijau,
dengan penetrasi kelembaban dari sehelai bunga violet
dan warna muram dari musim dingin yang menyakitkan hati.

Tetapi kematian juga melewati dunia berbaju seperti sebuah sapu,
menyapu lantai, mencari tubuh-tubuh mati,
kematian ada di dalam sapu,
sapu adalah lidah dari kematian yang mencari mayat-mayat,
adalah jarum dari kematian yang mencari benang.

Kematian ada di dalam tempat tidur gantung yang terlipat,
yang menghabiskan hidupnya tidur di atas matras-matras lambat,
di dalam selimut-selimut hitam, dan tiba-tiba melepaskan nafas:
meniupkan suara ratapan yang membengkakkan seprai,
dan tempat-tempat tidur pergi berlayar menuju pelabuhan
dimana kematian sudah menunggu, berpakaian seperti seorang laksmana.

Soneta LXXIII

Mungkin saja kau akan teringat dengan pria bermuka cukur
yang keluar dari kegelapan seperti pisau
dan – sebelum kita sadar – tahu apa yang ada di situ:
dia melihat asap dan api terakhir.

Perempuan yang pucat dengan rambut hitam
mawar seperti ikan dari jurang,
dan keduanya membangun sebuah alat yang aneh.
bersenjata sampai dengan gigi, melawan cinta.

Laki-laki dan perempuan, mereka menjatuhkan gunung-gunung dan taman-taman,
mereka menyusuri sungai, mengukur dinding,
mereka menaikkan persenjataan kejamnya pada bukit.

Dan cinta mengetahui dipanggil cinta
dan sewaktu aku mengangkat mataku pada namamu,
tiba-tiba hatimu menunjukkanku jalanku.

2 gagasan untuk “Pablo Neruda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s