Prof. Ben Anderson tentang Suharto

Wawancara Radio Nederland Siaran Indonesia , 2 September 2005

Hari Jum’at 30 September mendatang, tepat 40 tahun lalu terjadi peristiwa G30S yang mengubah sejarah Indonesia. Profesor Benedict Anderson guru besar emeritus pada Cornell University di Ithaca, Amerika Serikat adalah salah satu pengarang apa yang disebut Cornell Paper atau Makalah Cornell, yaitu risalah pertama yang meragukan versi Soeharto terhadap peristiwa yang dikenal sebagai G30S/PKI itu. Apa sebenarnya Cornell Paper itu dan penemuan-penemuan lebih lanjut apa yang didapatkan oleh Profesor Ben Anderson?

Baret merah

Ben Anderson [BA]: “Apa yang terjadi begini. Kebetulan pada waktu itu saya masih mahasiswa di Cornell terus ada dua teman lagi. Satu cowok namanya Fred Bunnell masih mahasiswa dan mbak Ruth McVey yang sudah lulus dan senior kita. Kami mengikuti apa yang terjadi di Indonesia dengan sangat cermat karena bingung. Kok ini bisa terjadi? Apa asal usulnya? Dan kebetulan pada waktu itu Cornell satu-satunya tempat di Amerika di mana hampir semua koran, majalah masuk dengan cukup cepat. Majalah dalam bahasa Indonesia, majalah dalam bahasa Jawa. Jadi kita dapat koran dari Medan, dari Balikpapan dari Solo dari Bali, dari Surabaya dan sebagainya. Ini luar biasa. Jadi kami bisa mengikuti apa yang terjadi pada bulan Oktober-November-Desember 1965, bukan bergantungan pada sumber-sumber di Jakarta yang dikuasai sepenuhnya oleh Soeharto. Tapi di lain-lain daerah.”

“Dan dari situ kami melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Jakarta, sama sekali tidak masuk akal. Karena mengikuti apa yang terjadi di Solo, Yogya dan sebagainya, kita lihat bahwa pembunuhan massal mulai di Solo, Jawa Tengah, persis pada hari itu baret merah masuk. Sebelumnya tidak ada. Terus satu bulan lagi kira-kira tanggal 17 November 1965 itu sudah mulai di Surabaya persis pada waktu RPKAD masuk. Dan sebaliknya, baru di pertengahan Desember 1965, dus hampir tiga bulan setelah G30S, pembunuhan mulai di Bali. Sekali lagi, ketika baret merah masuk.”

Versi Soeharto tak masuk akal

“Jadi itu jelas sekali bahwa pembunuhan ini bukan sesuatu yang spontan, yang timbul karena kemarahan rakyat dan sebagainya. Tapi timbul dalam situasi di mana tentara masuk dan memberi sokongan kepada golongan-golongan yang anti PKI. Malah di beberapa kasus yang saya tahu betul pada waktu itu, mereka masuk di salah satu desa. Terus bilang pada salah satu orang di situ, mana itu orang komunis di sini. Orang dalam desa ingin menjaga mereka punya keluarga dan sanak saudara, bisanya bilang, ya tidak ada. Tapi tentara bilang ini daftarnya, mana orangnya? Lalu orangnya didorong ke depan. Terus tentara itu bilang sama salah satu orang di sekitarnya, kamu anti komunis atau tidak? Ya, saya anti komunis. Baik, untuk membuktikan, silahkan membunuh empat orang ini. Jadi orang seperti ini, tani biasa, antara dibunuh oleh tentara, atau membunuh temennya sendiri atau keluarga sendiri, ya akhirnya harus cari selamat.”

“Nah, cara yang begini yang sangat sadis, itu kami sudah tahu pada waktu itu. Jadi, timbul usaha untuk coba membongkar rahasia apa sebenarnya yang terjadi pada waktu itu. Kami mencek beberapa hipotesa. Seandainya ini Bung Karno di belakangnya, PKI di belakangnya, tentara di belakangnya. Dan walaupun kita tidak dapat suatu kepastian yang jelas, tapi berdasar informasi yang ada pada waktu itu, versinya Soeharto jelas tidak masuk akal.”

Proyek penting tak terlaksana

“Kami dapet kesimpulan bahwa ini mulainya dengan perselisihan di dalam tentara sendiri. Itu selesai kira-kira tanggal 3 Januari atau 4 Januari 1966. Kami kerja siang malam. Bertiga. Setelah selesai, kami merasa bahwa ini suatu dokumen yang berbahaya. Bukan untuk kita sendiri. Tapi kalau tentara di Jakarta tahu bahwa dokumen ini ada, mungkin orang-orang yang pernah ke Cornell, orang-orang yang pernah menjadi teman kita, walaupun mereka sama sekali tidak ada hubungan dengan apa yang kita tulis, toh bisa dikorbankan.”

“Tapi di lain pihak kami ingin supaya orang-orang yang kami percaya, orang-orang seperti Pak Wertheim, Pak Dan Lev, bisa melihat hasil riset kami. Kami menulis pada mereka, bilang, ini kalian bisa pakai fakta-fakta yang kami sudah dapatkan, kalau kalian ingin menulis, terserah. Tapi jangan sebut dokumen ini. Pada waktu itu kami amatiran. Ternyata itu akhirnya bocor dan tentunya bukan golongan Ali Moertopo cs yang marah, tapi banyak orang Amerika di pemerintah Amerika juga marah. Karena ini seolah-olah cerita bahwa tentara berhak untuk membunuh banyak orang. Karena memang PKI yang mau bikin kup sebelumnya, mungkin tidak benar. Dan legitimasi pemerintah Soeharto yang sudah jelas menuju ke diktatoran harus direstui. Dan memang itu maksudnya pemerintah Amerika pada waktu itu.”

“Yang tidak lama setelah itu saya diusir dari Indonesia. Dan dalam satu hal sebenarnya saya merasa salah sendiri. Artinya, karena itu saya sudah merasa tidak ada harapan untuk meneruskan riset itu tadi karena gak ada akses ke Indonesia. Dan pada waktu itu belum ada orang lain yang bersedia untuk meneruskannya. So ini proyek tentang saat yang sangat penting di Indonesia, tidak sampai terlaksana. Itu ceritanya.”

Kampanye Machiavellis

Radio Nederland [RN]: “Tapi menurut Profesor Anderson bahan untuk melanjutkan studi Cornell Paper itu masih banyak dan ada dan bisa dilakukan ya?”

BA: “Ya. Bahan yang utama adalah segala macem dokumen-dokumen dari Mahmilub yang ada. Entah berapa, mungkin 20 jilid. Yang walaupun banyak sekali informasi lainnya, jelas itu hasil dari siksaan, toh juga cukup banyak yang menarik. Apalagi kalau dibandingkan satu sama yang lain. Nah ini memerlukan pekerjaan yang lama dan berat. Untuk memeriksa ini semua, membandingkannya satu sama yang lain. Mencari kunci-kunci yang ada. Itu sampai sekarang belum dilakukan.”

“Tetapi betapa pentingnya sumber ini bisa dijelaskan oleh suatu insiden yang terjadi waktu saya kebetulan periksa ratusan halaman dari salah satu Mahmilub. Dan di sana saya ketemu satu dokumen yang sangat penting. Yaitu visum et repertum tentang meninggalnya Ahmad Yani dan teman-temannya yang dituduh sebagai dewan jenderal.”

“Pemeriksaan terhadap tubuh-tubuh jenderal-jenderal ini sangat teliti. Dikerjakan oleh dokter-dokter militer dan dokter-dokter sipil di Universitas Indonesia. Diselesaikan tanggal 3 Oktober 1965. Dan laporannya ditujukan kepada Soeharto sebagai Pangkostrad pada waktu itu. Dari laporan ini jelas sekali bahwa cerita yang dikeluarkan oleh Soeharto cs pada tanggal 5-6 Oktober 1965, di koran dan di massa media bahwa orang-orang ini disiksa oleh PKI. Kemaluan mereka dipotong-potong oleh Gerwani yang gila seks dan gila drugs. Bahwa ada segala macam horor, dicungkil matanya dan sebagainya. Itu sama sekali tidak bener.”

“Itu sangat sengaja. Jadi laporan tentang apa yang sebenarnya terjadi sudah ada di tangan Soeharto tiga hari sebelum kampanye horor anti PKI mulai. Jadi itu sangat sinis, sangat dingin. Anehnya, laporan ini menjadi lampiran entah keberapa pada akhir dari jilid Mahmilub ini itu. Dan jelas masuk dengan tidak sengaja oleh seorang tentara kecil-kecilan yang dengan lugunya mungkin merasa bahwa ini dokumen yang tidak penting.”

“Padahal itu satu dokumen yang sangat penting dan sangat menghancurkan konsep bahwa Moertopo, Soeharto dan sebagainya itu bertindak atas dasar keyakinan. Tidak. Justru sebaliknya, itu suatu kampanye yang sangat Machiavellis, yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran.”

Informasi selalu ada

“Jadi ini suatu contoh bagaimana kalau orang rajin mencari informasi itu bisa ketemu. Jadi orang-orang tua, baik dari pihak yang menang, maupun dari pihak yang kalah, juga bisa diusahakan. Orang-orang yang mengunjungi tapol-tapol dalam penjara pada waktu itu mungkin mereka bikin catatan dan sebagainya, itu belum ditelusuri.”

“Saya masih ingat, sangat kebetulan pada waktu, mungkin tahun 1972, saya membeli suatu bungkusan, apa saya nggak tahu di jalan Surabaya di Jakarta. Itu memang daerah loak. Dan saya heran karena bungkusan itu, ternyata itu dokumen-dokumen intel Jawa Timur, yang setelah itu saya terjemahkan dan memang sudah diterbitkan di majalah Indonesia. Ini semacam mata-mata dari Jakarta yang putar-putar di Jawa Timur, untuk lapor tentang apa yang terjadi di Jawa Timur pada waktu itu.”

“Dia cerita tentang perselisihan antara perwira-perwira tinggi di situ. Dia melihat bahwa pembersihan yang jalan sangat baik di Jombang, kok ada masalah umpamanya di Jember dan sebagainya. Banyak orang dibunuh di situ, tapi kok sayang di daerah Bojonegoro tidak ada, dan kemungkinan sebab-sebabnya begini begini. Kan bagaimanapun pemerintah itu suatu birokrasi yang selalu tulis menulis, selalu ada laporan, selalu ada ini ini.”

“Dan saya yakin ada gudang yang penuh dengan segala macam dokumen, yang orang sekarang, malah tidak tahu ada apa di situ. Memang pada waktu reformasi lagi bergejolak, salah satu harapan tersembunyi dalam hati saya adalah bahwa anak-anak muda yang pergi rame-rame akan membongkar gudang-gudang ini dari tangan tentara dan tangan pemerintah. Seperti yang terjadi pada tahun 1965, di mana Deplu dibongkar, waktu itu banyak dokumen-dokumen dari zamannya Soebandrio, kan masuk gelanggang umum.”

Demikian bagian pertama wawancara Profesor Benedict Anderson dari Cornell University.
* * *

Soal Pembunuhan Pasca G30S

NU Lebih Jujur dari Katolik

Dalam acara dialog interaktif Secangkir Kopi yang disiarkan TVRI tanggal 14 Maret tahun 2000, presiden Kyai Haji Abdurrahman Wahid menyatakan sejak menjabat ketua PBNU dirinya sudah meminta maaf kepada para korban pembunuhan pasca peristiwa G30S. “Saya sudah meminta maaf atas segala pembunuhan yang terjadi terhadap orang-orang yang dikatakan sebagai komunis,” kata Gus Dur waktu itu. Sejak ucapan itu tabir tabu yang meliputi PKI serta peristiwa G30S seperti terkoyak. Semua orang bisa berbicara bebas tentang peristiwa bersejarah 40 tahun silam yang mengubah perjalanan bangsa Indonesia, termasuk korban-korbannya.

Ucapan ini adalah juga rintisan menuju rujuk nasional dengan NU sebagai pelopornya, walaupun organisasi massa Islam terbesar ini masih saja terbelah soal peran mereka waktu itu. Indonesianis senior Profesor Benedict Anderson yang seperempat abad lebih dilarang masuk Indonesia gara-gara pendapatnya soal G30S, menyambut baik upaya NU. Tapi pakar Indonesia dari Cornell University ini juga mendesak supaya organisasi-organisasi lain terbuka dan jujur dalam peran mereka pada pembunuhan massal pasca G30S. Berikut Profesor Ben Anderson kepada Radio Nederland.

Perubahan di kalangan NU

Benedict Anderson [BA]: “Yang paling menarik adalah perubahan justru di kalangan NU. Karena diketahui pada waktu tahun 1965, justru orang-orang Ansor menjadi pembantu yang sangat penting untuk tentara dalam hal menghancurkan PKI, khususnya di daerah pedalaman, di Jawa Timur, Jawa Tengah. Karena di kalangan anak muda intelektual justru mereka ingin mengetahui apa yang terjadi. Mereka membantu usaha Ibu Sulami untuk menelusuri jumlah orang kiri yang terbunuh di beberapa daerah. Dan mereka mulai bikin rekonsiliasi atau hati ke hati antara orang Gerwani dan orang-orang dari ormas NU, khusus untuk wanita.”

“Ini sangat bagus, walaupun mereka harus menghadapi fakta bahwa di antara keluarga mereka sendiri ada yang menjadi algojo. Dan rupanya mereka bersiap untuk itu. Jadi mereka tidak mati-matian membela apa yang terjadi sebelumnya. Ini berarti bahwa sebagian penting dalam masyarakat Indonesia, justru fihak yang di angkatan tuanya sangat aktif dalam masyarakat ini, berubah pikirannya. Kami belum lihat usaha yang sedemikian dari fihak Katolik, Protestan, Muhammadiyah. Tapi Insya Allah itu akan berlangsung pada tahun yang akan dateng.”
“Kita harus ingat bahwa orang-orang yang sudah ambil posisi, yang sudah lama menyokong Soeharto mati-matian, seperti Kompas, Jacob Oetama dan sebagainya, walaupun mungkin dalam hati kecilnya mereka mengaku bahwa apa yang terjadi tahun 1965 adalah satu manipulasi yang jahat, toh mereka tidak akan meninggalkan pendirian mereka di depan umum. Karena mereka sudah punya andil dalam proyek yang besar. Dalam proyek Orde Baru. Sampai sekarang.”

“Ini sering terjadi dalam politik. Bahwa orang-orang yang sebenarnya dalam hati kecilnya enggak yakin, tapi demi temennya, demi anu, namanya, demi ini, demi itu, demi untungnya; masih ngotot dengan pendapat yang sebenarnya mereka sudah tahu bahwa ini tidak benar.”

NU lebih jujur daripada Katolik

“Kita tahu bahwa sebagian penting dari dana keuangan untuk Soeharto pada masa-masa kritis yang pertama, sebagian datang dari, ini yang bagian dalam negeri, bukan bantuan dari luar negeri, tapi dari dalam negeri sebagian besar datang dari Pertamina dan sebagian besar lagi datang dari Menteri Perkebunan Agraria, tokoh Flores yang kita semua tahu, Frans Seda. Ini kan menteri pemerintahan Soekarno, yang diangkat oleh Soekarno dan dia harus setia kepada Soekarno. Tapi justru sebaliknya. Diam-diam dia colong duit dari departemennya

“Yang kedua itu sudah diketahui bahwa orang-orang yang sangat penting dalam mendirikan Opsus, CSIS dan sebagainya. Dua orang yang paling penting di situ, tidak semuanya orang-orang Katolik, tetapi sebagian ada. Itulah Liem Bian Kie dan adiknya dan juga Harry Tjan Silalahi. Ini semua juga mengambil peranan yang cukup jahat dalam masalah Timtim. Mereka menjadi penasehat dan operator agennya Ali Moertopo dalam berusaha

“Nah ini, sampai sekarang Kompas tidak pernah mau terus terang tentang peranan yang penting dari orang-orang Katolik ini. Semua ditutup dengan kata-kata halus. Ya, stylenya Kompas, bisa diketahui dengan istilah yang kita semua sudah kenal. Seperti, “Ya, saya dari dulu memang anti. Saya memang dari dulu itu kritis. Saya memang dari dulu tidak setuju.” Tapi ini semacam hipokrisi yang kalau mereka betul-betul kritis, betul-betul anti, ndak mungkin mereka bukan saja survive, tapi menjadi satu konglomerat yang maha besar, yang masih mencekik dunia penjualan buku.”

“Jadi dalam hal ini, NU jauh lebih jujur dari Katolik. Ini tidak berarti bahwa tidak ada cukup banyak romo yang bagus, yang mengunjungi tapol dan berusaha untuk membantu mereka. Jadi, maksud saya bukan untuk mencaci maki kaum Katolik pada umumnya. Tapi harus diakui bahwa kaum Katolik pada umumnya masih menjadi satu minoritas yang tidak berani mencuci celana kolornya di pekarangan depan. Dalam hal ini sikap mereka, dibandingkan dengan sikapnya NU, tidak bisa dipuji.”

Semuanya terlibat

Radio Nederland [RN]: “Kalau NU itu ada pemuda Ansor yang melakukan pembunuhan itu, membantu tentara. Apakah pelaku-pelaku itu juga ada dari kalangan Katolik, Protestan dan Mohammadiyah, menurut anda?”
BA: “Harus diakui bahwa sebagian besar pembunuhan terjadi di pedesaan. Bukan di kota. Jadi kalau waktu itu kamu jadi PKI kelas teri, kamu akan lebih aman, lebih mungkin survive, kalau di kota. Dan ini memang NU kuat di desa, sedangkan pada umumnya Muhammadiyah, paling sedikit di Jawa, lebih kuat di kota. Katolik juga begitu, Protestan juga.”

“Tapi sampai sekarang, umpamanya, tidak pernah ada penelitian terhadap apa yang terjadi di daerah yang jelas Katolik seperti Flores. Apa yang terjadi di sana? Saya belum pernah melihat laporan tentang ini. Jelas itu tidak dilakukan oleh Kompas cs.”

“Kita tahu bahwa di Bali yang membunuh justru bukan orang Islam, tapi orang Hindu. Dan mungkin lebih sadis daripada yang terjadi di Jawa. Kita tahu bahwa pembunuhan yang paling komplit di mana dipastikan semua anggota komunis dibunuh, justru terjadi di Aceh, yang pada waktu itu secara politik berafiliasi dengan Muhammadiyah.”

“Jadi boleh dikatakan tidak ada partai atau golongan yang tidak ada tanggung jawabnya. Kalau bukan di lapangan atau di desa, tapi sebagai otak. Di bagian intel, cukup banyak Protestan Batak di intel-intel pada waktu itu. Atau di kalangan intelektual yang menjual diri supaya bisa dapet posisi yang bagus di orde baru awal, mengharapkan kedudukan seperti itu. So, orang-orang yang tidak kena itu sedikit sekali.”
“Maka dari itu saya merasa harus angkat topi kepada NU dalam hal ini. Karena mereka udah kasih contoh yang bagus. Insya Allah yang lain-lainnya akan mawas diri dan memikirkannya. Insya Allah, tapi saya memang tidak banyak harapan dalam hal ini.”

Demikian percakapan bagian kedua dengan Profesor Benedict Anderson Indonesianis senior dari Cornell University, Amerika Serikat.

* * *

40 Tahun G30S, Kasusnya Masih Misteri

Wawancara Radio Nederland Siaran Indonesia, 27 September 2005

40 tahun sudah Peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965, tapi kasusnya sendiri masih belum terang. Banyak tokoh seputar itu, membawa rahasianya ke kubur, seperti Ali Moertopo, Umar Wirahadikusumah, dan, mungkin juga, beberapa pimpinan CC-PKI. Yang pasti, di pagi 1 Oktober 1965 itu, pihak tentara sudah bisa menyimpulkan PKI berada di balik G30S. Mereka berkumpul di Kostrad, antara lain, untuk merebut RRI, demikian profesor Salim Said, waktu itu wartawan buletin tentara.

Sebaliknya, Sobron Aidit, waktu itu guru besar Bahasa Indonesia di Beijing, mengungkap bahwa kakaknya, Ketua CC-PKI, D.N. Aidit atau Bang Amat, sudah memperingatkan, bakal ada “keguncangan” di Jakarta, tapi tak satu pun pendukung PKI tahu apa-apa. Juga Ibu Sulastri, mantan pimpinan Gerwani Jawa Timur, tidak mengerti sedikitpun tentang G30S, tapi dia harus mendekam di penjara, tanpa diadili, tanpa udara segar, tanpa telor, dan tanpa daging, selama 11 tahun. Berikut ini berturut-turut penuturan profesor Salim Said, Sobron Aidit dan Ibu Sulastri.

Pengalaman Salim Said

Salim Said [SS]: “40 tahun lalu, waktu kejadian Gestapu, umur 22 tahun. Saya waktu itu wartawan muda, dan sudah mengikuti perkembangan ketegangan-ketegangan yang memuncak pada 30 September itu. Jadi siapa pun yang berada di Jakarta khususnya, Indonesia umumnya, pada waktu itu dengan perhatian kepada perkembangan politik yang makin lama makin tegang, sebenarnya tidak terkejut kalau pada tanggal 1 Oktober 1965 pagi, ada berita mengenai apa yang disebut Gerakan 30 September.”

“Pagi hari saya datang ke sekolah. Saya diberitahu oleh teman-teman bahwa bapaknya Ruli, itu diculik. Ruli itu adalah anak sulung Jenderal Yani, katanya CIA. Jadi, saya langsung menyimpulkan, ini PKI mesti terlibat di sini. Sebab beberapa hari sebelumnya sudah beredar isyu macem-macem bahwa akan ada Dewan Jenderal yang melakukan kup.”

“Ya, kita ke Kostrad. Karena kita sudah tahu, setelah komunikasi kiri kanan, bahwa ini PKI. Nah saya termasuk wartawan pertama yang tiba di Kostrad hari itu. Kira-kira jam 11 siang. Wah, saya melihatlah usaha konsolidasi waktu itu. Hari itu sampai sore, di antara orang-orang, para jenderal dan para petinggi di situ, tidak ada yang tahu seluk beluk RRI itu.”

“Saya katakan kepada seorang jenderal, saya ini pernah kerja di RRI, saya tahu itu RRI. Jadi saya memberi masukan kepada jenderal itu. Ada dua jenderal waktu itu yang mengurusi penerangan, almarhum Jenderal Sugandhi dan almarhum Jenderal Soebroto. Saya sarankan agar kita mencari Darmo Sugondo, komentator/reporter televisi terkemuka waktu itu yang selalu menjadi komentator kalau Bung Karno muncul di publik.”

“Saya bilang kalau ada Darmo Sugondo, asosiasi orang Bung Karno. Karena waktu itu tidak banyak yang tahu di mana Bung Karno. Pertanyaan orang di mana Bung Karno? Nah Bung Karno jadi rebutan waktu itu. Akhirnya bersama Darmo Sugondo kami dikawal oleh pasukan RPAD waktu itu, Kopassus namanya sekarang, merebut RRI.”

RRI bisa dikuasai, dan tidak lama kemudian rekaman pidato Jenderal Soeharto disiarkan di RRI.

Demikian profesor Salim Said.

Pengalaman Sobron Aidit

Radio Nederland [RN]: “Pak Sobron, 30 September 1965 ada di mana?”

Sobron Aidit [SA]: “Saya ada di Peking. Kami ketika itu bang Amat saya selalu memanggil bang Amat, ya, ada briefing sebelum itu dia mengatakan kepada kami semua. Artinya kami di sini ialah orang-orang Indonesia yang ada di Peking, bahwa akan ada kejadian yang menggoncangkan tanah air. Tetapi dia tidak bilang kejadian apa.”

RN: “Kapan itu DN Aidit mengatakan itu?”

SA: “Agustus, menjelang 17 Agustus. Jadi waktu dia terakhir ke Peking. Pesan dia itu mengatakan bahwa sekarang ini sedang panas-panasnya keadaan tanah air. Pertentangan antara tentara sama sayap-sayap Bung Karno, maksudnya orang-orang kiri terutama, itu akan ada hal-hal mungkin di luar dugaan, dia bilang. Tapi sama sekali dia tidak bilang apa-apa.”

RN: “Lalu pak Sobron, menanggapi itu bagaimana?”

SA: “Kami betul-betul tidak tahu. Tetapi waktu itu kami sudah mendengar keadaan tanah air begitu panas. Begitu cepat berubah, apalagi pidato sana-sini itu saling mengganyang. Artinya ganyang ini, ganyang itu ya. Nah kami dianjurkan ketika itu mendengarkan radio baik-baik, artinya teliti-teliti. Radio yang dimaksud ialah radio dari Australia, Amerika dan Jepang.”

RN: “Jadi kira-kira pertengahan Agustus, pak Sobron sudah mendengar radio secara mental sedikit banyak siap begitu ya, ada sesuatu nih?”

SA: “Ya, tapi ndak jelas apa begitu?”

RN: “Ndak ada dugaan apa begitu?”

SA: “Rasanya begini, ini mungkin ada apa-apa. Maksudnya ini entah pertempuran, entah huru-hara namanya waktu itu kan sudah ada jor-joran revolusi.”

RN: “Tapi tidak ada dugaan sedikitpun? tidak ada clue tidak ada indikasi dari bang Amat?”

SA: “Tidak ada sama sekali.”

RN: “Tidak ada ya. Jadi mereka yang di luar, pak Sobron ini ya terpaksa menduga-duga gitu ya, berspekulasi ya?”

SA: “Ada satu hal yang ingin saya catatkan. Waktu itu tentara, nama-nama ada yang kami dengar nama ini, nama itu. Tetapi satu nama yang ndak pernah saya dengar, yaitu Soeharto. Yang kami dengar Nasution, yang kami dengar Yani, tapi Soeharto ndak pernah.”

RN: “Tadi pesan bang Amat tadi juga tidak menyebutkan nama apa pun ya?”

SA: “Tidak, tapi tentara dia bilang memang tentara.”

Tak ada yang tahu

RN: “Kemudian tiba 30 September, seperti apa reaksi pak Sobron?”

SA: “Karena kami sudah di briefing akan apa-apa jadi kami kumpul dengan sendirinya. Saling mau tahu. Tapi yang paling lucu, saling mau tahu tapi tidak ada satu yang tahu.”

RN: “Tidak ada yang coba mencari narasumber di negeri lain atau di Indonesia?”

SA: “Ada, tentu kami ada yang telepon dan ada yang tanya bagaimana ini, tapi tidak ada satupun berita yang ada kepastiannya. Sebab begini, mula-mula kami dengar ya, dewan revolusi, kemudian dewan jenderal, kemudian radio sudah direbut. Kemudian cepat sekali berubah, kemudian ada pertempuran sedikit, sporadis. Tapi tidak tahu kami di mana ini. Jadi kami betul-betul nggak ada pegangan.”

PKI korbannya

RN: “Berapa lama itu kalian bertanya-tanya, berteka-teki ada apa sih di tanah air?”

SA: “Mingguan sampai bulanan. Di situ sudah ada pembunuhan-pembunuhan baru jelas, bahwa ini ndak ada hubungannya dengan PKI dalam soal memimpin keadaan. PKI ternyata waktu itu kami sudah rasakan dan sudah mengamati, PKI korban. Ya betul jadi tidak ada….”

RN: “Mengapa begitu pak?”

SA: “Kami tidak berpretensi bahwa ini PKI yang mimpin. Begini, kami akhirnya dapat tahu dari delegasi dari Havana, dari Kuba, yang mengatakan bahwa Aidit sudah meninggal. Itu kira-kira November, delegasi mengatakan pesannya dari Fidel, Fidel Castro, bahwa betul sudah meninggal. Waktu itu semua kami terdiam. Dan, yang paling aneh di antara begitu banyak teman, hanya saya sendiri yang percaya memang bahwa Aidit sudah meninggal. Itu perasaan saya, feeling saya.”

“Kenapa? secara logika tidak mungkin bahwa mereka bisa melawan. Kenapa? PKI tidak punya tentara, PKI tidak punya senjata, PKI hanya mengandalkan orang-orang yang waktu pemilihan umum memilih PKI. Ya mana ada tentaranya? Jadi saya waktu itu sudah yakin PKI tidak mungkin menang, tidak mungkin bertempur. Karena apa? Apa yang dia punya? Nggak ada apa-apa.”

RN: “Dan tidak ada pula apa yang oleh tentara disebut angkatan kelima itu ya?”

SA: “Ndak ada….”

Demikian Sobron Aidit.

RN: Ibu Sulastri, ibu dulu aktif dalam Gerwani, pada 30 September 1965 ibu ada di mana?

Di Surabaya. Saat peristiwa itu disiarkan memang hati kami sama sekali tidak mengerti, tidak tahu. Setelah peristiwa 65 itu memang beberapa hari kemudian lalu kami terpaksa harus meninggalkan rumah untuk menjaga keselamatan. Saya bersama anak saya umur dua tahun gitu, sebab sudah ada beberapa teman yang diambil gitu, yang akhirnya saya terus harus ke Blitar Selatan. Akhirnya terjadi pengepungan mengerahkan 10.000 anggota hansip untuk daerah Blitar Selatan itu.

Demikian Ibu Sulastri, sebelumnya anda sudah mengikuti penuturan Sobron Aidit dan profesor Salim Said

17 thoughts on “Prof. Ben Anderson tentang Suharto

  1. sejarah yang rancu, membingungkan. Oh…atau sebut saja sebagai dongeng karena toh kebenarannya masih di ragukan. Lalu bagaimana muda ini bisa belajar dari sejarah? Apa yang tertulis bukanlah semua apa yang terjadi, atau haruskah kita berguru pada Harry Potter? Bersama-sama mengamalkan ajaran ilmu legilimency agar bisa menguak sejarah sebenar-benarnya?? Sayangnya, harry potter sendiri cuma ada di khayalan JK Rowling.

  2. sekedar renungan,antara lain:
    1. Pelaku G30S (Untung, Latief, Supardjo, Kamaruzaman) adalah anak buah Soeharto
    2. Salah satu kesaksian Latief adalah 2 kali mendatangi Soeharto kalau ada rencana Dewan
    Jendral, dan pada malam hari menjelang 1 oktober 1965 datang ke RSPAD utk memberi tahu
    kalau nanti malam/subuh akan ada pengambilan jendral yg termasuk anggota Dewan Jendral,
    dan direstui Soeharto
    3. Pasukan gelap yang ada di sekitar depan istana dan Monas atas undangan Soeharto, dibuktikan
    oleh Eli Ebram yg menerima kawat utk datang ke jakarta dengan pakaian tempur dinas lengkap
    Pasukan dari jawa tengah dan jawa timur, menurut Eli Ebram pernah kawat ini mau di beli oleh
    Soeharto dengan harga berapapun tetapi tidak diijinkan.
    4. Surat SP 11 Maret 1966 sampai sekarang tidak ditemukan yang aslinya, dicurigai bahwa Kop
    Surat menggunakan Kop Surat Mabes AD bukan Istana/Kepresidenan, sehingga sengaja
    dihilangkan
    5. Hasil otopsi dari para jendral yg dibunuh tidak ada penyiksaan sama sekali kecuali luka tembak
    dan bayonet, bahkan masing2 bisa diketahui apakah disunat atau tidak dan hasil otopsi ini tidak
    disebar luaskan hanya disimpan dan salah satu dokter yg melakukan otopsi adalah dr. Rubiono
    Kertapati.
    6. TNI yang mendukung Soekarno adalah AURI dan ALRI termasuk KKO, sehingga pernah ada
    semacam pernyataan bahwa Putih kata Bung Karno, Putih kata KKO, akibatnya komandan KKO
    (alm. Hartono) sewaktu jadi Dubes di Korea Selatan dinyatakan meninggal karena Bunuh Diri
    tanpa keluarga diperbolehkan melihat jenazah dan tidak di otopsi, termasuk KASAl Martadinata
    yang dinyatakan Meninggal karena kecelakaan dalam Helicopter di Puncak, sementara AURI sdh
    lebih dahulu KASAU Omar Dhani dipenjara shg tidak mempunyai kekuatan sama sekali.
    7. Koran yg terbit hanya ada 2 yaitu Berita Yudah dan Angkatan Bersenjata semua di bekukan
    akibatnya semua bisa diatur oleh Soeharto
    8. bantuan dari Amerika berupa peralatan komunikasi, uang dsb serta daftar nama2 PKI
    9. Dalam masa penahanan Soekarno di wisma Yaso tidak boleh di potret sama sekali bahkan oleh
    keluarga atau anak2nya, ternyata dari photo Napoleon bisa dibuktikan bahwa sewaktu di tahanan
    Napoleon di racun.
    10. Daerah Lubang Buaya bukan daerah AURI atau Halim.
    11. Kesaksian Bungkus yg menculik jendral tidak ada penyiksaan sama sekali.
    12. Jahurup salah satu komandan penculikan pasukan Pasopati sampai saat ini tidak diketahui
    rimbanya kemungkinan setelah penculikan langsung dihilangkan
    13. Kamaruzaman sampai saat ini tidak diketahui kemungkinan adalah double agent yang sengaja
    disusupkan ke PKI, dia yg memerintahkan utk semua jendral di tembak mati, padahal dari
    pengakuan Kolonel Latief adalah menculik hidup2 dan dibawa kehadapan Soekarno
    14. Banyak tambahan informasi dari buku2 yang beredar seperti dari Alm. Omar Dhani, Alm.
    Subandrio, Alm. Kolonel Latief, Alm. Manai Sophian dsb
    15. Perlu dipelajari dengan seksama pidato Bung Karno tentang NAWA AKSARA menjawab
    terjadinya tragedi GESTOK atau G30SPKI
    16. Pihak AS sangat tidak senang dengan Bung Karno dengan politik bebas aktifnya sehingga perlu
    disingkirkan, karena mengganggu peran AS di kawasan Asia, krn saat itu Indonesia sangat
    dekat sekali dengan Rusia dan China.
    17. Kepala PKI Aidit dapat ditangkap hidup2 tetapi ternyata ditembak mati dan dibuat cerita bahwa
    Aidit akan kabur sehingga ditembak mati padahal secara undang2 kalau tahanan politik tidak
    boleh di hukum tembak dan yang melakukan adalah Wisnubroto pernah jadi gubernur Lampung
    18. Semua sumber perlu dimusnahkan sehingga tidak ada yang bisa membongkar scenario G30S
    atau dalang G30S PKI

    Semoga misteri G30S PKI ini dapat terkuak dan banyak dokumen2 dari Amerika yang sudah bisa di akses utk bahan dan sebagai sumber informasi.

    • sumbernya bro bisa di sampaikan , jgn hanya ditulis komennya, seperti posting diatas ada sumber jadi kita bisa cek.

      sejarah banyak versi , jadi tidak bisa dinilai, harus dengan kajian dan penelusuran yang dalam

      sumber siapa , apa perannya di waktu yang lampau, dari kubu mana , kiri pa kanan atau memang netral. harus di telusuri biar jelas,

      faktanya memang Jenderalnya sudah meninggal dibunuh semua , dan pembantaian atas saudara sebangsa tahun ’66 , “banyak yang ikut-ikutan yang tewas”,

      • komen di atas nggak perlu sumber deh mnrt saya, kan udah di bilang di awal,,,, sekedar renungan…..

        di samping itu pula, info di atas udah banyak beredar di buku-buku (bukan bukunya Julius Pour yg kurang jelas ya (atau bukan terbitan Kompas gramedia group lainnya), karena buku(-buku) itu di tunggangi KOMPAS).. dan di samping buku juga sudah banyak wawancara dengan saksi sejarah yg secara tidak langsung dapat di tarik benang merah nya… walau masih berupa penggalan-penggalan…….

        btw… ada satu pemikirian saya yg menggelitik setelah bbrp lama baca-baca penggalan sejarah G30S. kejadian “itu” secara tidak langsung karena ke”garangan” bung karno (atau kalo ogah di bilang Pemerintah Orde Lama) yang bernapsu memperluas wilayah indonesia. setelah Timor dan Papua (yang nota bene tidak ada Power Defacto) orde lama berambisi untuk Kalimantan Utara…. dengan kampanye Ganyang Malingsial…. (sebagaimana kita ketahui, secara de Jure n de Facto malingsial saat itu murni di bawah kerajaan inggris, yang mana pula saat itu (setelah PD II) sedang harmonis banget ama Uncle Sam… so saya rasa mirip kejadian saat Timor leste lepas di jaman pak Habibie…. cuma di jaman pak Habibie… tidak sempat terjadi Drama Politik Kelas Tinggi. CMIIW (ini hanya pemikiran saya atas dasar; saat G30S, ada bbrp Angkatan Perang TNI yang dalam persiapan tempur (bahkan di kalimantan sudah bertempur gerilya melawan inggris) menyerang malingsial… selanjutnya setelah ORDE BARU. jangankan Malingsial, Amrik or British aja se ujung kuku pun nggak berani dengan Indonesia (tanya kenapa…??)……..

  3. bagaimana pun anggota anggota pki pernah berjasa besar terhadap negara serta mempunyai niat untuk membangun bangsa kepada yang lebih baik.sudah semestinya kita membalas kebaikan mereka atas nama bangsa indonesia.

  4. “Killing Fields” sudah ada sekian tahun di Indonesia, sebelum Killing Fields di Kampuchea oleh Pol Pot dan Khmer Merah-nya. Tentunya Killing Fields di Indonesia terjadi dengan dukungan Amerika dan imperialis dunia, meng-killing-fileds orang-orang komunis dan sebagian Soekarnois.

    Kenapa Killing Fields versi Indonesia ini tidak terpublikasi dan berada dalam kegelapan sejarah ? Konflik dialihkan menjadi konflik horisontal, pola ini yang menjadi pola Orde Baru mengendalikan kehidupan sosial-politiknya. Stakeholders Killing-Fields versi Indonesia adalah imperialis dunia yang berkepentingan dengan natural resources of Indonesia, jutaan penduduk yang menjadi potensi pasar sekaligus sumber tenaga kerja murah. Hanya Gus Dur dan NU yang baru memulai menyingkap sedikit cahaya dalam kegelapan sejarah ini.

    Dalam politik, komunis ataupun kapitalisme sama-sama buruknya.

  5. terimakasih atas pengetahuannya
    tapi jangan biarkan diri kita terkurung oleh idealis
    satu yang harus kita ingat, di dalam 1 sejarah kemungkinan ada banyak versi sejarah, teruslah mencari kebenaran sejarahnya hingga melewati batas kepuasan.
    bongkar tumpukan keterbatasan untuk mendapatkan kebenaran yang terselubung.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s