Archive | April 2007

Metodelogi Sejarah

Narativisme VS Strukturalisme [1]

Ilmu Sejarah adalah ilmu yang menggairahkan, karena ia mengajak manusia untuk memikirkan kembali keberadaannya, sambil bertamasya ke masa silam. Dengan belajar sejarah, kita akan meneruskan peradaban yang sudah ada, tidak memulai kehidupan dari titik nol. Tentu saja, bagi para sejarawan, gairah sejarah tidak hanya terletak sebatas ini. Sejarawan –sebagai orang yang “memproduksi” sejarah-, justru menjadi gairah ketika ia melakukan pencarian terhadap sebuah kebenaran peristiwa sejarah. Mendekati kebenaran bagi sejarawan, adalah sebuah keniscayaan -walaupun hal itu adalah sesuatu yang absurd. Hal ini disebabkan karena “kebenaran” yang ditulis sejarawan berhubungan dengan kenyataan sosial masyarakat. Dengan kata lain, sejarawan bertanggung jawab terhadap seluruh ingatan kolektif yang ada di masyarakat.

Baca lebih lanjut

Foucault dan Positivisme

Kritik Foucault Terhadap Positivisme:

Pembacaan Arkeologis dan Geneanologis atas Rezim Kuasa[1]   

Dan ‘kebenaran’ sekarang adalah apa yang diajarkan oleh para pengkhotbah yang berasal dari mereka pula, orang suci dan pembela orang-orang kecil yang bersaksi tentang dirinya sendiri: ‘akulah kebenaran’

(W.F Nietszche dalam Thus Spake Zarathustra) 

Abad 20, selain dikenal sebagai abad kekerasan, juga merupakan abad yang penting dalam proses memikirkan manusia sebagai manusia.[2] Titik penting hal ini, tampak dalam kelahiran dua model pemikiran filosofis, yaitu eksistensialisme dan post-modernisme. Eksistensialisme, telah mengembalikan ke-aku-an subyek manusia, sedang postmodernisme memberi kesadaran bagi manusia memahami dirinya dari selubung palsu kesadaran yang berkuasa, meliputi kaidah umum hingga bagian yang terkecil dan tak terpikirkan secara sadar.

Baca lebih lanjut

H.O.S Tjokroaminoto

H.O.S Tjokroaminoto: Potret Pemikiran Nasionalisme Islam Indonesia

Oleh: Humaidi [1]

Catatan Pengantar

Dalam kontruksi sejarah Indonesia, perdebatan antara kelompok nasionalis sekuler dengan nasionalis-agama tidak pernah selesai. Keduanya terus bertarung memperebutkan hegemoni dalam kekuasaan. Para sejarawan Indonesia cenderung menelusuri pertarungan tersebut sejak perdebatan piagam Jakarta, tetapi ada juga yang mengambil klaim lebih jauh lagi hingga pertarungan dalam tubuh Sarekat Islam di tahun 1910-an.

Baca lebih lanjut

Sayyid Al-Maliki


Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki
(1365-1425 H / – 2004M)

Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki, dekat Bab As-salam

Baca lebih lanjut

An-Nawawi

Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi (1):

Guru Para Ulama Indonesia

oleh: Hery Sucipto

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `
Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Ada beberapa nama yang bisa disebut sebagai tokoh Kitab Kuning Indonesia. Sebut misalnya, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Abdul Shamad Al-Palimbani, Syekh Yusuf Makasar, Syekh Syamsudin Sumatrani, Hamzah Fansuri, Nuruddin Al-Raniri, Sheikh Ihsan Al-Jampesi, dan Syekh Muhammad Mahfudz Al-Tirmasi. Mereka ini termasuk kelompok ulama yang diakui tidak hanya di kalangan pesantren di Indonesia, tapi juga di beberapa universitas di luar negeri. Dari beberapa tokoh tadi, nama Syekh Nawawi Al-Bantani boleh disebut sebagai tokoh utamanya. Ulama kelahiran Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten, Jawa Barat, 1813 ini layak menempati posisi itu karena hasil karyanya menjadi rujukan utama berbagai pesantren di tanah air, bahkan di luar negeri.

Baca lebih lanjut