EVO MORALES

EVO MORALES: Sang Pembebas Bolivia 

Kehidupannya

Juan Evo Morales Aima, Lelaki kelahiran 26 Oktober 1959 di di Wilayah Oruro, di Altiplano (daerah Dataran Tinggi) Bolivia. Evo, demikian ia akrab dipanggil, lahir di Orinco, sebuah kota pertambangan Seperti banyak penduduk asli di Dataran Tinggi, keluarganya pindah ke dataran rendah di Bolivia timur pada awal tahun 1980-an. Keluarganya menetap di Chapare. Di sana mereka menjadi petani, termasuk menanam pohon koka, bahan mentah yang dibutuhkan untuk menghasilkan kokain. Sebelum terjun dalam arena perjuangan elektoral, Evo Morales adalah anggota dari gerilya bersenjata Tupac Katari pada tahun 1990an. Keterlibatannya itu, mengantarkan dirinya ke penjara selama lima tahun. Selepas masa kurungan, sosok Evo tampil sebagai figur pembela kepentingan masyarakat adat Indian yang paling konsisten, khususnya dari suku terbesar Quecha dan Aymara. Morales berasal dari suku Indian (Aymara).

Dalam peranannya sebagai organiser, penggerak, dan pemimpin gerakan rakyat Bolivia, Evo sebagai musuh nomor satu pemerintah AS. Ia dituduh sebagai seorang “narco-teroris,” dan merupakan “ancaman bagi stabilitas” di kawasan itu. Mantan duta besar AS di Bolivia, Manuel Rocha, dalam pemilu presiden 2002, pernah mengancam rakyat Bolivia agar tidak memilih Evo, yang disebutnya sebagai “narco-cocaine producer” and “instrument” dari Hugo Chavez dan Fidel Castro. Jika rakyat tetap memilih Evo, maka pemerintah AS akan mempertimbangkan untuk menghentikan bantuannya kepada Bolivia.Sebaliknya, Evo adalah perlambang dari sebuah masyarakat adat yang terpinggirkan, terisolasi dan terdiskriminasi. Ia adalah tokoh yang diharapkan bisa mengatasi kemiskinan dan marginalisasi masyarakat adat yang merupakan mayoritas.Dalam bahasa Luis Macas, presiden dari Confederation of Indigenous Nationalities of Ecuador (CONAIE), sebuah organisasi gerakan sosial yang paling kuat, kemenangan Morales merupakan peristiwa sejarah yang belum pernah terjadi sejak negeri itu merdeka dari penjajahan Spanyol sebad lalu.

Kemenangan Evo bukan hanya kemenangan rakyat Bolivia tapi, juga kemenangan seluruh wilayah Amerika Latin. Rigoberto Menchú, seorang aktivis suku Indian Mayan, penerima hadiah nobel perdamaian pada 1992 mengungkapkan bahwa baginya, kemenangan Morales merupakan angin segar bagi penduduk asli, bahwa kemenangan Morales “merupakan sebuah preseden penting bagi perjuangan sosial di seluruh wilayah.” Dalam penampilan sehari-hari, Evo lebih menyukai penampilan yang bersahaja sangat jauh dari kesan militeristik dan formalistik. Bahkan misalnya saat menjumpai Presiden Jacques Chirac di Paris, ia lebih suka mengenakan busana favoritnya yang sederhana, yaitu jaket kulit atau pakaian semacam sweater yang dibuat dengan alpaca (bahan pakaian tradisional yang banyak dibuat orang-orang Indian). Begitu sederhananya, sehingga soal pakaian Evo Morales disoroti oleh sebagian media massa berbagai negeri lebih banyak daripada politiknya. Ada yang menganggap bahwa pakaiannya yang sederhana ini, bahkan tanpa memakai dasi, kurang menghormati protokol. Secara pribadi, Morales pernah mengungkapkan rasa kagumnya terhadap aktivis pribumi Guatemala, Rigoberta Menchú, dan Fidel Castro. Ia kagum terhadap Castro karena perlawanannya terhadap AS. Morales juga percaya bahwa masalah kokain harus dipecahkan pada sisi konsumsinya, bukan dengan mengatur tanaman koka, yang sudah legal di daerah-daerah tertentu di Bolivia.

Ideologi Morales tentang narkoba dapat diringkas dalam kata-kata “daun koka bukanlah narkoba”. Kenyataannya, mengunyah daun koka telah menjadi tradisi bagi masyarakat setempat (Aymara dan Quechua) dan pengaruh obatnya tidak sekuat kafein yang terdapat di dalam kopi, namun bagi banyak rakyat Bolivia yang miskin ini dianggap sebagai satu-satunya cara untuk bekerja terus sepanjang hari — bagi sebagian orang itu bisa berarti 15 hingga 18 jam sehari. Praktek mengunyah daun koka oleh penduduk pribumi di Bolivia sudah berlangsung lebih dari 1000 tahun dan tidak pernah menimbulkan masalah narkoba di masyarakat mereka. Itulah sebabnya Morales percaya bahwa masalah kokain harus diselesaikan pada sisi konsumsinya, bukan dengan membasmi perkebunan koka.

Pemerintahan Morales sangat berbeda pendapat dengan Amerika Serikat dalam masalah undang-undang anti narkoba dan kerja sama antara kedua negara itu, namun para pejabat dari kedua negara telah mengungkapkan keinginan untuk bekerja sama dalam membasmi perdagangan narkoba. Sean McCormack dari Departemen Luar Negeri AS memperkuat dukungan terhadap kebijakan anti narkoba Bolivia, sementara Morales menyatakan: Kami akan menerapkan kebijakan nol kokain, nol perdagangan narkoba, namun bukannya nol koka.

Karir Politiknya

EVO adalah pemimpin sayap kiri gerakan cocalero Bolivia. Ini merupakan sebuah gerakan federasi longgar para campesino penanam daun koka yang melawan usaha-usaha pemerintah Bolivia untuk menghapuskan koka di provinsi Chapare di Bolivia tenggara. Morales juga seorang pemimpin Gerakan Menuju Sosialisme (Movimiento Al Socialismo/MAS) yang merupakan sebuah partai politik di Bolivia.

Ketika ia melihat bahwa perjuangan sosial di kalangan petani-petani coca ini perlu ditingkatkan menjadi gerakan politik, maka partai yang bernama MAS yang dipimpin Evo Morales menjadi kekuatan politik yang terbesar dan terkuat di Bolivia. Melalui kampanyenya yang terang-terangan mengutuk kejahatan-kejahatan perusahaan-perusahaan multinasional, mengkritik praktek-praktek neoliberalisme dan globalisasi yang dilakukan oleh IMF, Bank Dunia, dan WTO, Evo Morales juga banyak bicara tentang pentingnya negara Bolivia mengkontrol pengelolaan gas bumi, yang merupakan cadangan besar sekali di benua Amerika Latin.

Morales juga mengatakan bahwa ia tidak menyukai kapitalisme. Sejarah penjajahan Spanyol di Bolivia menunjukkan bahwa penjarahan besar-besaran kekayaan bumi Bolivia yang berupa timah hanya untuk kekayaan kapitalis-kapitalis Spanyol, sedangkan orang-orang dari suku Indian, yang merupakan mayoritas penduduk, tidak mendapat apa-apa atau sedikit sekali.

Pada masa reformasi ekonomi di tahun 1990-an, para mantan petambang mulai juga menanam koka dan ikut menyumbang perekonomian Bolivia yang kian meningkat dalam produksi dan penyelundupan narkoba internasional. Hal ini menjadi tersendat dan tidak lancar ketika pemerintahan Presiden Hugo Banzer mengupayakan penghapusan narkoba yang didukung Amerika Serikat pada pertengahan 1990-an. Mulai saat itu muncul berbagai ketegangan disertai banyak bentrokan dan protes.

Sebagai pemimpin para cocaleros, Morales terpilih menjadi anggota Kongres Bolivia pada 1997. Ia mewakili provinsi Chapare dan Carrasco de Cochabamba dengan 70% suara di distrik itu. Ini merupakan jumlah terbanyak di antara 68 anggota parlemen yang terpilih langsung dalam pemilu tersebut. 

Pada Januari 2002, ia dipecat dari kursinya di Kongres karena tuduhan terorisme yang berkaitan dengan berbagai kerusuhan. Demonstran menentang penghapusan penanaman koka di Sacaba pada bulan itu. Empat petani koka, tiga tentara dan seorang perwira polisi terbunuh. Tetapi, ada yang menyebutkan pemecatannya dikarenakan bermacam tekanan berat dari kedutaan besar Amerika Serikat yang menuntut agar ia disingkirkan dari pemerintahan.

Langkah-langkah menuju kursi Kepresidenan

EVO mengumumkan pencalonannya kembali dalam pemilu presiden 2002 dan kongres yang diadakan pada 27 Juni 2002. Kongres sempat menyatakan bahwa pemecatannya tidak konstitusional pada bulan Maret. Tetapi, ia tidak menuntut kembali kursinya di Kongres hingga Kongres yang baru disumpah pada 4 Agustus 2002. Meskipun MAS hanya mengumpulkan 4% suara di dalam proses jajak pendapat umum, namun partai ini mampu menggunakan sumber-sumbernya yang terbatas untuk mengadakan kampanye yang imajinatif dan menarik banyak perhatian.

Partai ini meninggalkan taktik-taktik kampanye tradisional dengan membagi-bagikan T-shirt, topi bisbol, kalender, dan cendera mata politik lainnya. Sebuah iklan televisi menggambarkan seorang pelayan Bolivia dari suku Indian asli mengimbau massa agar memberikan suaranya sesuai dengan hati nurani, bukan seperti apa yang diperintahkan oleh majikan atau boss. MAS mengembalikan uang bantuan dari pemerintah sekitar US$ 200.000 yang diberikan kepada setiap partai politik.

Selain memanfaatkan ketidaksenangan rakyat terhadap kehadiran Amerika Serikat dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Bolivia (Manuel Rocha) khususnya, MAS juga membagikan poster dengan foto Morales yang besar di tengah. Di atasnya tertulis: “Bangsa Bolivia: Anda yang Memutuskan. Siapa yang Berkuasa, Rocha atau Suara Rakyat?” dengan huruf-huruf yang besar-besar. Poster itu mempunyai dampak yang sangat besar. Ratusan ribu poster dicetak.

Tak seorangpun dari kandidat partai politik arus utama Bolivia yang mau berdebat dengan Morales. Mereka mengejek MAS sebagai “partai gurem.” Ia pun mengatakan bahwa tidak berminat berdebat dengan mereka. “Orang yang ingin saya ajak berdebat adalah Duta Besar Rocha — saya lebih suka berdebat dengan sang pemilik sirkus, bukan dengan badut-badutnya,” tandasnya kepada media.

Dalam sebuah pidato yang disampaikan di hadapan Presiden Jorgue Quiroga, Rocha berkata, “Saya ingin mengingatkan para pemilih Bolivia bahwa bila Anda memilih mereka yang ingin menjadikan Bolivia negara pengekspor kokain utama lagi, hal ini akan mengancam bantuan Amerika Serikat di masa depan untuk Bolivia.[1] Khususnya mereka yang hidup di wilayah-wilayah Altiplano yang umumnya adalah masyarakat bumiputra tetap berbondong-bondong memilih MAS. Rakyat Bolivia memberikannya 20.94% suara. Selisih ini hanya beberapa angka di bawah total suara yang diperoleh partai yang menang. Setelah itu, Morales berkata, “Setiap pernyataan yang dibuat Rocha untuk melawan kita justru telah menolong kita berkembang dan membangkitkan hati nurani rakyat. 

Karena menolak berkompromi, bahkan sebagian orang menganggapnya bersikap ekstrem, Morales dan MAS tidak diikutsertakan dalam koalisi pemerintahan. Koalisi akhirnya menentukan Gonzalo Sánchez de Lozada) sebagai presiden. Sehingga, MAS di bawah pimpinan Morales masuk ke Kongres sebagai partai oposisi yang kuat.

Evo Morales dan MAS memang tidak mempunyai program yang jelas, tetapi jelas siapa yang ditentangnya. Ia seorang orator yang pandai membakar semangat. Namun proposal alternatifnya kurang begitu jelas. Betapapun juga, Morales tidak melihat banyak harapan dari pemerintahan. Ia menganggap pemerintah mudah dikorupsi dari dalam dan dimaniplasi dari luar oleh kepentingan-kepentingan asing. Baginya, yang paling dibutuhkan kaum campesinos Bolivia yang miskin adalah otonomi, kesempatan yang sama, dan akses kepada tanah.

Sebagai jawaban terhadap pembunuhan terhadap tujuh orang pengunjuk rasa oleh Angkatan Bersenjata pada waktu Perang Gas Bolivia, Serikat Buruh Bolivia (COB) menyerukan pemogokan umum tanpa batas pada 29 September 2003. Morales dan MAS menolak ikut serta. Mereka lebih memusatkan perhatian dalam upaya merebut kekuasaan dalam pemilu wilayah 2004. Dalam pemilu 2002, ia mendorong rakyat memberikan suaranya untuk MAS. Komentar-komentarnya yang tajam dari duta besar Amerika Serikat membuatnya meraih posisi kedua. Tentu ini merupakan sebuah kejutan bagi partai-partai tradisional. Morales hampir saja terpilih menjadi presiden. Peristiwa unik demikian tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini membuat sang aktivis masyarakat pribumi itu langsung menjadi selebiriti di benua Amerika Selatan.

Morales terlibat dalam mengorganisasi protes-protes yang berlanjut di ibukota pada Juni 2005. Karena tekanan, akhirnya memaksa Presiden Carlos Mesa mengundurkan diri. Sebagai akibat dari rasa ketidakpuasan yang kian meningkat dan kegelisahan rakyat, Kongres Bolivia dan Presiden Konstitusional Eduardo Rodriguez memutuskan mempercepat pemilu dari 2007 ke Desember 2005.Carlos Mesa yang terpilih sebagai Wakil Presiden dan melayani di bawah pemerintahan Presiden Gonzalo Sanchez de Lozada mundur dua kali meskipun yang pertama ditolak Kongres. Ia menjadi presiden ketika Sanchez de Lozada dipaksa mengundurkan diri pada 2003. Kedua peristiwa kebangkitan rakyat ini disebabkan terutama karena kepemimpinan Morales, khususnya setelah hampir selama setahun secara tidak resmi ia ikut serta sebagai sekutu dalam pemerintahan Presiden Mesa.

Dalam sebuah pertemuan para petani yang merayakan hari jadi ke-10 MAS pada Maret 2005, Morales menyatakan bahwa “MAS siap memerintah Bolivia,” karena partai ini telah “mengkonsolidasikan posisinya sebagai kekuatan politik [utama] di negeri ini.” Namun demikian, ia mengakui bahwa “masalahnya bukan lagi memenangkan pemilu, tetapi bagaimana memerintah negara ini.[2] 

Pengumpulan pendapat awal telah menempatkan Morales dan Gerakan Menuju Sosialisme dalam kedudukan seimbang dengan dua tokoh lainnya, yaitu pemimpin sayap tengah dan kanan serta pemimpin mayoritas perkotaan, Jorge Quiroga dan Samuel Doria Medina, dengan sedikit saja angka perbedaan. Semua ini menunjukkan betapa sulitnya menerka hasil pemilu presiden Bolivia 2005 ini.

Pada 21 Agustus 2005, Morales telah memilih pendampingnya untuk pemilu presiden Desember 2005, seorang ideolog sayap kiri, sosiolog, matematikawan, dan analis politik, Alvaro García Linera, yang berjuang berdampingan dengan Felipe Quispe sebagai bagian dari Ejercito Guerrillero Tupac Katari (EGTK).

Pada 4 Desember 2005, Morales terus-menerus unggul di berbagai poling dengan sekitar 32% suara. Ada lebih dari 100.000 hakim pemilu yang telah disumpah sementara negara ini mempersiapkan diri untuk mengadakan pemilu pada 18 Desember 2005. Kandidat yang kedua, ‘Tuto’ Quiroga, dari Partai PODEMOS, mendapatkan sekitar 27% suara, sementara Samuel Doria Medina hanya memperoleh kurang dari 15% suara. Semua partai ini menjanjikan solidaritas nasional, nasionalisasi (dalam berbagai tingkatannya) terhadap hidro-karbon, dan kekayaan rakyat.

Evo Morales muncul sebagai pemenang dalam pemilihan presiden Bolivia. Hasil penghitungan suara secara acak dari mereka yang selesai memberikan suaranya (exit poll) menunjukkan bahwa Morales telah melampaui batas minimum 50% suara yang dibutuhkan. Sebelumnya exit poll memperlihatkan bahwa ia telah merebut 42%-45% suara, jauh di atas bekas presiden Jorge Quiroga. Quiroga sendiri telah mengakui kekalahannya dan menyampaikan ucapan selamat kepada Morales.

Dalam pemilu hari Minggu itu, Bolivia juga memilih parlemen atau Kongres yang baru serta gubernur. Menurut undang-undang pemilu Bolivia, bila tak seorangpun kandidat memperoleh jumlah minimum suara 50%, maka pemilu tidak akan dilanjutkan dengan putaran kedua, melainkan keputusan akan diambil oleh Kongres.

Pada 21 Desember 2005, komisi pemilu mengumumkan bahwa Morales telah dipastikan menjadi pemenang pemilu. Ia mendapatkan 54,3 persen suara dengan 93 persen suara yang telah dihitung, menurut hasil resmi. Kemenangannya memperlihatkan dukungan rakyat lebih besar dibandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya sejak demokrasi dipulihkan di negara itu dua dekade lalu. Setelah terpilih, dia menyatakan akan memotong setengah gajinya untuk kepentingan perluasan lapangan kerja.

Pemerintahan Morales telah mendapat ucapan selamat dan dukungan politik dari semua presiden di wilayah itu, serta sejumlah pemimpin Eropa serta presiden AS, George W. Bush.

Sebelum dilantik sebagai presiden, ia sudah mengadakan kunjungan internasional di negeri-negeri penting di 4 benua. Antara lain ia telah mengunjungi Spanyol, Prancis, Belgia, Afrika Selatan, Cina dan Brasil, untuk bertemu dengan berbagai kepala negara dan tokoh-tokoh dunia. Ia telah bertemu dengan presiden Prancis Jacques Chirac, pimpinan Uni Eropa Javier Solana, menteri luar negeri Belanda Ben Bot, presiden Cina Hu Jintao, dan presiden Lula dari Brasil.

Garis waktu perjalanan keliling dunia Morales

Presiden Nasionalisasi

Dalam kampanye pemilihan presiden, Evo Morales berjanji menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang menguasai ladang-ladang minyak dan gas Bolivia, dan pada akhirnya Morales benar-benar memegang kata-kata yang pernah meluncur dari lidahnya. Dunia sudah mafhum, siapapun yang mengangkat isu nasionalisasi tentu akan berhadapan dengan negara-negara barat dan kekuatan kapitalisme global.

Begitu meraih kursi Presiden dalam pemilu bulan lalu, Morales langsung tancap gas. Setelah menyumbangkan separuh gajinya buat negara, ia merangkul Presiden Venezuela Hugo Chaves membentuk “poros kebaikan”. Lalu menasioanalisasi” industri energi gas alam yang nerupakan terbesar kedua di Amerika Latin setelah Venezuela. Evo Morales juga melakukan rangkaian lawatan keempat benua. dalam berbagai lawatannya ia bersumpah akan meningkatkan kontrol negara atas sumber gas alam Bolivia.

Setelah terpilih menjadi presiden Bolivia, Morales justru menyatakan baru saja memulai langkah. Saat dilantik sebagai presiden pada 22 Januari 2006 ia mengatakan, “Telah sepatutnya kita memulai era baru. Sebuah era untuk menemukan keadilan sosial. Waktunya menemukan kesetaraan, juga kemerdekaan bagi warga kita,” kata Morales, ketika itu.

Rencana Morales itu disampaikan saat berada di Spanyol. “ya kami akan nasionalisasi. tapi tidak untuk mengambil alih atau menyingkirkan,” ujarnya.  Presiden yang anti pasar bebas ini memang bersumpah akan meningkatkan kontrol negara atas sumber-sumber gas alam negerinya. Morales bakal meninjau ulang kesepakatan dengan perusahaan-perusahaan minyak asing saat mulai berkantor.  

Namun, tantangan langkah “nasionalisasi” tersebut tak kecil. salah Satunya, negara-negara Eropa risau akan terjadinya pengambilalihan besar-besaran. Uni eropa mendesak Morales menjamin Investasi asing untuk mengubur keresahan negara-negara Barat. bahkan Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana meminta jaminan resmi Morales atas investasi asing dengan alasan Bolivia adalah sebuah negara yang memerlukan uang dari luar negeri lewat investasi asing.   Spanyol adalah negara yang sangat khawatir dengan kebijakan Morales itu. Maklum, perusahaan minyak raksasa asal negeri matador ini, Repsol-YFP, menguasai seperempat cadangan gas milik Bolivia. Lainnya adalah raksasa minyak Prancis, Total, dan British Gas dari Inggris.  Menurut Morales, tak ada yang perlu ditakutkan oleh investor asing, sepanjang membayar pajak dan patuh kepada hukum Bolivia, “akan kami babat perusahaan energi yang melanggar hukum, tidak bayar pajak dan penyelundup. Repsol-YFP bukan salah satu bandit itu,”katanya. Presiden pribumi pertama Bolivia ini bertekad menggunakan pendapatan dari sektor energi untuk memangkas kemiskinan di seluruh negeri. “Pemerintahan saya akan menggunakan hak atas kekayaan alam dengan sebaik-baiknya,”tambah Morales. Ia menyebutkan, itu bukan berarti pemerintahnya akan menyita kekayaan milik perusahaan asing.  Pada peringatan Hari Buruh, 1 Mei 2006, sang presiden mulai merealisasikan rencana besarnya. Dalam pidato peringatan itu, Morales mengingatkan perusahaan minyak asing yang beroperasi di Bolivia untuk tunduk pada ketentuan proporsi pemilikan yang akan ditetapkan pemerintah Bolivia. Selain itu, semua penjualan produk mereka juga diatur pemerintah Bolivia. “Jika menolak, mereka kita persilakan keluar dari negeri ini,” kata Morales, saat itu. “Saat ini, penjarahan sumber alam kita oleh perusahaan asing telah berakhir.”Tidak hanya sampai disitu, Pada 1 Mei 2006, Presiden Morales juga mengumumkan nasionalisasi cadangan gas alam negara itu di Andean, terbesar kedua di Amerika Selatan setelah Venezuela. Pemerintah Bolivia merundingkan kembali kontrak-kontrak yang telah dibuat dengan perusahaan-perusahaan asing. Sekutu Chavez lainnya, Presiden Ekuador Rafael Correa, memperingatkan rencana-rencana negara kaya minyaknya akan meninjau ulang semua kontrak untuk semua eksplorasi di wilayahnya dan mungkin membatalkan beberapa perjanjian. Petrobras, Repsol YPF, British Gas Bolivia Corporation, Andina, Chaco, Matpetrol dan Pluspetrol, pada 29 oktober 2006 kontan meneken kesepakatan. Dua perusahaan lainnya, Total SA dan Vintage Petroleum, telah menandatangani kontrak sehari sebelumnya. Dengan nasionalisasi itu, Bolivia akan menikmati 82 persen penerimaan gas dan minyak bumi hasil eksploitasi perusahaan-perusahaan asing tersebut. Angka itu naik pesat dari sekitar 50-an persen sebelumnya.Saat diwawancarai media terkemuka Jerman, Der Spiegel, beberapa waktu lalu, Morales ditanya apakah sikapnya yang seakan memusuhi kekuatan ekonomi global itu tidak membuatnya khawatir akan masa depan rakyat Bolivia. Saat itu Morales menjawab tenang, namun dalam. Sedalam pengalamannya melawan tirani sistem yang mengungkung kaum Indian, warga mayoritas di Bolivia. Tak ada yang diberikan kapitalisme kepada rakyat Bolivia, kecuali kemiskinan dan penindasan,” katanya. Wartawan Spiegel mengaku, beberapa saat ia kehilangan pertanyaan. Langkah nasionalisasi a la Morales, bahkan tidak berhenti disini. Pada haris Selasa 1 Mei 2007, di La Paz, Morales bahkan mengumumkan bahwa negara kembali mengontrol semua bisnis asing, khususnya migas. Sebanyak 12 perusahaan asing telah bersedia menandatangani kontrak migas baru. Kontrol yang paling menonjol adalah bisnis minyak dan gas yang selama ini dikuasai asing. Keturunan indian Quechua ini disebut berhasil menaklukkan para Goliat, julukan raksasa minyak asing yang ditakuti. Kontrol tersebut berlaku secara resmi sejak 1 Mei, atau setahun sejak Morales mendeklarasikan hal tersebut. Sebagian bisnis migas sudah dikuasai sebelum 1 Mei 2007.

Ekonom AS peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2001 Joseph E Stiglitz mendukung penuh tindakan Morales. Stiglitz sudah sejak lama mempertanyakan peruntukan hasil migas Bolivia yang selama ini dinikmati investor asing dengan kolaborasi yang rapi dengan politisi keturunan Spanyol.

Dengan pengumuman Morales itu, perusahaan minyak negara Bolivia, YPFB (Yacimientos Petroliferos Fiscales Bolivianos, mirip Pertamina) akan mengontrol semua kekayaan alam dan gas. Presiden YPBF Guillermo Aruquipa mengatakan, negara sudah resmi menjadi pemilik semua kekayaan gas dan minyak.

Sebanyak 12 perusahaan minyak asing juga langsung menandatangani kontrak baru, setelah pengumuman resmi nasionalisasi tersebut. Perusahaan yang menandatangani kontrak bisnis migas yang baru itu antara lain Repsol YPF SA (Spanyol-Argentina) oleh Presiden Repsol YPF Luis Garcia Sanchez dengan Presiden YPFB president Guillermo Aruquipa. Perwakilan perusahaan minyak asing lain yang telah bersedia menandatangani adalah Petrobras (Brasil), Total-Fina-Elf (Perancis Belgia), British Gas (Inggris).  Dengan kontrak baru itu, semua perusahaan asing harus menyetor 82 persen dari penerimaan (bukan total laba) ke YPBF dan hanya 18 persen untuk perusahaan asing sebagai operator eksplorasi minyak.

Dengan kontrol negara tersebut, YPBF juga dengan leluasa mengontrol praktik penipuan keuangan yang umum dilakukan perusahaan asing, yang bertujuan mengelabui negara tempatnya beroperasi.

Namun, Morales sudah menyatakan dengan jelas, “Kami masih terbuka untuk sebuah negosiasi, karena kami sebagai keturunan indian percaya dengan prinsip dialog,” kata Morales.  “Namun jika negosiasi tidak berjalan, kami memberi waktu enam bulan bagi mereka untuk berpikir atau meninggalkan negara ini. Kami tidak akan takut untuk mengambil hak kami,” kata Morales. “Dominasi asing atas kekayaan kami sudah berakhir. Hormatilah harkat Bolivia,” kata Morales. Kekayaan Bolivia dikuasai asing sejak dekade 1980-an, lewat program swastanisasi yang dicanangkan Bank Dunia dan IMF.

Presiden Bolivia ini juga sudah menutup pintu bagi penyelesaian sengketa dengan perusahaan asing melalui peran afiliasi Bank Dunia,International Center for Settlement of Investment Disputes (ICSID). “Tak pernah ada negara di dunia ini yang menang dengan keberadaan arbitrase internasional. Tidak pemerintah, tidak Negara dan tidak juga rakyat. Hanya perusahaan multinasional yang menang,” kata Morales.

Perusahaan asing mengkritik Morales yang mundur dari arbitrase internasional. Namun, Morales mengancam perusahaan asing secara halus. “Kami dengan niat baik, menolak tekanan hukum, kampanye lewat media dan tekanan lewat jalur diplomasi… yang jelas telah menolak kedaulatan negara lewat ancaman dan mencoba menggunakan arbitrase internasional,” kata Morales.

Dunia Menghendaki Alternatif

Tesis Fukuyama, The End of History and the Last Man (1992), ternyata tidak terbukti. Berbagai perdebatan seputar model alternatif diluar neoliberalisme semakin ramai dibicarakan, tanpa mengendurkan semangat penentangan terhadap kekuasaan modal. Dari model alternatif reformatif (mentransformasikan kapitalisme secara gradual) hingga revolusioner (perubahan mendasar tatanan kapitalisme), dengan metode kekuasaan dari bawah, demokrasi partisipatoris, pengganggaran partisipatif, pemanfaatan ruang elektoral hingga gerilya bersenjata, dsb.  

Terlepas dari perbedaan masing-masing metode, satu hal yang semakin tampak nyata adalah milyaran rakyat di dunia sudah menolak kesewenangan globalisasi neoliberal—bahkan para konseptor dan pendukungnya sendiri seperti Josepth Stiglitz dan George Soros. Perbedaan memang melahirkan perdebatan, namun akan lebih bermanfaat bila bertujuan untuk menemukan jalan keluar ekonomi dan politik bersama yang alternatif terhadap globalisasi neoliberal, ketimbang menggali-gali perbedaan dan stigmatisasi ideologi. Strategi anti neoliberalisme pasca Seattle menunjukkan kemajuan dalam hal persatuan antar gerakan, dan tak hendak berhenti sampai disana. Saatnya sudah tiba untuk memanfaatkan kreativitas dan keberagaman sebagai aset-aset demokratik manusia   Di Bolivia, militansi dan mobilisasi serikat-serikat buruh, para petani koka, dan kaum miskin kota El Alto mampu menjatuhkan Sanchez de Losada dan Carlos Mesa serta mendudukkan Evo Morales sebagai pemimpin pemerintahan untuk merealisasikan nasionalisasi perusahaan minyak. Evo Morales dengan berani mencanangkan kebijakan nasionalisasi industri gas, yang mendapatkan reaksi keras dari Washington. Pemerintah Bush dengan sepihak membatalkan bantuan militer sebesar US$1.6 juta dan bantuan lain yang berkaitan dengan pemberantasan perdagangan obat terlarang. Niat serupa juga ditunjukkan Spanyol, dimana perusahaannya Repsol YP, yang merupakan perusahaan industri gas terbesar kedua di Bolivia, terancam dengan kebijakan nasionalisasinya Morales. Bolivia juga kehilangan dana sebesar US$170 juta dari pembatalan ekspor kacang kedele ke Kolumbia, setelah yang terakhir ini membuat kesepakatan dagang dengan AS. Di masa lalu, tindakan yang ditempuh Washington ini, sudah lebih dari cukup untuk menendang Morales dari istana kepresidenan. Tapi, dengan Venezuela di belakangnya, Evo hingga kini masih bertahan di kursi kekuasaannya.

Dalam kasus ekspor kacang kedelai, Venezuela mengumumkan akan membeli seluruh produk ekspor tersebut. Venezuela juga menandatangani kerjasama dengan Bolivia untuk membeli 4.000 ton daun koka produksi Bolivia. Lebih dari itu, Venezuela bahkan mengumumkan bantuan dana sebesar US$100 juta kepada Bolivia dan sejumlah kecil bantuan lainnya untuk mendukung rencana land reform. Dengan demikian, masa depan dunia jelas tidak seperti yang diramalkan Fukuyama. Bagaimanapun, sosialisme masih ada, kawan!Referensi

  1. http://www.wola.org/publications/ddhr_bolivia_brief_text.htm
  2. http://www.plenglish.com/article.asp?ID=%7B90EBE9EE-BA62-452D-9EEE-3A64CD0E2340%7D&language=EN
  3. http://www.plenglish.com/article.asp?ID=%7B90EBE9EE-BA62-452D-9EEE-3A64CD0E2340%7D&lang
  4. http://quote.bloomberg.com/apps/news?pid=10000086&sid=a6A2zvEBAlLs&refer=news_index
  5. http://eltiempo.terra.com.co/inte/latin/noticias/ARTICULO-WEB-_NOTA_INTERIOR-2676419.html
  6. http://www.lanacion.com.ar/exterior/nota.asp?nota_id=769496
  7. http://www.la-razon.com/versiones/20060106_005413/nota_249_235691.htm
  8. http://www.rebelion.org/noticia.php?id=25127
  9. http://www.jornada.unam.mx/2006/01/08/023n1mun.php
  10. http://servicios.laverdad.es/alicante/pg060106/prensa/noticias/Mundo/200601/06/MUR-MUN-102.html
  11. http://www.jornada.unam.mx/2006/01/10/027n1mun.php
  12. http://www.clarin.com/diario/2006/01/10/um/m-01122025.htm
  13. http://capeargus.co.za/index.php?fSectionId=49&fArticleId=3064651
  14. http://www.lanacion.com.ar/edicionimpresa/exterior/nota.asp?nota_id=772307

8 thoughts on “EVO MORALES

  1. artikelnya bagus! salut buat yg bikin blog, drpada para pencipta blog parno, eh porno…

    tapi sumpah, seandainya kita boleh impor preside, pasti gw request morales sama chavez atau ahmadinejad.

    vanceramos dah…

  2. Baguuus Bngeeeeet…….!

    ada lagi g? ’bout morales coz lg bikin tugas akhir ttg dia nech!

    mohon bantuannya y….???

    pliiz contact me

  3. kereeen bgt,da yg laen g?bis bwt bhn skripsi nih,palg bahan ni co2k bgt bg kaum sosialis kiri kyk dia……he3x please contact y…

  4. keren abis moralez, coba dah presiden kita kaya dia, aduh makmur bleh rakyat ini….., jangan kaya ayam sayur, apa-apa nurutttttttt trus, kapan majunya,,,, iya ga!!!!!!

  5. jempol jempol!! jarang ni yang bikin blog kaya gini..tapi masukin foto coba..biar gak cape baca..
    buat tentang jose estenssoro!!..butuh fotonya buat kerjaan sebenernya si ;p ..surfing kmana2 gak dapet sama skali..

  6. nace el hombre nuevo!
    penulis hanya berharap dengan blog ini kt sama-sama belajar menjadi manusia dan berusaha menyerap saripati kemanusiaan yang senantiasa didesak mentalitas hedonisme-kapitalisme.

    rakyat harus menang!
    tangan terkepal maju kemuka…..
    lawan..dan menang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s