Wahabiah

AHLUSUNNAH WALJAMAAH DAN WAHABIAH

ARTI AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

Arti Ahlussunnah ialah penganut Sunnah Nabi. Arti wal Jamaah ialah penganut I’tiqad sebagai i’tiqad Jamaah Sahabat-sahabat Nabi. Kaum Ahlussunnah wal Jamaah ialah kaum yang menganut i’tiqad sebagai yang dianut oleh Nabi Muhammad SAW dan Sahabat-sahabat baginda. 

I’tiqad nabi dan Sahabat-sahabat itu telah termaktub dalam Al Quran dan dalam Sunnah Rasul secara tidak tersusun, belum teratur, tetapi kemudiannya dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama Usuluddin yang besar, yaitu Syeikh Abu Hassan Ali Al Asy’ari (Lahir di Basrah tahun 260 H- wafat di Basrah juga tahun 324H dalam usia 64 tahun). Karena itu ada orang yang memberi nama kepada kaum Ahlussunnah wal Jamaah dengan kaum ‘Asya’riyah jamak dari Asy’ari, dikaitkan kepada Imam Abu Hassan Ali Al Asy’ari tersebut.Dalam kitab-kitab Usuluddin biasa juga dijumpai perkataan “Sunni” kependekan Ahlussunnah wal Jamaah, orang-orangnya dinamakan “Sunniyun”.

 Tersebut dalam kitab “Ihtihaf Sadatul Muttaqin” karangan Imam Muhammad bin Muhammad Al Husni Az Zabidi yaitu kitab syarah dari kitab ” Ihya Ulummuddin” Karangan Imam Al Ghazali, pada jilid 2, awal surat 6, tertulis: 

“Apabila disebut kaum Ahlussunnah wal Jamaah maka maksudnya ialah orang-orang yang mengikut rumusan (fahaman) Asy’ari dan fahaman Abu Mansur Al Maturidi.” Siapa Abu Mansur Al Maturidi ini? Abu Mansur Al Maturidi adalah seorang ulama Usuluddin juga, yang berfahaman dan i’tiqadnya sama atau hampir sama dengan Abu Hassan Al Asy’ari. Beliau wafat di sebuah desa bernama Maturidi, Samarqand, di Asia Tengah pada tahun 333H terkemudian 9 tahun dari Imam Abu Hassan Al Asy’ari. 

Sudah menjadi adat kebiasaan dalam dunia Islam, bahwa hukum-hukum agama yang digali dari Al Quran dan Hadis oleh seorang Imam, maka hukum itu dinamai mazhab. Hasil ijtihad Imam Hanafi dinamakan Mazhab Hanafi, hasil ijtihad Imam Maliki dinamakan mazhab Maliki, hasil ijtihad Imam Syafie dinamakan mazhab Syafie dan hasil ijtihad Imam Ahamad bin Hambal dinamakan Mazhab Hambali, walaupun pada hakikatnya semuanya adalah agama Allah yang termaktub secara tersurat atau terisrat di dalam Al Quran dan Hadis. Begitu juga di dalam soal-soal i’tiqad. Hasil penelusuran Al Quran dan Hadis oleh Imam Abu Hassan Al Asy’ari, walaupun pada hakikatnya Imam Abu Hassan Al Asy’ari hanya menelusuri, merumuskan, menfatwakan, menyiarkan, mempertahankan apa yang sudah ada dalam Al Quran dan Hadis juga, apa yang sudah dii’tiqadkan oleh Nabi Muhammad SAW dan Sahabat-sahabat baginda.  

FIRQAH-FIRQAH DALAM ISLAM

Dalam sejarah Islam telah tercatat adanya firqah-firqah (golongan) di lingkungan umat Islam, yang antara satu sama lain bertentangan fahamannya secara tajam yang sulit untuk diperdamaikan, apalagi untuk dipersatukan. Hal ini sudah menjadi fakta dalam sejarah yang tidak boleh diubah lagi, dan sudah menjadi ilmu pengetahuan yang termaktub dalam kitab-kitab agama, terutama dalam kitab-kitab Usuluddin. Barangsiapa yang membaca kitab-kitab Usuluddin akan berjumpa dengan perkataan -perkataan seperti Syiah, Khawarij, Muktazilah, Qadariah, Jabariah, Ahlussunnah wal Jamaah, Mujasimah, Bahaiah, Ahmadiah, Wahabiah dan lain-lain sebagainya. 

Umat Islam khususnya yang berpengetahuan agama tidak heran melihat dan membaca hal ini, karena nabi Muhammad SAW sudah juga mengkhabarkan pada masa hidup baginda.
Banyak terdapat hadis-hadis yang berkaitan dengan akan adanya firqah-firqah yang berselisihan faham dalam lingkungan umat Islam.
 Pertama:
Bersabda nabi Muhammad SAW yang bermaksud: “Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) di antaramu nescaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khalifah Ar Rasyidin yang diberi hidayah. Pegang teguhlah itu dan gigitlah dengan gerahammu.” (Hadis riwayat Imam Abu Daud dan lain-lain. Lihat Sunan Abu Daud juz 4, awal
surat 201)
 

Tujuan hadis ini jelas, bahwa akan ada perselisian faham dalam lingkungan umat Islam dan bahwa Nabi Muhammad SAW menyuruh umat Islam ketika itu supaya berpegang teguh dengan Sunnah nabi dan Sunnah Kalifah Ar Rasyidin ( Sayidina Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali Rda) Kedua:Nabi Muhammad SAW bersabda yang bermaksud:“Akan ada di lingkungan umatku 30 orang pembohong yang mendakwakan bahwa ia Nabi. Saya adalah Nabi penutup, tidak ada lagi Nabi sesudahku.” (Hadis riwayat Tirmizi, lihat Sahih Tirmizi juz 9, awal
surat 63)
 

Ketiga:
Bersabda Nabi Muhammad SAW yang bermaksud: “Akan keluar suatu kaum di akhir zaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyah” (Maksudnya dalil atau firman-firman Allah yang di bawa oleh nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagai meluncurnya anak panah dari busurnya.Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu, lawanlah mereka.” (Hadis Sahih Riwayat Imam Bukhari, lihat kitab Fathul Bari juzu 15, awal
surat 315)
 Sangat jelas bahwa dalam hadis ini akan ada -menurut Nabi- sekumpulan orang-orang muda yang gemar mengeluarkan fatwa-fatwa agama berdasar dalil Quran dan Hadis, tetapi keimanan mereka tipis sekali dan bahkan keimanan keluar dari dirinya secepat keluarnya anak panah dari busurnya. 

Maksud nya ialah bahwa mereka banyak bercakap/berbincang dengan menggunakan dalil Al Quran dan Hadis tetapi mereka sendiri tidak beragama, tidak sembahyang, tidak puasa dan tidak menjalankan tuntutan agama. Keempat:Bersabda nabi Muhammad SAW yang bermaksud:
Ada 2 firqah dari umatku yang pada hakikatnya mereka tidak ada kaitan dengan Islam yaitu kaum Murjiah dan kaum Qadariah.” (Hadis riwayat Imam Tirmizi. Lihat Sahih Tirmizi juz 8, awal
surat 316)
 

Kaum Murjiah dan Qadariah tak ada hubungan dengan Islam, kata Nabi Muhammad SAW. Na’udzubillah!Kelima:Dan Sabda Nabi SAW yang bermaksud: ” Dari Huzaifah r.a, belaiu berkata: Bersabda Rasul SAW: Bagi setiap umat ada Majusinya dan Majusi umatku ialah orang yang mengingkari takdir. kalau mereka mati, jangan dihadiri pemakamannya dan kalau mereka sakit, jangan dijenguk. Mereka adalah kelompok Dajjal. Memang Allah SWT berhak memasukkan mereka ke dalam kelompok Dajjal.” (Hadis riwayat Abu Daud, Sunan Abu Daud Juz 4, halaman 222)
Keenam:
Tersebut dalam kitab Hadis: Dari Abu Hurairah r.a beliau berkata, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Telah berfirqah-firqah orang Yahudi kepada 71 firqah dan orang Nasrani seperti itu pula dan akan berfirqah umatku atas 73 firqah.” (Hadis riwayat Tirmizi . Lihat Sahih Tirmizi Juz 10,  awal
surat 109)
 

Ketujuh:Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Bahwasanya bani
Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu.” Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: “Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: ” Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmizi, lihat Sahih Tirmizi, juz 10, awal
surat 109)
 Kedelapan:
Tersebut dalam Kitab Thabrani, bahwa Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
“Demi Allah SWT yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka.” Bertanya para Sahabat: “Siapakah yang tidak masuk Neraka) itu Ya Rasulullah?” nabi menjawab: “Ahlussunnah wal Jamaah.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani) 

Hadis yang sama artinya tersebut juga dalam kitab “Al Milal wan Nihal” Juz 1 halaman 11, karangan Syahrastani (wafat 548H).  Kesembilan:
Nabi Muhammad SAW bersabda yang bermaksud: “Akan ada segolongan umatku yang tetap atas Kebenaran samapai Hari Kiamat dan mereka tetap atas Kebenaran itu.”
(Hadis Sahih riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari juz 17, awal
surat 56)
 

Melihat hadis-hadis yang sahih ini dapat diambil kesimpulan:1. Rasul SAW mengkhabarkan sesuatu yang akan terjadi dalam lingkungan umat Islam secara mukjizat yaitu mengkhabarkan hal-hal yang akan terjadi. Khabar itu tentu baginda terima daripada Allah SWT.2. Sesudah nabi SAW wafat akan ada perselisishan faham yang banyak samapai 73 faham/i’tiqad.3.
Ada segolongan orang-orang muda pada akhir zaman yang selalu mengeluarkan dalil-dalil dari Al Quran, tetapi keimanan mereka tidak lepas dari keronkongan mereka.
4.
Ada 2 golongan yang tidak ada kaitan dengan Islam yaitu kaum Murjiah dan Qadariah.
5.
Ada 30 orang pembohong yang akan mendakwa bahwa mereka adalah Nabi, padahal Nabi sesudah Rasul SAW tidak ada lagi. Dan ada orang-orang Khawarij yang jahat.
6. Di antara 73 golongan itu ada yang satu yang benar iaiatu golongan kaum Ahlussunnah wal Jamaah yang selalu berpegang kepada Sunnah Nabi dan Sunnah Khalifah Ar Rasyidin.7. Mereka ini akan selalu mempertahankan kebenaran i’tiqadnya samapai hari Kiamat.Dan sekarang barangsiapa yang menliti sejarah perkembangan Islam dari abad-abad pertama, kedua, ketiga dan samapai kepada zaman kita sekarang, apa yang disabdakan oleh nabi Muhammad SAW sudah nyata kebenarannya. 

Tersebut dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin karangan Mufti Syeikh Sayid Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar yang dimasyhurkan dengan gelaran Ba’Alawi pada awal surat 398, cetakan Mathba’ah Amin Abdul majid , Kaherah (1381H), bahwa 72 firqah yang sesat itu berpokok pada 7 firqah yaitu:1. Kaum Syiah, kaum yang berlebih-lebihan memuja Sayidina Ali kwh. Mereka tidak mengakui Khalifah-khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman r.a. Kaum Syiah berpecah kepada 22 aliran.2. Kaum Khawarij yaitu kaum yang berlebih-lebihan membenci Syidina Ali kwh, bahkan ada di antaranya yang mengkafirkan Sayidina Ali kwh. Firqah ini berfatwa bahwa orang yang membuat dosa besar menjadi kafir. Kaum Khawarij ini kemudiaian berpecah menjadi 20 aliran.
3. Kaum Muktazilah yaitu kaum yang berfaham bahwa Allah SWT tidak mempunyai sifat, bahwa manusia membuat pekerjaannya sendiri, bahwa Allah SWT tidak boleh dilihat dengan mata dalam Syurga, bahwa orang yang mengerjakan dosa besar diletakkan di antara 2 tempat, dam mikraj nabi Muhammad SAW hanya dengan roh saja dan lain-lain. Kaum ini berpecah menjadi 20 aliran.
4. Kaum Murjiah yaitu kaum yang menfatwakan bahwa membuat maksiat tidak memberi mudharat kalau sudah beriman, sebagai keadaannya membuat kebajikan tidak memberi manfaat kalau sudah kafir.5. Kaum Najariah yaitu kaum yang menfatwakan bahwa perbuatan manusia adalah makhluk yakni dijadikan Allah SWT, tetapi mereka berpendapat bahwa sifat Allah SWT tidak ada. Kaum ini berpecah menjadi 3 aliran.6. Kaum jabariah yaitu kaum yang menfatwakan bahwa manusia ini “majbur” artinya tidak berdaya apa-apa. Kasab atau usaha tidak ada sama sekali. Kaum ini hanya 1 aliran.7. Kaum Musyabbihah yaitu kaum yang menfatwakan bahwa ada keserupaan Allah SWT dengan manusia, umpamanya bertangan, berkaki, duduk atas Kursi, naik tangga, turun tangga dan lain-lainnya. 

Kaum ini hanya 1 aliran saja. Jadi jumlahnya adalah:1. Kaum Syiah 22 aliran2.Kaum Khawarij 20 aliran3.Kaum Muktazilah 20 aliran4.Kaum Murjiah 5 aliran5.Kaum Najariah 3 aliran6.Kaum Jabariah 1 aliran7.Kaum Musyabihah 1 aliran Jumlah 72 aliran.Kalau ditambah dengan 1 aliran lagi dengan faham Ahlussunnah wal Jamaah maka cukluplah 73 firqah, sebagai yang dijelaskan oleh nabi Muhammad SAW dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi. Demikian kitab Bugyatul Mustarsyidin. 

Adapun kaum Qadariah termasuk golongan Muktazilah, Kaum Bahaiah dan Ahmadiah Qadiani masuk gomongan kaum Syiah, kaum Ibnu Taimiyah termasuk dalam golongan kaum Musyabbihah dan kaum Wahabi termasuk kaum pelaksana dari kaum Ibnu Taimiyah.  

I’TIQAD PADA MASA HIDUP NABI MUHAMMAD SAW

Pada masa hidup Nabi Muhammad SAW, semuanya mudah dan senang karena segalla sesuatu dapat ditanyakan kepada beliau. Sahabat-sahabat Nabi berkumpul di hadapan Nabi untuk mendengar wahyu Illahi yang turun sewaktu-waktu.
Ada di antara mereka yang menuliskan wahyu itu dan ada yang menghafal saja.
 

Allah SWT berfirman: ” Dan Allah SWT kamu adalah Allah SWT Yang Esa, tiada Allah SWT selain Dia, Yang Pengasuh dan Penyayang.” (Al Baqarah : 163) Para Sahabat Nabi karena mereka orang Arab dan Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab, maka mereka dapat menangkap isi dan arti yang hakiki dari ayat-ayat Al Quran itu sehingga mereka yakin baawa Allah SWT itu Esa, sifatNya Pengasih dan Penyayang. Mereka tidak bertanya lagi. 

Kemudian turun lagi ayat suci: “Katakanlah (wahai Muhammad): Allah itu Esa, Allah tempat meminta, Ia tidak mempunyai anak dan Ia tidak dilahirkan dan tidak seorangpun yang menyerupai-Nya.” (Al Ikhlas:1-4). Para Sahabat nabi mendengar dan membaca ayat ini lantas yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah SWT itu namanya Allah. Ia Esa, bukan dua, bukan tiga. Ia bukan bapa,Ia bukan anak seseorang sebagaimana anggapan orang Kristian kepada Allah SWT mereka dan pula tidak seorang pun menyerupai-Nya. 

Dan lagi firman Allah Taala: “Tiada suatu juga yang menyerupai-Nya, dan Ia Maha Mendengar , lagi Maha Melihat.”  (As Syura:11) Nabi dan Sahabat-sahabat mengarti betul tujuan ayat ini, bahwa tidak ada sesuatu juga yang menyerupai Allah SWT dan Ia tidak menyerupai sesuatu. Ia bersifat mendengar dan melihat, semuanya dilihat dan didengar oleh Allah SWT. 

Ia tidak boleh diserupakan denga seorang raja yang duduk di singgahsana. Ia tidak boleh diserupakan dengan Malaikat, dengan Jin, tidak boleh diserupakan dengan ketua negara, tidak boleh diserupakan dengan sesiapa juga. Dan lagi Allah SWT menurunkan ayat ini: “ekalian yang ada akan lenyap, yang kekal hanya Zat Tuhan-mu, yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar Rahman: 26-27) 

Yakinlah Sahabat-sahabat Nabi bahwa semuanya akan lenyap dan yang kekal hanya Allah SWT yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Walaupun dalam ayat ini dikatakan “wajah”, yang dalam bahasa Arab artinya awal, tetapi Sahabat Nabi tidak mempersoalkannya karena mereka tahu bahwa yang dimaksudkan dengan “wajah” dalam ayat ini ialah Zat-Nya, sesuai dengan satera Arab di mana biasa dipakai perkataan yang menunjukkan juz tetapi yang dimaksudkan adalah kulnya yaitu keseluruhannya. Dalam ayat lain dijelaskan pula bahwa: ” Dan bahwasanya Allah tidak berkehendak kepada sekalian alam ini.” (Al Ankabut: 6) 

Mengartilah Nabi dan para Sahabat baginda bahwa Allah SWT berdiri sendiri, tidak memerlukan pertolongan sesiapa pun, karena Ia paling berkuasa, paling kuat, paling gagah dan boleh membuat apa saja yang dikehendakiNya seorang diri, tidak memerlukan bantuan sesiapa pun juga. Dengan kata lain, Allah dan sifat-sifatNya telah dibentangkan dalam Al Quran pada pelbagai surah dan ayat yang berlainan tempat-tempatnya. 

Umpama ada sesuatu yang tidak difahami, para Sahabat nabi bertanya kepada Nabi, yang terus dijawab dan dijelaskan oleh nabi arti yang hakiki dari ayat-ayat itu, sehingga tidak ada perselisihan faham lagi. Karena itu tidak ada lagi firqah-firqah pada masa hidup nabi SAW dan tidak ada perbezaan pendapat, tafsir dari ayat-ayat itu. Mereka bersatu. 

Begitu juga tentang Malaikat, Allah SWT menerangkan dalam Al Quran secukupnya sehingga tidak ada keraguan. Umpamanya Allah Taala berfirman: “Dan mengajarlah Allah kepada Adam sekalian nama-nama , kemudian ditanyakan kepada Malaikat apa nama-nama itu, kalau kamu benar.” (Al Baqarah: 31) 

Ketika itu tahulah umat Islam , Sahabat-sahabat nabi bahwasanya di dalam Syurga itu ada satu makhluk selain manusia yang bernama Malaikat. Keadaan Malaikat juga dijelaskan dalam ayat ini: “Mereka tidak mendurhakai Allah kalau disuruh dan mereka mengerjakan sekalian suruhan Allah.” (At Tahrim: 6)  

Ketika itu tahulah para Sahabat Nabi bahwa Malaikat adalah makhluk yang patuh dan taat kepada Allah SWT. Dalam ayat lain dikatakan: ” Katakanlah (wahai Muhammad): Barangsiapa memusuhi JIbril, (maka ia musuh Allah SWT) karena Jibril itu menurunkan Al Quran pada hatimu dengan izin Allah, untuk membenarkan kitab-kitab Allah SWT yang terdahulu.” (Al Baqarah :97) Ketika itu tahulah para sahabat nabi bahwa Al Quran diturunkan kepada Rasul SAW oleh Allah SWT dengan perantaraan Jibril. 

Demikian pula tentang Rasul-rasul Allah dari dulu sampai kepada nabi Muhammad SAW, tentang kitab0kitab suci seperti taurat, Zabur, Injil dan Al Quran serta suhuf-suhuf. Begitu juga tentang hari Akhirat, Syurga, Neraka, tentang Qada’ dan Qadar Ilahi, dijelaskakn secukupnya dalam Al Quran dan Hadis-Hadis Nabi dalam pelbagai kesempatan.  Sahabat-sahabat nabi memehamkan semuanya itu sefaham-fahamnya dan yakin seyakin-yakinnya.Dan kalau umpamanya ada yang kurang jelas atau yang musykil atau sedikit perselisihan faham, lantas ditanyakan kepada Nabi di mana Nabi menjelaskan persoalan-persoalan sebaik-baiknya sehingga tidak terjadi perselisishan faham lagi. posted by AHLI SUNNAH at 9:43 PM   

Wednesday, September 20, 2006

PERSELISIHAN FAHAM TIMBUL SESUDAH NABI SAW WAFAT

Nabi Muhammad SAW wafat pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah bersamaan dengan 8 Jun 632M. Pada hari wafat baginda, sekumpulan Sahabat daripada kaum Ansar berkumpul di suatu tempat bernama SAQIFAH BANI SA’IDAH untuk mencari Khalifah pengganti Rasul SAW yang sudah wafat. Kaum Ansar ini dipimpin oleh Saad bin Ubadah (Ketua suku kaum Ansar daripada suku Khazraj). Mendengar hal ini, kaum Muhajirin datang bersama-sama ke tempat tresebut dengan dipimpin oleh Sayidina Abu bakar As Siddiq r.a. 

Sesudah terjadi perdebatan yang amat sengit antara kaum Ansar dengan kaum Muhajirin yang setiapanya mengeawalkan calon daripada pihak masing-masing, bersepakatlah mereka mengangkat Sahabat yang paling utama yaitu Sayidina Abu Bakar r.a sebagai Khalifah yang pertama. Perdebatan itu hanya terjadi antara golongan kaum Ansar yang mengeawalkan Saad bin Ubadah sebagai calonnya dengan kaum Muhajirin mengeawalkan Sayidina Umar bin Khattab atau Sayidina Abu Bakar sebagai calon Khalifah nabi. 

Dalam pertemuan itu, tiada seorang pun yang mencadangkan Sayidina Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pertama sebagai pengganti Nabi. Faham kaum Syiah belum ada ketika itu. Yang ada hanya kaum Ansar dan Muhajirin tetapi ternyata bahwa perselisihan faham antara Ansar dan Muhajirin itu tidak menimbulkan firqah dalam Usuluddin, karena perselisihan itu dikira sudah selesai di masa Sayidina Abu bakar sudah diangkat dan terpilih menjadi Khalifah secara suara sepakat/aklimasi. Pada tahun 30H, timbul faham Syiah yang diapi-apikan oleh Abdullah bin Saba’ yang menentang Khalifah Sayidina Usman bin Affan r.a. Abdullah bin
Saba’ adalah seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam. Ketika ia datang ke Madinah, beliau tidak mendapat penghargaan daripada Khalifah dan daripada umat Islam yang lain. Oleh karena itu, dia sakit hati.
 

Sesudah terjadi “Peperangan Siffin”, peperangan saudara sesama Islam yaitu di antara tentera Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan (Gabenor Syria) pada tahun 37H, timbul firqah Khawarij yaitu orang yang keluar daripada golongan sayidina Muawiyah dan Sayidina Ali r.a. Pada permulaan abad ke 2H, timbul pula Kaum Muktazilah yaitu kaum yang dipimpin oleh Washil bin Atha’ (lahir 80H-wafat 113H) dan Umar bin Ubaid (wafat 145H). 

Kaum Muktazilah ini mengeluarkan fatwa yang ganjil-ganjil, yang berlainan dan berlawanan dengan I’tiqad Nabi dan Sahabat baginda. Di antara fatwa-fatwa yang ganjil daripada kaum Muktazilah ialah adanya ” manzilah bainal manzilatain” yakni ada tempat antara 2 tempat yaitu selain Syurga dan Neraka. 

Banyak lagi fatwa-fatwa kaum Muktazilah umpamanya mengatakan Allah SWT tidak ada sifat, bahwa Al Quran itu makhluk, Nabi SAW hanya bermikraj dengan roh , partimbangan akal lebih didahulukan daripada Hadis nabi SAW, Syurga dan Neraka tidak kekal dan akan lenyap dan lain-lain fatwa yang keliru. Kemudian timbul pula fahaman Qadariyah yang mengatakan bahwa perbuatan manusia dicipta oleh manusia sendiri, tidak ada sangkut paut dengan Allah SWT. Hak mencipta telah diberikan Allah SWT kepada manusia sehingga Allah SWT tidak tahu dan tidak peduli lagi apa yang akan dibuat oleh manusia. 

Kemudian timbul pula fahaman jabariyah yang mengatakan bahwa sekalia yang terjadi adalah daripada Allah SWT, manusia tidak mempunyai apa-apa kuasa, tidak ada usaha dan tidak ada ikhtiar.  Kemudian timbul pula faham Mujassimah yakni faham yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk, punya tangan, punya kaki, duduk atas Kursi, turun dari tangga serupa manusia, Allah SWT adalah cahaya seperti lampu dan lain-lain kepercayaan. Kemudian lahir pula faham-faham yang keliru tentang tawasul, wasilah, tentang ziarah kubur, istigatsah daripada Ibnu Taimiyah yang semuanya mengacaukan dunia Islam dan kaum Muslimin. posted by AHLI SUNNAH at 4:01 PM   

KAUM AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH MUNCUL PADA ABAD KE 3 H.

Sebagai reaksi dari firqah yang sesat tadi, maka pada akhir abad ke 3 H timbullah golongan yang dikenali sebagai Ahlussunnah wal Jamaah yang dipimpin oleh 2 orang ulama besar dalam Usuluddin yaitu Syeikh Abu Hassan Ali Al Asy’ari dan Syeikh Abu Mansur Al Maturidi. Perkataan Ahlussunnah wal Jamaah kadang-kadang disebut sebagai Ahlussunnah saja atau Sunni saja dan kadang-kadang disebut Asy’ari atau Asya’irah dikaitkan dengan ulama besarnya yang pertama yaitu Abu Hassan Ali Asy’ari. 

Sejarah ringkas ulama besar ini adalah: Nama lengkap beliau adalah Abu Hasan Ali bin Ismail bin Abi Basyar bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al Asy’ari. Abi Musa ini adalah seorang sahabat Nabi yang terkenal dalam sejarah Islam. Abu Hassan lahir di Basrah, Iraq pada tahun 260H yakni 55 tahun sesudah meninggalnya Imam As Syafie rhm dan meninggal di Basrah juga pada tahun 324H dalam usia 64 tahun. Beliau pada mulanya adalah murid daripada bapa tirinya seorang ulama besar kaum Muktazilah, Syeikh Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahab Al Jabai , tetapi kemudian beliau bertaubat dan keluar daripada golongan Muktazilah itu. 

Pada masa itu, banyak sekali ulama Muktazilah mengajar di Basrah, Kufah dan
Baghdad.
Ada 3 orang Khalifah Abbasiyah yaitu Malmun bin Harun Ar Rasyid, Al Muktasim dan Al Watsiq adalah khalifah-khalifah penganut fahaman Muktazilah atau sekurang-kurangnya penyokong utama daripada golongan Muktazilah. 

Dalam sejarah dinyatakan bahwa pada zaman itu terjadilah apa yang dinamakan fitnah ” Al Quran makhluk” yang mengorbankan beribu-ribu ulama yang tidak sefahaman dengan kaum Muktazilah. Pada masa Abu Hassan Al Asy’ari muda remaja, ulama-ulama Muktazilah sangat banyak di Basrah, Kufah dan
Baghdad. Masa itu zaman gilang gemilang bagi mereka, karena fahamannya disokong oleh pemerintah.
 

Imam Abu Hassan termasuk salah seorang pemuda yang belajar kepada Syeikh dari Muktazilah yaitu Muhammad bin Abdul Wahab Al Jabai. Muhammad bin Abdul wahab ini bukanlah pembangun mazhab Wahabi di Najd. Imam Abu Hassan Al Asy’ari melihat bahwa dalam faham kaum Muktazilah ini banyak terdapat kesalahan besar yang bertentangan dengan i’tiqad nabi Muhammad SAW dan para Sahabat beliau yang ramai dan banyak bertentangan dengan Al Quran dan Hadis. 

Maka itu, beliau keluar daripada golongan Muktazilah dan bertaubat kepada Allah SWT atas kesalahannya yang lalu. Bukan sahaj begitu, tetapi beliau tampil keawal garisan depan untuk melawan dan mengalahan kaum Muktazilah yang salah itu. Pada suatu hari beliau naik ke sebuah mimbar di maasjid Basrah yang besar itu dan mengucapkan pidato yang didengar oleh banyak kaum Muslimin yang berkumpul di situ. 

Beliau berucap:  Saudara-saudara kaum Muslimin yang dihrmati! Sesiapa yang sudah mengetahui saya, baiklah tetapi yang belum mengetahui, maka saya ini adlah Abu Hassan Ali As’ari anak dari Ismail bin Abi Basyar. Dulu saya berpendapat bahwa Quran itu makhluk, bahwa Allah SWT itu tidak boleh dilihat dengan mata kepala di Akhirat, dan bahwa manusialah yang mencipta perbuatannya serupa dengan kaum Muktazilah. Sekarang saya menyatakan terus-terang bahwa saya telah bertaubat dari fahaman Muktazilah itu dan saya telah melemparkan faham Muktazilah itu seperti saya melemparkan baju saya ini dan saya setiap saat siap untuk menolak faham Muktazilah ini.”
(Zhumrul Islam 4 halaman 67)
 Dari saat itu, Imam Abu Hassan Al Asy’ari berjuang melawan kaum Muktazilah dengan lisan dan tulisan, berdebat dan bertanding dengan kaum Muktazilah di mana-mana, merumuskan dan menuliskan dalam kitab-kitabnya i’tiqad kaum Ahlussunah wal jamaah sehingga beliau masyhur sebagai seorang ulama Usuluddin/tauhid yang dapat menundukkan dan menghancurkan faham Muktazilah itu. 

Beliau mengumpulkan sebaik-baiknya dari Al Quran dan Hadis faham atau i’tiqad nabi Muhammad SAW dan para Sahabatnya, diperincinya dengan baik-baik.  Berkata Imam Zabidi, pengarang kitab Ittihaf sadatil Muttaqin, syarah Ihya Ulumuddin: “Imam Asy’ari telah mengarang sekitar 200 kitab.” (Lihat Ittihaf, jilid 2, halaman 7) Di antara kitab-kitab karangan Imam Abu Hassan Al Asy’ari:

  1. Ibanah fi Usuluddin, 3 jilid besar.
  2.  Maqalaatul Islamiyiin
  3.  Al Mujaz, 3 jilid besar
  4.  dan lain-lain.

FATWA-FATWA IBNU TAIMIYAH YANG SESAT & MENYESATKAN

Saya akan mulai perbincangan bagian ini dengan tajuk “Bahaya Wahabi”. Memandangkan kaum Wahabi banyak merujuk kepada “ulama” mereka terutamanya Ibnu Taimiyah atau nama lengkapnya Ahmad Taqiyuddin Abu Abbas bin Syihabuddin Abdul Mahasin Abdul Halim bin Syeikh Majduddin Abil Barakat Adussalam bin Abi Muhammad Abdillah bin Abi Qasim Al Khadar bin Muhammad bin Al Khadar bin Ali bin Abdillah. Asal perkataan Taimiyah adalah daripada datuknya yang bernama Muhammad bin Al Kadar yang pergi haji melalui jalan Taima’. Setelah dia kembali dari haji didapati isterinya melahirkan seorang anak perempuan yang kemudian diberi nama Taimiyah dan keturunannya dinamakan Ibnu Taimiyah. 

Ibnu Taimiyah ini dikatakan lahir di desa
Haran, Palestin pada 10 Rabiul Awal 661H. Daerah Haran ini terkenal sebagai daerah Kristian Shabiin dan dikenali dengan daerah orang yang bijak, ahli falsafah dan selalu mempermainkan akal. Desa ini didiami oleh suku Kurdi bukannya Arab. Ibnu Taimiyah adalah seorang Kurdi dan bukannya orang Arab.
 FATWA PERTAMA IBNU TAIMIYAH YANG BERTENTANGAN DENGAN FATWA AHLUSSSUNNAH WAL JAMAAH:1.                 Allah SWT duduk di atas Arasy sebagaimana Ibnu Taimiyah duduk. Ibnu Taimiyah menfatwakan bahwa Allah SWT duduk bersila di atas Arasy serupa duduk bersilanya Ibnu Taimiyah sendiri. Faham ini beberapa kali diulangnya di tas mimbar masjid Bani
Umaiyah di Damsyik, Syria dan di Mesir.
 

Ia mengeawalkan dalil ayat Quran yang diartikannya semuanya saja, dan sebagai yang tersurat saja tanpa memperhatikan yang tersirat dari ayat-ayat itu. Jadi, Ibnu Taimiyah boleh digolongkan kepada kaum Zahirriyah yaitu “kaum Zahir” yang mengartikan Quran dan Hadis secara zahirnya saja. Misalnya firman Allah SWT: “Ar Rahman bersila di tas Arasy.” (Surah Taha:5) Dan firman-Nya: ”
Kemudian Ia duduk bersila di atas Arasy,” (Surah Al A’raf:54)
 

Dan ayat-ayat Quran serupa dengannya, yang tersebut dalam 7 buah surah dalam Quran yaitu pada surah: Yunus:3 Ar Raad:2 Al Furqan: 59 As Sajadah: 4 Al Hadid:4 Ibnu Taimiyah mengartikan maksud “istawa” yang ada dalam Quran dengan maksud “duduk bersila serupa duduknya.” Fatwa dan i’tiqad Ibnu Taimiyah yang semacam ini ditolak oleh Ahlussunnah wal Jamaah, bukan saja ditolak dengan lisan dan tulisan tetapi juga sampai dibawa ke awal pengadilan dan akhirnya dihukum sampai mati dalam penjara. 

Kaum Ahlussunnah wal Jamaah, baik kaum Salaf dan Khalaf, tidak mentafsirkan maksud “istawa” dalam ayat-ayat itu dengan “duduk bersila serupa duduknya manusia,” – tidak,tidak! 
Ada 2 aliran dalam Ahlussunnah wal Jamaah dalam menafsirkan perkataan “istawa” yaitu:
1. Aliran Salaf atau ulama-ulama Islam yang hidup dalam 300 tahun sesudah tahun Hijrah.
2. Aliran Khalaf yaitu ulama Islam yang hidup dari awal 300 tahun sesudah Hijrah samapai sekarang.Ulama salaf menafsirkan maksud hakiki perkataan “istawa” itu kepada Allah. Memang dalam bahasa Arab, istawa artinya duduk tetapi ayat-ayat sifat “istawa” lebih baik dan lebih aman bagi kita tidak diartikan, hanya diserahkan artinya kepada Allah SWT sambil kita i’tiqadkan bahwa Allah SWT tidak duduk seperti makhluk. Ulama-ulama khalaf mentaqwilkan perkataan “istawa” itu dengan “istaula” yakni menguasai atau memerintah. Namun, kedua aliran ini menentang cara-cara Ibnu Taimiyah yang menyerupakan duduknya Allah SWT dengan cara duduknya sendiri.

 Karena itu Ibnu Taimiyah bukan pengikut ulama-ulama Salaf atau Khalaf. Kalau diteliti secara mendalam, ulama Salaf dan Khalaf sama-sama mentaqwilkan ayat-ayat Mutasyabbih cuma caranya berbeda. Ulama-ulama Salaf mengakui memang arti “istawa” itu adalah duduk cuma duduknya Allah SWT tidak sama dengan duduknya makhluk. Ulama Khalaf juga begitu, cuma mereka mengakui bahwa arti “istawa’ dalam adalah duduk tetapi ia lebih bersifat simbolik kepada menguasai. 

Sepanjang sejarah, Imam Malik bin Anas r.a pernah ditanya yentang maksud ayat Taha:5, maka beliau menjawab: ” Perkataan Istawa sudah diketahui setiap orang artinya, tetapi caranya tidak diketahui, bertanya-tanya dalam soal ini adalah bid’ah.” Demikian jawaban seorang ulama salaf yang juga pengasas Mazhab Maliki.
Tersebut juga dalam kitab Tafsir yang muktabar:
1. Dalam tafsir Jalalain jilid 3, halaman 82 tertulis: “yang dimaksud ialah menguasai dan memerintah”2. Dalam tafsir Farid Wajdi jilid 3, halaman 412: “Istawa artinya memerintah atau menguasai”3. Dalam tafsir Ruhul Bayan, jilid 5 halaman 363 tertulis: “Yang dimaksud istawa ialah menguasai.” 

Ulama Khalaf menganggap bahwa mentaqwilkan Istawa dengan Istaula adalah lebih aman buat i’tiqad karena tidak akan ada sedikit juga lagi bertentengan dengan ayat dalam Surah Syura :11 yang bermaksud: Tiada menyerupai Dia sesuatu juga.” Kalau dikatakan Allah SWT bersila seperti makhluk, maka sudah bertentangan dengan ayat ini. pengartian macam ini bagi perkataan “istawa” terpakai dalam bahasa Arab.
Dalam satu Syair klasik disebutkan:  Telah istawa (menguasai) manusia atas negeri
Iraq tanpa darah yang tertumpah
.” Dan lagi dalam Al Quran banyak perkataan “istawa” yang artinya bukan “duduk bersila” seperti dalam firman Allah: Dan perahu Nabi Nuh istawa (berlabuh) di Judi.” (Hud:44)
 

Maksud “istawa” dalam ayat ini berlabuh, bukan bersila karena perahu tidak dapat bersila. Dan lagi firman Allah SWT: “Kemudian Allah SWT istawa (membuat) langit, lalu dibuatnya 7 langit.” (Al Baqarah:29) Kalau diartikan duduk bersila dalam ayat ini sebagai faham Ibnu Taimiyah, maka terjadilah kepincangan yaitu Allah SWT duduk bersila di atas langit yang sedang dijadikan-Nya. Subhanallah! Dan lagi contoh lain: “Dan setelah dia dewasa atau istawa (cukup usianya), Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu.” (Al Qasas:14) Dan lagi firman Allah SWT: “Sebagai tanaman yang mengeluarkan tunasnya yang lembut, kemudian bertambah kuat dan bertambah besar, dapat istawa (tegak) di tas batangnya.” (Al Fath:29) Perkataan istawa dalam ayat ini ialah tegak bukan duduk bersila. 

Nampaklah bahwa dalam ayat suci banyak perkataan istawa yang tidak bermaksud duduk bersila. Maka heranlah kita kepada Ibnu Taimiyah yang memaksa dirinya untuk menafsirkan istawa dalam surah Taha: 5 dan lain-lain itu dengan duduk bersila serupa duduk bersilanya dia yang menyebabkan dia termasuk dalam golongan Musyabbihah yaitu orang yang menyamakan Allah SWT dengan makhluk.  Jadi dapat dibuat kesimpulan bahwa faham Ibnu Taimiyah itu adalah faham yang sesat dan menyesatkan, karena bertentangan dengan sifat Allah SWT yaitu: “Makhalafatuhu ta’ala lil hawaditsi” (berlainan dengan perkara yg baru/makhluk) 

FATWA SESAT IBNU TAIMIYAH YANG KEDUA

Ibnu Taimiyah menfatwakan bahwa Allah SWT setiap malam turun ke langit dunia seperti turunnya dia ke bawah dari mimbarnya. Memang dalam sebuah hadis Rasul SW tersebut tertulis: Dari Abu Hurairah r.a, beliau berkata: Bahwasanya Rasul SAW bersabda: “Allah turun setiap malam ke langit dunia ketika tinggal 1/3 malam terakhir, maka Ia berfirman: ‘sesiapa yang berdoa kepadaKu akan Kuperkenankan, sesiapa yang meminta akan Kuberi dan sesiapa yang memohon ampun kepadaKu akan Kuampuni.”
(Hadis Sahih riwayat Imam Baihaqi)
 

Pada ketika menerangkan hadis ini, Ibnu taimiyah menunjukkan cara Allah SWT turun dari langit yaitu seperti turunnya dia daripada mimbar. Menurut i’tiqad Ahlussunnah wal jamaah, Allah turun tidak serupa turunnya makhluk apalagi seperti turunnya Ibnu Taimiyah daripada mimbarnya. 

Maksud hadis ini menurut Ahlussunnah wal Jamaah, bahwasanya pintu rahmat Allah SWT terbuka setiap malam seluas-luasnya, khusus pada akhir malam. Sekalian doa diterima ketika itu. Oleh itu banyakkan berdoa pada masa itu. Inilah maksud hadis itu. Fatwa Ibnu taimiyah ini kalau disebarkan kepada orang ramai pada masa ini akan ditertawakan orang. Hal ini karena telah diketahui bahwa dunia ini terdiri daripada pelbagai negara. Malam di suatu tempat, siang pula ditempat lain. 

Kalau Allah SWT turun ke langit dunia setiap hari pada 1/3 malam seperti yang difahami Ibnu Taimiyah, maka pekerjaan Allah hanya turun-turun saja setiap waktu bagi seluruh penduduk dunia, karena waktu sepertiga terakhir dari suatu malam bergantian seluruh dunia, sedangkan Allah SWT hanya satu.Yang benar ialah tafsiran Ahlussunnah wal Jamaah bahwa pintu rahmat Allah lebih luas terbuka pada sepertiga akhir malam. Jadi, lebih afdal berdoa di waktu itu. hal ini terbukti bahwa doa pada malam-malam hari sangatlah memberi kesan dan sangat terasa dekatnya kita dengan Allah SWT . 

FATWA SESAT IBNU TAIMIYAH YANG KE TIGA

Ibnu Taimiyah mengharamkan orang pergi ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW di Madinah. Perjalanan ke makam tersebut dianggap maksiat. Fatwa Ibnu Taimiyah ini ditentang secara praktikal oleh umat Islam seluruh dunia khususnya Ahlussunnah wal Jamaah karena sudah 15 abad umat Islam berbondong-bondong datang menziarahi makam Rasul SAW terutama sesuah mengerjakan hahji di Mekah. Umat Islam keseluruhannya kecuali yang tertutup mata hatinya berkeyakinan bahwa pergi ke Madinah menziarahi makam Rasul SAW adalah perbuatan yang diberi pahala sekiranya dikerjakan. Orang yang mengharamkan pergi ziarah ke makam Rasul SAW, sama ada secara langsung atau tidak langsung telah berusaha dengan sengaja untuk menyepikan kota Madinah, suatu
kota di mana dulu pada permulaan Islam pernah dipancarkan ajaran Islam ke seluruh pelusuk dunia.
 

Dan langsung atau tidak langsung orang itu juga telah memperkecil peranan Nabi Muhammad SAW yang menyelamatkan manusia dunia dan Akhirat, karena bagi orang itu sedikit demi sedikit, Rasul SAW sudah jauh daripada hatinya. Ramainya
kota Madinah sekarang adalah disebabkan karena ramainya orang datang menziarahi makam Nabi SAW, bukan karena ramainya orang datang untuk menziarahi masjid tersebut.
 Dalam satu hadis memang disebutkan bahwa ada 3 masjid yang dibolehkan berkunjung ke sana untuk solat yaitu Masjidil Haram, Masjidil Nabawi dan Masjidil Aqsa tetapi apabila ditanya kepada orang ramai kenapa menziarahi Madinah, mereka kebanyakannya menjawab karena untuk menziarahi makam Rasul SAW.Di Palestin terdapat Masjidil Aqsa yaitu tanah suci umat Islam yang ketiga tetapi tidak ramai yang ingin pergi ke
sana untuk solat di masjid itu atau sanggup menghabiskan banyak wang untuk pergi menziarahi masjid tersebut. Paling tidak pun hanya pelancong-pelancong yang datang melancong ke
sana.
 

Sehingga kini, makam Rasul SAW tidak pernah sepi daripada penziarah dari serata dunia yang datang menziarahinya walaupun sudah lebih 700 tahun Ibnu taimiyah menfatwakan pengharaman menziarahi makam tersebut. Ini tercatat dalam sejarah apabila pada abad ke 8 H, di Damsyik, Ibnu Taimiyah mengharamkan ziarah ke makam Rasul SAW. Ibnu taimiyah menggunakan dalil:“Allah SWT mengutuk orang Yahudi dan Kristian yang menjadikan kubur Nabi-nabi mereka menjadi tempat ibadah/masjid” (Hadis Sahih Riwayat Imam Bukhari & Muslim) Dan dalil: “bersabda Rasul SAW: ‘ tatkala dikhabarkan kepada baginda situasi gereja di Habsyah: mereka apabila meninggal seorang yang soleh di antara mereka lantas dibuatnya di tas perkuburan biara, kemudian mereka membina patung-patung/gambar orang-orang itu. Itulah makhluk yang paling buruk di sisi Allah pada hari Kiamat.” (Hadis Riwayat Imam Bukhari dan Muslim). 

Karena itu tidaklah salah kalau banyak daripada ulama-ulama Islam sejak abad ke 9H mengarang buku menolak faham Ibnu Taimiyah dan mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah itu “Dhallun Mudhillun” yaitu sesat lagi menyesatkan. Ibnu Hajar Al Haitami seorang ulama besar dalam abad ke 8H, mengarang suatu kitab bernama ” Al Jauharul Munazham fi ziaratil Qubris Syarif An Nabi il Awalrram.” (Jauhar yang teratur untuk menerangkan ziarah kubur Nabi yang Mulia). Bahkan banyak ulama-ulama besar yang terdahulu abadnya daripada Ibnu Taimiyah mengarang kitab yang menerangkan hukum sunat menziarahi makam Rasul SAW. Imam Al Ghazali , seorang ulama besar telah menulis kitabnya Ihya Ulumuddin pada abad ke 5H, di mana beliau menyatakan pada bahagian Adab Safar, bahwa ziarah ke makam Rasul SAW itu diberi pahala kepada orang yang mengerjakannya. Seorang ulama Islam bernama Ibnu Hubairah menerangkan dalam kitabnya bernama ” Ittifaqul Aimah” bahwa telah sepakat Imam Mazhab yang 4 menfatwakan bahwa ziarah ke makam Rasul SAW adalah sunat hukumnya. Rasul SAW pernah bersabda: “Dahulu saya melarang menziarahi kubur, sekarang ziarahlah.”  Dalam satu riwayat: ” Maka ziarahlah kubur, karena ziarah itu mengingatkan kepada mati.” (Hadis sahih Riwayat Muslim, halaman 389). Juga dalam hadits lain disebutkan mengenai dibolehkannya ziarah ke makam rosul SAW: “Siapa yang menziarahi makam saya sesudah saya wafat, maka ia seolah-olah sudah menziarahi saya pada ketika hidup saya.” (Hadis Riwayat Imam Daruqutni). Dalam hadits lain tertulis: “Siapa yang menziarahi makam saya, ia psti akan mendapat syafaat saya.” (Hadis riwayat Imam Daruqutni) Hadis ini diriwayatkan oleh Imam daruqutni banyak sekali ahli-ahli hadis mengtakan hadis ini adalah sahih, diantaranya Imam daruqutni sendiri, Ibnus Sakan, Imam Subki dan lain-lain. (Lihat Syawahidul Haq halaman 77) 

Kalau dibentangkan dalil panjang sehingga menjadi buku dalil sunatnya, ziarah makam Rasul SAW. tetapi cukuplah bagi orang yang beriman karena dalil itu -menurut istilah ulama fiqh – tidak disyaratkan banyak dalil, cukuplah satu hadis untuk menjadi dalil.  

FATWA SESAT IBNU TAIMIYAH YANG KEEMPAT

Ibnu Taimiyah memfatwakan bahwa seluruh tareqat-tareqat sufi yang diamalkan oleh umat Islam adalah haram. Ibnu Taimiyah menentang sekeras-kerasnya ulama taswuf yang semasa dengan beliau yaitu Ibnu Abdullah Al Iskandari , pengarang kitab Tasawuf “Al Hikam”. 

Tareqat-tareqat Sufi pada zaman Ibnu Taimiyah sangat maju. Sultan dan penguasa Islam yang terdahulu daripada zaman Ibnu Taimiyah seperti Sultan Salahuddin Al Ayubi dan Raja-raja Mamalik sesudah Dinasti Ayubbiah banyak mendirikan di Mesir tempat-tempat suluk, tempat zikir, tempat uzlah kaum sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini semuanya disapu bersih oleh Ibnu Taimiyah dan semuanya dianggap salah, bidaah, haram dan syirik. Ibnu Taimiyah juga turut mengkafirkan ahli-ahli tasawuf seperti Imam Al Ghazali.Dalam Al Quran , tersebut: “Tetap selalu mereka menghambakan diri kepada Allah SWT lahir dan batin.” Yaitu dengan jalan memperbanyak zikir, memperbanyak membaca nama Allah SWT dan mengingati Allah, baik dengan lisan atau dalam hati saja.

 Cara-cara zikir itu bermacam-macam, ada sebagai yang diajarkan oleh Syeikh Abdul Qadir Al jailani yang kemudian dinamakan tareqat Qadiriyah, ada seperti yang diajarkan oleh Syeikh Bahauddin Naqsyabandi yang kemudian dinamakan Tareqat Naqsyabandi dan lain-lain.Ibnu Taimiyah memfatwakan bahwa semuanya itu haram, tidak boleh dikerjakan, sedangkan sebahagian ulama Ahlussunnah wal jamaah memfatwakan tareqat itu adalah baik dan bahkan ada yang mengatakan sangat baik, karena amal-amal dalam tareqat itu dikerjakan oleh Nabi SAW dan para Sahabat baginda, juga dituntut dalam Al Quran dan banyak termaktub di dalam hadis Rasul SAW.

 
Ada ahli-ahli tareqat yang beribadah membaca zikir: Allah! Allah! Allah! Allah! beribu-ribu kali atau jutaan kali dan ini bersesuaian dengan firman Allah: ” Apabila kamu telah selesai mengerjakan solat, maka ingatlah Allah diwaktu berdiri, di waktu duduk atau ketika berbaring.” (An Nisa’:103) Dan firman-Nya lagi: ” Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya.” (Al Ahzab: 41) 

Dan bayak lagi ayat-ayat suci, dan hadis-hadis nabi SAW yang menganjurkan agar setiap orang Islam mengingat Alah dan menyebut nama Allah sebanyak-banyak. Nabi SAW bersabda: ” Terdahulu (masuk Syurga) orang-orang “Mufariddun”. Sahabat bertanya: Siapakah Mufarriddun itu Ya Rasulullah? Nabi menjawab: Orang-orang yang bayak berzikir Allah, lelaki atau wanita.” (Hadis Sahih Riwayat Muslim 2, halaman 467) 


Ada ahli tareqat yang berzikir dengan membaca : “Laa ilaaha Illallah” beratus-rastus atau beribu-ribu kali. Nabi SAW bersabda: ” Zikir yang paling afdal adalah kalimah Laa ilaha Illallah.” (Hadis riwayat Imam Tirmizi dan Ibnu Majah – sahih Tirmizi juz 12 halaman 274 dan sunan Ibnu Majah 2 halaman 420) 

Dan Nabi SAW bersabda: ” Orang yang duduk berumpul-kumpul membaca zikrullah, dipeluk malaikat Rahmat. mereka diliputi rahmat Allah SWT dan turunlah saqinah kepada mereka dan Allah mengingati mereka pula.” (Hadis sahih Muslim dari Abu Hurairah -lihat Syarah Muslim juz 17 halaman 22)  Orang-orang Tasawuf dan Tareqat membiasakan diri untuk duduk berkumpul-kumpul membaca zikir memenuhi seruan Allah SWT dan seruan Rasul SAW akan tetapi Ibnu Taimiyah mengharamkan semua itu atas alasan bidaah, syirik dan lain-lain. Inilah fatwa Ibnu Taimiyah yang sangat sesat!  

FATWA SESAT IBNU TAIMIYAH YANG KELIMA

Fatwa Ibnu Taimiyah menghukum kafir kepada orang-orang Islam yang tidak mau menerima fahamannya. Ayat-ayat khusus turun untuk mencela orang kafir digunakan oleh Ibnu Taimiyah ke atas orang –orang Islam yang menolak fahamannya. Inilah sikap dan faham radikal daripada Ibnu Taimiyah. Dengan kata lain, setiap orang Islam yang tidak sehaluan dengan fahamannya adalah kafir, halal darahnya dan hartanya.Faham seperti ini tidak sesuai dengan faham kaum Ahlussunnah wal Jamaah, tidak bersesuaian dengan faham nabi SAW dan para Sahabat baginda dan tidak bersesuaian dengan faham Imam mazhab yang 4.Sebagai orang Islam, kita tidak boleh menghukum orang lain sebagai kafir semata-mata karena melakukan amalan salah atau dosa tetapi mereka boleh dianggap sebagai orang Islam yang ‘asi atau derhaka,Menurut Ahlussunnah wal jamaah, manusia yang sudah mengucap 2 kalimah syahadah, telah mengakui di dalam hatinya Allah itu Esa dan Muhammad SAW adalah Rasul Allah, maka orang itu adalah Islam dan tidak boleh dilabel sebagai kafir sekiranya ia membuat dosa walaupun dosa besar kecuali syirik.Hanya kaum Khawarij saja yang menghukum orang Islam sebagai kafir sekiranya melakukan dosa-dosa besar dan sebagaimana kita ketahui kaum Khawarij tidak termasuk dalam firqah Ahlussunnah wal Jamaah.Imam As Syafie pernah menulis dalam kitab Ar Risalah:“ Saya tidak menghukum kafir seorang juga daripada ahli qiblat dengan karena dosanya.’Yang dimaksud oleh Imam Syafie dengan ahli qiblat adalah umau Islam. Jadi, artinya bahwa sekalian orang yang sudah mengesakan Allah SWT dan bernabikan Muhammad SAW, tidak boleh dihukum kafir dengan sebab-sebab dosanya.Masalah kafir-mengkafir adalah perkara yang berat dan serius karena ia menentukan nasib manusia di Akhirat dan tidak boleh dijadikan permainan lidah.Orang yang kafir itu berlaku hokum kafir kepadanya yaitu ia harus bercerai daripada pasangannya, ia wajib diperangi dan halal darahnya, ia tidak boleh dikuburkan di perkuburan orang Islam. Jadi tidak boleh digunakan perkataan “kafir” kepada seseorang dengan sembarangan.Tersebut dalam kitab hadis Sahih Bukhari bahwa: “ Dari Abu Hurairah r.a beliau berkata, bersabda Nabi SAW: “ Apabila seseorang berkata kepada saudaranya “hai kafir”, maka jadilah salaha seorang daripada orang itu kafir.” (HSR Bukhari – Sahih Bukhari Juz 4 halaman 47)Dan tersebut dalam Hadis Muslim: Sahabat nabi Ibnu Umar r.a berkata: Bersabda Rasul SAW: “Manakala berkata seseorang kepada saudaranya “hai Kafir”, maka ia telah menetapkan dengan ucapan itu salah seorang di antaranya menjadi kafir. Kalau orang itu memang kafir (pada hakikatnya) benarlah begitu, tetapi kalau orang itu (pada hakikatnya tidak kafir) , maka kembali “kafir” itu kepada yang berkata.” (Sahih Muslim Juz 1 halaman 44)Nyatalah daripada hadis-hadis Sahih tersebut, bahwa tidak mudah menuduh orang Islam dengan perkataan kafir karena tuduhan itu boleh berbalik kepada yang menuduh.Sikap Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sangan lancang menuduh orang dengan perkataan “kafir’, “bidaah” dan “syirik” kalau orang itu tidak sefaham dengannya.posted by AHLI SUNNAH at 5:15 PM   

FATWA SESAT IBNU TAIMIYAH YANG KEENAM

BERDOA’ DENGAN BERTAWASSUL Suatu fatwa yang menghebohkan dunia Islam dari Ibnu Taimiyah ialah menghukum kafir atau syirik sekalian orang Islam yang mendoakan dengan bertawassul, pada hal mendoa dengan bertawassul itu sudah dikerjakan oleh dunia Islam sedari abad-abad permulaan Islam, sedari zaman Nabi, zaman sahabat dan zaman Tabi’in. Marilah kita tinjau soal ini secara tenang dan ilmiah. “Tawassul” artinya mengerjakan sesuatu amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Didalam Al-Quran ada menyebut perkataan “wasilah” dalam 2 tempat, yaitu :
1- Pada surah al-Maidah ayat ke 35 yang bermaksud : Artinya : “Hai orang-orang yang beriman ! Patuhlah kepada Allah dan carilah jalan-jalan yang mendekatkan kepada-Nya dan berjuanglah dijalan Allah, supaya kamu jadi beruntung”.(Al-Maidah : 35 ).
Didalam ayat ini ada 3 hukum yang dikeluarkan,yaitu :
1) kita wajib patuh (taat) kepada Allah SWT.
2) Kita disuruh mencari jalan yang mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
3) Kita disuruh berjuang (perang) dijalan Allah.
Kalau yang 3 ini dikerjakan maka kita ada jaminan untuk mendapat kemenangan di dunia dan akhirat.

2- Pada surah Isra’ yang bermaksud : Artinya : “Mereka mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT” (Al-Isra’ : 57). Demikian arti wasilah dalam al-quran. Maka berdoa dengan bertawassul ialah berdoa kepada Allah SWT, sekali lagi berdoa kepada Allah SWT dengan wasilah yaitu memperingatkan sesuatu yang dikasihi Allah SWT. Kalau dicontohkan kepada situasi keduniaan, umpamanya kita akan meminta pekerjaan kepada sesuatu jawatan, tetapi kita tidak begitu kenal dengan orang atasan di syarikat itu, maka kita mencari jalan, yaitu menghubungi sahabat kita yang bekerja dibahagian syarikat itu dan dengan pertolongannya permohonan kita untuk bekerja disitu diterima.
Ini permohonan dengan “wasilah” namanya. Atau dalam soal ini kita terus menemui dengan orang atasan kepada syarikat berkenaan dan terus memohon kepadanya untuk meminta pekerjaan, dengan memperingatkan kepadanya bahwa kita yang memohon ini adalah kawan kepada anaknya.
 

Ini juga minta dengan “wasilah” namanya. Wasilah macam ini hanya sekadar untuk lebih memudahkan terkabulnya permintaan yang memang pada dasarnya juga dapat dikabulkan. Jangan terkeliru fahaman. Kita memohon hanya kepada orang atasan syarikat berkenaan,tidak kepada kawan kita tadi dan bukan pula kepada anaknya itu, tetapi kawan kita dan anaknya itu sekadar pembuka jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Begitu juga berdoa dengan wasilah atau tawassul kepada Allah SWT. Contoh-contohnya sesuatu doa itu :1- kita datang kepada seseorang Nabi atau seorang ulama yang kita anggap mulia dan dikasihi Allah SWT,lalu kita katakan kepada beliau : “saya akan beerdoa,memohon sesuatu kepada Allah SWT,tetapi saya harap pula Tuan berdoa kepada Allah SWT bersama saya, supaya permintaan saya ini dikabulkan-Nya. Lalu kedua orang itu berdoa.2- Kita datang menziarahi Nabi, sewaktu beliau masih hidup atau pada ketika beliau telah meninggal dunia, maka kita berdoa disitu dan kita mengharapkan agar Nabi Muhammad saw mendoakan kita kepada Allah. Itu namanya berdoa dengan tawassul, dengan orang yang masih hidup atau yang telah wafat.3- Kita datang menziarahi ke makam Tuan Syeikh Abdul Qadir al Jailani,seorang ulama tasawuf yang besar di Baghdad,terus kita berdoa disitu kepada Allah SWT seperti : “Ya Allah,Ya Allah SWT yang Pengasih dan Penyayang,saya mohon keampunan dan keredhaan-Mu,barakah beliau yang bermakam disini, karena beliau ini saya tahu seorang ulama besar yang Engkau kasihi. Berilah permohonan saya, Ya Allah yang Rahman dan Rahim !. Doa macam ini namanya doa dengan tawassul.
4- Kita berdoa kepada Allah SWT yang Maha Esa: Ya Allah,berkat “jah” (tuah) Nabi Muhammad saw, berilah permohonan saya. Ini namanya doa dengan tawassul dengan “jah” (tuah) Nabi.
5- Kita berdoa umpamanya seperti berikut: “Ya Allah, saya ada mengerjakan amalan yang baik yaitu saya tetap hormat kepada ibu-bapa saya, tak pernah derhaka. Engkau Ya Allah tahu hal saya,kalau amal saya itu diterima oleh-Mu, maka berilah permohonan saya ini”. Ini namanya doa bertawassul dengan amal ibadat.
6- Kita juga berdoa kepada Allah SWT: “Ya Allah, berkat nama-Mu yang besar,berilah saya ini dan itu”. Ini berdoa dengan bertawassul dengan nama Allah SWT. Itulah contoh-contoh doa bertawassul. 

Doa macam ini dihukum syirik atau kafir oleh Ibnu Taimiyah, tetapi ulama-ulama kaum Ahlussunnah wal Jama’ah memfatwakan bahwa doa macam itu adalah baik, sunat, berpahala kalau dikerjakan. Jadi antara Ibnu Taimiyah cs dan kaum Ahlussunnah wal Jama’ah bertentangan dalam soal ini 180 darjat. Ibnu Taimiyah mengeawalkan satu-satunya dalil: Artinya :”ketahuilah, bahwa agama yang bersih itu kepunyaan Allah SWT. Dan orang-orang yang mengambil auliya-auliya (pelindung) selain dari Allah SWT mengatakan : kami tidak menyembahnya, melainkan untuk mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya”.(az-zumar : 3) 

Inilah satu-satunya dalil Ibnu Taimiyah,dimana dikatakannya bahwa orang-orang kafir yang menyembah orang-orang dahulu mengatakan bahwa ia menyembah karena akan mendekatkan dirinya kepada Allah. Halnya orang yang berdoa dengan tawassul sama dengan orang-orang kafir karena membawa nama-nama Nabi, nama wali untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Karena itu orang yang berdoa dengan bertawassul adalah musyrik,kata Ibnu Taimiyah cs.
Pendeknya Ibnu Taimiyah berfatwa bahwa orang-orang Islam yang berdoa dengan bertawassul,baik kepada orang yang hidup atau orang yang telah meninggal dunia adalah kafir. Sama dengan orang kafir yang menyembah berhala dengan i’tiqadnya agar menghampirkan diri kepada Allah,sebagai tersebut dalam surah az zumar : ayat 3. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah menolak fatwa Ibnu Taimiyah dan mengatakan bahwa berdoa dengan bertawassul tidak sama dengan orang-orang kafir yang menyembah berhala itu. Orang-orang Islam yang berdoa dengan bertawassul tidak menyembah kepada Nabi-Nabi atau wali-wali atau ulama’-ulama’ pada ketika itu berdoa dengan tawassul tetapi semata-mata membawa nama-nama itu ke hadapan Allah SWT, karena Allah SWT kasih kepadanya. Ia mengharapkan mudah-mudahan dengan membawa nama orang-orang itu permohonannya akan segera dikabulkan Allah SWT, karena SWT kasih kepada Nabi-Nabi, wali-wali dan ulama’-ulama’ yang namanya disebutkan itu.
 Jadi harus digariskan bahwa perkataan “ma na’buduhum illa”, tidak kami sembah mereka kecuali maka kami sembah ialah karena hendak mendekatkan diri kami kepada Allah SWT.
Yang syirik ialah karena ia si kafir itu menyembah berhala dengan tujuan mendekatkan dirinya kepada Allah.  Mereka kafir karena menyembah berhala,bukan karena mencari sesuatu jalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jadi dalil yang dipasang oleh Ibnu Taimiyah untuk melarang orang Islam bertawassul yaitu ayat 3 dalam surah az zumar ini tidak kena, jauh panggang dari api.
Dalil-dalil Ahlussunnah wal Jama’ah untuk membolehkan berdoa dengan bertawassul itu adalah :Pertama :

-Allah SWT berfirman dalam al quran : Artinya : “Dan kalau mereka pada ketika telah menganiaya dirinya (dengan berbuat dosa) datang kepada engkau (Hai Muhammad),lalu mereka memohon ampun kepada Allah SWT dan Rasul minta ampunkan mereka pula kepada Allah,maka barang tentulah mereka dapat ampunan Allah itu,bahwasanya Allah SWT penerima taubat dan penyayang” (An-Nisa’ : 64). Dengan perkataan lain ayat ini dapat diartikan, bahwa setiap orang yang telah membuat dosa,kalau mereka datang kepada Nabi Muhammad saw, (pada ketika beliau masih hidup atau sesudah beliau wafat), dan minta ampun ia kepada Allah SWT dihadapan Nabi dan Nabi meminta ampunkan pula untuk orang itu, nescaya permohonannya dikabulkan Allah SWT.
Inilah yang dinamakan berdoa dengan tawassul,yaitu datang kepada Nabi dan berdoa dihadapan Nabi, sedang Nabi meminta ampunkan ia pula, sudah pasti Allah SWT menerima doanya itu.
Timbul pertanyaan : Baiklah pada ketika Nabi hidup kita datang pula, tetapi Nabi sudah wafat apakah masih dapat juga beliau mendoa’kan kita? Dengan tegas kaum Ahlussunnah menjawap : Dapat, karena Nabi hidup didalam kuburnya. Lagi pertanyaan : Apakah salahnya kalau berdoa’ terus saja kepada Allah SWT tanpa mendatangi Nabi lebih dahulu, apakah doa’ kita ditak akan diterima Allah SWT ? Jawapnya : Berdoa’ terus boleh dan diterima Allah SWT juga tetapi berdoa dihadapan Nabi lebih banyak
kans untuk dikabulkan, sesuai dengan ayat pada surah Nisa’ : 64 ini.
Ayat ini mempunyai hikmah yang tinggi, supaya orang berbondong-bondong datang ke Madinah menziarahi Nabi, supaya mereka lebih mencintai Nabi, supaya mereka tambah gigih mengikut perjuangan Nabi dan supaya mereka bertauhid sedalam-dalamnya sebagaimana tauhid Nabi.
Apakah orang yang berdoa’ serupa itu menyembah Nabi ? Tidak, tidak sama sekali. Jika demikian itu dinamakan menyembah Nabi, tentu tidak dianjurkan oleh al-quran berbuat begitu. Tuduhan Ibnu Taimiyah ini sangat dusta, pembohong besar.
 

Kedua :-Dalam kitab hadis Bukhari tentang sembahyang istisqa’ berbunyi :Artinya : “Dari Anas (bin Malik,sahabat Nabi), berkata : “Bahwasanya Saidina Umar bin Khathab rda, adalah apabila terjadi kemarau beliau berdoa’ bertawassul dengan Abbas bin Abdul Muthalib (bapa saudara Nabi). Umar bin Khathab berdoa’ : “Ya Allah ! bahwasaanya kami pernah berdoa dengan bertawassul kepada Engkau dengan Nabi maka Engkau turunkan hujan, dan sekarang kami bertawassul dengan bapa saudara Nabi maka Ya Allah turunkanlah hujan ! Berkata Anas : “Maka turunlah hujan kepada kami “ (hadis sahih,Riwayat Imam Bukhari, lihat Fathul
Bari jilid III, halaman 150).
 Dapat diambil kesimpulan dalam hadis ini :1- Saidina ‘Umar bin Khathab, sahabat Nabi dan Khalifah Rasyidin yang ke II,pernah berdoa’ bertawassul kepada Nabi Muhammad saw. Untuk memohon diturunkan hujan pada musim kemarau.
2- Saidina ‘Umar bin Khathab pernah berdoa bertawassul dengan bapa saudara Nabi, Abbas bin Abdul Muthalib untuk mohon hujan.
3- Doa’ bertawassul itu dikabulkan Allah SWT dan hujan pun turun4- Saidina ‘Umar berdoa’ kepada Allah SWT, bukan meminta kepada Nabi atau kepada Abbas, tetapi nama beliau-beliau ini dikeawaln saja kepada Allah SWT.5- Saidina ‘Umar bin Khathab berdoa dengan tawassul kepada bapa saudara Nabi membuktikan bahwa boleh bertawassul kepada orang yang lebih rendah walaupun ada orang yang tinggi.
Apakah berdoa’ dengan bertawassul seperti ini syirik, kafir atau bid’ah ? Tidak, tidak. Kalau syirik sudah tentu sahabat-sahabat Nabi, khususnya ‘Umar bin Khathab tak akan berbuat begitu.
Jadi harus dikembalikan, orang yang memfatwakan doa’ sepearti ini bid’ah maka itulah orang yang membuat bid’ah dalam I’tiqad.
 

Ketiga :-Tersebut dalam kitab Fathul Bari : Artinya : “Dari Anas (bin Malik) ia berkata : “Datang seorang lelaki Badwi kepada Nabi Muhammad saw, maka ia berkata : “Hai Rasulullah, kami datang kepada engkau karena tidak ada lagi unta yang meringis, tidak ada lagi bayi yang berdengkul, kemudian ia membacakan sebuah sajak : “kecuali kepada engkau tak kemana kami akan pergi, kemanakah manusia akan minta bantuan kalau tidak kepada Rasul Ilahi”. Mendengar permintaan itu Nabi lantas berdiri, menarik selimut beliau dan lantas naik mimbar, lalu berdoa’ : “Ya Allah, turunkanlah hujan !” (hadis riwayat Imam Baihaqi dalam kitab Dalail – hadis ini dipetik dari kita Fathul Bari Syarah Bukhari pada juz III halaman 148). Dapat diambil pengartian dari hadis ini :1- Pada ketika terjadi musim kemarau, sahabt-sahabat nabi datang kepada Nabi untuk meminta diturunkan hujan. Mereka tidak meminta terus dari Allah SWT bagi menurunkan hujan. Rupanya hal ini tidak terlarang dalam syari’at Islam, yaitu kalau terjadi musibah apa-apa orang datang bersama-sama kepada Nabi dan sekarang kepada ulama’-ulama’ yang dipercayai.
2- Nabi Muhammad saw tidak marah ketika orang datang kepada beliau itu, tetapi membenarkan.
3- Nabi juga tidak marah mendengar sajak (syair) itu, yang mana dikatakan bahwa pada ketika susah tidak ada tempat kembali melainkan kepada Rasulullah. Tentu datangnya orang kepada Nabi adalah sebagai sebab saja, sedang pada hakikatnya yang menurunkan hujan hanya Allah SWT.
4- Ini suatu bukti yang nyata bahwa berdoa dengan tawassul itu adalah sunnah,bukan bid’ah seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyah.
5- Dalam hadis ini dapat pula diambil kesimpulan bahwa boleh “istigatsah” (meminta tolong dari manusia), umpamanya kalau kita dapat kesulitan maka kita datang kepada sahabat kita dan kita minta tolong, umpamanya dengan mengatakan : “Hai sahabat yang mulia, tolonhlah saya, bebaskanlah saya dari kesulitan ini”. Khusus kepada Rasul boleh istigatsah, sebagai sajak yang dibacakan dihadapan Nabi ini : 

“kecuali kepada engkau ke mana kami akan pergi, ke manakah manusia akan minta bantuan kalau tidak kepada Rasul Ilahi ?” Jadi, tidaklah terlarang kalau seseorang Muslimin mengatakan dalam ucapannya ssetiap hari : “Ya Allah, Ya Rasulullah”, asal ia tetap berkeyakinan bahwa yang memberi pada hakikatnya adalah Allah, tetapi meminta kepada manusia hanyalah sebagai sebab saja. 

Ke empat :Tersebut dalam kitab hadis : Artinya : “Berkata Nabi Muhammad saw, : “Tatkala Nabi Adam alaihissalam membuat kesalahan lalu beliau berdoa’ kepada Allah SWT : Ya Allah SWTku, saya memohon ampun kepada-Mu dengan “hak” Muhammad, supaya diampuni saya. Maka Allah SWT bertanya : “Hai Adam, dari mana engkau tahu tentang Muhammad, pada hal ia belum dilahirkan ?”. Adam menjawab : “Hai Allah SWTku, setelah Engkau menjadikan saya dengan kekuasaan-Mu, maka saya angkat kepada saya, lantas saya lihat tertulis ditiang Arasy perkataan “La Ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah”. Ketika itu tahulah saya bahwa Engkau tak akan meleretkan nama Engkau kecuali dengan nama yang Engkau kasihi. Ketika itu Allah SWT menjawab : Itu benar hai Adam, dialah makhluk yang paling Saya sayangi, kalau engkau memohon kepada Saya dengan “haq”nya, maka Saya mengampuni engkau. (hadis riwayat Imam Baihaqi dan ia dikatakan bahwa hadis ini sahih).  Maksud “haq” disini ialah “darjat”nya disisi Allah. Jelas dalam hadis ini bahwa Nabi Adam berdoa’ dengan bertawassul kepada Nabi Muhammad saw, yang belum lahir ketika itu.
Pekerjaan Nabi Adam alaihissalam dan caranya berdoa’ dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw, kepada ummatnya supaya ummat Islam meniru dan meneladaninya, karena doa’ seperti itu dikabulkan Allah SWT.
 

LAIN-LAIN  FATWA SESAT IBNU TAIMIYAH

Ibnu Taimiyah memfatwakan bahwa talak 3 sekaligus hanya dikira 1 dan talak dengan sumpah tidak dikira jatuh talak. Fatwa seperti ini sama dengan fatwa kaum Syiah Imamiyah di Iran yang mengatakan bahwa talak 3 sekaligus hanya dikira sebagai 1 Fatwa seperti ini ditolak oleh keempat-empat Mazhab yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafie dan Hambali. Menurut kitab Fashlul Aqwaal pada awal
surat 32, Ibnu Taimiyah telah melanggar 16 ijma’ yaitu kesepakatan Imam-imam Mujtahid dalam suatu masa.Fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah yang melanggar Ijma’ itu adalah:

1. Bersumpah dengan talak tidak menjatuhkan talak tetapi hanya suami diwajibkan membayar kafarah sumpah.2. Talak ketika isteri haid tidak dikira jatuh talak.3. Talak di waktu suci yang disetubuhi tidak jatuh.4. Solat yang ditinggalkan dengan sengaja tidak boleh diqadha /ganti. 5. Talak 3 sekaligus hanya dikira sebagai 1.6. Orang yang junub boleh melakukan solat malam tanpa mandi terlebih dahulu.7. Syarat si waqif tidak diambil kira.8. Orang yang mengingkari Ijma’ bukanlah kafir dan bukanlah fasiq.9. Allah SWT itu tempat yang hadits (baru), dengan arti Allah SWT menjadi tempat bagi sifatNya yang baru.10. Zat Allah SWT tersusun yang satu berkehendak dari yang lain.11. Quran itu baru, bukannya Qadim.12. Alam ini Qadim.13. Allah SWT bertubuh, berjisim dan berpindah-pindah tempat.14. Neraka akan lenyap dan tidak kekal.15. Allah SWT sama besar dengan Arasy.16. Nabi-nabi tidak maksum.  Di sini dapat dilihat bahwa Ibnu Taimiyah telah melakukan penyelewengan dari 3 jurusan yaitu dari sudut I’tiqad, Tasawuf dan Fikh. KINI ANDA SUDAH TAHU KESESATANNYA, MASIHKAH ANDA MAU MENGIKUTINYA, MEMPERTAHANKANNYA DAN MENGGUNA IJTIHADNYA?

PENDAPAT IBNU BATHUTAH MENGENAI IBNU TAIMIYAH

Telah diriwayatkan oleh seorang pengembara Islam yang tersohor dari Tanggier, Al Jazair yaitu Ibnu Bathutah pada akhir abad ke 7H dan permulaan abad ke 8H, telah menerangkan di dalam bukunya yang berjudul “Rahlah Ibnu Bathutah” pada jilid 1, awal surat 57 tertulis:“Adalah di Kota Damsyik, Syria, seorang ahli fiqh yang besar dalam Mazhab hambali namanya Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Ia banyak menceritakan soal-soal ilmu pengetahuan, tetapi sayang sekali otaknya tidak berapa betul.” 

Penduduk
kota Damsyik sangat menghormati orang itu. Pada suatu hari ia mengajar di tas mimbar masjid Damsyik. Ia mengeluarkan kata-kata atau fatwa yang berlainan daripada fatwa-fatwa ahli fiqh yang lain sehingga ia akhirnya diadukan orang kepada Raja Nasir di Kaherah.
Ia dibawa ke Kaherah dan kepadanya dihadapkan beberapa tuduhan di hadapan pengadilan yang memeriksanya.
Ibnu Taimiyah tidak memberi jawaban apa yang ditanyakan Hakim tetapi sekalian pertanyaan dijawab dengan “Laa ilaha Illallah.” Akhirnya ia dimasukkan ke dalam penjara dan ditahan beberapa tahun. Ibunya memajukan permohonan kepada Raja Nasir untuk membebaskan anaknya dan diperkenankan permohonan itu.
 Tetapi kemudian terjadi lagi hal yang serupa: Ibnu Bathutah berkata: ” Saya ketika itu sedang berada di Damsyik. Saya hadir di masjid mendengar dia memberi pelajaran di hadapan umum di mimbar masjid Jami’. Banyak pelajaran diucapkan. Di antara ucapannya: ‘ Allah turun ke langit dunia serupa turunnya dengan saya ini’. Lalu Ibnu Taimiyah turun satu tingkat di tangga mimbar. Pada ketika itu, seorang ulaama ahli fiqh mazhab Maliki bernama Ibnu Zahra’ membantah dia dan melawan ucapan-ucapan Ibnu Taimiyah.” (Lihat Rahlah Ibnu Bathutah, juz 1 halaman 57, buku cetakan Azhariyah, Kaherah 1928M) 

Ibnu Bathutah meneruskan laporannya: Murid-murid Ibnu Taimiyah marah pada Ibnu Zahra’, lalu mereka memukulnya. Di antara fatwa yang sesat yang dikeluarkan Ibnu Taimiyah lagi adalah bahwa talaq 3 yang dijatuhkan sekaligus hanya dianggap satu, pergi ziarah makam Rasul SAW adalah perjalanan maksiat dan lain-lain lagi, kata Ibnu Bathutah.  Sesudah diadakan persidangan oleh penguasa dan alim ulama, maka diambil keputusan bahwa ajaran Ibnu Taimiyah telah menyeleweng dalam usul fiqh dan usuluddin dan tidak sesuai dengan ajaran nabi serta Sahabat baginda dan bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah.Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah dihukum penjara sekali lagi di Damsyik. Ia ditahan di situ sehingga beliau mati pada 27 Syawal 728H.

AJARAN WAHABI – PENERUS AJARAN SESAT IBNU TAIMIYAH

Ajaran Wahabi diasaskan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Fahamannya dinisbahkan kepada bapanya yaitu Abdul Wahab. Dalam fiqh, mereka berpegang kepada Mazhab Hanbali yang disesuaikan dengan tafsir Ibnu Taimiyah laknatullah. Dalam kitab Munjid ternyatalah bahwa fahaman Wahabi itu adalah penerus faham Ibnu Taimiyah yang sesat lagi menyesatkan , bahkan lebih fanatik dan radikal daripada Ibnu Taimiyah sendiri.Dalam kitab Kasfus Syubahat karangan ulama-ulama Wahabi, cetakan An Nur di Najd, diceritakan sejarah ringkas fahaman Wahabi:

 Muhammad bin Abudul Wahab berasal dari qabilah Bani Tamim yang lahir pada 1115H dan wafat pada tahun 1206H. Dia mendapat pelajaran agama di Mekah dan Madinah. Di antara gurunya di Mekah terdapat nama Syeikh Muhammad Sulaiman Al Kurdi, Syeikh Abdul Wahab (bapanya sendiri) dan abangnya Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab. 

Muhammad bin Abdul Wahab ini ketika mudanya banyak membaca buku karangan Ibnu Taimiyah dan lain-lain yang tersesat. Dia mula menyiarkan fatwa-fatwanya yang ganjil di negerinya sendiri yaitu di ‘Ain yah tetapi penguasa negeri itu yaitu Uthman bin Ahmad bin Ma’mar telah mengusirnya dan berusaha membunuhnya. Kemudian ia berpindah ke Dur’iyah dan penguasanya adalah Muhammad bin Saud yang sanggup menolong Muhammad bin Abdul Wahab untuk menyebarkan fatwa-fatwanya yang sesat. maka bersatulah 2 orang Muhammad yang berlainan kepentingan. 

Muhammad bin Abdul Wahab memerlukan seorang penguasa untuk menolong penyiaran fahamannya yang baru dan Muhammad bin Saud pula memerlukan seorang “ulama” yang dapat mengisi rakyatnya dengan ideologi yang keras demi memperkukuhkan pemerintahan dan kekuasaannya.Muhammad bin Abdul Wahab pernah menghantar delegasi ke Mekah dan menyiarkan fatwanya yang ganjil tetapi Syarif Mekah di waktu itu yaitu Syarif Mas’ud menangkap orang-orang ini bahkan membunuh sebahagiannya tetapi Muhammad bin Abdul Wahab dapat melarikan diri dan memberi laporan kepada Raja Saud. Sejak itu, lahirlah permusuhan di antara kaum Wahabi di Mekah dengan Syarif di Mekah. 

Muhammad bin Abdul wahab memfatwakan bahwa orang di Mekah itu banyak yang kafir karena mereka membolehkan berdoa dengan tawasul di hadapan makam Nabi, menziarahi makam nabi, berdoa sambi menghadap makam nabi, memuji nabi dengan membaca nazam Burdah Amin Tadza, membaca selawat Dalailul Khairat, membaca kisah Maulud Barzanji dan karena mereka enggan menerima fatwanya. Tersebut dalam sejarah, bahwa satu kali terjadi perdebatan antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan abangnya Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab dalam soal kafir mengkafir ini.
Sulaiman bertanya kepada adiknya: “Berapakan rukun Islam?” Muhammad menjawab: ”
Lima” Sulaiman : “Tetapi kamu menjadikannya 6” Muhammad: “Apa?” Sulaiman: “Kamu memfatwakan bahwa siapa yang mengikutmu adalah mukmin dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir.” Muhammad terdiam dan marah.
 

Sesudah itu Muhammad bin Abdul Wahab
cuba menangkap dan membunuh abangnya tetapi Sulaiman dapat lari ke Mekah dan menulis sebuah kitab “As Shawa’iqul Illahiyah firraddi ‘alal Wahabuiyah.” (Petir Allah SWT untuk menolak fahaman Wahabi)
 Tertulis dalam buku itu sejarah perdebatan seorang lelaki dengan Muhammad bin Abdul Wahab.Seorang lelaki bertanya: “Berapa ramai orang yang dibebaskan Allah SWT dalam bulan Ramadhan?”

Muhammad bin Abdul Wahab menjawab: “100,000 orang” Lelaki itu bertanya lagi: “Pada akhir bulan Ramadhan berapa?” Muhammad menjawab: “Pada akhir bulan Ramadhan dibebaskan Allah SWT sebanyak yang telah dibebaskan tiap-tiap malam Ramadhan”. Lelaki itu berkata lagi: “Dari mana diambil orang Islam sebanyak itu pada hal murid-murid kamu tidaksampai sebanyak itu?”
Muhammad bin Abdul Wahab marah dan berusaha menangkap orang itu.
 

Dalam buku ini juga kita dapat melihat fatwa-fatwa Muhammad bin Abdul Wahab yang ganjil dan sesat. Kita akan nyatakan satu persatu fatwa Muhammad bin Abdul Wahab ini yang bertentangan dengan I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam siri akan datang. posted by AHLI SUNNAH at 8:01 AM   

4 thoughts on “Wahabiah

  1. mohon buku-buku yang dijadikan rujukan fatwa-fatwa sesat ibnu taimiyah tersebut disebutkan satu persatu secara jelas, agar para pembaca dapat menelusuri kebenaran pembahasan mengenai ibnu taimiyah ini. terima kasih.

  2. assalamualaikum warahmatullah. Sesungguhnya pernyataan bahwa pengikut pemikiran syaikh abul hasan al-asyári dinyatakan sebagai ahlus sunnah sesuai dengan pemahaman para salafus shalih adalah sama sekali tidak benar. bagi yang berkecimpung dan cukup lama mengkaji ushuluddin maka jelas bahwa penetapan sifat2 allah yang dilakukan oleh beliau banyak sekali tercampur dengan pemikiran mu’tazilah. Kalau ditinjau diantara firqah2 sesat dalam islam maka asyáriah adalah yang paling dekat dengan ahlus sunnah kalo ditinjau dari kadar kekeliruannya (kesesatannya) akan tetapi pemikiran yang dibawa oleh beliau ini bukan termasuk aqidah ahlus sunnah dan beliau bertaubat atas kesalahan beliau sendiri dalam kitab beliau al-ibanah. silahkan merujuk kepada kitab tersebut sehingga jelaslah kebenarannya. wallaua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s