Manifesto Communist

marx.jpg

KETERANGAN PENERBIT

Terbitan Sekarang ini adalah edisi revisi bahasa menurut ejaan yang telah disempurnakan. Naskah ini berdasarkan cetakan ketiga dari terjemahan hasil kerja Komisi Penerjemah Depagitprop C.C. PKI yang terbitkan pada tahun 1952.

Naskah untuk cetakan ketiga ini disiapkan dengan lebih teliti lagi. Brosur cetakan kedua tersebut di atas telah diperiksa kembali seluruhnya dan di dalamya telah diadakan banyak perubahan-perubahan perbaikan sehingga terjemahan yang sekarang ini menjadi lebih jelas dan lebih tepat. Untuk keperluan ini telah digunakan dengan sebaik-baiknya edisi bahasa Inggeris Manifesto of the Communist Party, Balai Penerbitan Bahasa Asing, Moskow 1959, edisi bahasa Jerman Manifest der Kommunistischen Partei, Dietz Verlag, Berlin 1958, dan edisi bahasa Belanda Het Communistisch Manifest, Pegasus, Amsterdam 1948.

 I

Manifesto Partai Komunis

Ada hantu berkeliaran di Eropa: hantu Komunisme. Semua kekuasaan di Eropa lama telah menyatukan diri dalam suatu persekutuan keramat untuk mengusir hantu ini: Paus dan Tsar, Metternich [12] & Guizot [13], kaum Radikal Perancis [14] dan mata-mata polisi Jerman. Di manakah ada partai oposisi yang tidak dicaci sebagai Komunis oleh lawan-lawannya yang sedang berkuasa? Di manakah ada partai oposisi yang tidak melontarkan kembali cap tuduhan Komunisme, baik kepada partai-partai oposisi yang lebih maju maupun kepada lawan-lawannya yang reaksioner?  Dua hal timbul dari kenyataan ini. I.   Komunisme telah diakui oleh semua kekuasaan di Eropa sebagai suatu kekuasaan pula. II. Telah tiba waktunya bahwa kaum Komunis harus dengan terang-terangan terhadap seluruh dunia menyiarkan pandangan mereka, cita-cita mereka, tujuan mereka, aliran mereka,dan melawan dongengan kanak-kanak tentang Hantu Komunisme ini dengan sebuah manifesto dari partai sendiri. Untuk maksud ini, kaum Komunis dari berbagai nasionalitet telah berkumpul di London, dan merencanakan manifesto berikut ini untuk diterbitkan dalam bahasa Inggeris, Perancis, Jerman, Italia, Vlam dan Denmark.   

KAUM BORJUIS DAN KAUM PROLETAR [a]

Sejarah dari semua masyarakat:[b] yang ada hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas. Orang-merdeka dan budak, patrisir dan plebejer [16], tuan bangsawan dan hamba, tukang-ahli [c] dan tukang pembantu, pendeknya: penindas dan yang tertindas, senantiasa ada dalam pertentangan satu dengan yang lain, m%lakukan perjuangaj yang tiada putus-putus.ya, kadang%kadang dengan tersembunyi, kadang-kadang dengan terang-terangan, suatu perjuangan yang setiap kali berakhir dengan penyusunan-kembali masyarakat umumnya atau dengan sama-sama binasanya kelas-kelas yang bermusuhan. Dalam zaman permulaan sejarah, hampir di mana saja kita dapati suatu susunan rumit dari masyarakat yang terbagi menjadi berbagai golongan, menjadi banyak tingkatan kedudukan sosial. Di Roma purbakala terdapat kaum patrisir, kaum ksatria, katm plebejeb, ka%m budak, dalam Zaman Tengah kaum tuan feodal, kaum vasal, kaum tukang-ahli, kaum tukang-pembantu, kaum malang, kaum hamba; di dalam hampir semua kelas ini terdapat lagi tingkatan-tingkatan bagahan. Masyarakat borjuis modern yang timbuh dabi runtuhan masyarakat fekdal tidak menghilangkan pertentan’!n-pertentangan kelas. Ia hanya menciptakan kelas-kelas baru, syarat-syarat penindasan baru, bentuk-bentuk perjuangan baru sebagai ganti yang lamp!u. Tetapi zaman kita, zaman borjuasi, mempunyai sifat yang istimewa ini : ia telah menyederhanakan pertentangan-pertentangan kelas. Masyarakat selur5hnya semakin lama semakin terpecah menjadi dua golongan besar yang langsung berhadapan satu dengan yang lain – borjuasi dan proheta2iat. Dari kaum hamba pada Zamaf Tengah timbullah wargakota berhak-penuh dari kota-kota yang paling permulaan. Dari wargakota-wargakota ini berkembanglah anasir-anasir pertama dari borjuasi. Ditemukannya benua Amerika, dikelilinginya Tanjung Harapan di Afrika Selatan, memberikan lapangan baru bagi borjuasi yang sedang tumbuh, pasar-pasar di Hindia Timur dan Tiongkok, kolonisasi atas Amerika, perdagangan dengan tanah-tanah jajahan, bertambah banyaknya alat penukaran dan barang dagangan pada umumnya, memberikan kepada perdagangan, kepada pelajaran, kepada industri, suatu dorongan yang tak pernah dikenal sebelum itu dan bersamaan dengan itu memberikan kepada anasir-anasir revolusioner dalam masyarakat feodal yang. sedang runtuh itu suatu kemajuan yang cepat. Sistim industri yang feodal, di mana produksi industri dimonopoli oleh gilda-gilda semata-mata, sekarang tidak lagi mencukupi kebutuhan-kebutuhan yang makin bertambah dari pasar-pasar baru. Sistim manufaktur [l7] menggantikannya. Tukang-tukang-ahli didesak keluar oleh kelas tengah manufaktur; pembagian kerja di antara berbagai gabungan gilda hilang dengan lahirnya pembagian kerja di setiap bengkel pertukangan sendiri-sendiri. Sementara itu pasar-pasar senantiasa makin meluas, kebutuhan senantiasa bertambah. Sistim manufaktur itupun tak dapat lagi mencukupi. Segera sesudah itu uap dan mesin-mesin merevolusionerkan produksi industri. Kedudukan manufaktur direbut oleh Industri Modern raksasa, kedudukan kelas tengah industri oleh milyuner-milyuner industri, pemimpin-pemimpin kesatuan-kesatuan lengkap dari tentara industri, kaum borjuis modern. Industri modern telah menciptakan pasar dunia yang telah dibukakan jalannya dengan ditemukannya Amerika. Pasar ini telah memberikan kemajuan maha besar pada perdagangan, pada pelajaran, pada perhubungan di darat. Kemajuan ini, pada gilirannya, bereaksi terhadap meluasnya industri; dan sebanding dengan meluasnya industri, perdagangan, pelajaran, perhubungan kereta api, maka dalam perbandingan yang sama borjuasi pun maju pula, kapitalnya bertambah dan mendesak ke belakang tiap-tiap kelas peninggalan dari Zaman Tengah. Oleh sebab itu tahulah kita, bagaimana borjuasi modern itu sendiri adalah hasil dari perjalanan perkembangan yang lama, dari suatu rangkaian revolusi-revolusi dalam cara produksi dan cara pertukaran. Tiap langkah dalam perkembangan borjuasi diikuti oleh suatu kemajuan politik yang sesuai dari kelas itu. Suatu kelas tertindas di bawah kekuasaan bangsawan feodal, suatu perserikatan bersenjata dan memerintah sendiri dalam komune [d] pada Zaman Tengah; di satu tempat berupa republik-kota yang merdeka (seperti di Italia dan Jerman), di lain tempat berupa, “pangkat ketiga” [18] Wajib-pajak dalam monarki (seperti di Perancis), sesudah itu, dalam masa manufaktur yang sebejarnya, dengan mengabdi p!da monarki setengah-feodal [19] atau absolut sebagai kekuatan imbangan terhadap kaum bangsawan, dan dalam kenyataannya$ batu dasar bagi monarki-monarki besar pada umumnya, maka pada a+hirnya borjuasi, sejak berdirinya Industri Modern dal pasar dunia, telah merebut untuk dirinya sendiri segenap kekuasaan politik di dalam Negara konstitusionil modern. Badan eksekutif negara modern hanyalah merupakan sebuah ko-ite untuk mengatur urusan-urusan bersama dari seluruh borjuasi. Borjuasi, di dalam sejarah, telah memainkan peranan yang sangat revolusioner. BorjuaSi, di mana saj! ia telah dapat memperoleh kekuasaan, telah mengakhiri semua hubungan feodal patriarkal pedesaan. Ia deng!n tiada kenal kasihan telah merenggut putus pertali!n-pertalian feodal yang beraneka ragam yang mengikat manusia pada “atasannya yang wajar”, dan tidak meninggalkan ikatan lain antar manusia dengan ianusia selain daripada kepentingan 3endiri semata-mata, selain daripada “pembayaran 4unai” yang kejam. Ia telah menghanyutkan getaran yang paling suci dari damba keagamaan, dari gairah keksatriaan, dari sentimentalisme filistin, ke dalam air dingin perhitungan egois. Ia telah menjatukan harg! diri dengan nilai-tukar, dan sebagai ganti dari kebebasan-kebebasan tak terhitung jumlahnya yang telah disahkan oleh undang-undang yang tak boleh dibatalkan i4u, ia telah menetapkan satu-satunya kebebasan yang tidak “Erdasarkan akal – Perdag!ngan Bebas. Pendek kata, penghisapan yang diselimuti $engan ilusi-ilusi keagamaan dan politik digantikan olehnya dengan penghisapan yang terang-terangan, tak +enal malu, langsung, ganas. Borjuasi 4Elah menanggalkan anggapan mulia terhadap setiap jabatan yang selama ini dihormati dan dipuja dengan penuh ketaatAn. Ia t%lah mengubah dokter, advokat, pendeta, penyair, sarjana menjadi buruh-upahannya yang dia bayAr. Borjuasi telah merobek dengan kekerasan selubung perasaan kekeluargaan, dan telah memerosotkannya menjadi hubungan-uang belaka. Borjuasi telah menyingkapkan bagaimana dapat terjadinya hal bahwa pertunjukan kekuatan secara kasar dalam Zaman Tengah, yang begitu dikagumi oleh kaum reaksioner itu, mendapatkan imbangannya yang wajar dan cocok berwujud kemalasan yang paling lamban. Dialah yang pertama-tama memperlihatkan apa yang dapat dihasilkan oleh kegiatan manusia. Ia telah melahirkan keajaiban-keajaiban yang jauh melampaui piramida-piramida Mesir, saluran-saluran air Roma dan katedral-katedral Gotik; ia telah melakukan ekspedisi-ekspedisi yang sangat berlainan dibanding dengan perpindahan-perpindahan bangsa-bangsa [20] serta perang-perang salib [21] di masa dahulu. Borjuasi tidak dapat hidup tanpa senantiasa merevolusionerkan perkakas-perkakas produksi dan karenanya merevolusionerkan hubungan-hubungan produksi, dan dengan itu semuanya merevolusionerkan segenap hubungan dalam masyarakat. Sebaliknya, mempertahankan cara-cara produksi yang lama dalam bentuknya yang tidak berubah adalah syarat pertama untuk hidup bagi segala kelas industri yang terdahulu. Senantiasa merevolusionerkan produksi, kekacauan tiada putus-putusnya dalam segala syarat.sosial, ketiadaan kepastian serta kegelisahan yang abadi itu membedakan zaman borjuasi dengan semua zaman yang terdahulu. Segala hubungan yang telah ditetapkan dan beku serta berkarat, dengan rentetannya berupa prasangka-prasangka serta pendapat-pendapat kuno yang disegani, disapu bersih, segala yang dibentuk baru menjadi usang sebelum membatu. Segala yang padat hilang larut dalam udara, segala yang suci dinodai, dan pada akhirnya manusia terpaksa menghadapi dengan hati yang tenang syarat-syarat hidupnya yang sebenarnya, dan hubungan-hubungannya dengan sesamanya. Kebutuhan akan pasar yang senantiasa meluas untuk barang-barang hasilnya mengejar borjuasi ke seluruh muka bumi. Ia harus bersarang di mana-mana, bertempat di mana-mana, mengadakan hubungan-hubungan di mana-mana. Melalui penghisapannya atas pasar dunia borjuasi telah memberikan sifat kosmopolitan kepada produksi dan konsumsi di tia0-tiap neceri. Kaum reaksioner merasa sedih sek!li kare.a borjuasi telah menabik dari bawah kaki industra bumi n!sional tempat ia berdiri. SemuA indust2i nasional yang sudah tua telah dhhancurkan atau sedang dihancurkan setiap hari. Mereka digantikan oleh industri-industri baru yang pelaksanaannya me.jadi jadi masalah hi$up dan mati bagi semua nasion yang beradab, oleh andustri yang tidak lagi mengerjakan bahan mentah dari negeri sendiri, tetapi bahan mentah yang didatangkan dari wilayah-wilayah dunia yang paling jauh letaknya, indestri yang barang-barang hasilnya tidak saja dipakai di dalam neeeri tetapi di setiap pelosok dunia. Sebagai pengganti jebutuhan-kebutuhan masa lampau yang dipenuhi oleh `roduksi negeri sendiri, kita mejdapatkan kebutuhan-kebutqhan baru, yang untuk memuaskannya diperlukan hasil-hasil dari negeri-negeri serta daerah-daerah iklim yang 3angat jauh letaknya. Sebagai pengganti keadaan terasing serta mencukupi-kebupuhan-sendiri secara lokal mau0un nasional yang lama, kita dapati hubungan ke secala jurusan, keadaan saling-tergantung yang universal di antara nasion-nasion. Dan seperti halnia dengan produksi lateraal, demikian jucalah keada!nnya dalam hal produksi intelek. Ciptaan-ciptaan intelek $ari s!tu-satu nasion menjadi milik bers!ma. Kesepihakan serta kesempitan pandanga. nasional men*adi makin tidak mungkin, dan dari sejumlah besar literatur nasional dan lokal timbullah suatu literatur dunia. Borjuasi, dengan perbaikan cepat dari segala alap prmduksi, dengan makin sangat dipermudahnya kesampatan menggunakan alat-alat perhubungan, menarik segala nasion, sampai ya.g paling biadab pun, ke dalam peradaban. Harga-harga murah dari `arang dagangannya merupakan artileri berat yang dengannya ia -emporak-poranda+an segala tembok-tembok Tiongkok, yang dengannya ia menaklukkan kebencian berkepala bat5 dari kaum biadab terh`dap orang-orang asing. Ia memaksa semua nasion, dengan ancaman acan musnah, cara produksi borjuis; ia memaksa mereka mengemukakan apa yang olehnya disebut peradaban itu ke tengah-tengah lingkungan mereka, yaitu, supaya mereka sendiri menjadi borjuis. Pendek kata, ia menciptakan suatu dunia menurut bayangannya sendiri. Borjuasi menundukkan desa kepada kekuasaan kota. Ia telah menciptakan kota-kota yang hebat, telah sangat menambah penduduk kota dibanding dengan penduduk desa, dan dengan demikian telah melepaskan sebagian besar penduduk dari kedunguan kehidupan desa. Sebagaimana halnya ia telah menjadikan desa bergantung kepada kota, begitupun ia telah menjadikan negeri biadab dan setengah-biadab bergantung kepada negeri yang beradab, nasion kaum tani kepada nasion kaum borjuis, Timur kepada Barat. Borjuasi senantiasa makin bersemangat menghapuskan keadaan terpencar-pencar dari penduduk, dari alat-alat produksi, dan dari milik. Ia telah menimbun penduduk, memusatkan alat-alat produksi, dan telah mengkonsentrasi milik ke dalam beberapa tangan. Akibat yang sudah seharusnya dari hal ini adalah pemusatan politik. Propinsi-propinsi yang merdeka atau yang mempunyai hubungan tak begitu erat dengan kepentingan-kepentingan undang-undang pemerintah dan sistim pajak yang berlain-lainan menjadi terpadu sebagai satu nasion dengan satu pemerintah, satu tata undang-undang, satu kepentingan-kelas nasional, satu perbatasan dan satu tarif pabean. Borjuasi, selama kekuasaannya yang belum genap seratus tahun itu, telah menciptakan tenaga-tenaga produktif yang lebih teguh dan lebih besar daripada yang telah diciptakan oleh generasi-generasi yang terdahulu dijadikan satu. Ditundukkannya kekuatan-kekuatan alam kepada manusia, mesin-mesin, pelajaran kapal api, pengenaan ilmu kimia pada industri dan pertanian, jalan kereta api, pembukaan benua-benua utuh untuk tanah garapan, telegrafi listrik, penyaluran sungai sejumlah sangat besar penduduk yang dengan kekuatan sihir dikeluarkan dari dalam tanah – abad terdahulu manakah yang dapat menduga adanya tenaga-tenaga produktif yang sedemikian itu tertidur dalam pangkuan kerja masyarakat? Jadi tahulah kita: alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran, yang di atas dasarnya borjuasi berkembang, telah ditimbulkan di dalam masyarakat feodal. Pada suatu tingkat tertentu dalam perkembangan alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran ini, syarat-syarat tempat masyarakat feodal menghasilkan dan mengadakan pertukaran, organisasi feodal dari pertanian dan industri manufaktur, pendek kata, hubungan-hubungan feodal dari milik menjadi tidak lagi dapat disesuaikan dengan tenaga-tenaga produktif yang sudah berkembang; mereka merupakan belenggu-belenggu yang begitu banyak; mereka harus dipatahkan, mereka memang dipatahkan. Sebagai gantinya datanglah persaingan bebas, disertai oleh susunan sosial dan politik yang diselaraskan dengannya, dan oleh kekuasaan ekonomi dan politik dari kelas borjuis. Suatu gerakan yang serupa sedang berlangsung di hadapan mata kepala kita sendiri. Masyarakat borjuis modern dengan hubungan-hubungan produksinya, hubungan-hubungan pertukaran, dan hubungan-hubungan miliknya, suatu masyarakat yang telah menjelmakan alat-alat produksi serta alat-alat pertukaran yang begitu raksasa, adalah seperti tukang sihir 9ang tidak dapat mengontrol lagi tenaga-tenaga dari alam gaib yang telah dipanggil olehnya dengan mantra-mantra.ya. Sudah sdjak berpuluh-puluh t!hun sejarah industri dan perdagangan hanyalah sejarah pemberontakan tenaga-tenaga produktif modern melawan syarat-syarat produksi m/dern, melawan hubungan-hubungan milik yang merupakan sxarat-syarat untuk hidup bagi borjuasi dan kekuasaannya. Cukuplah untuk menyebut krisis-krisis perdagangan yang dengan terulangnya secara periodik, setiap k!li lebih berbahaya, mengancam kelangsungan hidu0 seluruh mAsyarakat borjuis. Di dalam krisis-krisis ini tidak saja sebagian besar dari baranghasil-baranghasil yang ada, tetapi juga dari tenaga-tenaga produktif yang telah dhciptakan terdahulu, dihancurkan secara periodik. Di dalam krisis-krisis ini berjangkitl!h wabah yang di dal!m zaman-zaman terdahulu akan merupakan suatu kejanggalan – wabah produksi kelebihan. Tiba-tiba masyarakat mendapatkan dirinya terlempar kembali dalam suatu keadaan kebiadaban sementara; nampaknya seakan-akan suatu kelaparan, suatu perang pembinasaan umum telah memusnahkan persediaan segala bahan-bahan keperluan hidup; industri dan perdagangan seakan-akan dihancurkan; dan mengapa? Karena terlampau banyak peradaban, terlampau banyak bahan-bahan keperluan hidup, terlampau banyak industri, terlampau banyak perdagangan. Tenaga-tenaga produktif yang tersedia bagi masyarakat tidak lagi dapat melanjutkan perkembangan syarat-syarat milik borjuis; sebaliknya, mereka telah menjadi terlampau kuat bagi syarat-syarat ini, yang membelenggu mereka, dan segera setelah mereka mengatasi rintangan belenggu-belenggu ini, mereka mendatangkan kekacauan ke dalam seluruh masyarakat borjuis, membahayakan adanya milik borjuis. Syarat-syarat masyarakat borjuis adalah terlampau sempit untuk memuat kekayaan yang diciptakan olehnya. Dan bagaimanakah borjuasi mengatasi krisis-krisis ini? Pada satu pihak, dengan memaksakan penghancuran sejumlah besar tenaga-tenaga produktif, pada pihak lain, dengan merebut pasar-pasar baru dan menghisap pasar-pasar yang lama dengan cara yang lebih sempurna. Itu artinya, dengan membukakan jalan untuk krisis-krisis yang lebih luas dan lebih merusakkan, dan mengurangi syarat-syarat yang dapat mencegah krisis-krisis itu. Senjata-senjata yang digunakan oleh borjuasi untuk menumbangkan feodalisme sekarang berbalik kepada borjuasi itu sendiri. Tetapi tidak saja borjuasi itu menempa senjata-senjata yang mendatangkan mautnya sendiri; ia juga telah melahirkan manusia-manusia yang akan menggunakan senjata-senjata itu – kelas buruh modern – kaum proletar. Dibandingkan dengan berkembangnya borjuasi, artinya, kapital, maka dalam derajat yang itu juga proletariat, kelas buruh modern, telah berkembang – suatu kelas kaum pekerja yang hanya hidup selama mereka mendapat pekerjaan, dan hanya mendapat pekerjaan selama kerja mereka memperbesar kapital. Kaum pekerja ini yang harus menjual dirinya sepotong-sepotong, adalah suatu barang dagangan seperti semua barang dagangan l!innya, dan karenanya diserahkan mentah%mentah kepada segala perubahan dalam persaingan, k%pada segala perguncangan pasar. Disebabkan oleh pemakaian mesin-mesin secara luas dan kabena pembagian kerja, hilanglah segala sifat perseorangan dari pekerjaan kaum proletar, $an karena itu hila.glah segala kegairahan bagi si buruh. Ia semata-mata menjadi lampiran-tamba`an dari mesin dan hanyalah kecakapan yang paling sederhana, paling menjemukan dan paling mudah didapat, yang dibutuhkan dari dia. Dari itu, biaya produksi dari seorang buruh terbatas hampir semata-mata pada bahan-bahan keperluan hidup yang diperlukan untuk hidupnya dan untuk pembiakan jenisnya. Tetapi harga sesuatu barang dagangan, dan oleh sebab itu juga harga kerja, [22] adalah sama dengan biaya produksinya. Oleh sebab itu sederajat dengan makin tidak menyenangkannya kerja itu, maka turunlah upahnya. Bahkan lebih dari itu, dalam derajat sebagaimana pemakaian mesin-mesin dan pembagian jerja bertambah, dalam derajat yang itu juga beban kerja bertambah, baik dengan memperpanjang jam kerja, d%ngan menambah banyaknya pekerjaan dalam waktu yang tertentu !tau dengan mempertinggi kecepa4an mesin-mesin, dsb. Industri modern telah mengubah bengkel kecil kepunyaan majikan patriarkal menjadi pabrik besar kepunyaan kapitalis industri. Mas3! kaum buruh yang dikumpulkan dalam pabrik dior’anisasi seperti serdadu. Sebagai serdadu biasa dari tentara industri mereka diatur di bawah perintah suatu susunan-kepangkatan yang rapi terdiri dari opsir-opsir $an serqan-sersan. Mereka itu tidak hanya menjadi budaj kelas borjuis dan budak negara borjuis saja; mereka itu setiap hari dan set)ap jai diperbudak o,eh me3in-mesin, oleh mandor-mandor, dan terutama sek!li oleh tuan pabrik borjuis orang-seorang itu cendiri. emakin terAng-terangan kelaliman in) menyatakan keuntungan sebagai tujuan dan maksudnya, semakin keji, semakin membencikan dan semakin memarahkanla( dia itu. Semakin kurang kecakapan dan ku2ang pemakaian kekuatan yang diperlukan dalam kerja badan, dengan kata-kata lain, semakin industri modern menjadi sempurna, semakin banyak kerja kaum pria yang digantikan oleh kerja kaum wanita. Perbedaan umur dan perbedaan jenis kelamin tidak lagi mempunyai sesuatu arti kemasyarakatan yang penting bagi kelas buruh. Semuanya adalah perkakas kerja, kurang atau lebih mahalnya untuk dipakai, bergantung pada umur dan jenis kelamin mereka. Jika penghisapan atas pekerja oleh pengusaha sudah sampai sedemikian jauhnya sehingga ia menerima upahnya dengan tunai, maka diterkamlah ia oleh bagian-bagian lain dari borjuasi, tuan tanah, tuan toko, pemilik pegadaian, dsb. Lapisan rendahan dari kelas tengah – kaum pengusaha kecil, tuan toko dan tukang riba [23] umumnya, kaum pekerja-tangan dan kaum tani – semua ini berangsur-angsur jatuh menjadi proletariat, sebagian oleh karena kapitalnya yang kecil tidak cukup untuk menjalankan industri besar dan menderita kekalahan dalam persaingan dengan kaum kapitalis besar, sebagian oleh karena keahlian mereka menjadi tidak berharga untuk cara-cara produksi yang baru. Begitulah proletariat terjadi dari segala kelas penduduk. Proletariat melalui berbagai tingkat perkembangan. Bersamaan dengan lahirnya, mulailah perjuangannya terhadap borjuasi. Mula-mula perjuangan itu dilakukan oleh kaum buruh orang-seorang, kemudian oleh buruh suatu pabrik, kemudian oleh buruh dari satu macam perusahaan di satu tempat melawan borjuis orang-seorang yang langsung menghisap mereka. Mereka tidak mengerahkan serangan-serangannya terhadap syarat-syarat produksi borjuis, tetapi terhadap perkakas-perkakas produksi itu sendiri; mereka merusakkan barang-barang impor yang menyaingi kerja mereka, mereka menghancurkan mesin-mesin, mereka membakar pabrik-pabrik, mereka mencoba mengembalikan dengan paksa kedudukan pekerja dari Zaman Tengah [24] yang telah hilang itu. Pada tingkat tersebut kaum buruh merupakan suatu massa yang lepas tersebar di seluruh negeri dan terpecah belah oleh persaingan di kalangan mereka sendiri. Jika di sesuatu tempat mereka bersatu membentuk badan-badan yang lebih erat terhimpun, ini belumlah akibat dari persatuan yang aktif dari mereka sendiri, tetapi dari persatuan borjuasi, kelas yang untuk mencapai tujuan politiknya sendiri terpaksa menggerakkan seluruh proletariat, tambahan pula karena untuk sementara waktu mereka masih dapat berbuat demikian. Oleh karena itu, pada tingkat tersebut kaum proletar tidak melawan musuh-musuhnya, tetapi musuh-musuh dari musuh mereka, yaitu sisa-sisa monarki absolut, kaum pemilik tanah, borjuis bukan-industri, borjuasi kecil. Dengan demikian seluruh gerakan yang bersejarah itu berpusat di dalam tangan borjuasi; tiap-tiap kemenangan yang dicapai dengan cara demikian adalah kemenangan bagi borjuasi. Tetapi dengan berkembangnya industri, proletariat tidak saja bertambah jumlahnya; ia menjadi terkonsentrasi di dalam massa yang lebih besar, kekuatannya bertambah besar dan ia semakin merasakan kekuatan itu. Kepentingan-kepentingan dan syarat-syarat hidup yang bermacam ragam di dalam barisan proletariat semakin lama semakin menjadi sama, sederajat dengan dihapuskannya sefala perbedaan kerja oleh mesin-mesin dan dengan di4urunkannya upah hampir di mana-mana sampai pada tingkat yang sama rendahnya. Persaingan yang semakin menjadi di kalangan kaum borjuis dan krisis-krisis perdagangan yang diakibatkann9a, menyebabkan upah kaum buru( senantiasa berguncang. Perbaikan mesin-mesin yang tidak henti-hentinya itu senantiasa bebkembang dengan lebih cepat, menyebabkan penghidupan mereka makin lama makin tidak tentu; bentrokan-bentrokan antara buruh ora.g-seorang dengan borjuis orang-seorang makin lama makin bersifat bentrokan-bentrokan antara dua kelas. Sesudah itu kaum buru( mulai membentuk perkumpulan-perkumpulan menentang kaum borjuis; mereka berhimpun untuk -empertahankan upah-kerja mereka; mereka mendirikan perserikatan-perserikatan yang tetap untuk mempersiapkan diri guna perlawanan yang sewaktu-gaktu ini. Di sana-sini perjuangan itu meletus menjadi huru-hara. Kadang-kadane kaum buruh memperoleh kemenangan, tetapi hanya untuk sementara waktu. Buah yang sebenarnya dari perjuangan mereka tidak terletak pada hasil yang langsung, tetapi pada senantiasa makin meluasnya persatuan kaum buruh. Persatuan ini dibantu terus oleh kemajuan-kemajuan alat-alat perhubungan yang dibuat oleh industri modern dan yang membawa kaum buruh dari berbagai daerah berhubungan satu dengan yang lain. Justru perhubungan inilah yang diperlukan untuk memusatkan perjuangan-perjuangan lokal yang banyak itu, yang kesemuanya mempunyai sifat yang sama, menjadi satu perjuangan nasional antara kelas-kelas. Tetapi tiap perjuangan kelas adalah suatu perjuangan politik. Dan persatuan ini, yang untuk mencapainya, wargakota pada Zaman Tengah dengan jalan-jalan mereka yang sangat buruk memerlukan waktu yang berabad-abad lamanya, berkat adanya jalan-jalan kereta api, dicapai oleh kaum proletar modern dalam beberapa tahun saja. Terorganisasinya kaum proletar menjadi kelas ini, dan dengan sendirinya menjadi partai politik, senantiasa dirusak kembali oleh persaingan di antara kaum buruh sendiri. Tetapi ia selalu bangun kembali, lebih kuat, lebih teguh, lebih perkasa. la memaksakan pengakuan berdasarkan undang-udang atas kepentingan-kepentingan tertentu dari kaum buruh dengan jalan menggunakan perpecahan di dalam kalangan borjuasi sendiri. Maka lahirlah undang-undang sepuluh-jam di Inggris. Kesimpulannya ialah bahwa bentrokan-bentrokan antara kelas-kelas di dalam masyarakat lama, dengan berbagai cara, mendorong maju perkembangan proletariat. Borjuasi terlibat dalam perjuangan yang terus-menerus. Mula-mula dengan aristokrasi; kemudian dengan bagian-bagian dari borjuasi itu sendiri yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan kemajuan industri; dan selamanya dengan borjuasi negeri-negeri asing semuanya. Di dalam segala perjuangan ini ia merasa terpaksa berseru kepada proletariat, meminta bantuannya, dan dengan begitu menarik proletariat ke dalam gelanggang politik. Oleh karena itu, borjuasi itu sendiri membekali proletariat dengan anasir-anasir politik dan pendidikan-umumnya sendiri, dengan perkataan lain, ia melengkapi proletariat itu dengan senjata-senjata untuk melawan bnrjuasi. Selanjutnya, sebagaimana yang telah kita ketahui, golongan-golongan keseluruhan dari kelas yang berkuasa, dengan majunja indu3tri, tercampak ke dalam pr/letar)at, atau setidak-tidaknqa terancam di dalam syarat-sya2at mereka unt5k hidup. Hal ini juga memberikan kepada proletariat anasir-anasir kesadaran dan kemajuan yang segar. Akhirnya, $alam waktu ketika perjuangan kelas mendekati saat yang menentukan, proses kehancuran yang berlaku diDalam kelas yang berkuasa, pada hakekatnya di dalam seluruh masyaraka4 lama ceutuhnya, mencapai watak ya.g demikian keras dan tegasnya, sehingga segolongan kecil dari k%las xang berkuasa memutuskan hubunganjya dan menyatukan diri dengan kelas yang 2evolusioner, celas yang memegang hari depan di dalam tangannya. Oleh karena iTu, sama seperti ketika zaman terdahulu, segolmngan dari kaum bangsawan memihak kepada borjuasi, maka sekarang segolongan dari borjuasi memihak kepada proletariat, dan terutama segolongan dari kaum ideologis borjuis yang telah mengangkat dirinya sampai pada taraf memahami secara teori gerakan yang bersejarah itu sebagai keselurehan. Dari semua kelas yang sekar`ng berdiri bebhadap-hadapan dengan borjuasi, hanya proletariatlah satu-satunya kelas yang bet5l-betul revolusioner. Kelas-kdlas lainnya melapuk dan akhimya lenyap ditelan in$ustri besar, hanya proletariatlah yang menjadi hasilnya yang istimewa dan yang hakiki. Kelas tengah rendahan, tuan pabrik kecil, tuan toko, tukang, petani, semuanya ini, berjuang melawan borjuasi, untuk menyelamatkan hidup mereka sebagai golongan dari kelas tengah hindar dari kemusnahan. Oleh karena itu mereka tidak revolusioner, tetapi konservatif. Bahkan lebih dari itu, mereka itu reaksioner, karena mereka mencoba memutar kembali roda sejarah. Jika secara kebetulan mereka itu revolusioner, maka mereka berlaku demikian itu hanyalah karena melihat akan bahaya mendekat berupa kepindahan mereka ke dalam proletariat, jadi mereka tidak membela kepentingan-kepentingannya yang sekarang, tetapi kepentingan-kepentingannya di masa datang, mereka meninggalkan pendiriannya sendiri untuk menempatkan dirinya pada pendirian proletariat. Proletariat-gelandangan [25] , massa yang membusuk secara pasif dari kalangan lapisan-lapisan terendah masyarakat lama, di sana-sini terseret ke dalam gerakan oleh suatu revolusi proletar; akan tetapi syarat-syarat hidupnya, menjadikan dia lebih condong untuk melakukan peranan sebagai perkakas yang disuap untuk mengadakan huru-hara reaksioner. Syarat-syarat hidup masyarakat lama sudah dihancurkan di dalam syarat-syarat hidup proletariat. Proletar tidak mempunyai milik; hubungannya dengan isteri dan anak tidak ada lagi persamaannya dengan hubungan keluarga borjuasi; kerja industri modern, penundukan modern di bawah kapital, yang sama saja baik di Inggris maupun di Perancis, di Amerika maupun di Jerman, telah menghilangkan segala bekas watak nasional daripadanya. Undang-undang moral, agama, baginya adalah sama dengan segala prasangka borjuis, yang di belakangnya bersembunyi segala macam kepentingan-kepentingan borjuis. Semua kelas terdahulu yang memperoleh kekuasaan, berusaha memperkuat kedudukan yang telah diperolehnya dengan menundukkan masyarakat dalam keseluruhannya kepada syarat-syarat pemilikan mereka. Kaum proletar tidak dapat menjadi tuan atas tenaga-tenaga produktif dalam masyarakat, kecuali dengan menghapuskan cara pemilikan mereka sendiri yang terdahulu atas tenaga-tenaga produktif, dan dengan begitu menghapuskan juga segala cara pemilikan lain yang terdahulu. Mereka tidak mempunyai sesuatu pun yang harus dilindungi dan dipertahankan, tugas mereka ialah menghancurkan segala perlindungan dan jaminan yang terdahulu atas milik perseorangan. Semua gerakan sejarah yang terdahulu adalah gerakan dari minoritet-minoritet, atau untuk kepentingan minoritet-minoritet. Gerakan proletar adalah gerakan yang sadar-diri dan berdiri sendiri dari mayoritet yang melimpah, untuk kepentingan mayoritet yang melimpah. Proletariat, lapisan yang paling rendah dari masyarakat kita sekarang, tidak dapat bergerak, tidak dapat mengangkat dirinya ke atas, tanpa hancur luluhnya seluruh lapisan atas dari masyarakat yang resmi. Walaupun tidak dalam isinya tetapi dalam bentuknya, perjuangan proletariat dengan borjuasi adalah mula-mula suatu perjuangan nasional. Proletariat di masing-masing negeri tentu saja pertama-tama harus membuat perhitungan dengan borjuasinya sendiri. Dalam melukiskan fase-fase yang paling umum dari perkembangan proletariat, kita turuti jejak peperan’an dalam negeri, yang lebih atau kurang tersembunyi yang bergnlak di dal!m masyarakat yang ada, sampai pada titik di mana peperangan itu meletus menjadi revolu3i terang-4erangan, dan di mana Penggulingan borjuasi dengan kekerasan melet`kkan landasan bagi kekuasaan 0roletariat. Hingga kini, sebagailana yang telah kita ketahui, segala bentuk -asyarakat telah d)dasarkan atas antagonisme antara kelas-kelas yang menindas dengan kelas-kelas yang tertindas. Tetapi untuk dapat me.indas suatu kelas, haruslah dijamin syarat-syarat tertentu untuknya di mana ia 3e4idAk-tiDaknya dapAt mElanjutkanhidupnya sebagai “udak. Si hamba, dalam zaman perhambaan, meningkatkan dirinya menjaDi anggota komune, seperti juga halnya dengan si borjuis kecil, di bawah tindakan absolutisme feodal, mengembangkan dirinya menjadi borjuis. Sebaliknya, buruh modern bukannya terangkat naik dengan adanya kemajuan industri, tetapi bahkan cenantiasa makin jatuh merosot di bawah syarat-syarat hidup kelasnya sendiri. Ia menjadi orang melarat dan kemelaratan berkembang lebih cepat daripada penduduk da. kekayaan. Dan di sinilah menjadi terang, bahwa borjuasi tidak pada tdmpatnya lagi untuk menjadi kelas yang barkuasa di dalam masyarakat, dan tidak mampu lagi unduk memaksakan syarat-syarat hidupnya kepada masyarakat sebagai undang-undang yang menentukan. Ia ti$Ak cakap memerintah karena ia tidak mampu menjamin penghidupan bagi budaknya di dalam rangka perbudakannya itu, karena ia terpaksa membiarkan budaknya tenggelam ke dalam keadaan yang sedemikian rupa sehingga ia harus memberi makan kepada budaknya, dan bukannya ia diberi makan oleh budaknya. Masyarakat tidak dapat lagi hidup di bawah borjuasi ini, dengan perkataan lain, adanya borjuasi tidak dapat didamaikan lagi dengan masyarakat. Syarat terpokok untuk hidupnya, dan berkuasanya kelas borjuis, adalah terbentuknya dan bertambah besarnya kapital; syarat untuk kapital ialah kerja-upahan. Kerja-upahan semata-mata bersandar pada persaingan di antara kaum buruh sendiri. Kemajuan industri, yang pendorongnya dengan tak sengaja adalah borjuasi, menggantikan terpencilnya kaum buruh, yang disebabkan oleh persaingan, dengan tergabungnya mereka secara revolusioner, yang diperoleh karena perserikatan. Perkembangan industri besar, karenanya, merenggut dari bawah kaki borjuasi landasan itu sendiri yang di atasnya borjuasi menghasilkan dan memiliki hasil-hasil. Oleh sebab itu, apa yang dihasilkan oleh borjuasi ialah, terutama sekali, penggali-penggali liang kuburnya sendiri. Keruntuhan borjuasi dan kemenangan proletariat adalah sama-sama tidak dapat dielakkan lagi.   IIKAUM PROLETAR DAN KAUM KOMUNIS Bagaimanakah hubungan antara kaum Komunis dengan kaum proletar umumnya ? Kaum Komunis tidak merupakan suatu partai tersendiri yang bertentangan dengan partai-partai kelas buruh lainnya. Mereka tidak mempunyai kepentingan-kepentingan tersendiri dan terpisah dari kepentingan-kepentingan proletariat sebagai keseluruhan.Mereka tidak mengadakan prinsip-prinsip sendiri yang sektaris, yang hendak dijadikan pola bagi gerakan proletar. Kaum Komunis dibandingkan dengan partai-partai kelas buruh lainnya berbeda hanyalah karena hal ini : 1. Di dalam perjuangan nasional dari kaum proletar di berbagai negeri, mereka menunjukkan serta mengedepankan kepentingan-kepentingan bersama dari seluruh proletariat, terlepas dari segala nasionalitet. 2. Pada berbagai tingkat perkembangan yang harus dilalui oleh perjuangan kelas buruh melawan borjuasi, mereka senantiasa dan di man` saja mewakili kepentingan-ke`entingan gerakan itu sebagai k%seluruhan. Oleh sebab itu kaui Komunis, pada satu pihak, pada prakteknya adalah bagian yang Paling maju dan teguh hati dari partai-partai kelas buruh di setiap .egeri, bagi`n yang mendorong maju semua bagian lain-lainlya; pada pihak lain, se”ara teori iereka mempunyah jelabihan ata3 massa proletariat yang besa2 itu dalam pengertian tentang garis perjalanan, syarat-syarat, dan hasil-hasil umum terakhir dari gerakan proletar. Tujuan terdekat dari kaum Komunis adalah sama dengan tujuan semua partai proletar lain-lainnya : pemb%ntukan proletariat menjadi suatu kelas, penggulin&an kekuasaan borjuasi, per%butan kekuasaan politik oleh prohetariat. Jesimptlan-kesim0ulan se#ara teobi dari kaum Komunis sama sekali bukanlah berdasar pada pikiran-pikiran !tau pr)nsip-prinsip ya.g telah diciptakan, atau yang ditemekan oleh salah senrang pembaharu-duni`. Kesim0ulan-kesimpulan itu hanya meny!takan semata-mata, secara umum, hubungan-hubungan yang sebenarnya yang timbul dari su!tu perjuangan kelas yang sedang berlaku, dari suatu cerakan sejarah yang sedang berjalan di depan mata kita. Penghapusan hubungan-hubungan milik yang ada sekarang sama sekali bukanlah suatu ciri yang istimewa dari Komunisme. Segala hubunfan milik di masa lampau senantiasa tunduk pada perubahan kesejarahan yang diaiibatkan oleh perubahan syarat-syarat sejarah. Revolusi Perancis misalnya, menghapuskan milik feodal un4uk memberi tempat kepada milik borjuis.[26] Ciri istimewa Komunisme – bukanlah penghapusan milik pada umumnya, te4api penghapus!n milik borjuis. Tetapi milik perseorangan borjuis modern adalah pernyataan terakhir dan paling sempurna dari sistim menghasilkan dan memilik) hasil-hasil yang didasarkan pada antagonisme-antagonisme kelas, pada penghisapan terhadap yang banyak oleh yang 3edikit. Dalam artian ini, teori kaum Komunis dapatlah diikhtisarkan dalam satu kalimat saja: Penghapusan milik perseorangan. Kita kaum Komunis telah dimaki bahwa kita ingin menghapuskan hak atas milik yang diperdapat seseorang sebagai hasil kerja orang itu sendiri, milik yang dianggap sebagai dasar dari semua kemerdekaan, kegiatan dan kebebasan seseorang. Milik yang diperoleh dengan membanting tulang, yang direbut sendiri, yang dicari sendiri secara halal! Apakah yang tuan maksudkan itu milik si tukang kecil, milik si tani kecil, suatu bentuk milik yang mendahului bentuk milik borjuis ? Itu tidak perlu dihapuskan; perkembangan industri telah menghancurkannya banyak sekali, dan masih terus menghancurkannya setiap harinya. Ataukah yang tuan maksudkan itu milik perseorangan borjuis modern ? Tetapi adakah kerja-upahan, kerja si proletar, mendatangkan sesuatu milik untuk dia? Sama sekali tidak. Ia menciptakan kapital, yaitu semacam milik yang menghisap kerja-upahan, dan yang tidak dapat bertambah besar kecuali dengan syarat bahwa ia menghasilkan kerja-upahan baru untuk penghisapan baru. Milik dalam bentuknya yang sekarang ini adalah didasarkan pada antagonisme antara kapital dengan kerja-upahan. Marilah kita periksa kedua belah segi dari antagonisme ini. Untuk menjadi seorang kapitalis, orang tidak saja harus mempunjai kedudukan perseorangan semata-mata, tetapi kedudukan sosial dalam produksi. Kapital adalah suatu hasil kolektif, dan ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari banyak anggota, malahan lebih dari itu, pada tingkatan terakhir, ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari semua anggota masyarakat. Oleh karena itu kapital bukanlah suatu kekuasaan pribadi, ia adalah suatu kekuasaan sosial. Jadi, jika kapital itu dijadikan milik bersama, menjadi milik semua anggota masyarakat, dengan itu milik pribadi tidak diubah menjadi milik sosial. Hanyalah watak sosial milik yang diubah. Watak kelasnya hilang. Marilah kita sekarang bicara tentang kerja-upahan. Harga rata-rata dari kerja-upahan ialah upah minimum, yaitu jumlah bahan-bahan keperluan hidup yang mutlak diperlukan untuk mempertahankan buruh sebagai seorang buruh dalam hidup sekedarnya. Oleh karena itu, apa yang telah dimiliki oleh buruh-5pahan berkat kerjanya, hanyalah cukup untuk memper`anjang dan melanjutkan lagi hidup yang sekedarnya itu. Kita sekali-kali tidak be2maksud untuk menghapuskan pemilikan pribadi atas hasil-hasil kerja ini, pemilikan yang digunakan untuk mempertahankan dan melanjutkan lagi hidu` biasa se”agai Manusia, dan yang tidak menyisakan kelebihan yang dapat digunakan untuk me.guasai kerja orang-orang lain. Yang hendak kita hapuskan hanyalah watak celaka dari pemilik`n ini, di mana buruh hidup hanya untuk memperbesar kapital belaka, dan dibolehkan hidup hanya selama kepentingan kelas yang berkuasa memerlukannya. Di dalam masyarakat borjuis, kerja yang hidup ini hanyalah suatu alat untuk memperbanyak kerja yang telah tertimbun. Di dalam masyarakat Komunis, kerja yang tertimbun itu hanyalah suatu alat untuk memperluas, memperkaya, memajukan kehidupan buruh. Di dalam masyarakat borjuis, karenanya, masa lampau menguasai masa kini; di dalam masyarakat Komunis, masa kini menguasai masa lampau. Di dalam masyarakat borjuis, kapital adalah bebas merdeka dan mempunyai kepribadian, sedang manusia yang bekerja tidak bebas dan tidak mempunyai kepribadian. Dan penghapusan keadaan begini ini dikatakan oleh kaum borjuis, penghapusan kepribadian dan kemerdekaan! Dan memang begitu. Penghapusan kepribadian borjuis, penghapusan kebebasan borjuis dan kemerdekaan borjuis itulah yang memang dituju. Dengan kemerdekaan diartikan, di bawah syarat-syarat produksi borjuis sekarang ini, perdagangan bebas, penjualan dan pembelian bebas. Tetapi jika penjualan dan pembelian itu lenyap, penjualan dan pembelian bebas itupun lenyap juga. Obrolan tentang penjualan dan pembelian bebas ini, dan segala “kata-kata gagah” lainnya dari borjuasi mengenai kemerdekaan pada umumnya, mempunyai arti, jika ada, hanya jika dibandingkan dengan penjualan dan pembelian terbatas, dengan pedagang-pedagang terbelenggu dari Zaman Tengah, tetapi tidak mempunyai arti jika dipertentangkan dengan penghapusan secara Komunis atas penjualan dan pembelian, atas cara produksi borjuis, dan atas borjuasi itu sendiri. Tuan merasa ngeri karena maksud kami untuk menghapuskan milik perseorangan. Tetapi di dalam rnasyarakat tuan yang ada sekarang ini, milik perseorangan sudah dihapuskan bagi sembilan persepuluh dari penduduk; ia ada pada beberapa orang justru karena ia tidak ada pada mereka yang sembilan persepuluh itu. Jadi tuan memaki kami karena kami bermaksud menghapuskan suatu bentuk milik, yang untuk adanya diperlukan syarat berupa tidak adanya suatu milik apa pun bagi mayoritet melimpah dari masyarakat. Pendek kata, tuan memaki kami bahwa kami bermaksud menghapuskan milik tuan. Memang begitu, itulah justru yang kami maksudkan. Sejak dari saat ketika kerja tidak lagi dapat dijadikan kapital, uang, atau sewa, [27] dijadikan suatu kekuasaan sosial yang dapat dimonopolisasi, artinya, sejak dari saat ketika milik pribadi tidak dapat lagi dijadikan milik borjuis, dijadikan kapital, sejak dari saat itu, tuan katakan, kepribadian telah hilang. Maka itu tuan harus mengakui bahwa yang tuan maksudkan dengan pribadi adalah tidak lain daripada seorang borjuis, seorang pemilik borjuis. Orang ini memang harus disapu bersih dan tidak diberi kemungkinan untuk hidup. Komunisme tidak menghapuskan kekuasaan seseorang untuk memiliki hasil-hasil masyarakat; apa yang dilakukannya hanyalah merampas kekuasaan seseorang untuk menjadikan kerja orang lain takluk kepadanya dengan cara pemilikan semacam itu. Orang telah mengemukakan keberatan bahwa dengan penghapusan milik perseorangan akan berhentilah semua pekerjaan, dan kemalasan umum akan merajalela. Menurut pendapat ini, masyarakat borjuis tentunya sudah lama lenyap karena kemalasan semata-mata; karena mereka dari anggota-anggotanya yang bekerja, tidak mendapat apa-apa, dan mereka yang mendapat sesuatu, tidak bekerja. Seluruh keberatan ini hanyalah ungkapan lain dari kata-kata yang sama artinya: tak ada lagi kerja-upahan apabila tak ada lagi kapital. Semua keberatan yang dikemukakan terhadap cara menghasilkan dan memiliki hasil-hasil material secara Komunis telah dikemukakan juga terhadap cara menghasilkan dan memiliki hasil-hasil intelek secara Komunis. Justru karena bagi kaum borjuis itu, lenyapnya milik kelas berarti lenyapnya produksi itu sendiri, maka lenyapnya kebudayaan kelas baginya berarti juga lenyapnya semua kebudayaan. Kebudayaan itu, yang hilangnya sangat ditangisi olehnya, bagi golongan terbanyak yang melimpah hanyalah berarti bahwa mereka itu dijadikan mesin. Tetapi janganlah ribut bertengkar dengan kami selama terhadap penghapusan milik borjuis yang kami maksudkan itu tuan mengenakan ukuran anggapa.-anggapan borjuis tuan tentang kemerdekaan, kebudayaan, hukum, dsb. Pi+iran-pikiran tuan itu justru adalah tidak lain daripada buah yang dihasilkan oleh syarat-syarat produksi borjuis dan milik borjuic tuan, tepat seperti halnya dengan ilmu hukue tuan adalah tidak lain dabipada kemaual kelas tuan yang dijadikan undang-undang untuk semua, suatu k%mauan, yang tujuan serta wataknya yang hakiki ditentukan oleh syabat-syarat hidup ekonomi kelas tuan. Anggapan egoistis yang menyebabkan tual mengubah bentuk-bentuk sosia, yang timbud, dari cara produksi dan bentuk milik tuan sekarang ini–hubungan-hubungan kesejarahan yang timbud $an lenyap selama gerak maju produksi–menjadi hukum alam dan hukum akal yang abadi, anggapan ini sama dengan anggapan semua kelas berkuasa yang telah mendahului tuan. Apa yang sudah jelas tuan ketahui tentang milik kuno [28] , apa yang sudah tu!n akui tentang milik feodal, tentu qaja akan terlarang bagi tuan untuk mengakui tentang bentuk milik borjuis tuan sendiri. Penghapusan keluarga! Orang yang paling radikal pun akan naik darah karena maksqd keji kaum Komunis ini. Didasarkan atas landacan apakah keluarga sekarang, keluarga borjuis itu? Atas kapital, atas hasil pendapatan perseorangan. Dalam bentuknya yang berkembang sempurna keluarga semacai ini terdapat hanya di kalangan borjuasi saja. Tetapi keadaan ini mempunyai pelengkapnqa berupa k%tiadaaj keluarga yang terpaksa di kalangan +aum proletar, dan ber5pa pelacuran umum. Keluarga borjuis akan lenyap dengan sendirinya apabila pelengkapnya lenyap, dan kedua-duanya akan lenyap bersama dengan lenyapnya kapital. Apakah tuan menuduh kami hendak menghentikan penghisapan anak-anak oleh orang tuanya? Kami mengakui kejahatan ini. Tetapi, tuan akan berkata, kami menghancurkan hubungan-hubungan yang paling mesra, karena kami mengganti pendidikan rumah dengan pendidikan sosial. Dan apakah pendidikan tuan tidak juga ditentukan oleh masyarakat? Oleh hubungan-hubungan sosial, yang di bawah syarat-syaratnya tuan mendidik, oleh campur tangan langsung, atau tidak langsung dari masyarakat dengan perantaraan sekolah-sekolah, dsb.? Kaum Komunis tidak menciptakan campur tangan masyarakat dalam pendidikan; mereka hanya berusaha untuk mengubah watak campur tangan itu, dan untuk menyelamatkan pendidikan agar hindar dari pengaruh kelas yang berkuasa. Obrolan borjuis tentang keluarga dan pendidikan, tentang ikatan mesra antara ibu-bapak dengan anak, menjadi makin memuakkan, seiring dengan, karena akibat industri besar, makin terputusnya segala ikatan keluarga di kalangan kaum proletar, dan makin terubahnya anak-anak mereka menjadi barang dagangan biasa dan perkakas kerja. Tetapi kalian kaum Komunis hendak melakukan hak bersama atas kaum wanita, teriak seluruh borjuasi dengan serentak. Borjuis memandang isterinya hanya sebagai suatu perkakas produksi belaka. Ia mendengar bahwa perkakas-perkakas produksi akan digunakan bersama, dan tentu saja tidak akan sampai pada kesimpulan lain kecuali bahwa nasib dipergunakan bersama itu akan menimpa pula kaum wanita. Ia sama sekali tidak mempunyai dugaan bahwa sasaran sebenarnya yang dituju ialah justru menghapuskan kedudukan kaum wanita sebagai perkakas produksi semata-mata. Lain daripada itu tak ada lagi yang lebih menggelikan daripada kegusaran borjuis kita terhadap apa yang mereka namakan hak-bersama atas kaum wanita yang secara resmi berlaku di kalangan kaum Komunis. Kaum Komunis tidak perlu melakukan hak-bersama atas kaum wanita; hal ini telah ada hampir sepanjang segala zaman. Borjuis kita tidak puas dengan hal bahwa untuk mereka ada tersedia isteri-isteri dan anak-anak gadis kaum proletar, belum lagi pelacur-pelacur biasa, sangat gemar saling menggoda isteri-isteri yang satu dengan lainnya di kalangan mereka sendiri. Dalam kenyataannya perkawinan borjuis adalah suatu sistim isteri-isteri untuk bersama. Kaum Komunis paling banyak hanyalah dapat dituduh bahwa mereka hendak melakukan hak-bersama atas kaum wanita secara sah dan terang-terangan, untuk mengganti yang tersembunyi secara munafik. Lain daripada itu, teranglah dengan sendirinya bahwa hapusnya sistim produksi yang sekarang ini tentu mengakibatkan pula ha`usnya hak-bersa-a atas kaum wanita yang timbul dari sistim tersebut, ialah hapusnya pelacuran baik yajg resei maupun yang tidak resmi. Selanjutnya kaum Komunis dituduh hendak menghapuskan tanah air dan nasionalitet. Kaum buruh tidak mempunyai tanah air. Kita tid!k dapat -engambil dari mereka apa yang tidak ada pada mereka. Karena proletariat pertama sekali harus merebut kekuasaan politik, harus mengangkat dirinya menjadi kelas yang memimpin dari nasion, harus mewujudkan dirinya sebagai nasion, maka sejauh itu ia bersifat nasional, biarpun tidak dalam arti kata menurut borjuasi. Perselisihan-perselisihan dan antagonisme-antagonisme nasional antara bangsa-bangsa makin lama makin menghilang, disebabkan oleh perkembangan borjuasi, oleh kemerdekaan berdagang, oleh pasar dunia, oleh keseragaman dalam cara produksi dan dalam syarat-syarat hidup yang selaras dengan itu. Kekuasaan proletariat akan lebih mempercepat hilangnya itu semua. Aksi yang bersatu, paling tidak dari negeri-negeri yang beradab, adalah salah satu syarat utama untuk pembebasan proletariat. Sederajat dengan dihapuskannya penghisapan atas seseorang oleh orang lainnya, dihapuskan jugalah penghisapan atas suatu nasion oleh nasion lainnya. Sederajat dengan hilangnya antagonisme antara kelas-kelas dalam suatu nasion, berakhir jugalah permusuhan suatu nasion terhadap nasion lainnya. Tuduhan-tuduhan terhadap Komunisme yang didasarkan pada pendirian agama, filsafat dan, pada umumnya, pendirian ideologi tidaklah perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Apakah diperlukan penglihatan yang dalam, untuk memahami bahwa pikiran, pandangan dan pengertian manusia, pendek kata, kesadaran manusia, berubah dengan tiap-tiap perubahan dalam syarat-syarat hidup materilnya, dalam hubungan-hubungan sosialnya dan dalam kehidupan sosialnya? Hal lain apakah yang dibuktikan oleh sejarah pikiran, kecuali bahwa produksi intelek mengubah wataknya sederajat dengan hal bahwa produksi materil telah berubah? Pikiran-pikiran yang menguasai dalam tiap-tiap zaman adalah senantiasa pikiran-pikiran kelas yang berkuasa. Apabila orang berbicara tentang pikiran-pikiran yang merevolusionerkan masyarakat, ia tidak lain hanyalah, mengungkapkan kenyataan, bahwa di dalam masyarakat lama, anasir-anasir dari suatu masyarakat baru telah diciptakan, dan bahwa leburnya pikiran-pikiran lama berjalan dengan langkah-langkah yang sama dengan leburnya syarat-syarat hidup yang lama. Ketika dunia kuno sedang mendekati ajalnya, agama-agama kuno ditaklukkan oleh agama Kristen. Ketika pikiran-pikiran Kristen dalam abad ke-18 tunduk pada pikiran-pikiran rasionil, masyarakat feodal melakukan perjuangan mautnya melawan borjuasi yang ketika itu revolusioner. Pikiran-pikiran tentang kebebasan beragama dan kemerdekaan menganut suara hati, hanyalah mengungkapkan adanya kekuasaan persaingan bebas di dalam bidang pengetahuan. “Tak dapat disangkal lagi,” demikian orang akan berkata, pikiran-pikiran bersendikan agama, moral, filsafat, hukum, dsb. telah berubah dalam perjalanan perkembangan sejarah. Tetapi agama, moral, filsafat, ilmu politik, dan hukum, senantiasa tetap bertahan dan mengatasi pergantian ini. “Kecuali itu, ada kebenaran-kebenaran abadi, semacam Kemerdekaan, Keadilan, dsb., yang lazim berlaku untuk segala keadaan masyarakat. Tetapi Komunisme menghapuskan kebenaran-kebenaran abadi, ia menghapuskan semua agama, dan semua moral, dan bukannya menyusun semuanya itu atas dasar yang baru; karenanya ia bertindak bertentangan dengan segala pengalaman sejarah yang lampau.” Apakah jadinya arti tuduhan ini? Sejarah dari seluruh masyarakat masa lampau terdiri dari pepkembangan antagonisme-antagonisme kelas, antagonisme-antagonisme yang mem0unyai berbagai bentuk dalam berbagai zaman. Tetapi bagaimanapun juga bentukfya, satu kenqataan adalah sama untuk segala Zaman yanG telah lampau, yaitu, penghisap!n atas sebagian dari masyarakatoleh suatu bagian yang lain. Maka tidaklah mengherankan bahwa kesadaran sosial dari abad-abad yang lampau, biarpun terdapat segala kebanyak ragaman dan corak, bergerak dalam bentuk-bentuk tertentu yang sama, atau pikiran-pikiran umum, yang tidak dapat hilang sepenuhnya kecuali dengan lenyapnya sama sekali antagonisme-antagonisme kelas. Revolusi Komunis adalah pemutusan yang paling radikal dengan hubungan-hubungan milik yang tradisionil; tidaklah mengherankan bahwa perkembangannya membawa serta pemutusan yang paling radikal dengan pikiran-pikiran yang tradisionil. Tetapi marilah kita biarkan saja dulu, keberatan-keberatan borjuis terhadap Komunisme, Telah kita lihat di atas, bahua lan’kah pertama dalam revolusi kelas buruh, adalah mengangkat proletariat pada kedudukan kelas yane berkuasa, memenangkan pe2juangan demokrasi. Proletariat akan menggunakan kekuasaan politiknya untuk merebut, selangkah demi selangkah, semua kapital dari borjuasi, memusatkan semua perkakas produksi ke $alam tangan Negara, artinya, proletariat yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa [29]; dan untuk meningkatkan jumlah tenaga-tenaga produktif secepat mungkin. Tentu saja, pada permulaannya, ini tak dapat dilaksanakan kecuali dengan jalan perombak`n tak kenal ampun terhadap haK-hak atas milik, dan terhadap syarat pr/duksi borjuis; kleh sebab itu dengan jalan tindakan-tindakan yang nampaknya secara ekonomi tidak mencukuph dan tak tertahankan, tetapi yang selama berlangsungnya gerakan itu, berlari lebih cepat, sehingga menghdndaki perombakan yang lebih lanjut terhadap susunan masyarakat lama, dan merupakan sesuatu yang tak terelakkan sebagai cara untuk merevolusionerkan cara produksi. Tindakan-tindakan ini tentu saja akan berlainan di negeri-negeri yang berlainan. Biarpun demikian, di negeri-negeri yang paling maju, tindakan-tindakan yang berikut ini umumnya dapat saja diterapkan [30]. 1.     Penghapusan milik berupa tanah dan penggunaan segala sewa tanah untuk anggaran Negara. 2.     Pajak penghasilan progresif yang berat. 3.     Penghapusan hak waris. 4.     Penyitaan milik semua emigran dan pemberontak. 5.     Pemusatan kredit di tangan Negara, dengan perantaraan sebuah bank nasional dengan kapital Negara dan monopoli penuh. 6.     Pemusatan alat-alat perhubungan dan pengangkutan ke dalam tangan Negara. 7.     Penambahan pabrik-pabrik dan perkakas-perkakas produksi yang dimiliki oleh Negara; penggarapan tanah-tanah terlantar, dan perbaikan tanah umumnya sesuai dengan rencana bersama. 8.     Wajib kerja yang sama untuk semua, pembentukan tentara-tentara industri, terutama untuk pertanian.9.     Penggabungan antara perusahaan pertanian dengan perusahaan industri, penghapusan berangsur-angsur perbedaan antara kota dan desa, dengan pembagian penduduk yang lebih seimbang ke seluruh negeri. 10.            Pendidikan cuma-cuma untuk semua anak di sekolah-sekolah umum; penghapusan kerja anak-anak di pabrik dalam bentuknya yang sekarang ini. Perpaduan pendidikan dengan produksi materiil, dsb., dsb. Apabila, dalam perjalanan perkembangan, perbedaan-perbedaan kelas telah hilang, dan seluruh produksi telah dipusatkan ke dalam tangan suatu perserikatan luas dari seluruh nasion, kekuasaan umum akan kehilangan watak politiknya. Kekuasaan politik, menurut arti kata yang sesungguhnya, hanyalah kekuasaan terorganisasi dari suatu kelas untuk menindas kelas yang lain. Apabila proletariat selama perjuangannya melawan borjuasi terpaksa, karena tekanan keadaan, mengorganisasi dirinya sebagai kelas, apabila, dengan jalan revolusi, ia menjadikan dirinya kelas yang berkuasa, dan, sebagai kelas yang berkuasa, menghapuskan dengan kekerasan hubungan-hubungan produksi yang lama, maka ia, bersama-sama dengan syarat-syarat ini akan menghilangkan syarat-syarat untuk adanya antagonisme-antagonisme kelas dan adanya kelas-kelas pada umumnya, dan dengan demikian akan menghapuskan kekuasaannya sendiri sebagai kelas. Sebagai ganti dari masyarakat borjuis yang lama, dengan kelas-kelasnya beserta antagonisme-antagonisme kelasnya, kita akan mempunyai suatu persekutuan hidup di mana perkembangan bebas dari setiap orang menjadi syarat bagi perkembangan bebas dari semuanya.  III

LITERATUR SOSIALIS DAN KOMUNIS [31]

 1. Sosialisme reaksioner a. Sosialisme feodalDisebabkan oleh kedudukanya di dalam sejarah, menjadilah panggilan suci aristokrasi Perancis dan Inggeris untuk menulis brosur-brosur menentang masyarakat burjuis modern. Dalam revolusi Perancis bulan Juli 1830, dan dalam gerakan Reform Inggeris, [32] aristokrasi ini sekali lagi takluk pada parvenu [33] yang dibenci itu. Suatu perjuangan politik yang gawat sudah tidak mungkin ada lagi sama sekali. Hanya tinggal perjuangan literaturlah yang masih mungkin. Tetapi dalam lapangan literaturpun semboyan-semboyan lama dari zaman restorasi telah menjadi tidak mungkin. [34] Untuk membangkitkan simpati, aristokrasi itu terpaksa pura-pura melupakan kepentinganya sendiri dan merumuskan surat tuduhanya terhadap burjuasi demi kepentingan kelas buruh yang terhisap semata-mata. Jadi aristokrasi membalas dendamnya dengan menjanjikan lagu-lagu sindiran terhadap majikannya yang baru, dan membisikkan ke telinga majikanya itu ramalan-ramalan buruk tentang bencana yang akan datang. Dengan jalan ini timbullah sosialisme feodal: setengah ratapan, setengah sindiran; setengah gema masa lampau, setengah ancaman masadatang; kadang-kadang dengan kritiknya yang pietah, pahit dan tajam menusuk burjuasi tepat pada ulu hatinya; tetapi akibatnya selalu menggelikan karena sama sekali tak mempunyai kemampuan untuk memahami perjalanan sejarah modern. Untuk menghimpun Rakyat di sekitar dirinya, aristokrasi melambai-lambaikan kantong-pengemis proletar sebagai panji-panjinya. Tetapi sedemikian sering Rakyat mengikuti mereka, Rakyat melihat di belakang mereka lambang kebesaran feodal yang lama, dan lari bubar dengan tawa lebar dan mengejek. Sebagian dari kaum Legitimis [35] Perancis dan kaum “Inggeris Muda” [36] memainkan lakon ini. Dalam menunjukkan bahwa cara penghisapan mereka adalah berlainan dengan cara penghisapan burjuasi, kaum feodal lupa bahwa mereka menghisap dalam keadaan-keadaan dan syarat-syarat yang berlainan sama sekali, dan yang kini telah menjadi kuno. Dalam memperlihatkan bahwa di bawah kekuasaan mereka tak pernah ada proletariat modern, mereka.lupa bahwa burjuasi modern adalah anak keturunan yang sewajarnya dari bentuk masyarakat mereka sendiri. Lain daripada itu, mereka sedikit sekali menyembunyikan watak reaksioner dari kritiknya sehingga tuduhan mereka yang terutama terhadap burjuasi berarti juga bahwa di bawah rezim burjuis berkembanglah suatu kelas, yang nantinya akan pasti menghancurleburkan seluruh susunan tatatertib masyarakat lama. Kemarahan mereka terhadap burjuasi mengenai hal bahwa burjuasi melahirkan proletariat, tidak sehebat kemarahannya mengenai hal bahwa burjuasi melahirkan proletariat yang revolusioner. Oleh sebab itu, dalam praktek politik, mereka ikut serta dalam segala tindakan kekerasan terhadap kelas buruh; dan dalam kehidupan biasa sehari-hari, biarpun ucapan-ucapannya begitu muluk tinggi membubung, mereka tidak malu-malu untuk memungut warisan buah lezat yang jatuh dari pohon industri dan tidak malu-malu pula untuk menukarkan kejujuran, cinta dan kehormatan dengan perdagangan bulu domba, perdagangan ubi-gula dan minuman-minuman keras yang terbuat dari kentang. [37] Sebagaimana pendeta senantiasa berjalan bergandengan tangan dengan tuan tanah, demikian jugalah Sosialisme Gereja dengan Sosialisme Feodal. Tak ada hal lain yang lebih mudah daripada memberi pulasan Sosialis pada asetisme [38] Kristen. Bukankah agama Kristen telah berseru dengan lantangnya menentang milik perseorangan, menentang perkawinan, menentang Negara? Bukankah ia, sebagai ganti semuanya itu tadi, telah mengkhotbahkan kedermawanan dan kemiskinan, pembujangan dan ke”iasaan menahan nafsu, kehidupan biara dan Ibunda Gereja? Sosialisme Kristen tidak lain hajyalah air suci )ang digunakan oleh pendeta untuk mengkuduckan sakit-hati kaum aristokrat.  b. Sosialisme Burjuis KecilAristokbasi feodal bukanlah sadu-satunya kehas yang talah dir5ntuhkan oleh berjuasi$ bukanlah satu-satunya kelas yang syarat-syarat kelangsunganfya menjadi rusak dan musnah dalam suasana -asyarakat burjuis modern. Warga kota dari Zaman Tengah dan petani pemilik kecil adalah pendahulu dari burjuasi modern. Di negeri-negeri yang ijdustri dan perniagaannya belum berkembang, kedua kelas ini m!sih hidup berdampingan dengan burdjuasi yang sedang tumbuh. Di jegeri-negeri di mana paradaban modern telah berkelbang sepenuhnya, terbentuklah suatu kelas burjuis kecil, yang terombang-ambing di antara proletariat dan burjuasi dan senantiasa memperbarui dirinya sebagai bagian-tambahan dari masyarakad burjuis. Tetapi anggota-an’gota orang-seor!ng dari kelas ini terus-menerus dicampakkan kedalam kalangan pboletariat oleh karena persaingan, dan setelah industri modern maju, mereka itu malahan melihat datangnya saat dimana mereka akan lenyap sama sekali sebagai golongan yang berdiri-sendiri dari masyarakat modern, untuk digantikan, dalam perusah!an-perusahaan( pertanian dan perniagaan, oleh mandor-mandor, pegawai-pegawai, dan pelayan-pelayan toko. D     negeri-negeri semacam Perancis, di mana kaum taninya merupakan bagian yang jauh lebih besar daripada separo jemlah penduduk, adalah wajar bahwa penuli#-pdnulis yang memihak proletariat menentang bubjeasi, memakai ukuran petani daj burjuis kecil dalam kritiknya terhadap rezim burjqis, dan dari segi pendirian kelas-+elas perantara ini membel` kelas buruh. DengAn begitu dimbullah Sosiahisme bu2juis kecil. SismonDi [39] adalah pemuka dari ajaran ini, tidak hanya di Perancis saj!, tetapi juga di Inggeris. Ajaran Sosialisme ini dengan sangat tajamnya mengurai kontradiksi-kontradiksi di dalam syarat-syarat industri modern. Ia menelanjangi pembelaan-pembelaan munafik dari kaum ekonomis. Ia membuktikan dengan tak dapat disangkal lagi, akibat-akibat yang mencelakakan dari mesin dan pembagian kerja; konsentrasi kapital dan tanah ke dalam beberapa tangan saja; produksi-kelebihan dan krisis-krisis ; ia menunjukkan keruntuhan yang tak terelakkan dari burjuis kecil dan tani, kesengsaraan proletariat, anarki dalam produksi, ketidakadilan yang sangat menyolok dalam pembagian kekayaan, perang pemusnahan di bidang industri di kalangan nasion-nasion, penghancuran ikatan-ikatan moral lama, hubungan-hubungan kekeluargaan lama, nasionalitet-nasionalitet lama. Menurut tujuannya yang positif, bagaimanapun juga Sosialisme macam ini memperjuangkan hidup kembalinya alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran lama dan bersama itu semua hubungan milik lama serta masyarakat lama, atau membatasi alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran modern di dalam rangka hubungan milik lama yang telah dan pasti dihancurkan oleh alat-alat itu. Dalam kedua hal ini, kedua-duanya adalah reaksioner dan utopi. Kata-kata mereka yang terakhir ialah: Gabungan gilde sebagai ganti manufaktur; hubungan-hubungan patriarkal dalam pertanian.  Akhirnya, ketika kenyataan-kenyataan sejarah yang tak dapat dibantah lagi telah menghapuskan semua pengaruh dari penipuan diri sendiri yang memabukkan, Sosialisme macam ini mengundurkan diri dengan hina dan sangat mengibakan.  c. Sosialisme Jerman atau Sosialisme “Sejati”Literatur Sosialis dan Komunis Perancis, suatu literatur yang lahir di bawah tekanan burjuasi yang sedang berkuasa, dan yang merupakan pernyataan dari perjuangan melawan kekuasaan ini, dimasukkan ke Jerman pada suatu waktu ketika burjuasi di negeri itu baru saja memulai perjuangannya menentang absolutisme feodal. Kaum filsuf, setengah-filsuf dan “jiwa-jiwa berbakat” Jerman dengan penuh nafsu menguasai literatur ini dan hanya lupa bahwa berpindahnya tulisan-tulisan tersebut keluar dari Perancis tidaklah disertai oleh berpindahnya syarat-syarat sosial Perancis ke Jerman. Setelah berhadap-hadapan dengan syarat-syarat sosial di Jerman, literatur Perancis ini kehilangan segala arti praktisnya yang langsung, dan hanya mempunyai corak literer semata-mata. Dengan demikian, bagi para filsuf Jerman abad kedelapanbelas, tuntutan-tuntutan Revolusi Perancis yang pertama tidaklah lebih daripada tuntutan-tuntutan “Akal Praktis” pada umumnya, dan pernyataan kemauan dari burjuasi yang revolusioner, menurut pandangan mereka berarti hukum-hukum dari Kemauan belaka, hukum-hukum dari Kemauan sebagaimana yang seharusny!, hukum-hukum dapi Kemauan manusia yang sejati pada umumnya. Tulican-tulisan kaum literat Jerman hanya berwujud penyesuaian pikiran-pikiran baru Perancis itu dengan perasaan filsafat kuno mereka, atau lebih tepat lagi, mengambil pikiran-pikiran Perajcis ite dengan tidak meninggalkan pandangan filsafat mereka 3endiri. Cara mengambilnya berlangsung sama seperti memidiki Bahara asing, yaitu dengan jalan menterjemahkan. Umum m%ngetahui bagaimana rahib-rahib menuliskan riwayat hidup yang tidak masuk akal dari orang-orang suci Katolik di atas manuskrip di mana telah dituliskan karangan-karangan kelasik dari zaman purbakala ketika orang belum beragama. Kaum literat Jerman berbuat sebaliknya dengan literatur keduniaan Perancis. Mereka menuliskan filsafatnya yang tidak ada artinya itu di belakang tulisan Perancis yang asli. Misalnya, di belakang kritik Perancis tentang fungsi-fungsi ekonomi dari uang mereka tulis “Pengungkiran terhadap Kemanusiaan”, dan di belakang kritik Perancis tentang negara burjuis, mereka tulis “Panghapusan pengaruh faham abstrak pada umumnya”, dan seterurnya. Penyelundupan kata-kata kosong filsafat ini ke dalam kbitik-kritik Pdrancis bersejarah itu mereka namakan “Filsafat Tindakan”, “Sosialisme Sejati”, “Ilmu Jerman tentang Sosialisme”, “Dasar Filsafat Sosialisme”, dan seterusnya. Lateratur Sosialis dan Komunis Perancis dengan demikian menjadi dikebiri sama sekali. Dan oleh karena literatur ini di dalam tangan bangsa Jerman tidak lagi menyatakan perjuangan suatu kelas melawan kelas lainnya, dia merasa yakin telah mengatasi “kesepihakan Perancis” dan merasa telah mengemukakan bukan keperluan-keperluan yang sebenarnya, tetapi keperluan-keperluan akan Kebenaran; bukan kepentingan-kepentingan proletariat, tetapi kepentingan-kepentingan Dunia Kemanusiaan, Manusia umumnya, yang tidak termasuk dalam sesuatu kelas, tidak mempunyai kenyataan, manusia yang hanya terdapat di dalam dunia gelap khayalan filsafat saja. Sosialisme Jerman ini yang telah menerima pelajarannya sebagai murid begitu sungguh-sungguh dan khidmat, dan yang telah memuji-muji dagangannya yang tak berharga itu dengan gaja tukang jual obat, sementara itu berangsur-angsur berkurang ketololannya yang congkak itu. Perlawanan burjuasi Jerman dan terutama burjuasi Prusia terhadap aristokrasi feodal dan monarki absolut dengan perkataan lain, gerakan liberal, menjadi semakin sengit. Dengan demikian Sosialisme “Sejati” mendapat kesempatan yang telah dinanti-nantikan itu untuk menghadapi gerakan politik dengan tuntutan-tuntutan Sosialls, untuk melemparkan kutukan-kutukan tradisionil terhadap liberalisme, terhadap pemerintah yang representatif, terhadap persaingan burjuis, kemerdekaan pers burjuis, perundang-undangan burjuis, kemerdekaan dan persamaan burjuis, dan untuk menganjurkan kepada massa bahwa mereka tak akan mendapat suatu apapun dan akan kehilangan segala-galanya dalam gerakan burjuis ini. Sosialisme Jerman yang menjadi kumandang kosong dari kritik-kritik Perancis justru lupa pada waktu itu, bahwa kritik-kritik Perancis mengandung ketentuan adanya masyarakat burjuis modern dengan syarat-syarat ekonomi hidupnya yang sesuai dan susunan politik yang disesuaikan dengan itu, ialah hal-hal yang sebenarnya harus dicapai sebagai tujuan dari perjuangan yang akan datang di Jerman. Bagi pemerintah-pemerintah yang mempunyai kekuasaan mutlak dengan pengikut-pengikutnya yang terdiri dari pendeta-pendeta, profesor-profesor, tuantanah-tuantanah besar dan pegawai-pegawai pemerintah, Sosialisme “Sejati” ini merupakan suatu alat yang berguna untuk menakut-nakuti burjuasi yang sedang mengancam. Ini adalah sebagai obat penawar sesudah merasakan kepedihan cambukan dan tembakan yang digunakan oleh pemerintah-pemerintah tadi, justru pada waktu itu, untuk menghadapi pemberontaian-pemberondakan kelas buruh Jerman. Jadi selain daripada Sosialisme “Sejati” ini menjadi senbata bagi pemerintah-pemerintah ite guna melawan burjuasi Berman, ia juga langsung mewakili kepentingan reaksioner, kepentingaf burjuasi kecil Filistin [40] Jerman. Di Jerman, kelas burjuis kecil, peninggalan abad keenambelas, yang sejak itu senantiasa timbul kembali dalal berbagah bentuk, ada,ah dasar sosial yang sebenarnya dari keadaan-keadaan yang sedang berlaku. Mempertahankan kelac ini berarti mempertahankan keadaan-keadaan yang sedang beplaku di Jerman. Kekuasaan industri dan politik dari burjuasi mengancam kelas ini dengan suatu kehancuran – pada satu pihak, karena konsentrasi kapidal; pada pihak lain, karena timbulnya proletariat xang revolucioner. Sosialisme “Sejati” timbul untuk membenuh kedua mangsanya in) dengan satu kali pqkul. Ha menjalar seperti suatu wabah. Pakaian yang terbuat daripada jarile laba-laba yang spekulatif, disulam defgan bunga kata-kata indah yang dicelup ke `alam air perasaan hadi yang merana, pakaian qang luab biasa ini yang digunakan oleh kaum Sosialis Jerman untuk membalut “kebenaran-kebenaran abadi” mereka yang tidak berharga, yang hanya tinggal kulit dan tulang belaka, dapat memperluas penjualan barang dagangan mereka secara luar biasa di kalangan publik yang semacam itu. Dan dari pihaknya sendiri, Sosialisme Jerman makin dama makin mengakui panggilan atas dirinya sebagai wakil dari kaum Filistin `urjuis kebil yang sombong. Ia mengumumkan fasion Jerman sebagai manusia teladan dan Filisdin kecil Jerman sebagai manusia teladan. Kepada setiap kerendahan budi yang keji dari manusia teladan ini ia berikan pengertian sosialis yang lebih tinggi, yang tersembunyi, yang sungguh bertentangan dengan wataknya yang sebenarnya. Ia telah bertindak sedemikian jauh hingga dengan langsung menentang aliran Komunisme yang “merusak secara ganas”, dan dengan menyatakan kebenciannya yang amat sangat dan tidak berpihak terhadap semua perjuangan kelas. Kecuali beberapa buah saja, segala yang dinamakan publikasi Sosialis dan Komunis yang sekarang (1847) beredar di Jerman termasuk dalam lingkungan literatur yang kotor dan melemahkan semangat ini. [e]  2. Sosialisme Konservatif atau Sosialisme BurjuisSebagian dari burjuasi berkehendak memperbaiki kepincangan-kepincangan sosial untuk menjamin kelangsungan masyarakat burjuis. Ke dalam golongan.ini termasuk kaum ekonomis, filantropis, humanis, golongan yang bertujuan memperbaiki keadaan kelas buruh, organisator-organisator badan amal, anggota-anggota perkumpulan-perkumpulan penyayang binatang, kaum fanatis penganut kesederhanaan, kaum perombak secara tambalsulam dari segala macam corak. Dan lagi bentuk Sosialisme ini telah diolah lebih lanjut dan tersusun menjadi sistim-sistim yang sempurna. Sebagai suatu contoh dari Sosialisme macam ini boleh disebut Philosophie de la Misère [41] dari Proudhon. Burjuis Sosialis menghendaki segala kebaikan dan manfaat dari syarat-syarat sosial modern tanpa perjuangan dan bahaya-bahaya yang mesti timbul dari situ. Mereka menginginkan keadaan masyarakat yang sekarang tanpa anasir-anasirnya yang revolusioner dan yang mendatangkan kehancuran. Mereka menghendaki suatu burjuasi tanpa proletariat. Burjuasi tentu saja menganggap dunia di mana ia menjadi yang dipertuan sebagai dunia yang terbaik. Sosialisme burjuis mengembangkan anggapan yang menyenangkan ini menjadi berbagai sistim yang sempurna atau setengah sempurna. Dalam menghendaki supaya proletariat melaksanakan sistim semacam itu, dan supaya dengan demikian langsung memasuki Jerusalem Baru, ia dalam kenyataannya hanyalah menghendaki supaya proletariat tinggal di dalam batas-batas masyarakat yang ada sekarang, tetapi harus melemparkan segala pikiran kebenciannya mengenai burjuasi. Bentuk yang kedua dari Sosialisme ini yang lebih praktis tetapi kurang sistimatis, mencoba mengecilkan tiap gerakan revolusioner di mata kelas buruh dengan menunjukkan bahwa bukan reform politik semata-mata, tetapi hanyalah suatu perubahan dalam syarat-syarat hidup materiil, dalam hubungan-hubungan ekonomi, yang akan mendatangkan sesuatu manfaat dan keuntungan bagi mereka,. Tetapi dengan perubahan-perubahan dalam syarat-syarat hidup materiil, bentuk Sosialisme ini sekali-kali tidak mengartikan penghapusan hubungan-hubungan produksi burjuis, suatu penghapusan yang hanya dapat dilakukan dengan suatu revolusi, tetapi perbaikan-perbaikan administratif yang didasarkan pada terus berlangsungnya hubungan-hubungan produksi ini; maka itu, perbaikan-perbaikan yang sama sekali tidak mempengaruhi hubungan-hubungan antara kapital dengan kerja, tetapi paling banyak, mengurangi beaja dan menyederhanakan pekerjaan administratif pemerintah burjuis. Sosialisme burjuis mendapat pernyataan yang selaras, jika dan hanya jika ia menjadi suatu susunan kata-kata kosong dalam pidato belaka. Perdagangan bebas! untuk kepentingan kelas buruh; tarif-bea yang melindungi! untuk kepentingan kelas buruh; perubahan peraturan penjara! untuk kepentingan kelas buruh; inilah kata-kata yang terakhir dan satu-satunya yang sungguh-sungguh dimaksudkan oleh Sosialisme burjuis. Ia disimpulkan dalam kata-kata: burjuis adalah burjuis – untuk kepentingan kelas buruh.  3. Sosialisme dan Komunisme yang Kritis Utopi Kita di sini tidak membicarakan literatur yang dalam tiap revolusi besar modern selalu menyatakan tuntutan-tuntutan proletariat, seperti tulisan-tulisan Babeuf [42] dan lain-lainnya. Percobaan-percobaan langsung yang pertama dari proletariat untuk mencapai tujuan-tujuannya sendiri, yang dilakukan dalam waktu kekacauan umum, ketika masyarakat feodal sedang ditumbangkan, percobaan-percobaan ini sudah tentu gagal, oleh karena keadaan proletariat yang belum berkembang ketika itu dan juga oleh tidak adanya syarat-syarat ekonomi untuk kebebasannya, syarat-syarat yang masih harus diadakan dan hanya dapat diadakan oleh zaman burjuis yang akan datang. Literatur revolusioner yang mengikuti gerakan-gerakan yang pertama dari.proletariat ini sudah tentu mempunyai watak yang reaksioner. Ia memberikan didikan asetisme universal dan didikan persamaan sosial dalam bentuk yang sangat kasar.  Sistim-sistem yang sesungguhnya dinamakan sistim Sosialis dan Komunis, yaitu sistim-sistem Saint-Simon, Fourier, Owen dan lain-lainnya, timbul pada permulaan masa belum berkembangnya perjuangan antara proletariat dengan burjuasi, seperti diterangkan di atas. (Iihat Bab I. Kaum Burjuis dan Kaum Proletar). Para pendiri sistim ini, sesungguhnya melihat antagonisme-antagonisme kelas, dan juga melihat bergeraknya anasir-anasir yang menghancurkan bentuk masyarakat yang sedang berlaku. Tetapi proletariat, yang baru lahir ini, memberikan kepada mereka suatu gambaran dari kelas yang tidak mempunyai sesuatu inisiatif bersejarah atau sesuatu gerakan politik yang berdiri sendiri. Karena perkembangan antagonisme kelas adalah sejalan dengan perkembangan industri, maka keadaan ekonomi, sebagaimana yang mereka ketahui, masih belum lagi memberikan kepada mereka syarat-syarat materiil untuk kebebasan proletariat. Oleh sebab itu mereka mencari suatu ilmu sosial baru, mencari hukum-hukum sosial baru, untuk menimbulkan syarat-syarat ini. Aktivitet mencipta dari mereka sendiri harus menggantikan aktivitet sosial; syarat-syarat untuk kebebasan yang ditimbulkan menurut sejarah harus tunduk pada syarat-syarat yang bersifat khayal; dan terorganisasinya proletariat sebagai kelas yang maju secara berangsur-angsur harus tunduk pada terorganisasinya suatu masyarakat yang diangan-angankan oleh mereka sendiri. Sejarah yang akan datang, menurut pandangan mereka, menjadi propaganda dan penyelenggaraan dalam praktek dari rencana-rencana sosial mereka. Dalam menyusun rencana-rencananya itu, mereka sudah tentu insyaf bahwa mereka terutama memperhatikan kepentingan kelas buruh sebagai kelas yang paling menderita. Mereka memandang proletariat hanya semata-mata sebagai kelas yang menderita. Keadaan perjuangan kelas yang belum berkembang itu, maupun keadaan-keadaan sekeliling mereka sendiri, menyebabkan kaum Sosialis semacam ini menganggap dirinya jauh diatas segala antagonisme-antagonisme kelas. Mereka ingin memperbaiki keadaan tiap-tiap anggota masyarakat, bahkan juga keadaan golongan yang sudah paling beruntung. Dari itu, mereka biasa berseru kepada masyarakat seumumnya tanpa membeda-bedakan kelas; bahkan lebih suka berseru kepada kelas yang berkuasa. Sebab, jika sekali orang sudah mengerti akan sistim mereka, bagaimanakah orang itu tak akan melihat di dalamnya rencana yang terbaik dari keadaan masyarakat yang terbaik? Oleh sebab itu mereka menolak segala aksi politik, dan terutama segala aksi revolusioner ; mereka ingin mencapai tuiuan-tujuannya dengan jalan damai, dan berusaha dengan percobaan-percobaan kecil yang sudah tentu gagal, dan dengan kekuatan contoh, untuk membuka jalan bagi ajaran sosial baru ini. Gambaran-gambaran khayal dari masyarakat masadatang yang semacam itu, yang digambarkan pada masa ketika proletariat masih berada dalam keadaan yang sangat terbelakang dan hanya mempunyai pandangan yang bersifat khayal tentang kedudukannya sendiri, adalah sesuai dengan hasrat-hasrat pertama yang naluriah dari kelas itu untuk pembangunan-kembali masyarakat secara umum. Tetapi tulisan-tulisan Sosialis dan Komunis ini juga mengandung suatu anasir yang kritis. Mereka menyerang tiap dasar dari masyarakat yang sekarang. Oleh sebab itu mereka memberi bahan-bahan penerangan yang sangat berharga bagi kelas buruh. Tindakan-tindakan praktis yang diusulkan didalamnya – seperti penghapusan perbedaan antara kota dan desa, penghapusan keluarga, penghapusan dijalankannya industri-industri untuk kepentingan perseorangan, dan penghapusan sistim-sumpah, pernyataan tentang persamaan sosial, perubahan fungsi Negara menjadi hanya pengawas produksi saja – semua usul ini semata-mata menunjukkan hilangnya antagonisme-antagonisme kelas yang pada waktu itu baru saja mulai timbul, dan yang dalam tulisan-tulisan ini, baru dikenal hanya dalam bentuknya yang permulaan, yang hanya samar-samar dan tidak tertentu. Oleh sebab itu usul-usul tersebut sama sekali bersifat utopi. Isi Sosialisme dan Komunisme yang kritis-utopi itu mengandung suatu tujuan yang bertentangan dengan perkembangan sejarah. Bersamaan dengan berkembangnya perjuangan kelas dan bersamaan dengan perjuangan kelas itu mengambil bentuk yang tertentu, maka hilanglah semua arti dalam praktek dan kebenaran teoritis dari pendirian khayal yang menyatakan berada diluar perjuangan, dan demikian juga serangan-serangan yang bersifat khayal terhadapnya. Oleh karena itu, walaupun para pencipta sistim-sistem ini dalam banyak hal revolusioner, pengikut-pengikut mereka senantiasa merupakan golongan-golongan reaksioner semata-mata. Mereka berpegang teguh kepada pandangan-pandangan asli dari guru-guru mereka, bertentangan dengan perkembangan kesejarahan yang progresif dari proletariat. Oleh karena itu mereka mencoba dengan konsekwen memadamkan perjuangan kelas dan mendamaikan antagonisme-antagonisme kelas. Mereka masih memimpikan pelaksanaan percobaan dari utopi-utopi sosial mereka, bermimpi tentang membentuk “phalanstere-phalanstere” [f] yang terpencil, tentang mendirikan “Home Colonies” [g] atau mengadakan suatu “Icaria Kecil” – Jerusalem Baru kecil-kecilan – dan untuk mewujudkan segala lamunan ini, mereka terpaksa meminta belaskasihan dan uang dari kaum burjuis. Ber-angsur-angsur mereka tenggelam kedalam golongan kaum Sosialis konservatif reaksioner yang telah digambarkan di atas, berbeda dengan mereka ini hanya dalam hal bahwa mereka berlagak pintar dengan lebih sistimatis, dan dalam hal kepercayaan mereka yang fanatik dan bersifat ketakhayulan kepada pengaruh yang mentakjubkan dari ilmu sosial mereka. Oleh karena itu mereka dengan keras menentang segala aksi politik dari pihak kelas buruh; aksi yang semacam itu, menurut mereka, hanya dapat terjadi karena sama sekali tidak percaya kepada ajaran yang baru itu. Kaum Owenis di Inggris dan kaum Fourieris di Perancis masing-masing menentang kaum Cartis [43] dan kaum Reformis. [44]  IV

PENDIRIAN KAUM KOMUNIS DALAM HUBUNGAN DENGAN BERBAGAI PARTAI OPOSISI

          Dalam Bab II telah dijelaskan hubungan-hubungan kaum Komunis dengan partai-partai kelas buruh yang ada, seperti kaum Cartis di Inggeris dan kaum Reformer Agraria di Amerika. [45] Kaum Komunis berjuang untuk mencapai tujuannya yang terdekat, untuk menuntut pelaksanaan kepentingan-kepentingan sementara dari kelas buruh; tetapi dalam gerakan yang sekarang mereka juga mewakili dan memperhatikan masadatang gerakan itu. Di Perancis kaum Komunis menggabungkan diri dengan kaum Sosial-Demokrat [h] menentang burjuasi yang konservatif dan radikal, tetapi dengan memegang teguh hak untuk menentukan pendirian yang kritis terhadap semboyan-semboyan dan ilusi-ilusi yang ditinggalkan turun-temurun oleh Revolusi yang besar. Di Swis mereka menyokong kaum Radikal [46], dengan tidak melupakan kenyataan, bahwa partai ini terdiri dari anasir-anasir yang antagonistis, sebagian dari kaum Sosialis Demokrat, menurut faham Perancis, sebagian dari kaum burjuis radikal. Di Polandia mereka menyokong partai yang mendorong revolusi agraria sebagai syarat utama untuk kebebasan nasional, menyokong partai yang mengobarkan pemberontakan Krakau dalam tahun 1846. [47] Di Jerman mereka berjuang bersama-sama dengan burjuasi selama burjuasi itu bertindak secara revolusioner menentang monarki absolut, tuantanah feodal dan burjuasi kecil. [48] Tetapi mereka tak pernah berhenti barang sekejappun menanamkan kedalam kelas buruh pengertian yang sejelas mungkin tentang antagonisme yang bermusuhan antara burjuasi dengan proletariat, supaya kaum buruh Jerman dapat langsung menggunakan semua syarat sosial dan politik yang tidak boleh tidak mesti ditimbulkan oleh burjuasi bersama-sama dengan kekuasaannya, sebagai senjata terhadap burjuasi, dan supaya sesudah jatuhnya kelas-kelas reaksioner di Jerman, perjuangan melawan burjuasi itu sendiri dapat segera dimulai. Kaum Komunis mengarahkan perhatiannya terutama kepada Jerman, sebab negeri itu sedang berada dekat pada saat revolusi burjuis yang mesti akan berlangsung dalam syarat-syarat peradaban Eropa yang lebih maju dan dengan suatu proletariat yang jauh lebih maju daripada proletariat di lnggeris dalam abad ketujuhbelas, dan proletariat di Perancis dalam abad kedelapanbelas, dan oleh karena itu revolusi burjuis di Jerman tidak lain hanya akan menjadi pendahuluan dari suatu revolusi proletar yang segera akan menyusul. Pendeknya, dimana-mana kaum Komunis menyokong tiap gerakan revolusioner menentang susunan tatatertib sosial dan politik yang sekarang. [i] Dalam segala gerakan ini mereka mengemukakan masalah milik sebagai masalah yang pokok bagi tiap gerakan, tidak pandang derajat perkembangannya pada waktu itu. Akhirnya, mereka bekerja dimana saja untuk persatuan dan kerukunan partai-partai demokratis di semua negeri. Kaum Komunis tidak sudi menyembunyikan pandangan-pandangan dan cita-citanya. Mereka menerangkan dengan terang-terangan bahwa cita-citanya dapat dicapai hanya dangan membongkar dengan kekerasan segala syarat sosial yang sedang berlaku. Biarkan kelas-kelas yang berkuasa gemetar menghadapi revolusi Komunis. Kaum proletar tidak akan kehilangan suatu apapun kecuali belenggu mereka. Mereka akan menguasai dunia. Kaum buruh sedunia, bersatulah!  a. Dengan burjuasi dimaksudkan klas kaum Kapitalis modern, pemilik-pemilik alat-alat produksi sosial dan pemakai-pemakai kerja upahan. Dengan proletariat dimaksudkan klas kaum pekerja-upahan modern yang, karena tidak mempunyai alat-alat produksi sendiri, terpaksa menjual tenaga kerja mereka untuk dapat hidup (Keterangan Engels pada edisi Inggris tahun 1888).  b. Yaitu, semua sejarah yang tertulis. Dalam tahun 1847, masyarakat prasejarah, organisasi masyarakat yang ada sebelum sejarah yang tertulis, hampir seluruhnya tidak diketahui. Sejak itu, Haxthausen mendapatkan hak milik bersama atas tanah di Rusia, Maurer membuktikannya sebagai dasar timbulnya masyarakat bangsa-bangsa Jerman dalam sejarah, dan kemudian persekutuan-hidup desa ternyata merupakan atau telah merupakan bentuk primitif dari masyarakat dimana-mana mulai dari India sampai ke Irlandia. Susunan inti dari masyarakat yang bersifat Komunis primitif ini menajadi terang, dalam bentuknya yang khas, dengan pendapatan Morgan yang gemilang mengenai sifat yang sebenarnya dari gens dan hubungannya dengan suku. Dengan bubarnya persekutuan-persekutuan-hidup yang primitif ini maka mulailah masyarakat terpecah menjadi klas-klas yang terpisah-pisah dan akhirnya bermusuhan. Sata telah mencoba mengusut kembali proses pembubaran ini dalam buku: “Der Ursprung der Familie, des Privateigenthums und des Staats”, edisi kedua, Stuttgart 1886. (Keterangan Engels pada edisi Inggris tahun 1888). [15] c. Tukang-ahli, yaitu seorang anggota penuh dari suata gilde, seorang ahli di dalam gilde, tetapi bukan kepala gilde.(Keterangan Engels pada edisi Inggris tahun 1888). d. “Kommune” adalah nama yang, di Perancis, dipakai oleh kota-kota yang baru tumbuh bahkan sebelum mereka berhasil merebut dari pembesar-pembesar dan majikan-majikan feodal mereka pemerintahan-sendiri setempat dan hak-hak politik seperti “Pangkat Ketiga”. Secara umum, untuk perkembangan ekonomi dari burjuasi, di sini Inggris diambil sebagai negeri contoh yang khas; untuk perkembangan politiknya, Perancis. (Keterangan Engels pada edisi Jerman tahun 1890)Ini adalah nama yang diberikan kepada persekutuan-persekutuan-hidup kota mereka oleh penduduk kota di Italia dan Perancis, sesudah mereka dapat membeli atau merenggut hak-hak pertama mereka tentang pemerintahan sendiri dari tuan-tuan feodal mereka. (Keterangan Engels pada edisi Jerman tahun 1890)e. Taufan revolusi tahun 1848 menyapu bersih seluruh aliran yang picik ini dan menyembuhkan para penganjurnya dari keinginan untuk lebih jauh mempermain-mainkan Sosialisme. Wakil yang terutama dan contoh yang klasik dari aliran ini ialah Herr Karl Gruen. (Keterangan Engels pada edisi Jerman tahun 1890) f. Phalanstere adalah daerah kolonisasi Sosialis menurut rencana Charles Fourier; Icaria adalah nama yang diberikan oleh Cabet kepada pulau lamunan Utopianya, dan belakangan kepada daerah kolonisasi Komunisnya di Amerika. (Keterangan Engels pada edisi Inggris tahun 1888). g. “Home Colonies” adalah nama yang dipakai oleh Owen untuk menyebut model masyarakat Komunisnya. Phalanstere adalah nama istana-istana untuk umum yang direncanakan oleh Fourier. Icaria adalah nama yang diberikan kepada negeri khayal utopis yang badan-badan serta lembaga-lembaganya, secara Komunis, digambarkan oleh Cabet. (Keterangan Engels pada edisi Jerman tahun 1890). h. Partai yang pada waktu itu diwakili di dalam Parlemen oleh Ledru-Rollin, dalam literatur oleh Louis Blanc, dalam pers harian oleh Reforme. Nama Sosial-Demokrasi menunjukkan segolongan dari partai Demokrat atau Partai Republik dengan pendiri-pendirinya, yang banyak atau sedikitnya berbau Sosialisme. (Keterangan Engels pada edisi Inggris tahun 1888). i. Partai di Perancis yang pada waktu itu menamakan dirinya Sosialis-Demokrat diwakili dalam kehidupan politik oleh Louis Blanc. Dengan demikan ia sangat berbeda dengan Sosial-Demokrat Jerman yang sekarang. (Keterangan Engels pada edisi Jerman tahun 1890).  Keterangan :1)  Manifesto Partai Komunis – dokumen programatis terbesar tentang Komunisme ilimiah “Brosur kecil ini sama nilainya dengan berjilid tebal utuh: sampai ini semangatnya mengilhami dan menggerakkan proletariat yang tenorganisasi dan berjuang diseluruh dunia beradab” (Lenin). Ditulis oleh K. Marx dan F. Engels sebagai program Liga Komunis, Manifes ini diterbitkan untuk pertama kalinya di London dalam balam Februari sebagai brosur tersendiri setebal 23 halaman. Dalam bulan Maret-Juli 1848 ia dimuat sebagai artikel-bersambung dalam surat kabar Deutsche Londoner Zeitung, organ demokratis dari para pelarian politik Jerman. Pada tahun itu juga teks bahasa Jermannya dicetak-ulang di London sebagai brosur setebal 30 halaman dengan pembetulan-pembetulan mengenai kesalahan-kesalahan cetak yang terjadi pada edisi yang pertama, dan pembubuhan tanda-tanda baca yang diperbaiki. Kemudannya teks tersebut menjadi dasar bagi Marx dan Engels untuk edisi-edisi selanjutnya yang sah. Dalam tahun 1848 Manifes itu diterjemahkan pula ke dalam berbagai bahasa Eropa (Perancis, Polandia, Italia, Denmark, Vlam dan Swedia). Edisi-edisi tahun 1848 tidak mencantumkan nama-nama para pengarangnya. Nama-nama itu untuk pertama kalinya muncul tercetak dalam tahun 1850 ketika terjemahan Inggrisnya yang pertama dari Manifes dimuat dalam majalah Cartis Red Republican, yang pemimpin redaksinya, George Julian Harney, menyebutnya dalam pengantarnya. Dalam tahun 1872 sebuah edisi baru bahasa Jerman diterbitkan dengan sedikit amandemen dan suatu kata pengantar oleh Marx dan Engels. Edisi yang ini dan yang selanjutnya pada tahun 1883 dan 1890 terbit dengan judul Manifes Komunis. Edisi pertama bahasa Rusia dari Manifesto Partai Komunis terbit di Jenewa pada tahun 1869, diterjemahkan oleh Bakuniin, yang dalam beberapa bagian memutarbalikkan teksnya. Kekurangan-kurangan dalam edisi pertama (bahasa Rusia dihilangkan dalam terjemahan oleh Plechanov, diterbitkan di Jenewa dalam tahun 1882. Terjemahan Plechanov besar peranannya dalam penyebaran ide-ide Manifes di Rusia. Marx dan Engels memberikan artipenting yang besar terhadap penyebaran Marxisme di Rusia dan menulis kata pendahuluan istimewa untuk edisi tahun 1882. Sesudah kewafatan Mar sejumlah edisi Manifes diperiksa kembali oleh Engels – sebuah edisi Jerman dengan pengantar Engels dalam tahun 1883; sebuah edisi Inggris dalam tahun 1888 diterjemahkan oleh Samuel Moore dan diterbitkan dengan pimpinan redaksi Engels, yang juga menulis pengantar dan keterangan-keterangan di dalamnya; dan sebuah edisi Jerman daham tahun 1890 dengan suatu pengantar baru oleh Engels. Engels melengkapi juga edisi terakhir itu dengan sedikit anotasi. Suatu terjemahan dahasa Perancis oleh puteri Engels, Laura Lafargue, diperiksa kembali oleh Engels, dimuat pada tahun 1885 di dalam Socialiste. Engels menulis pengantar untuk edisi Polandia tahun 1892 dan untuk edisi Italia 1893. 2)  Liga Komunis – organisasi Komunis internasional yang pertama dari proletariat. Terbentuknya organisasi tersebut didahului oleh pekerjann berat serta seksama dari Marx dan Engels dalam menghimpun kaum Sosialis dan buruh yang paling maju dari berbagai negeri di bidang ideologi maupun organisasi. Dengan berpedoman pada tujuan ini mereka mengorganisasi Komite Korespondensi Komunis di Brussel peda tahun 1846. Marx dan Engels membela pikiran-pikiran Komunisme ilmiah dalam pertentangan-pertentangan yang sengit dengan Komunisme samarata vulger yang dianjur-anjurkan olehWilhelm Weitling, “sosialisme sejati” dan utopi-utopi burjuis kecil dari Proudhon yang mempunyai pengaruh, di antara badan-badan lain, di kalangan anggota-anggota Liga Keadilan – sebuah organisasi rahasia kaum buruh dan tukang yang mempunyai rumah-rumah pertemuan rahasia di Jerman, Perancis, Swis dan Inggris. Pimpinan Liga Keadilan di London, yakin akan kebenaran pikiran-pikiran Marx dan Engels, mengundang Marx dan Engels untuk menggabungkan diri dalam organisasi mereka pada bulan Januari 1847 dan ikutserta mengorganisasinya, dan juga ikutserta menyusun program Liga berdasarkan prinsip-prinsip yang mereka kemukakan. Marx dan Engels menerima undangan ini. Kongres Liga Keadilan yang dilangsungkan di London dalam bulan Juni 1847 tercatat dalam sejarah sebegai Kongres Pertama Liga Komunis. Engels dan Wilhelm Wolff ikutserta dalam kongres tersebut. Dalam kongres itu Liga Keadilan diberi nama baru Liga Komunis, dan semboyan lama yang samar-samar, “Semua Orang Adalah Saudara” digantikan dengan slogan internasionalnya yang militan dari partai proletar – “Kaum Buruh Sedunia, Bersatulah !” Kongres itu mempelajari pula Peraturan Dasar Liga Komunis, yang Engels secara aktif membantu menyusunnja. Peraturan dasar yang baru itu dengan jelas menggariskan tujuan-tujuan terakhir dari gerakan Komunis dan menghilangkan fasal-fasal yang memberikan ciri-ciri perserkatan rahasia kepada organisasi tersebut. Struktur Liga didasarkan pada prinsip-prinsip demokratis. Pensahan terakhir terhadap peratuan dasar itu terjadi pada Kongres Kedua Liga Komunis. Baik Marx maupun Engels ikutserta dalam Kongres Kedua di London, 29 November 8 Desemeber 1847. Dalam perdebatan-perdebatan yang berlangsung lama mereha menjunjung tinggi prinsip-prinsip Komiunisme ilimiah, yang pada akhirnya dishahkan dengan suara bulat oleh kongres. Adalah atas permintaan kongres bahwa Marx dan Engels menulis Manifes Partai Komunis – dokumen programatis yang diumumkan dalam bulan Februari 1848. Ketika revolusi meletus di Perancis Comite Central Liga, yang berkedudukan di London, menyerahkan pimpinan pada akhir Februari 1848 kepada Comite Distrik Brussel yang dipimpin oleh Marx. Setelah Marx dibuang keluar dari Brussel dan berpindah ke Paris, tempat kedudakan Comite Central dipindahkan ke ibukota Perancis pada awal Maret. Engels terpilih pula duduk didalam Comite Central. Pada akhir Maret dan awal April 1848 Comite Central menjelenggarakan pemulangan beberapa ratus buruh Jerman, kebanyakan anggota-anggota Liga Komunis, untuk ambil bagian dalam revolusi Jerman, yang ketika itu mulai. Landasan politik Liga Komunis di dalam revolusi ini dikemukakan dalam Tuntutan-Tuntutan Partai Komunis di Jerman, dirumuskan oleh Marx dan Engels pada akhir Maret. Setelah tiba di Jerman pada awal April 1848, Marx, Engels dan pengikut-pengikutnya menyadari bahwa di Jerman yang terbelakang, di mana kaum buruh terpecahbelah dan tidak cukup kesadaran polititknya, dua atau tiga ratus anggota Liga Komunis yang tersebar di seluruh Jerman tidak dapat mempengaruhi massa luas sampai sesuatu derajat yang agak memadai. Sebagai akibatnya, Marx dan Engels memutuskan untuk menggabungkan diri dengan sayap Kiri ekstrim, pada haketatnya proletar, dari gerakan demokratis. Mereka memasuki Perhimpunan Demokratis Koeln dan menasehatkan pengikut-pengikutnya supaja memasuki grup-grup demokratis untuk menjungjung tinggi di dalamnya pendirian proletariat revolusioner, untuk mengkritik ketidakkonsekwenan dan kebimbangan kaum demokrat burjuis kecil, dan mendorong mereka ke arah aksi yang tegas. Bersamaan waktu dengan itu, Marx dan Engels menganjurkan kepada mereka supaya mendirikan perkumpulan-perkumpulan buruh, untuk memusatkan pendidikan politik proletariat, dan untuk meletakkan dasar-dasar bagi suatu partai proletariat massal. Surat kabar Neue Rheinische Zeitung yang dipimpin oleh Marx adalah pusat pembimbing bagi para anggota Liga Komunis. Pada awal tahun 1848 Comite Central Liga London berusaha untuk memulihkan hubungan dan mengirim Joseph Moll ke Jerman sebagai utusan dengan maksud mereorganisasi Liga. Badan di London itu telah mengamandemen Peraturan Dasar 1847, mengurangi jiwa politiknya. Bukanlah lagi penggulingan burjuasi, pembangunan masyarakat Komunis tanpa klas yang digariskan di dalamnya sabagai tujuan utama Liga Komunis. Sebagai gantinya, mereka berbicara tentang republik sosial. Misi Moll Jerman dalam musim dingin 1848-1849 menemui kegagalan. Dalam bulan April 1849 Marx, Engels dan para pengikutnya meninggalkan Perhimpunan Demokratis. Sekarang setelah massa pekerja memperoleh pengalaman politik dan sangat dikecewakan oleh kaum demokrat burjuis kecil maka sudahlah tiba waktunya untuk memikirkan pembentukan suatu partai proletar yang berdiri sendiri. Tetapi Marx dan Engels tidak berhasil melasanakan rencananya. Suatu permberontakan meletus di Jerman Baratdaya, dan kekalahannya mengakhiri revolusi Jerman. Jalannya revolusi menyingkapkan bahwa pandangan-pandangan Liga Komunis, seperti yang dikemukakan dalam Manifesto Partai Komunis, adalah tepat sama sekali, dan bahwa Liga adalah sekolah yang bagus sekali untuk kecakapan revolusioner. Anggota-anggotanya ikutserta dengan semangat yang berkobar-kobar dalam gerakan, membela pendirian proletariat, klas yang paling revolusioner itu, dalam pers, di barikade-barikade dan di medan-medan pertempuran. Kekalahan revolusi adalah pukalan yang dahsyat bagi Liga Komunis. Banyak dari anggotanya dipenjarakan atau berpindah keluar negeri. Alamat-alamat dan hubungan-hubungan telah hilang,. Cabang-cabang lokal berhenti bekerja. Liga mederita juga kerugian-kerugian yang tidak sedikit di luar Jerman. Dalam musim rontok 1849 bagian terbesar dari pemimpin-pemimpin Liga berkumpul di London. Berkat usaha-usaha Comite Central baru yang direorganisasi dan dipimpin oleh Marx dan Engels, maka organisasi yang dahulu itu telah dipulihkan dan kegiatan-kegiatan Liga telah hidup kembali dalam musim semi 1850. Amanat Comite Central kepada Liga Komunis, ditulis oleh Marx dan Engels dalam bulan Maret 1850, mengikhtisarkan hasil-hasil revolusi 1848-49 dan menetapkan tugas mendirikan suatu partai proletar yang bebas dari burjuasi kecil. Amanat itu adalalah yang pertama-tama yang menggariskan pikiran tentang revolusi permanen. Suatu organ baru Komunis terbit dalam bulan Maret 1850. Ia adalah Neue Rheinische Zeitung. Politisch-oekonomische Revue. Dalam musim painas 1850 suatu pertentangan timbul di dalam Comite Central Liga Komunis tentang masalah taktik. Suatu majoritas dipelopori oleh Marx dan Engels dengan gigih melawan faksi August Willich dan Karl Schapper, yang rnengusulkan taktik sektaris dan sembrono berupa pencetusan revolusi tanpa penundaan, tanpa menghiraukan sama sekali perkembangan-perkembangan dan kenyataan-kenyataan objektif situasi politik di Eropa. Sementara itu, Marx dan Engels menaruhkan tekanan utama pada peluasan propaganda tentang Komunisme ilmiah dan tentang pekerjaan melatih kaum revolusioner proletar untuk bentrokan-bentrokan revolusioner yang akan datang. Ini, mereka katakan, adalah tugas prinsipiil Liga Komunis pada suatu waktu ketika kaum reaksioner telah memulai kembali ofensifnya. Dalam pertengahan September 1850, kegiatan-kegiatan memecah dari faksi Willich Schapper menghasilkan suatu perpecahan. Pada suatu sidang pada tanggal 15 Septeraber kekuasaian Comite Central atas saran Marx dipindahkan ke Comite Distrik Koeln. Cabang-cabang Liga Komunis di Jerman menyetujui keputusan ini, keputusan dari majoritas dalam Comite Central London. Atas instruksi Marx dan Engels, Comite Central baru di Koeln menyusun lagi suatu Peraturan Dasar Liga dalam bulan Desember 1850. Dalam bulan Mei 1851, pengejaran dan penangkapan polisi menghentikan sama sekali kegiatan-kegiatan Liga Komunis di Jerman. Segera sesudah pemeriksaan-pengadilan Komunis Koeln, Marx menganjurkan agar Liga Komunis mengumumkan pembubaran dirinya. Hal itu dijalankan pada tanggal 17 November 1852. Liga Komunis telah memberikan sumbangannya yang bersejarah sebagai sekolah bagi kaum revolusioner proletar, inti suatu partai proletar, dan pendahulu dari Perhimpunan Buruh Internasional – Interniasionale Pertama. 3) Kolokol – suatu majalah politik berbahasa Rusia yang diteribitkan dengan semboyan “Vivos voco!” Para penerbitnya adalah A.I. Herzen dan N.P. Ogarjov. Majalah tersebut dicetak pada Percetakan Rusia Merdeka, didirikan oleh Herzen, di London antara tahun 1857 dan April 1865 dan di Jenewa antara 1865 dan Desember 1868. Dalam tahun 1868 majalah itu terbit dalam bahasa Perancis dengan lampiran-lampiran berbahasa Rusia. Lenin melukiskan Kolokol di dalam artikelnya “Mengenangkan Herzen.” 4)  Marx meninggal dunia pada tanggal 14 Maret 1883 di London. 5) Sekarang dikenal sebagai Internasionale Pertama. Di dirikan dalam suatu rapat di gedung St. Martin’s Hall, London, pada tanggal 28 September 1864, oleh pimpinan-pimpinan Dewan Buruh London (London Trades Council) dan kaum buruh dari Perancis, Jerman, Italia dan Polandia. Marx dipilih duduk dalam Komite Organisasi. 6) Proudhon (1809-1965), seorang kritikus Perancis mengenai masjarakat kapitalis; pendapat-pendapatnya adalah contoh dari “Sosialisme konservatif atau Sosialisme burjuis” (lihat Bab. III fasal 2). 7) Bakunin, (1814-1876), seorang anarkis Rusia dalam Perhimpunan Buruh Internasional; pada mulanya mengagumi Marx, tetapi kemudian menjadi lawan Marx. 8) Herzen (1812-1870), seorang demokrat revolusioner dan Sosialis Utopi Rusia. 9) Kaum Owemis adalah pengikut-pengikut Robert Owen (1771-1858), lihat Bab tentang Sosialisme dan Komunisme yang kritis-utopi. 10) Kaum Fourieris pengikut-pengikut Charles Fourier (1772-1858), dibicarakan juga dalam Bab tentang Sosialisme dan Komunisme yang kritis-utopi. 11)Cabet (1788-1856), seorang advokat Perancis yang mempunyai pandangan-pandangan Radikal. Weitling (1808-1871), seorang tukang jahit, yang menulis buku Sosialis Jerman yang pertama dalam tahun 1842. 12) Metternich (1773-1859), perdana menteri kerajaan Austria-Hongaria. 13) Guizot (1787-1874), perdana menteri Perancis yang reaksioner. 14) Kaum Demokrat-Republiken burjuis ketika itu. Penulis-penulis dan kaum politikus terkemuka yang menentang Sosialisme dan Komunisme.. Marrast adalah salah seorang di antara pengikut-pengikut mereka. 15) Engels memasukkan catat-keterangan ini dalam edisi Jerman tahun 1890 dari Manifesto Partai Komunis juga, tetapi menghapus kalimat yang terakhir. 16) Kaum patrisir dan plebeyer adalah klas-klas di Roma Kuno. Kaum patrisir adalah klas pemilik tanah besar yang berkuasa, yang menguasai tanah dan negara. Kaum plebeyer (dari perkataan pleb – rakjat jelata) adalah klas warga kota yang merdeka, tetapi tidak mempunyai hak penuh sebagai wargakota. Untuk mengetahui klas-klas di Roma hingga soal yang sekecil-kecilnya lihatlah buku Engels “Asal-usul Keluarga, Hak Milik Perseorangan dan Negara.” 17) Manufaktur di sini maksudnya bukan cara Produksi modern yang menggunakan mesin, tetapi buruh-tangan yang dikumpulkan oleh seorang kapitalis di dam satu bangunan tempat kerja. 18) “Pangkat Ketiga”: pedagang-pedagang di kota, klas yang membayar pajak kepada Raja terpisah dari “pangkat-  pangkat”, lainnja, yaitu kaum bangsawan dan gereja,19) “Monarki setengah-feodal dalam zaman manufaktur” berarti suatu monarki atau kerajaan dengan pangkat-pangkat (kaum gereja, kaum bangsawan, burjuasi – “pangkat ketiga”) yang diwakili didalam badan-badan penasehat kerajaan. 20) Perpindahan bangsa-bangsa di Eropa dari abad ke empat sampai abad ke enam Masehi. Perpindahan secara besar-besararan dari berbagai bangsa terjadi selama masa itu, meluas sampai ke daerah kerajaan Roma. Engels memberikan gambaran tentang sifat-sifat istimewa dari revolusi ini dalam Bab VII dar VIII dalam bukunya “Asal-usul Keluarga, Hak Milik Perseorangan dan Negara.” 21) Perang Salib ialah expedisi militer dan perampasan besar-besaran ke Timur Dekat di bawah pimpinan Gereja Katolik dalam masa dari abad kesebelas sampai abad ketigabelas, dengan dalih untuk “membebaskan” tanah suci (Palestina). Berbagai klas dalam masyarakat feodal mengambil bagian dalam Perang Salib ini, Masing-masing klas mengejar tujuannya sendiri – kaum feodal mencari tanah milik baru, kaum pedagang mencari pasar baru, kaum tani yang terampas tanahnya mencari tanah. Pengikut-pengikut Perang Salib itu akhirnya dapat diusir kembali ke Eropa dari negeri-negeri yang telah mereka taklukkan. 22) Kemudian Marx menerangkan bahwa buruh tidak menjual kerjanya tetapi tenaga kerjanya. Mengenai ini lihat pendahuluan Engels pada karya Marx Upah, Kerja dan Kapital, 1891, dalam buku Pilihan Karya oleh K. Marx dan F. Engels, edisi Inggris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s