Machiavelli

Niccolo Machiavelli: Pemikir Jujur Akhir Abad Pertengahan?

Membaca Niccolo Machiavelli, sama artinya dengan melakukan pembacaan terhadap psikologi seorang praktisi dan pemikir politik akhir abad pertengahan. Ia harus kita tempatkan sebagai sosok yang melakukan terobosan baru dalam pemikiran saat itu yang serba dogmatis. Ia tidak hanya berfikir dan bertindak pada masanya, tetapi lebih dari itu, ia menjadi inspirasi –sadar atau tidak- bagi setiap sosok politisi yang ada hingga hari ini. Ada yang beranggapan bahwa ia adalah sosok pemikir atau guru yang “jahat”, tetapi sebaliknya ada juga yang melihat ia sebagai “orang baik”.

Tulisan ini bertujuan untuk mencoba memahami Machiavelli sebagai manusia yang luar biasa pada masanya, yang terlihat dari kontruksi pemikirannya. Walaupun sulit untuk mendiskusikan kejahatan maupun kebaikan Machiavelli, tetapi tulisan ini mencoba memaksakan diri lewat tinjauan yang serba terbatas untuk kembali menghidupkan Machiavelli sebagai figur sejarah. Klaim singkat tulisan ini, mengedepankan bahwa walaupun Machiavelli sering dipandang secara negatif, tetapi sesungguhnya Machiavelli “bekerja” dengan penuh kebajikan menelanjangi selubung kebohongan yang menutupi manusia abad pertengahan.

Kelahiran “Il Principe”

“Il Principe” atau Sang Penguasa -yang menjadi identik dengan Machiavelli-, adalah buku petunjuk untuk berkuasa yang dipersembahkan Machiavelli kepada Penguasa Florence: Lorenzo de Medici. Buku ini diawali dengan Bab: Berbagai macam kerajaan dan cara menegakkannya serta diakhiri dengan Bab: Saran untuk Membebaskan Bangsa Italia dari Bangsa Barbar. Buku yang terdiri dari 26 bab ini memang sejatinya ditujukan sebagai saran seorang pemikir kepada penguasanya, yang mengidamkan munculnya Italia sebagai kekuatan politik yang besar. Jika ada kata-kata dalam buku ini yang bersifat provokatif, agaknya hal ini sudah sangat kontekstual, mengingat sebagai persembahan, buku ini bertujuan untuk membangkitkan semangat penguasa Florence untuk memajukan Italia.

Patut di ingat, buku ini juga adalah sebuah usaha Machiavelli untuk mendekati dan mencari simpati dari rezim kekuasaan. Karena pada konteks buku ini dibuat, kedudukannya adalah bagian dari rezim lama (Soderini) yang hendak disingkirkan oleh penguasa yang baru (Lorenzo de Medici). Pada awal buku ini, Machiavelli menulis:

“ Sudah menjadi kebiasaan bagi orang yang ingin mengambil hati seorang penguasa untuk menghadap penguasa tersebut dengan membawa barang milik mereka yang paling berharga, atau barang-barang yang mereka ketahui akan membuat sang penguasa berkenan dihati. ………..Sekarang hamba ingin mempersembahkan diri hamba sendiri kepada Yang Mulia dengan membawa tanda kesetiaan dan hormat hamba kepada Yang Mulia.”

Dengan demikian, memang buku ini ditulis dengan tujuan untuk mengambil hati Sang Raja, yang ironinya justru berlaku sebaliknya. Pada akhirnya, Machiavelli dicopot dari segala jabatannya dan harus merasa puas mendapat pensiun dini dan menghabiskan umurnya sebagai rakyat biasa di luar kota Florence.

Klaim Dasar Il Principe

Il Principe adalah sebuah gambaran umum mengenai cara seorang raja mampu menjalankan kekuasannya. Ia bercerita untuk mengenali sifat-sifat dari kerajaan, apakah itu kerajaan warisan atau gabungan (bab I-III), kemudian juga berbicara bagaimana mengendalikan kekuasaan (bab IV hingga bab XXV) dan diakhiri saran bagi bangsa Italia (bab XV).

Pada awal penjelasannya preposisi klaim Machiavelli adalah meletakkan dasar bagaimana asal-muasal suatu kekuasaan disusun. Bab I hingga bab XI kurang lebih menceritakan bagian ini, dimana ia banyak mendeksripsikan pemikirannya atas dasar klaim sejarah. Penjelasan pada bab IX dan XI adalah puncak atau resep jitu Machiavelli untuk memelihara kekuasaan secara “konstitusional”. Pada bab IX, ia menulis bahwa cara jitu bagi kekuasaan adalah memelihara persahabatan yang sudah dibangun bersama rakyat atau berusaha mengambil hati rakyat. Dalam hal ini, Machiavelli tidak memberi cara, tetapi baginya yang penting adalah bagaimana tujuan dapat terwujud. Baru kemudian pada bab XI ia berbicara “negara gereja”, yaitu sebuah “negara ideal” (dengan contoh Paus Alexander VI) yang telah menunjukkan bagaimana memperoleh kekuasaan dengan kekerasan maupun uang

Bab selanjutnya, bab XII hingga XIV berbicara mengenai Angkatan Perang. Dalam bab inilah, Machiavelli menekankan pentingnya negara mandiri, yang memiliki militernya sendiri. Bagi Machiavelli, tidak ada tentara yang dapat dipercaya selain tentara negara/nasional. Tentara jenis ini memiliki tingkat loyalitas yang tinggi, tidak seperti tentara bayaran atau tentara bantuan negara lain.

Selanjutnya, arah pemikiran Machiavelli beranjak pada bagaimana cara seorang raja mengatur negara dan kekuasaannya. Hal inilah yang dibahas antara Bab XV hingga bab XIV. Pada bagian inilah, terdapat alur pemikiran Machiavelli yang dikenal sebagai pemikir yang menghalalkan segala cara bagi tercapainya tujuan kekuasaan. Hal ini tampak dari pengalamannya memahami karakter manusia. dimana ia mengenali sifat manusia sebagai makhluk yang tidak tahu berterima kasih, plin-plan, penipu dan pembohong, takut menghadapi bahaya dan rakus mencari keuntungan. Karenanya, pada bab VII, ia lalu menggambarkan adanya hal yang mendua terhadap kesetiaan. Bahwa “selama anda memperlakukan dengan baik, manusia-manusia itu menjadi pengikut anda,,,,, tetapi kalau anda berada dalam bahaya mereka berbalik melawan anda”. Pada akhirnya Machiavelli menyimpulkan: Karena itu raja harus membuat dirinya ditakuti sedemikian rupa. Dalam hal menjadi raja yang ditakuti, yang berkuasa inilah, Machiavelli mencoba mencari jalan keluar bagaimana memanipulasi legitimasi sebuah kekuasaan.

Pada bab XVIII, Machiavelli memberi dua solusi bagi perjuangan raja, yaitu lewat hukum –cara manusia- dan lewat kekerasan –cara binatang-. Menjadi berkuasa, hendaknya kita bersikap cerdik, kapan menggunakan kedua “senjata” itu. Seorang raja tidak perlu mempraktekkan tindakan yang baik, berpura-pura saja rasanya sudah mencukupi.Terpenting adalah bagaimana sang raja mampu meyakinkan kepada rakyatnya bahwa apa yang ia lakukan adalah baik, keadaan yang sebenarnya cukup menjadi rahasia sang raja. Raja juga harus menempatkan dirinya sebagai orang yang pantas untuk dihormati. Untuk itu, sang raja hendaknya mampu bersikap tegas dan berusaha agar dapat dicintai rakyatnya, lewat berbagai macam cara. Terpenting, jangan sampai raja melakukan tindakan terbuka yang mampu merendahkan kehormatannya dihadapan masyarakat (bab XIX).

Adapun dalam bab selanjutnya Bab XX hingga Bab XXIII membahas mengenai cara raja mengatur aparatnya. Machiavelli dalam hal ini menyarankan tiga hal. Pertama, bila raja ingin membangun benteng kekuasaan, maka ia harus mengambil hati rakyat (bab XX). Kedua, Raja harus mampu menjadikan dirinya disegani rakyat, yaitu dengan menunjukkan keberanian dalam berperang dan memberi hukuman yang tegas kepada musuh yang dikalahkannya (bab XXI). Dan ketiga, Raja harus memberi kehormatan dan kekayaan kepada menterinya agar dapat menjadi bawahan yang loyal (bab XXII), serta menyingkirkan para penjilat (bab XXIII).

Selanjutnya pada bab XXIII dan XXIV, Machiavelli memberi kesimpulan bahwa penyebab kekalahan raja-raja Itali adalah kelemahan mereka sendiri, karena mereka tidak mampu mengatur kekuasaan dengan baik. Dewi Fortuna adalah seorang dewi yang harus ditaklukkan dengan paksa, bukan kita harus tunduk menerima suratan takdirnya.

Pada akhirnya, Il Principe diakhiri dengan bab XXV yaitu saran, bahwa untuk mencapai kejayaan Italia, yang patut dilakukan oleh Paduka Yang Mulia (Lorenzo de Medici) adalah membangun angkatan perang.

Begitulah, intisari pemikiran politik Machiavelli, yang tanpa tedeng alih-alih mengajarkan kepada Lorenzo de Medici untuk memerintah dengan “baik”. Dan “baik” menurut ukuran Machiavelli adalah ketiga negara kuat dan stabilitas terjaga, sehingga kekuasaan mampu dikembangkan bagi kejayaan bangsa.

Penilaian terhadap Machiavelli

Umumnya, orang banyak menilai Machiavelli sebagai “guru yang jahat”, yang mengajarkan cara yang tidak baik, menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan kekuasaan. Baik atau tidaknya sesuatu, menurut Machiavelli, akan terlihat ketika kita mencapai titik akhir perjalanannya. Jika tujuan yang kita inginkan tercapai, maka itulah sebuah kebaikan. Sehingga kegagalan –apapun alasannya- menjadi sesuatu yang buruk. Tak pelak, jika kemudian politikus yang benar-benar tiran sekalipun, merasa jengkel untuk dianugerahi gelar “Machiavellistik”.

Namun, pada titik tertentu, penulis mengira ada kesalahan fatal jika kita dengan cepat mengambil kesimpulan tersebut.

Penulis mengira ada jarak yang memisahkan antara realitas yang dimaksud Machiavelli dengan yang dipahami pembacanya. Dalam bahasa filsafat Bertrand Russel, jangan-jangan apa yang dimaksudkan Machiavelli justru berada pada level tampakan bukan pada realitas yang sesungguhnya. Hal ini terkait pada beberapa hal:

Pertama, penulis beranggapan bahwa Machiavelli justru adalah manusia yang unik pada masanya. Ia mendobrak selubung kebohongan manusia abad pertengahan, yang serba berurusan dengan omong kosong norma dan etika. Machiavelli berusaha jujur kepada dirinya dan kepada Sang Penguasa, dimana buku itu dipersembahkan. Dalam penilaian kejujuran manusia, barangkali Machiavelli adalah manusia atau politikus terjujur pada masanya. Machiavelli dengan blak-blakan membuka selubung kemunafikan dalam kekuasaan, bahkan apa yang dikatakannya adalah kebenaran yang justru sudah ada sebelum ia dilahirkan. Jika Machiavelli menggunakan bahasa yang terbuka dan langsung ke titik sasarannya, ini juga disebabkan oleh “mentalite”-nya (meminjam istilah Fernand Braudel) sebagai orang yang berkebudayaan Florence. Dimana Florence saat itu adalah kota yang terbuka dan karenanya kebebasan dijunjung tinggi. Apalagi tempo waktu saat itu ialah ketika masyarakat agak bosan dengan urusan moralitas rezim sebelumnya (Savonarola). Il Principe adalah rekaman kemanusiaan yang memikirkan dirinya sebagai zoon politicon, dan juga merupakan gambaran kejujuran hati manusia yang ada dimana dan kapan saja.

Kedua, Il Principe selama ini banyak dianggap orang sebagai karya pemikiran Machiavelli semata. Padahal seharusnya kita harus melihat secara jujur, bahwa buku ini merupakan refleksi terhadap tindakan politik Alexander VI dan anaknya Cesare Borgia. Menurut penulis, justru Machiavelli sedang membuat sebuah lelucon dalam Il Principe. Machiavelli menggambarkan parody, bahwa politik dalam artian sebusuk-busuknya (atau sejujur-jujurnya) sedang dipentaskan atas dasar klaim legitimasi Alexander VI, sang Paus (baca: Kepala tertinggi hirarkis Gereja Khatolik). Dengan kata lain, proporsi penulisan Il Principe adalah sebuah kaji tindak bagaimana Paus Alexander VI dan juga Cesare Borgia-anak tidak resmi Paus Alexander VI- memainkan perannya dalam kekuasaan.

Paus Alexander VI, digambarkan Machiavelli sebagai orang yang selalu dan hanya memikirkan menipu orang lain, orang yang mudah bersumpah atas nama kebenaran dan kemudian mengingkari janji. Sedangkan Cesare Borgia, dinilainya sebagai orang yang kejam, tetapi kekejamannya membawa kebaikan bagi keamanan dan kekuatan kerajaan Romagnal.

Berdasarkan inspirasi Paus dan anaknya itulah, maka Machiavelli berani memberi saran kepada Sang Penguasa. Contoh kelihaian politik Paus adalah sebuah pembenaran yang dilakukan Machiavelli terhadap ide-ide politik yang dibangunnya. Dengan demikian, menyalahkan Machiavelli –atau minimal mengatakan bahwa ia jahat-, sama artinya dengan menyalahkan tindakan seorang Paus. Jika raja tidak mau meniru pembenaran tidakan yang dilakukan Paus, lantas kepada siapakah seorang raja pantas meniru? Bukankah Paus adalah contoh manusia sempurna bagi iman setiap kaum khatolik?

Ketiga, kita harus memaklumi bahwa tulisan Machiavelli pada awalnya adalah persembahan kepada Penguasa Florence, sebuah tulisan yang bersifat konfidensiil. Sebuah upaya untuk menarik hati raja agar ia tetap diberi kedudukan dalam kekuasaan rezim yang baru. Dengan demikian, audience Machiavelli adalah penguasa Florence. Tidak ada kepastian, apakah Machiavelli menulis ini juga bagi umum, mengingat naskah Il Principe diterbitkan pertama kali lima tahun sesudah kematiannya.

Dengan demikian, penulis beranggapan bahwa penilaian “baik-buruk” Machiavelli sangat berurusan dengan unsur normatif. Permasalahanya, adakah hal yang salah dari realitas yang digambarkan Machiavelli? Bukankah selama ini, justru para penguasa –sebelum dan sesudah- Machiavelli sudah banyak yang mempraktekkannya. Bukankah sejatinya (baca: sejujur-jujurnya), memang manusia lebih berorientasi pada tujuan bukan pada proses? Dan Machiavelli hanya mempertegasnya, ditengah dunia yang dipenuhi kepalsuan. Kesalahan terbesar Machiavelli ialah bukunya yang pribadi ternyata dibaca setiap orang, ia terlalu jujur terhadap realitas dan manusia kebanyakan lebih suka dengan selubung kepalsuan. Maka jadilah ia manusia yang di benci….dan diam-diam dikagumi.


– ditulis oleh humaidi, mahasiswa pascasarjana departemen sejarah FIB-UI 2005.

1) Machiavelli, Sang Penguasa, (Jakarta: PT Gramedia, 1987), hal.1

2) M. Sastrapratedja dan Frans M. Parera, dalam “Suatu Alternatif Kaidah Etika Politik” Kata Pengantar dalam Niccolo Machiavelli, Ibid., hal. vii.

3) Machiavelli, Ibid, hal. 48

4) Ibid, hal. 54. Dalam hal ini ia banyak mengambil contoh atas dasar tragedy Vitelli.

5) Ibid., hal. 68-69.

6) Ibid., hal. 72

7) Ibid., hal. 74-86.

8) Jika kita mafhum, apa yang dipikirkan Machiavelli mengenai pentingnya aspek tujuan dalam kekuasaan dan bagaimana kekuasaan dipertahankan, sudah dipraktekkan oleh para negarawan besar. Oktavianus misalnya, menundukkan Marc Anthoni dengan memanfaatkan kelengahan kawannya yang mabuk kepayang dengan Cleopatra. Bahkan munculnya penguasa besar, seperti Shih Huang Ti, Alexander The Great, Cyrus The Great, Charlemagne, Jengis Khan dan lain-lain juga karena mereka mampu meminimalisir oposisi dan menguatkan kekuasaan militer yang sentralistik.

9) Ibid., hal.72

10) Ibid., hal. 67

One thought on “Machiavelli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s