Mohon Maaf

Salam Lekum,

Sudah lama sekali, saya tidak menulis ini. Namun saya cukup berbahagia karena blog ini masih terus dibaca dan dikunjungi oleh banyak orang.  Kalau boleh beralasan, sejak tulisan terakhir dibulan mei hingga bulan februari ini saya menghadapi banyak permasalahan yang membuat saya harus tidak menulis di blog. Mulai dari penyelesaian tesis di Pascasarjana UI, ayahanda yang sakit-sakitan dan kemudian di bulan november meninggal dunia, hingga mengurus istri tercinta yang saat blog ini ditulis usia kandungannya tujuh bulan.

Pada pertemuan kali ini, saya ingin meminta maaf kepada para pembaca akan kemalasan saya tersebut. namun, setelah saya menulis permohonan maaf ini, saya akan kembali menyiapkan energi untuk menulis di blog yang sederhana ini.

Saat ini, saya sedang memikirkan sesuatu yang ultim dalam hidup saya yang sudah 27 tahun saya jalani.  Dalam perenungan saya, kadang saya merasa kebingungan mengapa saya harus diciptakan. Saat ini sedang mengetik dan menulis, tetapi apa yang dimaksud dengan “saya”.

“Saya” harus didefinisikan sebagai seonggok daging yang dialiri darah dan dibungkus kulit, diberikan otak untuk berfikir dan kemudian dihidupkan dengan keberadaan roh atau nyawa. Yang membedakan “saya” dengan orang lain hanyalah wajah kulit dan bentuk tubuh.

Eksistensi “saya” akan berakhir dengan ketiadaan roh atau nyawa. Dengan demikian, dimanakah letak pentingnya “saya” dalam kehidupan?

Ya, tentu kita akan menjawab letak pentingnya adalah roh atau nyawa. Daging, darah dan kulit yang menjadi bentuk kita akan tiada berharga, akan membusuk ketika nyawa atau ruh tiada. Lantas bagaimana rupa ketiadaan ruh tanpa tubuh?

Pada titik inilah, agama memiliki jawabannya. Bahwa kehidupan yang berakhir dengan kematian hanyalah sebuah permainan. bahwa hidup adalah ketiadaan. bahwa hidup adalah upaya untuk meningkatkan kualitas ruhiyah dan bahwa sesuatu yang dilakukan untuk menghiasi daging, darah dan kulit hanyalah upaya yang sia-sia.

Itulah hidup! Miskin maupun kaya, hanyalah semu. Ketampanan, kecantikan adalah fitnah. Negara, partai politik, pemerintahan, perusahaan, Pemilu dan Pilkada hanyalah instrumen yang menguji manusia apakah mengerti intisari hidup.

Kita harus berupaya meningkatkan sesuatu yang ultim dalam hidup kita, menyiapkan hidup bagi kematian terindah! suatu kematian yang berharga. Dan hal itu hanya dapat terjadi, saat kita memaksimalkan hidup kita.

berjuanglah untuk duniamu seakan engkau hidup selamanya, dan berjuanglah untuk akheratmu seakan engkau mati esok pagi

One thought on “Mohon Maaf

  1. Kok udah jarang nulis di blog lagi, pak ?? Padahal saya suka banget sama tulisan-tulisan bapak. Semoga bapak membaca komentar saya ini dan kembali bersemangat untuk menulis di blog ini lagi.

    Salam,
    Fidia Larakinanti
    _SMAN 47, 2010_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s