Machiavelli

Niccolo Machiavelli: Pemikir Jujur Akhir Abad Pertengahan?

Membaca Niccolo Machiavelli, sama artinya dengan melakukan pembacaan terhadap psikologi seorang praktisi dan pemikir politik akhir abad pertengahan. Ia harus kita tempatkan sebagai sosok yang melakukan terobosan baru dalam pemikiran saat itu yang serba dogmatis. Ia tidak hanya berfikir dan bertindak pada masanya, tetapi lebih dari itu, ia menjadi inspirasi –sadar atau tidak- bagi setiap sosok politisi yang ada hingga hari ini. Ada yang beranggapan bahwa ia adalah sosok pemikir atau guru yang “jahat”, tetapi sebaliknya ada juga yang melihat ia sebagai “orang baik”.

Baca lebih lanjut

Pablo Neruda

Pablo Neruda (12 Juli 1904- 23 September 1973) adalah nama samaran penulis Chili, Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto.

Neruda yang dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20, adalah seorang penulis yang produktif. Tulisan-tulisannya merentang dari puisi-puisi cinta yang erotik, puisi-puisi yang surealis, epos sejarah, dan puisi-puisi politik, hingga puisi-puisi tentang hal-hal yang biasa, seperti alam dan laut. Novelis Kolombia, Gabriel García Márquez menyebutnya “penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun”. Pada 1971, Neruda dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra. Baca lebih lanjut

Takdir Historis Doktrin Karl Marx

Takdir Historis bagi Doktrin Karl Marx

by: Vladimir Lenin (1913)

lenin-1.jpg

Diterbitkan dalam Pravda No. 50, 1 Maret 1913

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Stepan Apresyan (1963). Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Anonim (November 1998) Diterjemahkan dari teks dalam Marxists’ Internet Archive

Keutamaan doktrin Marx adalah ia memunculkan peran historis kaum proletariat sebagai pembangun masyarakat Sosialis. Sudahkah jalannya kejadian di seluruh dunia memperkuat doktrin ini sejak ia diuraikan oleh Karl Marx? Marx pertama kali mengajukannya di tahun 1844. Manifesto Komunis Marx dan Engels, terbit tahun 1848, memberikan sebuah eksposisi yang integral dan sistematis dari doktrin ini, sebuah eksposisi yang bertahan sebagai yang terbaik hingga hari ini. Sejak itu secara jelas sejarah dunia terbagi menjadi tiga periode utama: (1) dari revolusi 1848 sampai Komune Paris (1871); (2) dari Komune Paris sampai revolusi Rusia (1905); (3) sejak revolusi Rusia. Marilah kita melihat apa yang telah menjadi takdir dari doktrin Marx dalam masing-masing periode ini. Baca lebih lanjut

Marxis Revisionis

Marxisme dan Revisionisme

oleh: Vladimir Lenin (1908)

dari Collected Works, Volume 15, 1918. diterbitkan pertamakali dalam simposium Karl Marx 1818-1883. Tulisan ini dikutip dari Lembaga Penerbitan, Pendidikan dan Pengembangan Pers Mahasiswa (LP4M).

ADA ucapan yang terkenal bahwa jika aksioma geometrikal dipengaruhi upaya-upaya kepentingan manusia pasti ia akan ditiadakan. Teori tentang sejarah alam yang dipertentangkan dengan prasangka teologi lama mendorong, dan masih mendorong oposisi yang paling radikal. Oleh karenanya, tak heran bahwa doktrin Marxian, yang secara langsung mengabdi pada pencerahan dan pengorganisasian kelas maju di dalam masyarakat modern, mengindikasikan tugas-tugas yang dihadapi oleh kelas ini dan mendemonstrasikan pergantian yang pasti (berkat pertumbuhan ekonomi) dari sistem terkini oleh suatu orde baru – tak heran jika doktrin ini harus berseteru dalam setiap langkah maju dalam perjalanan hidupnya. Baca lebih lanjut

Sosialisme Borjuis Kecil dan Sosialisme Proletar

marx-1.jpg

V.I. Lenin, Collected Works, vol. 10, 392). 

Dari bermacam doktrin sosialis, Marxisme-lah yang saat ini paling dominan di Eropa. Perjuangan untuk mencapai masyarakat sosialis hampir sepenuhnya dipahami oleh Marxisme sebagai perjuangan kelas buruh di bawah pimpinan partai-partai sosialis demokrat. Mendominasinya sosialisme proletariat berdasar pada ajaran Marxisme tidak dicapai seketika, tetapi semata setelah terjadi perjuangan panjang menentang bermacam doktrin usang, sosialisme borjuis kecil, anarkisme dan lain-lain. Kurang lebih 30 tahun yang lalu Marxisme tidak dominan, sekalipun di Jerman. Pandangan yang berlaku di negara tersebut bersifat transisi, bercampur baur dengan ekletis, terletak diantara dua arus besar borjuis kecil dan sosialisme proletariat. Doktrin-doktrin yang paling menyebar dikalangan buruh maju di negara-negara Romawi, Perancis, Spanyol dan Belgia adalah Proudhonisme, Blanquisme[1] dan anarkisme yang nyata-nyata mengekspresikan cara pandang borjuis kecil, bukan proletariat. Baca lebih lanjut

kebebasan

Setiap manusia punya hak untuk mengekspresikan diri, terlepas apakah hal itu pantas atau tidak. Atas nama kebebasan, maka dilarang melarang! manusia bebas berteriak, berlari entah dalam daerah kuasanya maupun daerah publik.

Dengan kata lain, sesungguhnya manusia pada teoritisnya adalah makhluk yang maha-bebas.

Namun, kebebasan yang dipikirkan sejauh pikiran di atas sejauh ini tidak pernah ada. kebebasan hanyalah sebuah ilusi yang menyelinap dalam pikiran dan membangkitkan ego hasrat ke-aku-an yang tidak pernah berakhir. Bukankah pada hal tertentu, kebebasan adalah sesuatu yang terbatas. Kebebasan dibatasi oleh hak individu-per-individu. Dengan bahasa lain, ada perbenturan kebebasan yang mengharuskan seseorang menyerahkan kebebasannya pada orang lain.

Sangat wajar, ketika Sartre, sang filsuf perancis memberi peringatan dini kepada kita agar melihat orang lain sebagai neraka. Neraka, karena oranglain membuat kita terbatas dan mengubur kita dalam impian kosong kebebasan.

Sejauh kita melihat orang lain, maka sejauh itu pula tidak ada kebebasan. kebebasan harus tunduk dibawah hukum moral dengan penghormatan hak kehormatan oranglain. itulah  kebebasan yang sungguh kita dapatkan hari ini dan hari esok.

 Jadi, masih pantaskan kita berteriak meminta kebebasan yang absurd!

Sesekali, mungkin patut pula kita meniru kisah narcissus. narcissus adalah seorang yang mengagumi dirinya ketika ia bercermin diatas air, sehingga ia jatuh cinta kepada dirinya sendiri. Saat jatuh cinta itulah, ia tidak melihat alternatif lain yang patut ia cintai selain dirinya sendiri. Dan kelak, iapun mati jatuh kedalam air dalam kekaguman yang tiada bertepi. Pada akhirnya, kecintaan diripun dikorbankan kepada air sebagai cermin yang pecah. Sebagai kotak pandora yang membuka bencana pada sesuatu rahasia.

Masihkan berfikir akan kebebasan (dan ke-aku-an)?

Penghancuran Madinah

Penghancuran Madinah (Yatsrib) oleh Wahabi

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani

Ditranslasi dari The Approaching to Armageddon

Nabi saw. menyebutkan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah pembangunan Bayt al-Maqdis di Yerusalem dan penghancuran Yatsrib (Madinah). Dari Mu’âdz ibn Jabal, Nabi saw. berkata (bahwa di antara tanda-tanda akhir zaman adalah), “Pembangunan kembali Bayt al-Maqdis, penghancuran Yatsrib dan penghancuran Yatsrib, munculnya pembantaian dan pertempuran dahsyat atau pertikaian berdarah, penaklukan Konstantinopel dan kemunculan Dajal.” Lalu Nabi saw. menepuk paha Mu’âdz sambil berkata, “Sungguh, itu merupakan kebenaran, seperti halnya kenyataan bahwa kamu sedang duduk saat ini.” Baca lebih lanjut

Wahabi Musuh Islam

Diambil dari http://mevlanasufi.blogspot.com

Musuh Islam Sebenarnya dan Bagaimana Mengenalinya

Musuh Islam sebenarnya saat ini bukan hanya Yahudi, Nasrani, Komunis tetapi juga sesame muslim sendiri. Kebanyakan dari golongan muslim yang menghancurkan Islam, mereka tidak menyadari bahwa tindakannya hanya akan menghancurkan Islam itu sendiri. Berkumpul bersama mereka, berdiskusi, atau bahkan hanya melihat mereka, dapat membawa kegelapan dihati kita. Berdebat dengan mereka adalah tindakan yang terburuk.

Baca lebih lanjut

Awas Bahaya Wahabi!

Membaca Sesatnya Salafi, Wahabi dan Khawarij
Oleh: Mukhtar Luthfi

Dalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf menurut Imam Ahmad bin Hanbal dapat diperhatikan dari kekacauan pada zaman itu. Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme yang diboyong oleh pengikut Muktazilah, yang meyakini keikutsertaan dan kebebasan akal secara ekstrem serta radikal dalam proses memahami agama. Sedang di sisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam, termasuk Ahmad bin Hanbal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu, lantas Ahmad bin Hanbal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.Akhir-akhir ini, di Tanah Air kita muncul banyak sekali kelompok-kelompok pengajian dan studi keislaman yang mengidentitaskan diri mereka sebagai pengikut dan penyebar ajaran para Salaf Saleh.Mereka sering mengatasnamakan diri mereka sebagai kelompok Salafi. Dengan didukung dana yang teramat besar dari negara donor, yang tidak lain adalah negara asal kelompok ini muncul, mereka menyebarkan akidah-akidah yang bertentangan dengan ajaran murni keislaman baik yang berlandaskan al-Quran, hadis, sirah dan konsensus para salaf maupun khalaf.Dengan menggunakan ayat-ayat dan hadis yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir, zindiq dan munafiq, mereka ubah tujuan teks-teks tersebut untuk menghantam para kaum muslimin yang tidak sepaham dengan akidah mereka. Mereka beranggapan, bahwa hanya akidah mereka saja yang mengajarkan ajaran murni monoteisme dalam tubuh Islam, sementara ajaran selainnya, masih bercampur syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang harus dijauhi, karena sesat dan menyesatkan. Untuk itu, dalam makalah ringkas ini akan disinggung selintas tentang apa dan siapa mereka. Sehingga dengan begitu akan tersingkap kedok mereka selama ini, yang mengaku sebagai bagian dari Ahlusunnah dan penghidup ajaran Salaf Saleh. Baca lebih lanjut