Taman Jiwa

Mukaddimah

Jika ada yang bertanya kepada kalian, untuk apa puisi diciptakan, maka jawablah dengan lantang dua alasan. Puisi diciptakan untuk membuat dewa-dewi terpana dan perempuan tak berdaya.

 

Yah. begitulah pada awalnya puisi dicipta, sebagai sebuah madah atau pujian kepada sang penguasa langit dan sang penguasa hati. Wajar jika kemudian puisi identik perihal cinta yang materialistik, perempuan dan dewa-dewi yang diciptakan.

 

Namun, lambat laun gerak puisi melangkah lebih jauh kepada hal yang lebih rumit dan mendasar. Puisi tidak lagi mengungkap syariat, tetapi juga hakikat. Bahkan puisi juga menjadi sarana kritik, sarana ekspresi perasaan jiwa yang tak mampu terlahirkan lewat bahasa kata. Puisi menjadi secarik deretan huruf yang penuh makna.

 

Maka lahirlah satu persatu sang puitis dari puisi itu sendiri. Ada Shakespeare yang bicara cinta lewat sonetanya, ada Jalaluddin Rumi yang menjadikan puisi sebagai sarana pujian kepada sang pencipta, ada juga abunawas yang mencipta bait puisi sebagai bahan sindiran dan tertawaan serta Wiji Thukul yang menjadikan puisi sebagai media perlawanan dan kontrol sosial.

 

Di ruang ini, Puisi hanya cukup dimaknai secara biasa. Tanpa perasaan, tanpa jiwa. Jika menyentuh, maka yang menyentuh bukanlah penulisnya, melainkan nilai puitisasi dari puisi itu sendiri. cukup katakan, puisi ini cuma puisi biasa saja.

 

Weltreveden, desember 2006

humaidi

________________________________________________________________________________

 

Tentang Kita

oleh humaidi

 

Aku sering mengingat tentang kita yang bercanda,

Diruang tamu atau diberanda.

Berbicara sambil tertawa

Mencubit kedua pipimu hingga merah-merona

 

Aku sering melamun tentang obrolan panjang kita berdua.

Dari sekolah hingga kosmetika.

Tentang Ketakutan, kecemasan dan kebahagiaan luar biasa.

Tentang kelucuan yang hadir begitu saja.

 

Aku sering memikir tentang cinta yang datang merasa.

Tak terurai dengan logika.

Penuh makna.

Bahkan meluap menutup seluruh isi jiwa.

 

Namun, aku tak pernah membayangkan aku tanpa dirimu

Aku tanpa candaanmu

Aku tanpa obrolanmu

Aku tanpa cintamu

 

Karena aku belajar dari kamu

Karena aku mencoba menjadi kamu.

Jakarta, 071005

Nace El-Hombre Nuevo!

 _______________________________________________________________________________

 

Aku dan Cinta

oleh humaidi

 

Tuhan telah mempertemukan aku dengan cinta. Dan cinta telah membuat pilihan bagiku untuk terus mencintainya. Cinta telah menyelimuti keberadaanku. Aku akan terus mencinta selagi aku bisa. Rasa cinta yang tertumpah, sesungguhnya bukanlah untuk manusia yang kucinta, tetapi untuk cinta itu sendiri.

 

Wajar, jika cinta terus permainkan hati. Cinta bisa berwujud amarah, benci, pertengkaran, tetapi kemudian ia akan memunculkan perasaan yang lebih dalam. Cinta akan menghasilkan kerinduan yang melebihi perasaan itu sendiri. Cinta merupakan ujian bagi proses mencinta. Karenanya cinta bukanlah tujuan, tetapi proses, mencinta bukan cinta.

 

Cinta memang absurd. Sama absurdnya dengan nilai moral dalam kehidupan. Namun, kamu harus yakin, sebagaimana keyakinan Sysipus (tokoh dalam novelnya Albert Camus) yang mendorong batu besar peradaban ke puncak gunung kehidupan. Bahwa kita harus berproses untuk mencintai. Teruslah mencintai, dan jangan menoleh karena bujukan hasilnya. Kelak, cinta akan mempertunjukkan keindahan yang tak pernah kamu bayangkan. Keindahan yang kamu rasakan lewat mata, kamu lihat dari hati dan kamu hisap dengan segenap indera yang kamu punya.

 

Aku akan menyertakan selamat, bagi cinta yang aku bina. Kelak cangkir sebesar apapun, akan meluap merasakan titik nadir cinta. Tiada datang lagi senjakala, bagi sang cinta.

 

 _______________________________________________________________________________

 

 

Kata

oleh humaidi

 

Meski sedikit, kata tidak pernah kehabisan makna

Ia terus membuka ruang untuk dimengerti dan dipahami

Ia menyusuri perasaan yang paling dalam,

Logika yang tak mudah terurai

 

Meski pendek, waktu juga begitu berarti

Walau ia ukuran, tapi ia sendiri tak pernah sempurna terukurkan.

Ia bak misteri ditengah kegelapan

Sulit diterka dan dicerna kapan ia berlalu dan kapan ia datang.

 

Dan aku,

Hanya terdiam

Terpukau

Takjub

Terpana

Dalam helaan nafas panjang, menyaksikan perjalanan hidup yang tak berkesudahan

 

________________________________________________________________

 

Puisi Tak Bernama

oleh Wiji Thukul

 

Apa gunanya punya ilmu tinggi

kalau hanya untuk mengibuli

apa guna banyak baca buku

kalau mulut kau bungkam melulu.

Dimana-mana moncong senjata

berdiri gagah kongkalikong

dengan kaum cukong…                                                                                                                 

 

Sajakku adalah kebisuan

yang sudah kuhancurkan

sehingga aku bisa mengucapkan

dan engkau mendengarkan.

 

Sajakku melawan kebisuan.

________________________________________________________________________________

Peringatan

oleh Wiji Thukul

 

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang.

Suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan.

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan.

Maka hanya ada satu kata : LAWAN!”

 

________________________________________________________________________________ 

 

Satu Mimpi Satu Barisan

oleh Wiji Thukul

 

Tak bisa

dibungkam KODIM.

Tak bisa dibungkam popor senapan.

Satu mimpi

satu barisan.”

________________________________________________________________________________

Penyair

oleh Wiji Thukul

Jika tak ada mesin ketik, aku akan menulis dengan tangan

jika tak ada tinta hitam, aku akan menulis dengan arang.

Jika tak ada kertas, aku akan menulis pada dinding

 

jika menulis dilarang, aku akan menulis dengan

tetes darah!

 

Sarang Jagat Teater

19 Januari 1988.

 

JANGAN LUPA KEKASIHKU
Karya Wiji Thukul

jangan lupa kekasihku
jika terang bulan
kita jalan-jalan
yang tidur di depan rumah
di pinggir selokan
itu tetangga kita kekasihku

jangan lupa kekasihku
jika pukul lima
buruh-buruh perempuan
yang matanya letih
jalan sama-sama denganmu
itu kawanmu kekasihku

jangan lupa kekasihku
jika kau ditanya siapa mertuamu
jawablah yang menarik becak itu
itu bapakmu kekasihku

jangan lupa kekasihku
pada siapapun yang bertanya
sebutkan namamu
jangan malu
itu namamu kekasihku

Solo, 14-3-1988 

_______________________________________________________________________________

  

TENTANG SEBUAH GERAKAN
Karya Wiji Thukul

Tadinya aku pingin bilang:
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat
setiap orang butuh tanah:
ingat: setiap orang

Aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku menuntut sendirian?

Aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi


aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluankuAku berpikir tentang sebuah gerakan
tapi mana mungkin
kalau DIAM?
 
 ________________________________________________________________________________

Antara Jika dan Iya

oleh humaidi

 

Jika aku tiada,

Jika aku merapuh pergi bersama suara angin yang gemuruh.

Maka cukup kau tatap jempol, jari-tengah dan kelingkingmu…

Disitu ada candaan.

Disitu ada cumbuan, kehangatan dan segenap perasaan.

 

Jika kau rindu suaraku,

Jika kau ingin mengingatku

Carilah orang yang sedang flu dengan bersinnya berulang-ulang

Maka aku ada dalam setiap hela dan jeda yang ada.

Aku akan mengisi udara dengan nyanyian.

 

Jika kau teringat tempat kita bersama.

Jika kau teringat waktu kita berjanji pada jam dua.

Maka cukup kau mainkan jemarimu yang lentik,

Untuk membalik buku-buku yang ku anggap menarik.

 

Kelak, aku hadir dengan senyuman yang terukir dalam premis-logika dan

untaian fakta yang ada.

 

Namun, bila aku di izinkan waktu untuk tetap bersamamu

Jangan kau cari apapun

Karena aku akan selalu didekatmu.

 

Aku akan menjadi bayangan

bahkan aliran darah yang mengetahui perihal dirimu,

sebelum akal memikirkan dan tahu akan hal itu.

Cukuplah aku dan tidak untuk yang lainnya.

__________________________________________________________________

 

4 Komentar

4 thoughts on “Taman Jiwa

  1. puisi diatas jgn dimaknai secara harfiah, cinta adalah cinta. bukan hanya identik dengan perempuan dan kecengengan. cinta adalah tarian sang khalik, bagi jalaluddin Rumi. Man Arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu. perkenalkanlah, puisi diatas bukan kepada cinta manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s